
Hari ini begitu ramai di acara pernikahan calon pemimpin perusahaan keluarga Zullies. Berbagai pria berdasi serta wanita anggun berdatangan sebagai tamu undangan terhormat.
Kedatangan Ran dan Guren membelah lautan manusia yang saling bercengkerama ria memamerkan outfit mewah mereka. Sosok anak kecil yang digendong oleh Guren langsung menjadi rebutan keluarga.
“Ini cucuku, Xiying! Menjauhlah.” Muti mendorong Xiying yang hendak merebut Zairin.
Kalian ingat Xiying? Dia adalah keluarga Wang dari China.
“Kau bisa menimangnya setiap hari! Sedangkan aku jarang-jarang datang ke sini. Oh astaga Zairin putih banget, cantik banget.” Xiying gatal ingin mencium, mencubit, memeluk, menimang Zairin.
Siapa pun yang melihat Zairin pasti akan sama. Zairin sangat imut, matanya cantik, kulitnya putih dan halus mirip seperti Ran.
Melihat Zairin jadi rebutan seperti itu Ran dan Guren jadi takut. Bagaimana jika nanti Zairin jatuh? Itu mengerikan. Segera Ran menengahi dua wanita yang tengah bercekcok itu.
“Mama, Tante Xiying, kami mau bawa Zairin menyapa pengantin. Na-nanti saja kalian bermain dengannya, ya.”
Belum sempat dua wanita paruh baya itu menjawab, Guren lebih dulu merebut Xiying. “Bye, Ma, Tante.” Guren menarik tangan Ran untuk menjauh dari Muti dan Xiying.
Tinggal beberapa meter lagi mereka sampai, tapi mereka berhenti sebab melihat Miztard dan Risti bersalaman dengan mimik masing-masing memendam luka.
“Selamat, ya.” Risti memaksa senyum. Tangannya mengepal kuat dengan sekuat tenaga membendung air mata. Walau waktu sudah berlalu, tapi perasaan mereka belum sepenuhnya hilang.
“Iya, kalian kapan menyusul.” Yang menjawab adalah pengantin perempuan, Tesya. Dia tahu Miztard dan Risti memiliki masa lalu, Tesya sudah menyelidikinya sebelum menikah.
“Tidak akan lama lagi.” Kali ini tunangan Risti yang merespons.
Sedangkan dua insan yang pernah menjalin hubungan yang cukup lama, sudah tidak bisa membuka mulut mereka—terbenam akan rasa menahan diri agar tidak menampakkan kelemahan masing-masing.
Situasi yang canggung itu membuat Guren dan Ran maju untuk menengahi. “Hei turunlah sekerang giliran kami,” tutur Ran, sehingga kini Risti dan tunangannya turun tanpa berbasa-basi lagi.
__ADS_1
Risti melempar senyum saat berpapasan dengan Ran. Terima kasih, aku benar-benar bingung tadi, batin Risti—melirik Ran yang membalas senyumnya sambil mengangguk seolah dia bisa membaca isi pikiran Risti.
***
Semakin siang rasanya semakin sesak, sebagai anggota keluarga Ran merasa tidak enak jika pulang duluan. Sampai akhirnya Zairin menangis minta susu, kesempatan ini Ran gunakan untuk pergi ke kamar hotel yang sudah di sewa khusus hari ini dan besok.
“Mah, aku tidurin Zairin dulu.”
“Ya sudah pergi sana. Kayaknya dia sudah mulai risi di keramaian ini,” sahut Muti.
“Bilang ke Kak Guren nanti ya, Ma, kalau dia nannya,” lirik Ran pada Guren yang di sana bergabung dengan para tamu undangan yang terhormat.
“Iya kamu tenang saja.”
Sampai di kamar, Ran langsung membuka pakaiannya. Tidak hanya Zairin saja yang risi, Ran juga sama. Sejak tadi dia menahan gerah akan riasan yang menurut Ran begitu mengganggu.
“Hah akhirnya ringan juga nih kepala,” gumam Ran—matanya melirik kesal hiasan rambut yang telah ia lepas ke atas meja. Barulah Ran menyusui Zairin yang sudah diam sejak dibawa masuk ke kamar ini.
Ran beranjak ke kamar mandi, dia akan tidur setelah membersihkan tubuh. Rasanya tubuh Ran begitu lelah, aktivitas bersapa ria dengan anggota keluarga yang datang dari berbagai kota dan negara cukup menguras tenaga Ran.
Saat keluar dari kamar mandi, Ran tidak menemukan Zairin di ranjang. Apa Guren membawa anaknya keluar? Ya Tuhan, Ran tidak bisa berpikir positif. Dia yang hanya memakai handuk, dengan cepat memakai baju.
Sedangkan di luar hotel ...
“Itu Pasya, ‘kan?” gumam Salsa, ketika melihat siluet tubuh yang ia kenali tengah menggendong anak. “Enggak mungkin deh, lagian tidak mungkin Pasya sudah punya anak.” Salsa melanjutkan langkah, tapi dia kembali berbalik. Mata Salsa membulat karena pandangannya benar. Dia melihat wajah Pasya dengan jelas ketika masuk ke dalam mobil.
“I-itu Pasya!” Tangan Salsa gemetar, sudah lama dia tidak melihat Pasya. “Anak siap yang dia gendong tadi? Apa dia hamil di luar nikah?” Salsa menutup mulutnya menahan suara.
Salsa berbalik cepat kembali masuk ke dalam hotel—hendak mengabari suaminya yang masih enggan pulang. Namun langkah Salsa berhenti ketika melihat keluarga Zullies berkumpul di satu tempat. Wajah mereka semua pucat dan panik, terlebih Ran yang sudah tak sadarkan diri di dekapan Guren.
__ADS_1
“Ada apa ini?” Salsa ikut bergabung bersama mereka. Dia melirik Muti yang lemas, dan selanjutnya dia menyadari bahwa banyak bodyguard berlalu lalang dengan masing-masing terhubung melalui telepon. “Kenapa semua tampak sibuk?”
“Zairin hilang,” jawab Pak Arman.
Seketika Salsa pun ikut lemas. “Ba-bagaimana bisa?”
“Ran tinggalkan Zairin untuk mandi sebentar, saat dia kembali Zairin sudah tidak ada,” tutur Arman berdasarkan ucapan Ran yang datang dengan panik tadi.
Mereka sudah mengecek CCTV dan ternyata memang ada yang keluar dari kamar Ran membawa Zairin bersama pakaian serba tertutup. Untuk sekarang mereka tidak ingin menimbulkan kerusuhan di pesta pernikahan ini. Jadi sementara yang bergerak adalah orang-orang suruhan yang menyebar mencari pelaku.
Mereka akan menunggu kabar sambil berpura-pura tidak terjadi apa-apa, terlebih di depan Miztard. Pria itu akan meninggalkan pengantin perempuan seorang diri untuk ikut mencari Zairin jika ia tahu.
“Pah, Mah, tolong jaga Ran. Aku akan pergi,” titip Guren, wajah pria ini sudah sangat pucat seperti mayat yang dingin.
Sebelum Guren menjauh, Salsa menggapai tangan Guren. “Aku tahu siapa yang menculik Ran,” tutur Salsa lemah. Air matanya jatuh bersama tenaga yang terkikis habis.
Semua perhatian tertuju pada Salsa. Mereka menatap tidak sabar akan pernyataan Salsa.
“Pasya, tadi aku melihatnya menggendong anak. I-itu pasti Zairin, aku baru ingat kaos kaki anak itu sama dengan yang dipakai Zairin tadi.” Akhirnya Salsa berhasil mengucapkan dengan yakin. Ya, kenapa baru sekarang Salsa sadar jika yang dibawa Pasya adalah Zairin. Jika tahu, Salsa pasti akan sempat mengejar Pasya tadi.
“Maaf.” Salsa tenggelam oleh air matanya. Bagaimana jika sesuatu terjadi pada cucunya? Salsa sangat menyukai Zairin, dia tidak bisa mentoleransi tindakan Pasya, meskipun dulu dia selalu membela anaknya tapi sekarang berbeda kasus.
“Pasya?” ulang Guren.
Salsa pun mengangguk samar. Baiklah Guren mengerti. Karena identitas sudah di ketahui, dengan begini langkah Guren akan lebih mudah untuk lebih dekat dengan keberadaan Zairin.
“Kakek ikut, Ren.”
“Kakek adalah kepala keluarga, apa kata orang jika Kakek tidak ada? Tidak apa-apa, aku tidak sendiri. Kalian di sini saja, jangan membuat Miztard curiga.” Setelah itu Guren melangkah pergi, memimpin para orangnya agar lebih terarah.
__ADS_1
Bersambung....