Terpaksa Merebut Calon Suami Kakak

Terpaksa Merebut Calon Suami Kakak
Bab 65.


__ADS_3

Menjelang tengah hari, Guren kembali datang membawa mobil yang berbeda dari sebelumnya. Seketika pelayan berdatangan meletakkan beberapa barang ke dalam mobil, itu terlihat banyak padahal Ran ingat dia datang tidak membawa apa-apa selain pakaian di badan.


Oh iya, dia terlalu sering diajak berbelanja bersama Mama Muti selama di sini. Semua barang itu belum semuanya, sebagian sengaja ditinggalkan agar tidak repot untuk menginap lagi di kemudian hari.


Di bawah sana Ran melihat Guren melambaikan tangan, memberikan isyarat untuk segera turun, kita berangkat sekarang. Ran memang sudah siap sejak tadi, dia pergi meninggalkan area balkon, turun ke bawah untuk menyusul Guren.


Tapi di bagian halaman Ran melihat tukang kebun yang diam tidak bergeming.


“Ada apa?” tanya Guren, yang menyadari arah tatapan Ran.


“Tidak ada apa-apa.” Selanjutnya Ran masuk ke dalam mobil. Mereka tidak pamit pada keluarga sebab orang-orang sibuk itu tidak ada di rumah. Ingat! Ran satu-satunya pengangguran di antara mereka.


Mobil bergerak, Ran mengintip dari balik jendela mobil akan pria kotor yang berani menatap setelah kepergian mereka. Tatapan yang menunjukkan kehampaan hingga saat sudah jauh pun Ran masih menyadari akan tatapan pria itu.


“Dia agak tidak waras, abaikan saja,” imbuh Guren tiba-tiba.


Ran menoleh pada sosok yang menyetir itu. Mata Guren sayu juga berekspresi datar. Apa dia kelelahan? Pikir Ran setelah memindai keseluruhan Guren.


“Ran.” Suara Guren terdengar lirih, Ran tidak mengalihkan perhatiannya pada pria itu. Kemudian Guren memberhentikan mobil ke tepi. “Aku tahu kau belajar menyetir dari Risti. Apa sudah bisa?”


“Memangnya kenapa?” Ran bingung, kenapa Guren sampai menepikan mobil hanya untuk bertanya hal itu?


“Mendadak kepalaku pusing banget, aku tidak bisa melanjutkannya, Ran ... bahaya.” Kalau sendiri saja Guren pasti akan memaksakan diri untuk menyetir, tapi karena Ran di sampingnya, terlebih sedang hamil, sedikit saja kesalahan akan sangat berpengaruh.


Tangan Ran terulur untuk menyentuh dahi Guren, panas, sangat panas malah. “Kalau hanya jalan mulus seperti ini aku bisa,” jawab Ran.


“Kau yakin? Kalau tidak aku hubungi orang untuk datang ke mari, kita tunggu saja di sini.”


“Aku yakin! Risti sering membawaku ke sana ke mari bersama Aldo. Aku yang jadi sopirnya!” Ran menatap Guren mantap, meyakinkan pria itu jika dia sudah cukup mahir. “Percayalah padaku!” lanjut Ran menggebu-gebu.


“Baiklah aku percaya padamu, aku tinggal tidur tidak apa-apa, kan?”


“Iya.”


Mereka berdua tukar posisi. Untuk beberapa menit Guren memperhatikan bagaimana cara Ran menyetir, tampak baik dan tahu aturan lalu lintas. Sekarang Guren bisa tidur dengan nyaman, matanya sudah terlampau perih untuk terus melek lebih lama.

__ADS_1


***


“Kak bangun. Sudah sampai.” Ran mengguncang tubuh Guren pelan, pria itu pun terbangun. Dia tampak lega mendapati diri berada di basement apartemen.


Guren mengacak-acak surai Ran. “Bagus, aku pikir saat bangun akan sudah beda alam.”


“Meremehkanku?!” gertak Ran.


“Hm ... nanti buat SIM, setelah itu aku akan membelikan mobil untukmu.”


Mata Ran berbinar, membayangkan dirinya bisa ke mana-mana seorang diri menggunakan mobil.


“Setelah lahiran tentunya,” sambung Guren melunturkan senyum Ran. Setelah lahiran itu berarti enam bulan lagi, lama sekali bagi Ran yang sudah girang duluan.


Ran memajukan bibirnya sampai Guren mengecup bibir itu. “Ih!” Ran mengelap bibirnya kasar, namun Guren malah tertawa.


“Ran dataran terasa berputar-putar di mataku, bantu aku berjalan.” Guren meletakkan sebelah tangannya di pundak Ran, dengan segala kesulitan Ran kenapah Guren sampai pria itu terbaring di kasur empuk mereka.


“Tadi masih bisa tersenyum,” gumam Ran karena Guren langsung menutup mata setelah dilempar ke ranjang.


Tidak heran jika Guren sampai sakit, malah yang perlu diherankan kenapa baru sekarang Guren sakit? Pria itu sudah sangat bekerja keras sebulan penuh ini, mengabaikan istirahat dan terus berpikir. Dia lelah otak juga lelah fisik. Syukurlah semua sudah selesai, Guren bisa kembali bersantai dengan jadwal yang seperti dulu.


“Dania?” tutur Ran pada nama yang tertera di layar ponsel. “Siapa?” tanya Ran setelah menggeser ke menu berwarna hijau.


“I-ini siapa?” tanyanya balik.


Ran mengernyit, jelas saja yang jadi lawan bicara Ran sekarang adalah seorang wanita. Ada apa pula seorang wanita menghubungi suami orang? Terlebih dia menanyakan ‘siapa.’


“Kamu yang siapa?”


“O-oh istrinya Pak Guren, ya? Maaf, Bu, saya kira siapa.”


Ran sedikit lega, hanya sedikit sebab wanita itu tahu nomor yang ia hubungi sekarang adalah milik pria beristri.


“Jadi?”

__ADS_1


“Saya asisten baru Pak Guren, Dania. Pak Guren ada, Buk?”


Aneh sekali bagi Ran dipanggil ‘Ibu’ terdengar tua padahal usianya baru 20 tahun, dan Guren tiga tahun di atas Ran. Tapi ... oklah.


“Bapak sakit, sebut saja kepentinganmu nanti saya sampaikan.”


“Ini, Buk. Tolong tanyakan ke bapak tentang flashdisk data kemarin ada di mana? Saya tidak menemukannya di sini.”


“Baiklah nanti saya hubungi kamu lagi.”


Ran memutuskan sambungan, setelah itu dia membangunkan Guren untuk bertanya.


“Ada di dalam tasku, telepon Dania untuk ambil sendiri,” jawab Guren dengan mata yang masih tertutup.


Ran tidak mengindahkan perkataan Guren, dia akan mengantar sendiri ke kantor. Ran ingin melihat siapa Dania, dan di mana letak ruangan itu dengan mata kepalanya sendiri.


Diam-diam Ran pergi menggunakan mobil Guren yang tadi mereka gunakan. Sampai di kantor Ran mendapat sambutan sopan dari beberapa karyawan yang berlalu lalang. Namun langkah Ran tak terbantahkan, suara yang diciptakan heelsnya begitu elegan terdengar begitu beraturan.


“Ruangan Dania di mana?” tanya Ran pada resepsionis.


“Dania asisten baru Pak Guren, Buk?”


Ke mana panggilan Nona dan Nyonya itu? Rasanya Ran sudah terbiasa dengan panggilan seperti itu, kenapa sekarang berubah? Apa karena sebentar lagi mereka akan punya bayi makanya dipanggil ibu bapak? Ah terderahlah.


“Iya.”


“Ruangan Dania ada di sebelah ruangan Pak Guren, Buk.”


Ran langsung pergi setelah mendapat jawaban. Sampailah Ran pada pintu yang bertuliskan nama Dania, Ran mengetuk pintu sampai terdengar, “Masuklah.”


Ran masuk, dua wanita ini sama-sama terkejut satu sama lain. Dania melihat wanita yang super cantik dan elegan, Ran melihat wanita yang super seksi dengan baju yang hampir menunjukkan seluruh dadanya.


“Kau siapa?” tanya Dania, mimiknya keterangan karena seminggu dia bekerja sebagai asisten Guren dia belum pernah mendengar desas-desus wanita cantik seperti ini.


“Aku orang yang menjawab teleponmu tadi.” Ran melipat tangan di dadanya dengan gaya angkuh, dia tidak suka dengan Dania, dia seperti wanita penggoda.

__ADS_1


“I-Ibu, silakan duduk, Buk.” Dania berdiri menyambut Ran. Karena dia berdiri, Ran bisa melihat keseluruhan tubuh Dania yang terletak jelas bersama pakaian serba ketat.


Bersambung....


__ADS_2