Terpaksa Merebut Calon Suami Kakak

Terpaksa Merebut Calon Suami Kakak
Bab 80. End


__ADS_3

Kapal Angkatan Laut mendekat, satu persatu dari mereka menaiki kapal nelayan. Mulailah segala pemeriksaan, sampai pada akhirnya satu pertanyaan membuat Bos tersentak.


“Apa kalian ada membawa wanita bersama seorang anak kecil?” Dia menunjukkan foto Pasya beserta foto Zairin.


Astaga, bagaimana dia bisa melupakan wanita itu? Jantung Bos dan kru kapal berdetak kencang, mereka belum menangani Pasya yang entah di mana wanita itu bersembunyi.


Bos ingat tidak ada satu pun mayat yang menyerupai Pasya tadi.


Kontrol diri, jangan sampai ekspresi panik menambah kecurigaan. Mungkin saja wanita itu sudah berenang melarikan diri. Ya, dia tidak mungkin ada di sini, pikir Bos.


“Kami hanya membawa ikan dan kepiting, Pak. Tidak ada satu pun wanita di antara kami.”


“Aku di sini.” Pasya muncul memanfaatkan kesempatan untuk menyelamatkan Zairin terlebih dahulu.


Setelah melihat Pasya pun Bos masih memasang wajah normal. “Kau? Bagaimana bisa kau di sini? Apa kau menyusup ke kapal kami?” katanya yang malah menyalahkan Pasya.


“Tidak! Kau—”


“Pak, kami tidak tahu jika wanita ini ada di kapal ini.”


Pasya tersentak, namun ini bukanlah akhir. “Di bawah kapal ini, dengan menggunakan tali khusus serta pemberat, mereka menenggelamkan mayat bersama tepung ilegal mereka seperti cara kerja jangkar.” Akhirnya Pasya mengungkap kejahatan awak kapal ini. Dia melihat dan mendengar tadi.


Tidak di sangka terjadi pemberontakan. Awak kapal menyerang petugas saat mereka ingin mengecek kembali. Dengan berbagai senjata yang entah bagaimana cara mereka mendapatkan serta menyembunyikannya, pertempuran tak dapat dihindarkan.


Sampai Pasya terkena dampak serangan itu. Dia melindungi Zairin yang hampir terkena pisau, dia meringkuk melindungi Zairin dari kemungkinan buruk. Kaki Pasya tidak lagi dapat bergerak sebab terimpit kayu, hanya itu yang bisa dilakukan Pasya.


“Kumohon, setidaknya amankan Zairin,” ringis Pasya yang sudah tidak sanggup menopang dirinya sendiri untuk tidak mengimpit Zairin.


Zairin yang sudah sangat lemas tidak mengeluarkan suara, anak itu tidak sadarkan diri. Pasya menjerit melihat menyadari napas lemah Zairin. “Nak, bertahanlah. Semua akan baik-baik saja, tante janji ... maafkan aku, maafkan aku, aku menyesal. Tidak apa-apa aku mati di sini tapi ... setidaknya jangan renggut nyawa anak ini.”


Dalam keadaan meringkuk, Pasya menyadari sepasang sepatu tepat di sampingnya. Pasya mendongak memperlihatkan air matanya yang begitu deras. Seorang pria berpakaian seperti Angkatan Laut nan tinggi bernoda ‘kan darah, memandangnya dengan tetapan rendah.


Tatapan dingin itu menembus sampai ke tulang Pasya. Dia tahu kemarahan yang teramat besar pria itu gambarkan dari tatapannya. Meskipun merinding, namun Pasya lega, sebab sosok yang merupakan papanya Zairin telah sampai.


“Guren,” lirihnya teramat lemas.


Pasya bisa istirahat sekarang. Matanya memejam perlahan, menghilangkan kesadaran tidak peduli jika Guren adalah sosok yang paling berbahaya yang bisa hanyut ke dalam emosi yang tak terkendali.


Bagaimana jika saat dia sadar dia sudah beda alam? Sudahlah, Pasya tidak peduli lagi, yang penting sekarang Zairin sudah berada di tangan yang paling tepat.


***


Perlahan mata Pasya terbuka, hal yang pertama kali ia lihat adalah ruangan putih yang asing.


“Sudah bangun,” tutur orang yang duduk di sebelah Pasya. Dia adalah Salsa.


Pasya tersenyum kecut. Lihatlah mata yang menggambarkan kekecewaan yang besar itu. Oklah ia akui ia salah, tapi kenapa dia sangat sedih dengan mata kekecewaan seorang ibu itu?


“Mah ... maaf.” Pasya berpaling ke arah lain, dia malu menunjukkan wajahnya itu.


Mendadak Salsa menggenggam tangan Pasya. “Zairin ... kau melindunginya dengan tubuhmu ini. Kami semua tidak mengerti kenapa kau melakukan itu.”


“Aku juga tidak tahu.”


“Apa kau mau melihatnya?”


“Aku tidak punya muka untuk berhadapan dengan Ran.”


Hening sesaat, air mata masing-masing kedua wanita itu jatuh. Kalau dipikir-pikir mereka berdua memang banyak membuat kesalahan pada Ran. Tapi Ran masih bersikap baik dengan Salsa, namun bagaimana dengan Pasya yang hampir merenggut nyawa Zairin?

__ADS_1


“Ran menikammu dengan pisau kemarin,” tutur Salsa.


Ya, semua orang memiliki batas kesabaran, termasuk Ran yang hampir gila sebab kehilangan Zairin selama dua minggu.


Salsa ingat betul bagaimana Ran memegang pisau menyambut kedatangan Guren, Zairin dan Pasya. Seketika Ran berlari kencang mendekati ambulans yang mengeluarkan Pasya.


“Ran!” teriak Muti ketika menyadari Ran mengeluarkan pisau dari tasnya.


Ran menancapkan pisau ke perut Pasya beberapa kali, semua orang mencoba menahan Ran. Namun tidak dengan Guren, pria itu membiarkan istrinya yang hendak membunuh Pasya.


“Guren, hentikan istrimu!” teriak papanya.


Guren menoleh dengan raut datar. “Biarkan saja, gara-gara wanita itu Ran tidak mau bicara ataupun bertemu denganku. Biarkan dia melampiaskan emosinya.”


Tapi Ran berhasil ditenangkan oleh Salsa yang hampir kehilangan seluruh tenaganya. “Ran, lihatlah ... anakmu sudah datang,” ucapnya lembut.


Ran menoleh ke arah Guren, melihat Zairin di gendongan pria itu. Hati Ran menghangat, dengan kaki gemetar dia berjalan. “Anakku.”


Guren menyerahkan Zairin pada Ran, membiarkan tangis Ran pecah sembari memeluk anaknya. Guren mendekap Ran dari belakang, dengan lembut dia berbisik, “Anak kita baik-baik saja, tenangkan dirimu, Ran. Dia sedang sakit, kita akan menjaganya bersama-sama dan piknik lagi setelah dia sembuh.”


Ran mengangguk pelan. “Iya,” jawabnya.


Begitulah. Sebab kejadian itu Pasya koma selama enam minggu, dan mereka sudah dipindahkan ke negara asal tiga minggu yang lalu.


“Begitu, ya. Ran sangat dendam denganku.”


“Iya, dia juga menuntutmu. Putusan pengadilan mengatakan, setelah kau sadar dari koma, kau akan menjalani hukumanmu di penjara.”


“Berapa lama?”


“Lima tahun.”


***


Kini Pasya berada di dalam penjara, menjalani hidup berat menjadi pesuruh tahanan lain. Begitulah hidup di sel, otot adalah bos, jika kau lemah kau hanya akan menjadi kacung yang tersakiti.


“Pasya.”


Pasya di bawa oleh sipir, berjalan menuju pembatas kaca yang memperlihatkan ada Ran, Guren dan Zairin di balik kaca itu.


“Waktunya 15 menit,” tutur sipir.


Pasya duduk di kursi berhadapan dengan Ran. Dia menunduk dengan tangan yang bergerak gelisah di bawah. Pasya bingung harus berkata apa pada wanita di hadapannya, dia terlampau malu.


“Apa kabar?” Ran lebih dulu berbasa-basi.


“Ba-baik,” jawab Pasya masih dengan kepala yang menunduk.


Hening sesaat, tidak ada yang membuka suara kecuali Zairin yang mengoceh tidak jelas sambil memukul-mukul wajah Guren.


Mendengar suara Zairin, kepala Pasya terangkat sedikit—tersenyum tipis melihat bertapa bahagia dan sehatnya malaikat kecil itu. Syukurlah, ucapnya dalam hati.


“Angkat kepalamu, Kak. Lihatlah dia dengan benar, Zairin juga ingin melihat wajah tante yang menggunakan tubuhnya sendiri sebagai perisai,” kata Ran, dia sudah mendengar cerita Guren—tentang bagaimana Pasya melindungi Zairin di tengah pertikaian.


“Itu bukan apa-apa, kalau bukan karena aku, Zairin tidak akan dalam keadaan berbahaya seperti itu.”


“Ya, aku marah sekali. Sebenarnya aku belum bisa memadamkan api kemarahanku, tapi ... aku sudah melampiaskannya, ‘kan? Di sini kau mendapat karma juga, ‘kan? Jadi, aku akan mencoba tidak dendam padamu, kakakku.”


“Tidak apa-apa jika kau den—”

__ADS_1


“Saat keluar dari sini, apa kau mau menjadi tante favorit Zairin?” sela Ran cepat.


Kepala Pasya akhirnya terangkat, matanya membulat bersama air mata yang jatuh. “Bo-bolehkah?” tanyanya, dan Ran mengangguk. Astaga Pasya tidak percaya ini, dia pikir dia tidak akan pernah bisa bicara atau menyentuh Zairin lagi. Tawaran begitu membahagiakan bagi Pasya.


Tangan Pasya bergerak menyentuh kaca yang membatasinya dan Zairin. “Setelah ini tante janji akan membawamu jalan-jalan dengan izin mama-papamu, Zairin.”


“Iya, Tante, Rin tunggu,” jawab Ran meniru suara anak kecil.


Waktu berkunjung habis, keluarga kecil itu keluar dan kembali ke mobil. Di mobil Guren masih belum menjalankan mobil padahal Ran sudah memasang sabuk pengaman.


“Apa ada yang ketinggalan?” tanya Ran.


Guren menoleh. “Ran.”


“Iya?”


“Terima kasih.”


Ran mengernyit. “Untuk apa?”


“Karena kau membuat tujuan hidupku lebih jelas. Apa pun hadangan ke depannya, jangan pernah tinggalkan aku, ya. Kau mencintaiku, kan?”


“Kenapa tiba-tiba bertanya seperti itu, bukankah itu sudah jelas?”


“Aku hanya takut kau kabur lagi. Waktu kau tidak mau bicara atau bertemu denganku, aku hampir gila, rasanya ingin membunuh Pasya detik itu juga. Tapi jika aku lakukan itu kau pasti mengira kalau aku tidak ada usaha untuk tidak merenggut nyawa orang lagi. Aku sudah berusaha, Ran. Jadi jangan berpikir untuk pergi, ya.”


“Iya, aku tahu. Kaka sudah banyak perkembangan, emosi Kaka sudah bisa lebih dikendalikan. Aku tidak akan meninggalkanmu, Kak. Kau tempat pulang ternyaman.”


“Janji?” Guren menaikkan jari kelingkingnya.


“Janji.”


“Oh iya, mulai sekarang jangan panggil aku ‘Kaka lagi’ tapi kita ‘Papa-Mama’ an saja.”


“Hah?”


“Bisa, ‘kan, Ma?” tekan Guren sembari memainkan alisnya.


Ran menghela napas panjang, memang akan terdengar agak menggelikan rasanya Ran memakai panggilan seperti itu. Tapi ... ah sudahlah, anggap saja memberikan contoh pada Zairin sebutan mereka.


“Ok, Ka—ah maksudnya, Pah.”


Guren tersenyum puas begitu pula Ran merasa agak kaku. Ok, dia harus terbiasa. Memang rasanya akan lebih cocok untuk pasangan suami istri memakai embel-embel ‘Papa-Mama’ dari pada ‘Ran dan Kaka.’


***


Pada akhirnya semua berakhir jelas. Masalah dengan Pasya selesai, Ran sudah mengetahui siapa ibu kandungnya, Salsa yang tidak membedakan Ran lewat darah lagi, dan buah yang paling manis bagi Ran adalah dia yang mendapatkan tempat pulang yang sangat mencintainya; Guren dan Zairin.


Ran tidak sendiri lagi, dia mendapatkan cinta yang melimpah. Tidak ada alasan bagi Ran untuk cari perhatian seperti awal mulai cerita ini dimulai. Dan yang lebih beruntungnya, dia menikmati kekayaan suami tampannya.


Mimpi rata-rata para wanita.


TAMAT.


Terima kasih untuk kalian yang sudah menemani Author untuk novel "Terpaksa Merebut Calon Suami Kaka." Akhirnya Author dapat menyelesaikan walau dengan niat yang sulit dikumpulkan.


Beberapa kali Author ingin hiatus, tapi akhirnya tetap Author lanjutkan sebab takut lupa alur + sudah enggak minat lagi (biasalah biasanya para Author suka selingkuh buat bikin novel bari.)


Author tahu novel author banyak kekurangan, tapi Author sudah melakukan yang terbaik sebatas kemampuan Author.

__ADS_1


Sekali lagi terima kasih. Tunggu Novel baru dari Author, ya.


__ADS_2