
Selama sebulan penuh Guren hanya tidur beberapa jam dalam semalam, rasa letih sudah tidak bisa dideskripsikan lagi saking sibuknya pria itu.
Dia tidak pernah menghubungi Ran sekali pun. Guren tidak ingin Ran tahu bertapa kacaunya dia larut dalam kemarahan juga kerinduan. Setiap dia putus asa, melihat foto Ran berhasil meneguhkan tekatnya. Dia ingin cepat bertemu dengan Ran, maka dari itu Guren harus cepat menyelesaikan masalah yang disebabkan oleh kelalaiannya.
Namun pengorbanan itu tidak berakhir sia-sia, dia berhasil mengembalikan apa yang hilang, walaupun kerugian besar tetap tidak tertutupi.
Kini dia berhadapan dengan asisten yang berhasil ditangkap tiga hari yang lalu. Pria seumur papanya yang sudah sepuh di kantor itu, siapa yang kira jika dia yang sudah mengabdi lama pada akhirnya berkhianat.
“Guren aku—”
“Diam!” bentak Guren, dia duduk membiarkan pria itu bersimpuh di kakinya dalam keadaan bonyok, Guren sendiri yang memukulnya. Pria itu diam, badannya juga sudah tidak bisa bergerak banyak lagi.
Orang seperti Guren tidak begitu mempercayai polisi, Guren selalu menangani orang berkhianat tanpa campur tangan hukum, persetan dengan itu!
“Istrimu sedang hamil, seharusnya kau tidak memukul orang sembarangan.” ucapnya sembari tersenyum mengejek.
Guren balas senyum miring. “Apa kau hewan? Setahuku mitos itu mengatakan tidak boleh membunuh hewan, atau bayi akan lahir cacat.”
“Itu berlaku juga untuk manusia!”
“Terserah! Aku tidak percaya dengan mitos itu, anakku akan lahir dengan normal!”
Sekali lagi terdengar tawa mengejek dari pria penuh lebam, dia tebak jika sebenarnya Guren takut. Gelagat pemuda tampan itu memang tampak tenang, tapi tangan Guren mengepal begitu kuat menahan diri. Walau mitos Guren tetap memikirkan kemungkinan yang terjadi, dia tidak mau mengambil risiko untuk buah hati, tak peduli hanya sekecil butiran debu.
“Kenapa kau tertawa?” tanya Guren terkesan datar, memandang pria itu dengan sangat intens sehingga yang dipandang merasa tengah dikuliti.
“Tidak ada, aku hanya tidak tahu kau sebaik ini membiarkan aku hidup bahkan setelah tiga hari aku ditangkap. Biasanya kau suka mencabut nyawa pengkhianat, iyakan?”
Seketika barang berjatuhan di lantai, Guren membanting kursi kayu serta menendang meja. Cuih, terakhir dia meludahi pria itu dan kemudian pergi dengan langkah lebar.
Guren mengunci gudang kantor tak terpakai yang menjadi teman ia mengurung pria pengkhianat. Emosinya semakin meluap, dia tidak yakin bisa berhadapan dengan Ran dengan emosi yang sulit dikendalikan itu.
***
__ADS_1
“Selanjutnya, Ranizi Liszila.” Nama Ran dipanggil, Ran masuk ke ruang periksa kandungan.
“Ada keluhan, Dek?”
“Sering mual pagi sama sakit kepala, Dok.”
Dokter mengangguk paham, selanjutnya dia memeriksa kandungan. Saat Ran melihat gambar bayinya di monitor, Ran tersenyum melihat bayi yang bentuknya sudah lumayan jelas.
“Posisinya bagus ya, Dek. Bayinya sehat, ukuran dan beratnya pas. Kehamilan tiga bulan bayi sudah bisa menangkap suara ... oh iya suaminya ada ikut enggak?”
Ran melipat bibirnya, dia tidak ingin mendengar tentang Guren, dia marah sekali sekarang. Katanya hanya akan pergi beberapa hari, tapi nyatanya sebulan penuh pria itu tidak memberi kabar sedikit pun.
Dokter langsung mengerti akan perubahan ekspresi Ran. “Ah ti-tidak apa-apa, nanti Adek sampaikan saja, ya. Seminggu lagi akan memasuki trimester kedua, biasanya Ibu hamil akan mengalami peningkatan hasrat seksual. Boleh dilakukan tapi dengan posisi yang aman ya dek, ya.”
“Ma-maksudnya?”
“Jangan kebanyakan gaya aneh, yang normal-normal saja.”
“Sudah selesai ya, dok?”
“Iya, tapi kalau ada pertanyaan dipersilahkan,” jawab dokter sembari tersenyum ramah, namun Ran menggeleng tanda dia juga tidak ada pertanyaan.
Saat keluar dari ruangan, Ran menghembus napas berat, iri sekali melihat pasangan dari berbagai macam usia datang bersama. Langkah Ran jadi lemah, dia juga ingin diperhatikan suami seperti mereka. Tapi apa ini? Ran terpaksa mandiri di saat dia ingin bersikap manja.
Sampai di rumah pun sepi, semua anggota keluarga di rumah ini adalah pekerja kantor, hanya Ran yang pengangguran. Ran duduk di sofa, kemudian dia memanggil pelayan untuk memijat kakinya yang terasa pegal.
“Bukan kamu,” ucap Ran pada pelayan yang perutnya lebih besar dari Ran. Wanita itu juga hamil, namun dia tetap kerja untuk membantu keuangan rumah tangga yang tidak cukup.
“Tapi yang lain sedang sibuk, Nona,” tuturnya.
Ran meneliti dari atas sampai bawah pelayan itu, dia kasihan dengannya yang masih tetap bekerja padahal sebentar lagi lahiran. Dibandingkan pelayan itu, Ran masih jauh lebih beruntung. Dalam benaknya Ran memaki diri sendiri karena banyak mengeluh hanya karena batang hidung suami tidak kelihatan.
“Kamu enggak mau ambil libur?” tanya Ran lembut, namun pelayan itu menggeleng lemah sembari tersenyum.
__ADS_1
Ran lihat wanita itu kebanyakan berdiri, apa kakinya tidak lelah? Ran yang perutnya buncit sedikit saja sudah sering merasa lelah padahal hanya berdiri sebentar.
“Kamu hebat banget, ya. Sini duduk, jangan terlalu lama berdiri.” Ran menepuk-nepuk sofa, mempersilahkan pelayan untuk duduk.
“Tapi, Nona—”
“Duduk saja, sekalian aku mau tanya-tanya tentang apa yang kau rasakan selama kehamilan.”
Wanita itu pun duduk, dia bercerita tentang bagaimana dia takut melahirkan namun juga tidak sabar menantikan kehadiran bayi. Memang pembicaraan wanita yang sama-sama hamil akan lebih nyambung.
Beberapa pelayan memandang sinis wanita yang duduk di samping Ran, terlebih wanita yang tengah memijat kaki Ran, dalam batinnya dia memaki.
Tiba-tiba ada Sony datang membawa bunga serta coklat. “Nona ini untukmu.” Nada bicara Sony terdengar ketus, tapi dia tetap menyerahkan barang bawaannya dengan baik.
Dahi Ran mengernyit. “Dari siapa?” tanyanya.
“Selingkuhanmu kali!” Selanjutnya Soni pergi menuju dapur. Dia satu-satunya orang yang tidak menghormati Ran di rumah ini, hal itu tidak mengganggu Ran, selama Sony melakukan pekerjaannya juga tidak menyakiti Ran, tidak perlu dipedulikan.
Rangkaian bunga merah yang cantik, tidak seperti buket namun lebih ke tanaman hias kecil yang mungil bersama vas kaca yang begitu indah.
“Dari siapa ini?”
“Mungkin dari Tuan Muda Guren, Nona.”
Benar, setelah Ran teliti lagi, vas bunga itu terdapat ukiran nama Guren serta nama Ran. Hati Ran menghangat, setelah menghilang sebulan akhirnya Guren menunjukkan jika dia ingin cepat pulang melalui tulisan di balik kotak coklat.
[I miss you, Ran. Tunggu sebentar lagi.]
Pesan yang begitu singkat namun begitu manis. Guren berhasil membuat Ran senyum-senyum sendiri, meredakan kekesalan wanita itu melalui hadiah kecil.
Kemudian Ran mencicipi coklat berkotak hati itu, memakannya sendiri tidak rela berbagi dengan siapa pun termasuk wanita hamil besar di samping yang tengah melihat Ran dengan perasaan iri.
Bersambung....
__ADS_1