
Sudah makan, sudah kembali bekerja, satu jam setelah itu Guren memutus untuk meninggalkan meja kerjanya. Saat berbalik, Guren melihat Ran bermata redup, wanita itu mengantuk.
Bibir Guren terangkat tipis, melihat wanita itu berusaha menahan kantuknya dengan ngemil kacang rebus. Ran terus menghitung isi setiap kacang yang ia buka.
“Panjang, ini pasti banyak,” gumam Ran pelan, tak sadar jika di sampingnya sudah tidak kosong lagi.
“Kau mengantuk, ya?”
Wajah Guren sangat dekat sampai membuat Ran refleks mendorong wajah Guren.
“Sangat, aku pulang duluan, ya.”
“Di sini ada kamar, kok. Tidur di sini saja.” Tanpa menunggu persetujuan Ran, Guren menarik tangan wanita itu hingga ia mau tak mau mengikuti langkah Guren.
Hah? Itu pintu? Ran baru sadar ada pintu lain di ruangannya ini sebab pintu itu sama dengan dinding, tidak ada bedanya. Guren pun membuka pintu itu menggunakan taktis khusus kayaknya, entah taktik seperti apa?
“Kok dindingnya bisa terbuka?” tanya Ran menoleh ke arah Guren yang juga melihatnya.
“Hanya aku yang tahu caranya.” Sepertinya Guren tidak ada niat untuk memberitahu Ran akan bagaimana membuka juga menutup pintu itu.
Dia memperhatikan Guren pun tidak tahu bagaimana cara pria itu melakukannya.
“Tidurlah,” suruh Guren.
Ran memindai kamar itu, lebih besar dari kamar Guren yang ada di apartemen.
Tak menunggu lama lagi Ran naik ke atas ranjang, menarik selimut dan meminta Guren untuk menghidupkan AC. Wajar saja jika Ran mengantuk, tadi malam dia tidak nyenyak tidur sebab memikirkan pasal bayi, ditambah masalah baru yang muncul tadi pagi. Sekarang dia ingin beristirahat, menenangkan otak yang terasa panas.
“Sudah pulas?” tanya Guren heran, padahal baru beberapa menit semenjak Ran menjatuhkan diri ke ranjang, tapi dia sudah tampak pulas dengan napas yang stabil dan tidak bergerak.
***
“Oh begitu ... kenapa Kakek baru memberitahuku soal ini?”
“Kenapa kau tidak mencari tahu sendiri saja? Haruskah aku yang memberitahumu seperti ini?”
__ADS_1
Di luar kamar, ada Tarmizi dan Guren bicara berdua. Tarmizi datang ke ruangan Guren untuk bertanya pada Guren apa pekerjaan sudah selesai? Sekaligus ingin menawarkan apakah Ran ingin ikut dia pulang. Tapi Guren bilang Ran tidur, alhasil Tarmizi menceritakan tentang masalah tadi pagi yang ia lihat pada Guren.
“Baiklah-baiklah, terima kasih, Kakek. Pantas saja perlakuan Mama Salsa sangat berbeda pada Ran, jadi?”
“Apanya yang jadi?” Kening Tarmizi mengernyit, cucunya ini malah menyuruh dia meluangkan seluruh pikiran Tarmizi.
“Jadi apa yang harus aku lakukan sekarang? Mempertemukan Ran dengan mama aslinya? Aku sudah bilang ‘kan ke Kakek semuanya, tanpa kecuali.”
Guren memang sudah bercerita pada Tarmizi pasal alasan Ran yang menikah dengan Guren, juga tentang Guren yang kesulitan menaklukkan Ran yang berhati beku.
Makanya tadi pagi Tarmizi sendiri yang menjemput Ran. Rencananya dia akan bercerita hal baik tentang Guren, agar Ran sedikit luluh ... Tarmizi ingin melebih-lebihkan kebaikan Guren yang sebenarnya tidak pernah Guren lakukan, tapi sayangnya karena masalah rumah tangga yang ia dengar tadi pagi, Tarmizi jadi menunda dongengnya tentang Guren.
Jangan berpikir itu idenya Tarmizi! Itu idenya Guren, dia memaksa Tarmizi sebab pria tua itulah satu-satunya tetua di keluarga mereka yang tidak membenci Ran. Konyol, kan?
Tarmizi menghela napas. “Tidak usah, wanita itu sudah bahagia dengan keluarga barunya. Ran bisa berkecil hati jika melihat itu.” Tarmizi beranjak dari duduknya. “Sekarang menyesalkan pernah menghina dan memukul Ran? Rasain! Berjuanglah, kakek mendukungmu.”
Setelah itu Tarmizi hilang di balik pintu.
Guren mengurut dahinya, apa yang harus ia lakukan? Belum mengaku cinta saja Ran sudah berusaha menciptakan jarak seperti itu? Bagaimana jadinya nanti?
Memikirkannya membuat Guren pusing, hingga pikirannya buyar ketika sadar dia sudah meninggalkan Ran sendiri di kamar cukup lama, tiga jam.
Dan ternyata benar.
“Ran ada apa?” Guren melangkah lebar ketika melihat raut wajah Ran yang tampak takut. “Kau sakit? Atau ada hantu? Ran kenapa kau takut seperti itu?”
“I-itu.” Tunjuk Ran pada darah di atas seprei.
“Darah?! Kau terluka?” Guren sangat khawatir, mengecek tubuh Ran sana sini hingga dia membuat Ran berdiri ... barulah tampak noda darah lagi di dekat pantat Ran.
“Ah ternyata cuman tembus.” Guren mengusap wajahnya kasar, hampir saja dia jantungan, ia kira apa tadi. “Kenapa kau setakut itu?” tanyanya menatap wanita yang tertunduk malu.
“Kau tidak marah? Kasurmu kotor,” cicit Ran pelan, dia masih belum berani mengangkat kepala.
“Bisa dibersihkan, aku telepon orang dulu untuk datang.”
__ADS_1
“Tidak perlu! Aku bersihkan sendiri saja.” Semu merah di wajah Ran semakin lekat.
Guren mengerti apa yang khawatirkan Ran. “Perempuan ... bukan laki-laki. Aku juga tidak mau hal semacam itu dilihat laki-laki lain.”
Ran mengangguk, dia memang mengkhawatirkan hal itu. Memalukan ‘kan jika hal seperti itu dilihat oleh lawan jenis? Sesama jenis saja kadang masih malu.
Guren mendengarkan pembicaraan Guren pada orang yang ditelepon.
“Bawa pembalut juga baju ganti untuk istriku,” kata Guren sambil melirik Ran yang mendongak menatapnya ketika Guren mengatakan kalimat barusan.
Ternyata dia peka juga, batin Ran.
“Berendamlah di kamar mandi sampai mereka selesai nanti.”
Ran menurut, dia masuk ke kamar mandi untuk bersembunyi dari mata orang yang akan datang nanti.
***
“Ternyata Tuan Muda Guren bisa perhatian juga, ya. Kayaknya dia sayang bangat dengan istrinya, jadi iri.”
Para Office Girls yang tadi membersihkan kamar Ran kini berbincang dengan rekan yang lain. Mereka menceritakan pengalaman mereka saat bertemu dengan istri Guren, yaitu Ran.
“Secantik itu, siapa yang enggak bakal perhatikan? Gila sih aku kaget banget pas lihat dia keluar dari kamar mandi, terpesona jadinya aku.”
“Berarti benar ya kata resepsionis tadi, Nona Ran sangat cantik. Heboh loh di kantin kantor tadi.”
“Ja-jadi bagaimana reaksi Kanae? Pasti panas banget iya, kan?”
“Beh! Bukan panas lagi, hampir meledak malah.”
Mereka sangat bersemangat membicarakan orang.
Oh iya tentang Kanae, dia adalah sepupu Guren, cucu Tarmizi juga. Wanita itu lebih tua tiga tahun dari Guren, dia sudah menyukai Guren sejak ia masih duduk di bangku SMA.
Dulu Kanae cukup percaya diri bisa menarik perhatian Guren sebab dia lebih cantik dibandingkan kekasih Guren, Pasya. Tapi sekarang? Apa kepercayaan diri itu masih ada setelah melihat Ran?
__ADS_1
Kanae adalah dokter, dokter yang bekerja di bagian perusahaan. Sekarang dia sedang tidak fokus, dia menahan diri untuk tidak lari ke ruangan Guren untuk mencekik istrinya Guren.
Bersambung....