Terpaksa Merebut Calon Suami Kakak

Terpaksa Merebut Calon Suami Kakak
Bab 37. Saling membenci.


__ADS_3

Padahal katanya Ran takut, dia malah tidur nyenyak setelah itu. Paginya dia bangun dengan badan yang sudah segar. Dikiriknya Guren yang masih pulas, pelan-pelan Ran melepaskan lingkaran tangan pria itu.


Namun dia gagal, Guren terbangun oleh pergerakannya. Pria itu tidak bersuara, matanya menilik Ran yang duduk membatu bersama mata yang membulat lebar.


Guren ingin tertawa. Ekspresi lucu serta muka bantal itu ingin sekali ia gigit, langsung saja dia menarik Ran kembali dalam dekapannya. Ah, Guren ingin seperti ini sampai ajal menjemput.


“Lepas ... aku mau masak,” cicit Ran pelan. Pipinya diunyel-unyel gemas oleh Guren, berakhir digigit hingga Ran memekik.


“Sakit!” Ran memberi perlawanan, mendorong Guren yang tertawa bagaikan bermain dengan anak kucing.


“Nanti saja, kita makan di kampus.”


Bunyi perut Ran menengahi mereka. Dia tersipu malu membenamkan diri ke dalam selimut. Tolong ingatkan Guren menahan diri untuk tidak menerkam wanita ini di detik ini. Ran yang pemalu menambah kesan yang berbeda pada dirinya yang biasa menggunakan topeng tak tahu malu.


“Oh iya tadi malam kita tidak makan. Ayo cepat mandi ... atau kita mandi sama-sama aja, ya?”


Ran meneguk liurnya, menyadari tatapan mesum Guren yang penuh maksud.


“Engga! Kau mandi sendiri di kamarmu sana,”


Bukan Guren namanya jika langsung menurut. Dia berdiri dari ranjang, bukan untuk pergi, melainkan membawa Ran ke kamar mandi bersamanya.


Ran memberontak ingin kabur. Guren melucuti pakaiannya satu persatu, Ran tahu setelah ini apa yang akan terjadi.


“Aku akan pelan-pelan,” tutur Guren penuh maksud.


***


Ran, Risti, Guren, Miztard, dan ... Aldo? Ya, mereka berada di satu meja yang sama di kantin kampus. Aldo bagaikan makhluk tak terlihat di antara dua pasangan yang berbeda vibes.


Miztard yang bermesraan dengan Risti, bersuap-suapan juga saling menggoda. Sedangkan di sisi lain ada Guren yang sibuk menggoda Ran, mengusik wanita itu yang tampak terpaksa, mengelak juga tidak bisa.


“Seharusnya aku tidak mengikuti mereka,” gumam Aldo sendiri, menghela napas berat, tidak berselera dengan makanan yang tersaji di atas meja.


“A-aku sudah selesai ... aku mau ke kelas duluan.” Tiba-tiba Ran berdiri, dia menarik tangan Aldo untuk ikut bersamanya.


Aldo berdiri tapi selanjutnya tak bergeming sama sekali, tatapan Guren seakan ingin membunuhnya. Guren berpikir apakah pria yang disukai Ran itu, Aldo?

__ADS_1


“R-Ran aku ada urusan lain, bye-bye.” Aldo berlari kencang. Pergi bersama Ran berduaan saja, sama saja dengan menggali kuburan sendiri. Apalagi ada Guren di sini.


Ran terdiam sesaat, kemudian dia pergi sendiri menjauhi area kantin. Langkah Ran begitu cepat. Susah payah dia menghindari Guren, pria itu semakin melekat padanya.


Di depan sama, Ran melihat Pasya bersama beberapa orang, memegang ponsel orang itu dengan tatapan tidak percaya. Apa yang Pasya lihat?


Ran mendekat, bersembunyi di area sekitar mereka guna mendengar apa yang mereka bicarakan.


“Ini ... ini, kan?”


“Iya, itu anak kelas Ekonomi. Engga menyangka, kan, kalau mereka berdua gay. Parah sih videonya. Langsung dikeluarkan dari sekolah.”


Mata Pasya mengerjap, mulutnya ternganga. Kemudian dia berlari entah ke mana.


Kepergian Pasya memberi kesempatan untuk bertanya langsung pada mereka. “Eh, kalian tadi bicarakan apa?” tanya Ran pada tiga cowok itu. Mereka menahan diri untuk tidak tersenyum, mungkin ini akan menjadi obrolan mereka di grub fans base Ran.


“Lihat saja grub sekolah. Belum dihapus, tuh,” jawabnya sok cuek.


Ran duduk di kursi dekat mereka karena tidak tahan dengan rasa penasaran ini. Dia langsung melepaskan ponselnya setelah suara des*han antar cowok itu terdengar dalam volume besar dari HP Ran.


“Ma-matikan. Tolong matikan,” panik Ran meminta bantuan mereka karena dia malu melihatnya.


Mereka bertiga tak sanggup menahan tawa. Ekspresi Ran lucu sekali, mereka ingin melihat ini lebih lama lagi dengan mengabaikan permintaan Ran.


“Matikan saja sendiri.”


“A-aku?”


“Ran ternyata mesum, dia melihat video seperti itu.”


“Tidak. I-ini yang ada di grub!” Wajah Ran bersemu merah.


Semua mata memandang Ran, juga ponsel Ran di lantai. Ran berlari meninggalkan ponselnya sebab terlalu malu untuk mengambilnya, volume yang terlampau besar menjadi bahan tertawaan mereka bersama Ran yang lari terbirit-birit.


Tawa mereka seketika berhenti, kala Guren memungut ponsel Ran, menyuruh mereka diam dengan nada dingin. Melihat ponsel Ran, Pria itu tersenyum tipis, dia juga menyaksikan bagaimana Ran kabur tadi. Tak sia-sia dia mengekori Ran, setidaknya dia melihat hal yang lucu dari wanita itu yang awalnya tadi sembunyi di balik pot.


“Ponsel ini kuno, aku belikan yang baru saja,” ucap Guren, berjalan sembari melambung-lambung ponsel Ran. “Bisa-bisanya istri seorang Guren terlihat seperti orang miskin.”

__ADS_1


***


“Mereka tiga hari tidak masuk?” tanya Pasya pada temannya yang lain di kelas.


“Iya.”


Empat teman Pasya hilang, bahkan orang tua mereka sendiri mencari mereka yang entah ke mana. Pasya berpikir sejenak. Ah iya, dua cowok yang kemarin mereka suruh saja kini menjadi topik panas dengan video tak senonoh. Pasti ada dalang di balik ini semua.


“Guren, pasti ini ulah Guren.” Hanya pria itu yang Pasya pikir mampu melakukan hal yang semacam itu. Apalagi ini berhubungan erat dengan Ran. Memikirkannya saja membuat Pasya menangis.


“Kenapa sampai sebegitunya dia membela Ran?!” teriaknya. Teman kelas hanya mengabaikan teriakan Pasya, apa yang bisa mereka lakukan dengan air mata wanita itu?


Pasya duduk di bangkunya, melipat tangan di atas meja dan menangis di atasnya. Ia harap Guren datang untuk menghentikan sakit hati itu.


“Aku akan lakukan apa pun untuk menyingkirkan Ran,” gumam Pasya hampir tak terdengar. Dia semakin dendam pada Ran, semakin benci juga semakin ingin menyakiti.


Oh tidak akan mudah. Di sini Ran juga menaruh dendam pada Pasya, menaruh benci juga ingin menyakiti.


Bagaimana caranya? Gadis ini tengah berpikir sambil menatap jendela, melamunkan hal jahat.


Apa dengan memanfaatkan Guren saja, ya? Tidak, Guren bukan orang bodoh yang dengan mudahnya masuk ke dalam rencana Ran. Walaupun dendam, Ran masih ingin melempar Guren ke Pasya, karena Ran takut pada Guren, lebih baik membiarkan dia bersama cintanya dari pada dia terjebak dengan pria itu lebih lama lagi.


“Ran ponselmu tadi dibawa Guren.” Risti berujar sambil menarik kursi untuk duduk.


“....”


“Ran kau melamun lagi?”


“....”


“Sudahlah, lanjutkan saja lamunanmu. Aku juga mau menghalu dulu sebelum kelas di mulai.”


Di bangku paling belakang, Aldo menggeleng-geleng kepala melihat dua gadis di depan sama-sama diam dengan pemikiran masing-masing.


“Mulai lagi, sebenarnya apa sih beban pikiran mereka?”


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2