Terpaksa Merebut Calon Suami Kakak

Terpaksa Merebut Calon Suami Kakak
Bab 67. Hasutan jahat.


__ADS_3

Sinar matahari sudah tidak terlihat lagi di saat Ran keluar kantor bersama Guren, entah tingginya gedung-gedung yang menghadang atau memang matahari sudah tenggelam. Ran tidak tahu, yang ia lihat langit masih terang namun hari begitu dingin.


“Mau ke mana dulu?” tanya Guren sebelum menjalankan mobil.


“Ke supermarket,” jawab Ran, ia ingat isi kulkas sepenuhnya kosong, semalam mereka hanya memesan makanan.


Guren melepaskan jaketnya, membaluti Ran sebab lengan dress Ran hanya seuntai tali. “Cuacanya dingin,” sahut Guren ketika Ran memandangnya dengan mata polos.


Selanjutnya, setelah sekian menit berkendara, mereka sampai di supermarket. Guren membuntuti ke mana pun Ran pergi, memastikan tidak ada yang mengganggu langkah wanita hamil itu. Sampai dering ponsel memisahkan Guren dengan Ran, Guren pergi ke tempat lain sebab di area sekarang sangat berisik. “Jangan jauh-jauh,” pesan Guren sebelum pergi.


Ok Ran tetap di tempat yang sama, memilih buah sampai Guren kembali. Ran melihat ada buah mangga yang berwarna beda dari mangga yang lainnya, Ran tertarik untuk mengambilnya. Namun tangan Ran tidak bisa meraih jarak yang cukup jauh itu.


Ran menoleh kanan-kiri, di sampingnya kebetulan ada pria bertopi yang memiliki tinggi tubuh hampir sama dengan Guren. “Anu ... Bang, bisa tolong aku sebentar?” Ran berujar sambil menyentuh pundak pria itu dari belakang.


Pria itu berbalik. “Ran?!”


Tak hanya pria itu, Ran juga kaget ketika melihat pria yang sudah lama tidak ia lihat. “Kak Arif?!” balas Ran seraya menunjuk Arif dengan telunjuk luruh ke wajahnya.


Arif senang sekali berkesempatan bertemu dengan Ran tanpa ada pengganggu. Tapi kesenangan Arif sirna ketika menyadari ada Guren yang sedang berteleponan di dekat pojok.


“Ran ikut aku!” Tiba-tiba Arif menarik tangan Ran, Ran memberontak hendak memanggil Guren, tapi mulutnya ditutup cepat oleh Arif. Arif berbohong pada orang yang mencegah langkah Arif untuk membawa Ran pergi menjauh. “Dia pacarku, aku harus membawanya pulang karena dia kabur dari rumah.” Begitulah cara Arif meyakinkan para pelanggan lain akan aksi memaksanya. Tak peduli bagaimana Ran memberontak, orang-orang lebih percaya pada perkataan Arif.


Arif menyeret Ran ke mobilnya.


“Kau apa-apaan!” bentak Ran setelah Arif melepaskan dekapan setelah memastikan pintu mobil terkunci.


“Ran dengar—”


“Tidak mau! Lepaskan aku!”


“Ran—”


“Lepas! Kau bajingan jahat, sudah cukup mengusik hidupku! Aku benci padamu!”


Sakit sekali mendengar suara Ran yang penuh penekan, mengatakan benci dan terus memberontak ingin membuka pintu.

__ADS_1


“Aw perutku,” keluh Ran memegang perutnya yang tiba-tiba terasa keram sebab gerakan berontak yang ia lakukan.


Mata Arif melebar menyadari perut Ran yang tidak lagi Rata. “R-Ran kau hamil?” tuturnya terbata.


“Sakit ... biarkan aku keluar, Kak Arif,” lirih Ran terisak pilu dengan tubuh yang tidak melakukan pergerakan sembrono lagi. Ran menunduk melihat tangan yang berada di atas perut, air matanya berjatuhan deras akan ketakutan atas niat Arif yang Ran pikir buruk.


Arif memandang lemah ke arah perut Ran, sudah ada anak Guren yang bersarang di dalam sana, ah~ ini sungguh membuat Arif hancur. Lalu dia menarik napas dalam sebelum berucap, “Tenang, Ran, tenang. A-aku tidak ada niat untuk menyakitimu ... sungguh.”


Suara Arif sangat lembut, membuat Ran berani menatap pria itu setelah aksi memaksanya tadi. “Jadi tujuan Kak Arif apa?” tanya Ran bersama suara yang sesenggukan.


“Aku ingin mengatakan kalau aku tidak akan mengancammu lagi, kau bebas sekarang, Ran,” ucap Arif tersenyum lembut. Namun Ran tidak bersorak sama sekali.


“Ok terima kasih, sekarang boleh aku keluar?”


Arif mengernyit. “Kau tidak senang?” herannya, karena yang Arif tahu Ran tidak mencintai Guren, dia hanya wanita yang dipaksa. Kenapa tidak ada sorakan? Seperti ; Akhirnya aku bisa bercerai!


“Aku senang.”


“Jadi apa langkahmu selanjutnya, Ran?”


“Langkah? Hm... aku akan melanjutkan hidupku seperti biasa.”


“Tidak perlu, malah aku ingin berterima kasih dengan Kak Arif, karena rencana Kaka hidupku jauh lebih baik dan aku sangat bahagia,” tutur Ran, matanya benar-benar menggambarkan rasa syukur yang besar.


Kenyataan itu menampar Arif dengan keras, baiklah Arif akan mencoba rencana kedua. “Ran tinggalkan Guren, dia pria gila.”


“Apa maksudmu? Setelah kau melemparku ke kehidupan Kak Guren, sekarang kau ingin kembali menarikku? Kau tidak bisa seenaknya, Kak Arif!” Ran geram sekali, dia sudah muak dengan Arif. “Keluarkan aku!” pinta Ran lagi, karena menurut Ran tidak ada yang perlu didengar lagi.


“Tidak, Ran. Dengarkan dulu!”


“Sudah cukup! Aku tidak mau dengar la—”


“Olif!”


Ran langsung diam ketika nama teman lamanya disebut.

__ADS_1


“Olif adalah adikku, temanmu, Ran.” Arif berucap dengan napas yang tidak beraturan, seperti orang yang telah berlari beratus-ratus meter.


“A-apa?”


“Dia mati dibunuh Guren, kau melihat detik-detik kematiannya, kan? Saat itu kau ada di sana, kan? ... pria yang kau lihat tengah berbuat kejam itu adalah Guren.”


Arif berhasil membuat Ran gemetar. Ran menundukkan kepala, tangannya meremet ujung dress kuat.


“Bagaimana kau tahu aku ada di sana? Apa bukti pria kejam itu adalah suamiku? Kenapa kau datang memberitahu ini padaku? Tapi ....” Ran menoleh pelan, menatap Arif dengan senyum yang malah terlihat menyeramkan. “Tapi terserah! Aku tidak peduli bagaimana masa lalu Kak Guren, selama dia mencintaiku dia tidak akan menyakitiku.”


Mata Arif berkedut tidak percaya, baru kali ini dia melihat ekspresi seegois ini dari wajah Ran. Ran sudah tidak peduli lagi dengan masa lalu, wanita itu membuang nuraninya demi masa depan yang cerah bersama keluarga yang menyayangi Ran. Akhirnya dia mendapat dukungan kuat setelah sekian lama hidup dengan kepalsuan, tidak mungkin Ran dengan mudah melepaskan itu walau dia berada di tengah-tengah iblis.


“Ran,” getir Arif. Baiklah dia akan lanjut ke rencana yang lebih menjijikan, rencana yang penuh kebohongan juga memanfaatkan kelemahan Ran.


“Apa? Buka pintunya sekarang!” acuh Ran, melipat kedua tangan di dada seolah tidak peduli lagi dengan apa yang akan dikatakan Arif.


Tapi....


“Guren memiliki masalah mental, dia punya hobby membunuh anaknya sendiri sebelum lahir. Olif dulu hamil, Guren membunuhnya. Ada satu wanita lagi yang kukenal, dia putri dari tukang kebun dan pelayan yang sudah lama kerja di kediaman Zullies, namanya Vera. Wanita itu bernasib sama dengan Olif, Guren membunuhnya saat wanita itu hamil.”


Kali ini sepertinya Arif berhasil. Ran kembali teringat akan surat yang ditinggalkan atas nama Vera, identitas yang sama yang disebut Arif. Terlebih surat itu mengatakan jika Guren memiliki masalah mental, seperti yang diucapkan Arif. Ran menebak tukang kebun yang Arif maksud adalah tukang kebun yang menatap sinis Guren.


“Guren tidak mencintaimu, Ran. Kau tahu di mana Pasya sekarang?”


Ran menggeleng lemah.


“Guren yang menyembunyikan Pasya. Maka dari itu dia tidak mencari Pasya saat kakakmu itu hilang. Karena dia tahu segalanya.”


“Tidak!” bentak Ran.


“Iya, Ran! Kau pikir Guren akan menerimamu dengan mudah? Setelah kau menghancurkan mimpinya dengan Pasya? ... Kau sedang dibodohi, Ran! Dia hanya bersandiwara mencintaimu, dia ingin kamu menderita, dia memanfaatkan kamu untuk menuntaskan hasrat hobbynya!”


Kemudian Arif diam sesaat, menikmati wajah pucat Ran yang berkeringat dingin sebab ketakutan. “Aku tebak dia pasti sering menuntutmu untuk hamil."


“...!” Wajah Ran semakin pucat, tebakan Arif benar.

__ADS_1


Arif kemudian mendekati Ran, berbisik di telinga Ran dengan kesan horor. “Setelah kau mati maka dia akan membawa Pasya keluar dari persembunyian. Selanjutnya kakakmu yang akan menjadi korban Guren ... kau ingin bukti? Ok akan kubuktikan.”


Bersambung....


__ADS_2