
Sudah lama rasanya Guren tidak menjemput Pasya untuk berangkat ke kampus bersama. Hari ini, Pasya merasa bahagia sebab Guren menjemput serta bicara sebagaimana hubungan mereka sebelumnya yang baik-baik saja.
Dia menyeka kelopak mata yang basah. “Kau masih peduli denganku?” ucapnya tak kuasa menahan tangis.
Guren menaruh telapak tangannya di atas kepala Pasya. “Aku marah karena kau tidak mengunjungi dan menjagaku saat aku sakit, juga—”
“Hanya itu? Baiklah maafkan aku soal itu. Tapi kenapa kau membela Ran, kulihat kau juga berusaha mengikis jarak dengan Ran.” Pasya menunduk, sakit hati membayangkan bagaimana perhatiannya Guren terhadap Ran.
Yang ia tahu dan lihat, Guren yang menaruh perasaan pada Ran yang sebenarnya tampak Ran tidak tertarik dengan Guren. Dia bisa melihat dengan jelas hal itu, setelah tahu Ran menikah dengan Guren hanya berdasarkan ancaman Arif pastinya.
Tidak enak dilihat orang ketika Pasya menangis di depan rumah, Guren membawa Pasya masuk ke dalam mobil untuk menghindari perhatian orang lain.
“Dengar,” kata Guren setelah masuk dan menutup pintu mobil. “Perhatianku pada Ran hanya untuk mengelabui kakek. Kau tahukan bagaimana tegasnya pria tua itu? Dengar dan ingat ini, perhatianku pada Ran hanya karena aku takut sama kakek.”
Sekali berengsek, susah sembuhnya. Guren membawa bualan itu menggunakan nama kakeknya. Ia lakukan itu karena untuk saat ini dia masih belum bisa memilih antara Ran, atau Pasya. Hatinya masih bimbang.
Ada satu yang mungkin bisa Guren lakukan untuk menetapkan pilihan, bertanya pada kedua wanita itu tentang alasan mereka menetapkan diri di sisi Guren.
“Alasanku? Hm ... karena aku mencintaimu, Guren. Mau berapa banyak pun pria yang aku pandang, tetap saja hatiku untukmu,” jawab Pasya dengan keyakinan yang besar. “Memang kenapa kau menanyakan alasan yang sudah jelas itu?” Pasya mendongak, menyeka sisa air di pipi, menunggu jawaban Guren.
“Tidak ada.” Guren menyudahi obrolan, dia sudah mendapatkan jawaban dari Pasya. Tujuannya menjemput wanita ini juga sebab alasan itu, dia ingin bertanya.
Sampai di kampus, mata Pasya menangkap sosok Ran berjalan bersama dua teman yang selalu bersamanya. Penampilan Ran menjadi bahan selidik bagi Pasya, gaya itu ... baju cantik itu juga segala hal yang melekat di tubuh Ran, Ran sebelumnya tidak pernah mempunyai pakaian seperti itu.
Guren sadar ke mana arah perhatian Pasya. Dia membiarkan Pasya untuk bertanya terlebih dahulu.
“Penampilan Ran?” tunjuk Pasya, menatap Guren dengan raut kecewa. “Ka-kau yang—”
__ADS_1
“Kakek menghadiahi Ran segudang pakaian dan perhiasan,” jawab Guren yang lagi-lagi berdusta.
Ada rasa iri di hati Pasya, dulu saat Guren dan Pasya hendak tunangan, pria tua itu menunjukkan rasa tidak sukanya pada Pasya. Kini, kakek tua itu walaupun tidak banyak bicara juga ekspresi, tapi terlihat jikalau dia menerima Ran sebagai bagian dari keluarga mereka.
“Ran beruntung banget,” gumam Pasya pelan, tidak terdengar oleh Guren.
***
Pada siang hari, Guren mengikuti Ran yang berjalan sendiri menuju toko ATK yang berada di lantai satu. Wanita itu membeli dua map untuk kebutuhan tugas. Selesai itu, Guren menarik Ran secara tiba-tiba membuat gadis itu terpekik kaget.
“Kak Guren! Aku pikir kakak senior yang lain.” Ran mengelus dadanya, menenangkan jantung yang berdebar kencang. Bukan apa-apa, Ran cukup pesimis sebab dia sering dilabrak kakak senior dengan cara yang sama.
“Ada apa?” lanjut Ran.
Guren malah diam. Jantungnya berdegup kencang, pertanyaan sama dengan Pasya yang ingin ia tanyakan pada Ran, kenapa begitu sulit keluar dari mulut. Padahal tadi begitu mudah bertanya pada Pasya.
“A-aku ada urusan lain, bisa cepat?” Ditatap Guren seperti itu, tekanan batin bagi Ran. Dia ingin cepat-cepat kabur.
“Apa alasanmu bertahan di sisiku, Ran? Katakan padaku, apa pun itu.”
Untuk sesaat suasana hening. Ran menggigit bibir bawahnya guna menahan diri untuk tidak mengatakan yang sebenarnya. Kepalanya mulai menunduk rendah, bersama rambut yang menjadi tirai penghalang bagi Guren untuk melihat ekspresi Ran.
“Aku ... aku membenci kak Pasya.” Ran mendongak tersenyum, menunjukkan deretan giginya yang rapi. “Jika aku merebutmu, Kak Guren, kak Pasya pasti akan sakit hati, kan? Selama ini permintaannya selalu dikabulkan oleh papa-mama, aku muak itu.” Mata Ran berair, walaupun demikian dia tetap menatap Guren, meyakinkan pria itu jika yang ia katakan ada hal yang sesungguhnya.
“Aku ... anak yang diabaikan oleh mereka. Bisa-bisanya kak Pasya masih iri dengki denganku. Menyebar gosip yang tidak-tidak, berakting seolah akulah yang merundungnya. Itulah alasanku membencinya ... Bagaimana? Apa Kak Guren puas dengan jawabanku?”
Ini adalah ungkapan hati Ran, setengah bohong dan setengah kejujuran. Tentu saja Guren tidak tahu itu.
__ADS_1
Ran yang bicara bercucuran air mata, meyakinkan Guren jika wanita itu mengatakan yang sebenarnya. Bagaikan ditusuk belati, Guren memegang dadanya dengan napas yang sesak. Jadi selama ini dia hannyalah alat balas dendam Ran? Itu yang dipikirkan Guren.
Sampai Ran pergi pun Guren tidak bergerak dari tempatnya. Lagi-lagi air matanya jatuh karena Ran, ini kedua kalinya nama gadis itu meneteskan air matanya. Pertama, saat kakek mengancam akan mengurus perceraian. Kedua, dikala Ran memberi jawaban yang menyakitkan.
“Aku tidak bisa terima ini. Aku bukan mainanmu, Ran. Kau bisa masuk dihidupku, tapi jangan harap bisa keluar dengan mudah,” tutur Guren menatap punggung Ran dengan mata yang tajam serta merah.
Bukankah dia sudah mendapat jawaban dari dua wanita itu? Seharusnya dia sudah menetapkan pilihan akan wanita mana yang seharusnya menempati seluruh hati Guren.
Tapi ... Jawaban Ran seakan merendahkan harga diri Guren, dia tidak terima itu. Sudah masuk, jangan berharap keluar dengan mudah.
Soal perasaan, Guren akan biarkan saja. Di keluarga besar Guren, mereka dilarang memiliki dua istri sekaligus. Jika dia tidak bisa menikahi Pasya, maka tidak mengapa membiarkan wanita itu dekat dengan pria lain. Tapi dia tidak akan melepaskan wanita yang menganggapnya remeh.
***
“Ran, kau membelikan map untukku juga, kan?” tanya Risti dengan muka memelas. Dia sedang datang bulan, jadi dia malas jalan sebab perutnya yang sakit.
“Iya ini ambil.” Ran menyerahkan map, kemudian dia duduk di kursi, mengalihkan pandangan ke arah jendela yang terbuka mempersilahkan angin masuk.
“Hm? Kau mau melamun lagi, Ran?”
“....”
“Matamu sembab, kau habis menangis?”
“....”
“Huh~ aku diabaikan lagi. Tapi Ran ... kau melamun seperti itu sangat cantik, aku iri denganmu.”
__ADS_1
Ran tidak mendengar perkataan Risti, otaknya tengah sibuk dengan masalahnya sendiri. Soal percakapannya dengan Guren tadi.
Bersambung....