Terpaksa Merebut Calon Suami Kakak

Terpaksa Merebut Calon Suami Kakak
Bab 70. Tidak menyerah.


__ADS_3

Wanti terpincang-pincang menelusuri jalan menuju angkutan umum. Tubuhnya terasa remuk, Wanti sudah sangat berusaha ingin memberitahu di mana Ran berada. Tapi ... satu-satunya orang yang Wanti percaya malah terus menghindar.


Kenapa dia tidak langsung menemui Guren saja? Jangan anggap Wanti bodoh, yang hanya terpaku pada uluran tangan Adit saja, Wanti sudah sering ke apartemen Guren, namun dia tidak pernah menemukan sosok yang tidak ia tahu wajahnya itu ada di dalam atau tidak.


Sedikitnya informasi tentang Ran, membuat Wanti meraba ke sana ke mari mencari suami wanita itu. Wanti hanya tahu apartemen tempat tinggal Ran saja karena dia pernah datang bersama Adit dulu. Hanya itu yang Wanti tahu, dia tidak tahu latar belakang Ran yang lebih detail.


“Kenapa lagi kamu ke sini? Sudah kubilang, kan? Adit tidak boleh pacaran dulu!” bentak Salsa ketika dia lagi-lagi menemukan gadis berantakan di halamannya.


Wanti menahan keranjang sayur Salsa untuk menghentikan wanita itu masuk ke dalam rumah.


Huh~ Salsa menghela napas kasar, kemudian Salsa berbalik menghadap gadis yang berani menghentikan langkahnya. “Kamu itu masih SMP, jangan mikiri hal yang tidak perlu dulu, aku tidak akan melarangmu mendekati Adit jika kalian sudah tamat SMA.” Kali ini Salsa bicara dengan nada tanpa penekanan, Salsa kasihan melihat gadis ini menunggu Adit di luar di tengah cuaca terik.


“Tante, bukan itu alasan aku menemui Adit. Aku hanya ingin bicara dengan keluarga kalian, tentang—”


“Ma!” panggil Adit, menampakkan diri di ambang pintu. Adit melirik Wanti sesaat, wajah wanita itu malah semakin membuat Adit muak. “Abaikan saja dia, Ma. Adit lapar, Mama kenapa belum masak juga?!”


“Iya-iya sabar! Ini juga habis dari pasar.” Salsa bergerak cepat, dia harus buru-buru masak sebelum Doni pulang untuk makan siang. Ini semua gara-gara macet di perjalanan, Salsa jadi keteteran dalam urusan rumah.


“Tante, dengarkan cerita aku dulu.” Wanti mengejar langkah Salsa, tapi Adit malah melempar sandal ke Wanti.


Langkah Wanti terhenti, sandal yang dilempar Adit mengenai matanya, Wanti kesulitan untuk melihat.


“Adit! Kamu enggak boleh gitu!” tegur Salsa. Namun Adit cuek saja, masuk terlebih dahulu, setelah Salsa masuk barulah Adit mengunci pintu.


Adit mengintip Wanti dari jendela, gadis itu masih mengucek-ucek mata, menghilangkan pasir yang tersisa. Setelah itu Wanti duduk di rumput tidak peduli seberapa terik matahari hari ini, sialnya di rumah Adit tidak ada pepohonan, di teras rumah Adit pun ada anjing tidur, Wanti tidak berani mendekat.


“Cih keras kepala sekali,” gumam Adit, pasalnya ini bukan kali pertama Wanti seperti itu di depan rumahnya. Adit menutup gorden, duduk di sofa sambil memainkan ponsel.


70 menit kemudian Doni pulang, karena Adit memakai headset, dia hanya mendengar suara samar-samar entah suara siapa. Sampailah pintu rumah terbuka, Doni masuk membawa seorang gadis dalam gendongannya.


“Papa!” Adit langsung berdiri.

__ADS_1


“Adit temanmu ini pingsan! Berapa lama kamu biarkan dia berjemur di sana?”


Adit mengurut pelipisnya. “Gadis ini benar-benar nekat,” gumam Adit.


Salsa datang dari dapur. “Ada apa ini? ... Oh astaga!” sentak Salsa, melihat Wanti yang tak sadarkan diri dengan darah yang keluar dari hidung. “Adit!” bentak Salsa menoleh ke Adit.


“Kok aku sih, Mah?”


***


Luwang terbatuk darah ketika sekali lagi perutnya ditendang Guren. Luwang berada di posisi yang tidak menguntungkan, di mana dia telah di ikat di ranjang kamarnya sendiri.


“Ah Guren, jangan nodai aku, bagaimana jika aku hamil?” desah Luwang yang malah membuat Guren semakin jijik.


“Najis!”


Di saat seperti ini Luwang masih bisa bercanda, apa dia tidak merasa sakit sama sekali?


“Katakan di mana Ran, sialan! Berhenti bermain-main!” Ah Guren benar-benar lelah menghadapi Luwang, dia yang memukul dia juga yang capek.


Guren mengeluarkan pisaunya. “Luwang ... kau mau mati?”


“Daddy kau kasar sekal— Ahhk!” Luwang mendadak berteriak kesakitan. Ternyata Guren benar-benar Gila, Luwang tidak menyangka pria itu menancapkan pisau telapak tangan kerabat sendiri. “Ternyata benar kata Arif, kau gila!”


“Aku memang gila, jadi berhenti main-main.” Suara datar Guren malah terkesan lebih menyeramkan dibandingkan dengan bogeman pria itu sebelumnya. Ini seperti bukan Guren, suasana lebih mencekam dari pada sebelumnya.


Luwang mulai merasa terancam, jika dia main-main lagi 100% dia akan mati. Ok waktunya serius, demi nyawa kecil yang terikat di ranjang.


“Kenapa kau membantu Arif, Luwang?”


Walaupun takut, Luwang tidak ingin menunjukkan ekspresi itu hadapan Guren. Luwang menyeringai, kemudian berkata, “Kita sama-sama bajingan, Guren. Bedanya aku menyukai wanita cantik ... akan sangat disayangkan jika wanita secantik Ran mati di tanganmu.”

__ADS_1


Alis Guren terangkat. Kenapa Luwang berkata seolah-olah Guren hendak membunuh Ran? “Apa maksudmu?” tanya Guren lagi.


“Simpel saja, aku tidak suka melihat wanita cantik mati. Istrimu itu cantik, jadi aku tidak rela. Buat dia jelek dulu, maka aku akan mengabaikan urusan kalian.”


Guren mencabut pisau dari telapak tangan Luwang. Dia duduk membelakangi Luwang sambil menggusar rambutnya kasar. “Jadi kau pikir aku akan mencelakai istriku sendiri?” Guren terkekeh mengejek, sebenarnya Luwang ini sebodoh apa? Dan apa yang Arif katakan pada Luwang? Kenapa mudah sekali dia mengikuti rencana Arif.


“Kenapa kau tertawa? Itu memang rencanamu, kan? Orang yang memiliki hobby aneh sepertimu itu benar-benar hina.”


Hobby apa lagi yang dimaksud Luwang? Ok baiklah, Guren mengerti. Apa pun hasutan Arif, pasti itu mengenai sesuatu yang buruk tentang Guren, atau lebih parahnya Arif menambahkan cerita yang sebenarnya tidak ada pada diri Guren.


“Aku tidak pernah terpikir untuk membunuh Ran, bahkan....” Bahkan saat Ran mengancam Guren di awal kisah mereka.


Luwang dapat melihat Guren dari samping, mata pria itu menunjukkan putus asa yang mendalam. Itu mata sosok orang yang kehilangan segalanya. Kesedihan, kesepian, penyesalan, berbaur menjadi satu, membuat mata itu terlihat lebih gelap.


Apa itu mata orang yang akan membunuh istrinya?


Tiba-tiba suara Arif terngiang di benak Luwang. “Jangan terpengaruh dengan Guren, dia itu jago akting,” ucap Arif saat itu.


Liwang menggelengkan kepala, hampir saja dia terpengaruh oleh ekspresi Guren.


Guren berbalik. “Bicaralah, Luwang. Aku harap kau mau buka suara tanpa ada kekerasan lagi.”


“Huh! Kau pikir aku takut?” Luwang berkata dengan keringat dingin yang membasahi tubuh. Dia berharap Guren masih mempertimbangkan hubungan keluarga mereka. Tapi ....


“Baiklah sudah cukup sampai di sini perjalanan hidupmu.” Guren mengangkat pisaunya.


“Tu-tunggu Guren! A-aku—”


Mereka berdua kemudian sama-sama diam, mendengar dering ponsel di dalam tas Guren. Guren bergerak cepat untuk mengangkat, dia tidak bisa mengabaikan satu pesan pun karena dia selalu menanti kabar orang sewaannya.


“Adit?” gumam Guren setelah membaca nama di layar ponsel. Segera Guren menjauh dari Luwang.

__ADS_1


Luwang hendak menguping, tapi kesadaran Luwang mulai menipis, akhirnya dia pingsan tanpa tahu apa yang dibicarakan Guren di dekat jendela sana.


Bersambung....


__ADS_2