
Tiga hari di negeri orang terasa begitu singkat. Ran menghela napas lega ketika kakinya kembali menginjak tanah air, bersama dengan Guren dia pergi untuk mengambil koper.
Setelah itu, mereka menaiki taksi untuk pulang. Rumah tampak berdebu, entah dari mana asal debu tipis itu, namun barang-barang tetap tertata rapi di tempatnya.
“Tidak usah,” cegah Guren ketika Ran hendak mengambil sapu.
“Kenapa?” Ran mendongak menatap wajah pria tinggi itu. Rumah begitu usam, tidak mungkin ia biarkan begitu saja.
“Panggil orang saja nanti, kalau kau membersihkan semuanya sendiri kau bisa pingsan setelahnya.”
“...!”
Ran tidak selemah itu, walaupun apartemen ini memang cukup besar, selama ini Ran lah yang membersihkan setiap ruangan, dia tidak pingsan pun.
Seakan mengerti dengan raut yang dibuat Ran, Guren kembali bersuara, “Biasanya kau membersihkan ruangan yang tidak sekotong ini ... huh~ baiklah, kau boleh bersihkan, tapi bagian kamar kita saja.”
“Ok, kalau begitu.” Ran menuju kamar, membersihkan dan juga mengganti seprei bersih baru. Huh~ keringatnya menetes, padahal hanya kamar. Memang benar kata Guren, keadaannya berbeda dengan yang biasa.
Ada orang yang tertawa di belakang Ran. “Bagaimana? Mau membersihkan semuanya?”
Dia mengejek, Ran yang sekarang capek dengan sebal membuang muka dari Guren.
“Dikasih enak malah memilih susah,” ucap Guren sembari berjalan melewati Ran, tujuannya kamar mandi yang berlantai kering sebab beberapa hari tidak digunakan.
Tapi ucapan Guren barusan menggema di telinga Ran. Dikasih enak malah memilih susah, katanya. Ran tersindir, seakan Guren mengingatkan jika mengikuti dirinya hidup Ran tidak akan susah.
***
Paginya Guren berangkat ke kampus duluan, sedangkan Ran menaiki taksi untuk sampai ke rumah papanya. Dengan bingkisan di tangan sebagai oleh-oleh, Ran hadir di hadapan Salsa.
“Halo Mah, Adit sekolah enggak hari ini?” tanya Ran dengan senyum manis.
Salsa memperhatikan Ran dari ujung kaki sampai ujung rambut, semua tampak mahal dan cantik. Salsa geram, di saat putrinya hilang, Ran si anak tiri malah hidup bahagia.
“Ngapain kamu ke sini?” ketus Salsa.
__ADS_1
Ran meletakkan bingkisan di atas meja, selang beberapa detik bingkisan itu di lempar Salsa ke dinding. “Engga butuh oleh-oleh dari kamu!”
Sukurlah isinya tidak keluar dari masing-masing kotak, Ran memungut kotak-kotak yang berisi permen dan coklat untuk dimasukkan kembali ke dalam paper bag.
“Kalau Mama tidak mau jangan dibuang.” Ran bergerak menuju kamar Adit, meletakkan bingkisan di atas ranjang Adit. Setelah itu Ran keluar dari kamar, menemukan wajah Salsa yang merah padam.
“Aku pulang, Ma.” Hati Ran sudah begitu teguh, dia tidak akan heran dengan perlakuan kasar Salsa, dan hebatnya sekarang Ran tidak menginginkan perhatian siapa pun. Dia akan menjadi wanita mahal seperti yang diinginkan oleh Guren dan juga Kakek Tarmizi.
“Selanjutnya ke mana, Nona?” tanya Sopir taksi yang menunggu Ran sejak tadi.
“Ke kampus, Pak.”
Mobil berjalan menjauhi area rumah sederhana itu, Ran termenung melihat area luar dengan pandangan kosong. Dia merutuki kebodohannya dulu yang haus akan perhatian, sekarang dia tidak akan sembarangan tersenyum pada orang, dia tidak terlihat ceria di mata mereka lagi. Apa gunanya itu? Ran sama sekali tidak dihargai oleh mereka.
“Sudah sampai, Nona.”
Sebelum turun Ran membayar terlebih dahulu, selanjutnya dia berjalan melewati semua orang yang ia temui. Tidak ada lagi sapaan seperti biasanya, yang ada hanya wanita cantik yang berjalan anggun membelah jalanan.
Mereka yang melihat merasa heran dengan sosok cantik yang bersikap acuh, langkah yang pasti juga pandangan yang lurus itu seperti bukan orang yang sama dengan wanita yang senyum sana-sini menyapa orang.
“Pasya menghilang, mungkin dia kepikiran.”
“Tidak mungkin, Ran itu jahat dengan Pasya, tidak mungkin dia mengkhawatirkan Pasya.”
Sampailah dia di kelas, sudah ramai orang ternyata. Mereka tampak tegang dengan urusan masing-masing yang bertujuan satu arah.
Ran mendekati Risti yang juga sama halnya dengan mereka. “Ada apa, Ris?”
“Ran kau kembali.” Risti berdiri memeluk Ran, kemudian dia duduk kembali sambil berkata, “Ayo cepat buka bukumu, kita salin tugas punya Aldo saja.”
“Tugas?”
“Iya, tugas sejarah dari Pak Muliadi, dia garang banget tahu, kan? Cepat, apa yang kau tunggu? Dia tidak akan mentoleransi bahkan jika kamu tidak tahu ada tugas.”
Ran bergerak cepat, menyontek buku milik Aldo. Ini pengalaman baru, sebelumnya dia tidak pernah menyontek sebab tidak ada yang mau berbagi dengan Ran. Lagian dulu Ran tidak pernah lupa mengerjakan tugas, ini lantaran dia tidak masuk beberapa hari saja.
__ADS_1
Menegangkan, ternyata begini rasanya dikejar waktu. Tulisan Ran tidak rapi, dia tidak peduli itu, yang terpenting sekarang adalah selesai sebelum Pak Muliadi datang.
“Selesai!” Ran menghempaskan penanya di atas meja.
Semua mata tertuju pada Ran dengan tatapan waspada. Ran mengerti dengan apa yang mereka takutkan.
“Aku juga menyontek, jadi tidak mungkin aku mengadu soal ini. Kalian tenang saja,” jelas Ran yang berhasil membuat teman sekelasnya bernapas lega, termasuk Risti.
Risti menepuk pundak Ran. “Untunglah kau juga menyontek, jadi kami semua selamat.”
Dahi Ran mengernyit. “Hah?”
“Kau mengerti maksudku, Ran ... oh iya, habis dari luar negeri kami dapat oleh-oleh enggak, nih?”
“Iyalah.” Ran mengeluarkan dua bingkisan, satu ia berikan pada Risti satunya lagi untuk Aldo.
“Apa ini?” tanya Aldo ketika satu paper bag mendarat di atas mejanya.
“Itu oleh-oleh untukmu.” Kemudian Ran kembali ke bangkunya, tapi sebelum ia duduk, matanya menangkap seseorang yang mendongak ke arahnya dari bawah sana.
“Kak Arif? Ngapain dia?”
Segera Risti menarik Ran untuk kembali duduk. “Dengar ya Ranizi Liszila, kau tidak boleh dekat ataupun bicara dengan pria itu.” Risti mengacungkan jarinya dengan wajah yang mengancam.
“Kau mengancamku?”
“Iya! Miztard memintaku untuk menjauhkanmu darinya jika dia mencoba mendekat. Miztard bilang dia punya niat jahat denganmu.”
Otak Risti telah dicuci oleh Miztard, menjadikan gadis itu sebagai tameng untuk Ran sebab Risti adalah orang yang selalu bersama Ran di kampus. Begitu pula dengan Aldo yang juga teman Ran.
Sumbernya dari Guren, pria itu tidak bisa membiarkan Arif membongkar rahasianya sebelum Ran hamil. Guren takut Ran kabur, walaupun dia bisa mencegah Ran dengan paksa, tetap saja ketakutan itu tetap ada.
“Aku juga tidak ada niat untuk dekat dengan dia kok, Ris.” Ya, Ran juga menganggap Arif jahat, pria itulah yang bermain licik dengan mempertaruhkan Ran. Entah dendam kesumat seperti apa yang dimaksud oleh Arif, Ran tidak tahu.
“Baguslah, aku dan Aldo akan menjagamu dari jangkauan pria itu. Kulihat beberapa hari ini dia sibuk menanyakan keberadaanmu.”
__ADS_1
Bersambung....