Terpaksa Merebut Calon Suami Kakak

Terpaksa Merebut Calon Suami Kakak
Bab 73. Mertua dan menantu.


__ADS_3

Hanya melalui jendela apartemen seorang wanita bisa melihat pemandangan di luar, dia bahkan merindukan desiran angin sejuk menerpanya. Sudah tiga minggu Ran tidak keluar barang sedikit pun, dia dikurung dengan pengawasan ketat orang sewaan yang berjaga di depan pintu.


Tangan Ran menyentuh kaca pelan, kakinya sudah berdiri lama bersama niat yang tidak bisa diwujudkan.


Di sini membosankan, tidak ada hal yang menyenangkan bahkan hubungan Ran dengan Guren terkesan dingin. Mereka hanya tidur di ranjang yang sama saat malam, lalu kemudian saat siang mereka kembali berpisah. Tidak ada komunikasi, tidak ada sentuhan, tidak ada kehangatan seperti sebelumnya.


“Nyonya, apakah ada sesuatu yang Anda inginkan?” tawar seorang wanita yang ditunjuk sebagai pelayan di rumah ini.


“Aku ingin jalan-jalan di luar,” jawab Ran tanpa menoleh sedikit pun.


Pelayan menghela napas berat, lagi-lagi hal yang mustahil diminta oleh majikannya. “Saya akan buatkan puding coklat.” Pelayan berlalu ke dapur, ini salah satu cara dia melarikan diri dari permintaan Ran—dengan mencari kesibukan lain.


Ran tersenyum kecut. Tolonglah, siapa yang bisa membawanya keluar untuk jalan-jalan? Ran janji dia akan hanya menikmati angin luar dan hangat mentari.


“Sebenarnya apa yang dia pikirkan?” gumam Ran. Yang dimaksud dengan ‘dia’ adalah Guren. Ran masih belum bisa memaklumi tindakan Guren, ya, sejak awal seharusnya dia tidak memaklumi tindak kriminal berdalih cinta.


Sampai kemudian Ran mendengar suara langkah. Ini bukan langkah Guren, langkah ini menggemakan bunyi sepatu heels. Seorang wanita? Siapa dia? Ran tidak ingat Guren ada memperbolehkan orang lain masuk. Anehnya Ran enggak berbalik badan—untuk melihat siapa yang mendekat.


“Nak.”


Dari suaranya Ran menebak dia adalah Muti. Tapi Ran tidak menanggapi, karena Ran marah pada seluruh keluar Zullies yang menyembunyikan segala rahasia Guren.


“Kamu masih marah dengan kami?”

__ADS_1


“....”


Muti tersenyum kecut—dia kasihan juga dengan Ran, bahkan sudah berkali-kali Muti memarahi Guren yang mengurung istrinya di rumah. Tidak dipungkiri Muti merasa gagal sebagai seorang ibu, lihatlah bagaimana kekejian anaknya dibenci oleh Ran.


Hal itu menimbulkan tekad Muti untuk memecahkan bongkahan es dalam rumah tangga anaknya.


Masih berdiri di belakang Ran dengan jarak satu meter, Muti berujar, “Ran, tidak masalah kau marah sama kami, tapi mama mohon tolong jangan pernah berpikir lagi untuk meninggalkan Guren, dia ... tolonglah, Ran, mama berani jamin Guren tidak akan mengkhianatimu,” pinta Muti dengan suara lembut.


Ran mengepalkan tangan kuat, melipat bibir ke dalam akan kekesalan yang mendalam. Kenapa meminta Ran untuk bertahan, dari pada menghukum Guren yang jelas salah.


“Ran—”


“Ma.” Ran berbalik, menatap lekat mata Muti dengan penuh keyakinan yang tidak terbantahkan. Muti sempat tersentak oleh mimik wajah Ran yang tidak seramah dulu—Muti melemaskan bahu, dia tahu apa yang membuat kecerian wanita itu luntur.


Muti mengerjap beberapa kali, dengan ekspresi terpaku menatap Ran datar namun menekan “Kenapa seolah kami yang memaksamu menikah dengan Guren, Ran? Apa kau tidak ingat dengan kelakuanmu dulu? Kenapa sekarang kau memandang semua adalah salah kami? Kau yang memilih hidup dengan Guren dengan sendirinya, Ran! Sekarang kau hamil darah keturunan kami, kau punya tanggung jawab untuk melahirkan, mendidik, menjaga rumah tangga, juga memperingati suami yang katamu psikopat itu. Jangan coba melarikan diri, itu tanggung jawabmu, pilihanmu, dan kehidupanmu. Sejak turun-temurun tidak ada namanya perceraian di keluarga Zullies—termasuk kamu juga Guren!”


Ran tersudut atas penuturan Muti yang berhasil membuat Ran seakan tertusuk puluhan panah. Dia bungkam, sekarang dia sadar kalau dia sebenarnya juga egois.


“A-aku—”


“Mama yang akan jelaskan semuanya. Kau diam dan dengarkan saja.”


“...!”

__ADS_1


“Mama sudah dengar dari Guren tentang keluhanmu—tapi semuanya tidak benar! Tentang hobby aneh juga Pasya, itu semua bohong. Tapi tentang Olif dan Vera, itu benar—mama tidak akan menyangkal itu, namun cuman mereka berdua yang meninggal, mantan Guren yang lainnya tidak. Kami yang menyuruh Guren untuk menggugurkan anak di luar nikahnya—dua wanita yang mama sebut tadi tidak mau. Guren yang kehilangan kesabaran ....” Muti diam, tapi Ran tahu apa kelanjutannya. “Mama takjub padamu, Ran. Karena kau Guren bisa lebih menahan diri, sebelumnya dia adalah orang yang selalu kalah dengan emosi.”


“Karena aku?” ulang Ran, menunjuk dirinya sendiri. Ran langsung teringat dia dulu pernah dipukul oleh Guren sampai pingsan. Apa waktu itu Guren ditelan oleh emosi? Bukankah kesalahan Ran sekarang lebih besar? Tapi Guren tidak berbuat kasar padanya seperti dulu. Apa itu bisa dijadikan bukti jika Guren benar-benar tulus pada Ran?


Selanjutnya Muti mengeluarkan pistol dari tasnya—menarik tangan Ran untuk menerima benda itu. “Ini ambillah. Guren berpesan bawalah benda ini ke mana pun—taruh di bawa bantal saat tidur. Guren berpesan, jika kau merasa terancam dengan dirinya, tembak mati dia dengan benda ini. Di-dia juga bilang, kalau kau mengharapkan hukuman untuknya, kau bisa melubangi kepala Guren sendiri.” Muti berderai air mata, akhirnya dia menyampaikan pesan Guren padahal niatnya akan meyakinkan Ran dengan cara yang lebih baik. Tapi keraguan Ran begitu besar hingga akhirnya Muti menyampaikan pesan Guren. Bagaimana jika Ran benar-benar ....


Tangan Ran gemetar, dia tidak akan sanggup melubangi kepala Guren. “Ke-kenapa aku? Mah i-ini—”


“Kau satu-satu orang di keluarga kami yang ingin Guren mendapat hukuman. Hukum dia dengan tanganmu sendiri!” Setelah berucap seperti itu, Muti langsung lari keluar, dia tidak sanggup mendengar jawaban Ran jika wanita itu masih kuekeh dengan pendiriannya.


“Mah! Mah!” Ran melangkah cepat mengejar Muti. Sampai di pintu dia di cegat oleh dua orang pria, Ran hanya menatap sedih punggung Muti yang dengan cepat menghilang.


“Nyonya, Anda tidak diperbolehkan keluar.”


Kaki Ran mundur selangkah. Dia mengangkat tangan, menatap lekat senjata api laras pendak di tangannya. Kata Muti, Guren yang menitipkan benda ini. Kenapa tidak dia sendiri saja yang memberikannya langsung?


“Anda tidak mau mendengarkan Tuan. Tuan menitipkan pada mamanya karena mungkin sekalian saja, sebab mertua Anda hendak bertemu dengan Anda, Nyonya.”


Pelayan yang membawa puding coklat menjawab dari belakang Ran, karena dia paham arti tatapan Ran saat melihat tatapan wanita itu menuju tangannya yang terdapat senjata api. Dia juga melihat percakapan mertua dan menantu tadi.


Ran menoleh ke arahnya.


“Pudingnya sudah selesai, Nyonya,” tawarnya sembari tersenyum tipis.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2