
Pulang dari rumah sakit, Ran mendapatkan empat jahitan di betisnya. Dia sekarang berada di kamar hotel dengan mata yang tak kunjung hendak tidur.
Entah ke mana perginya Guren, pria itu telah menghilang setelah mengantarkan Ran untuk beristrikan di hotel. Apakah Guren kembali ke pesta itu? Ran jadi kasihan memikirkan nasib pelayan wanita tadi.
Wanita itu sepertinya sakit, tapi dia memaksakan diri untuk bekerja. Terjadilah kecerobohan yang berujung kemalangan. Kasihan sekali, Ran harap wanita itu tidak menanggung rugi ataupun dipecat dari pekerjaannya.
“Apa mereka sama sekali tidak memiliki empati?” gumam Ran pelan, mengingat bagaimana bibi Xiying memarahi habis-habisan si wanita pelayan.
“Siapa yang kau maksud?” Guren muncul dari ambang pintu. Pria itu baru saja masuk setelah engah ke mana dia pergi tadi.
Ran menghela napas berat ketika pria itu menarik selimut, baring menghadap Ran.
“Apa yang terjadi dengan pelayan wanita itu?” tanya Ran, dari matanya Guren bisa menebak jika Ran berharap pelayan wanita tadi tidak kehilangan apa pun.
“Dia dipecat, oleh pihak hotel atas tuntutan Tante Xiying.”
Mata Ran berubah sayu, dia berbalik membelakangi Guren.
“Kenapa kau membelanya? Dia mencelakaimu loh, Ran.”
“Bukankah dia sudah dapat tamparan dari Tante Xiying? Apalagi dia harus kehilangan pekerjaan hanya karena bermula dari merusak hiasan rambutku. Tidak masuk akal! Empati kalian orang kaya sangat kecil.”
Sedih sekali, Ran mengerti bagaimana rasanya kehilangan pekerjaan di saat sedang butuh-butuhnya. Putus asa, lelah, dan sakit hati, Ran pernah berada di posisi seperti itu.
Kemudian Guren menjawab tanpa intonasi dari suaranya. “Terus kau tidak kasihan denganku?”
“Apa yang perlu dikasihani?”
“Hiasan rambut yang rusak itu nilainya tidak sedikit, aku menyukai hiasan itu karena kau sangat cantik dengan warna merah. Aku bekerja keras untuk mendapatkannya, bukan dari segi uang saja, tapi dari segi persaingan juga.”
Penuturan Guren berhasil membuat Ran menoleh. Benar juga, ia ingat katanya hiasan itu ada di pelelangan Hong Kong. Belum lagi uang yang tidak sedikit yang dikeluarkan oleh Guren. Padahal Ran sering memergoki Guren yang kelelahan di depan komputer untuk menghasilkan uang.
Apa usaha Guren serendah itu di mata Ran, hingga dia tidak memikirkan bagaimana uang yang tidak sedikit itu dihasilkan?
“Maaf,” cicit Ran pelan, menenggelamkan separuh wajahnya dalam selimut.
__ADS_1
“Tidak usah dipikirkan. Kau harus mengerti saja, pelayan ceroboh tidak cocok bekerja di hotel bintang lima. Pelayan itu mendapat hukuman karena dia tidak mengerti batasannya, dia terlalu memaksakan diri walaupun tahu sedang sakit.”
“Tapi mungkin saja dia sangat butuh uang.”
“Tidak bisa Ran. Dia punya tujuan, tapi pekerjaan punya standar.”
Baiklah Ran mengerti, bukan mereka yang berempati sempit, tapi mereka adalah orang-orang yang berpegangan dengan komitmen. Orang-orang yang tidak ingin ditipu dengan cara mengabaikan sedikit empati mereka, orang-orang yang beranggapan bahwa dunia ini penuh dengan persaingan tipu daya.
Mereka tidak bisa sembarangan mengulurkan tangan mereka. Atau, tangan itu akan ditarik hingga putus oleh lawan mereka.
“Mulai sekarang kau harus meneguhkan hatimu, Ran. Tidak apa-apa merasa kasihan, tapi jangan sampai kau dianggap remeh oleh mereka,” tegur Guren.
Berasal dari keluarga kaya raya yang tak luput dari perhatian lawan bisnis bukanlah hal mudah. Ini bukan lagi tentang pekerjaan, tapi rasa haus akan kekuasaan. Mereka bisa melakukan hal-hal gila, menipu publik, membunuh, mengancam, dan semua hal itu bisa disembunyikan dengan baik.
Guren menarik Ran untuk duduk di atas perutnya, menatap mata jernih itu dengan tatapan tegas. “Kau mengerti maksudku, kan?”
“Iya.”
“Mulai sekarang jangan sembarangan tersenyum pada orang lain. Sebagai menantu keluarga Zullies kau harus tegas, lawan mereka yang ingin menindasmu. Kalau tidak bisa menggunakan tanganmu sendiri, kau bisa menggunakan kekuasaan keluarga Zullies. Manfaatkan status itu, Ran. Itulah tujuan Zullies haus kekuasaan, agar anggota keluarganya disegani, termasuk dirimu.”
***
Pagi-pagi dering ponsel Guren membangunkan keduanya dari alam mimpi.
“Siapa?” tanya Ran sambil mengucek mata, melihat Guren yang beranjak dari tempat tidur untuk mengambil ponselnya yang ada di atas sofa.
“Tante Xiying,” jawab Guren. Selanjutnya pria itu mendengar perkataan tantenya. “Ia Ran baik-baik saja, dia bisa jalan ... Aku mengerti Tante ... Tiga hari, sore ini kami ke sana ... Ok.”
“Kenapa?” Ran bertanya setelah Guren memutuskan sambungannya.
Guren berbalik menghadap Ran. “Tante menyuruh kita menginap di kediaman Wang.”
“Berapa lama?”
“Tiga hari.”
__ADS_1
“Bagaimana dengan kampus?”
“Sudahlah, itu gampang. Lagian enggak enak ‘kan kalau kita langsung pulang.”
Ran mengangguk mengerti, kemudian dia teringat sesuatu. “Aku juga ingin berkenalan dengan Kakek Taleyeo, semalam Kak Guren tidak mempertemukan aku dengannya.”
“Dia sudah meninggal dua tahun yang lalu. Lagian sudah tua, kakekku saja yang panjang umurnya. Padahal teman seangkatan dia sudah mati semua.”
“Mulutmu!” gertak Ran.
“Aku sedang memuji daya tahan hidup Kakek, Ran. Bukan sedang mendoakannya cepat mati,” kekeh Guren merasa lucu. “Oh iya bagaimana kalau hari ini kita jalan-jalan.”
“Mau!” Mata Ran berbinar bahagia. Dulu dia selalu bermimpi akan menginjak tanah luar negeri suatu saat nanti, mimpinya terwujud.
Mereka menikmati hari, mencoba hal baru yang tidak mereka temukan di negara asal. Untuk lebih menikmatinya, mereka tidak menyewa mobil pribadi, melainkan jalan kaki dan naik angkutan umum.
Sangat menyenangkan, apalagi saat mencoba berbagai kuliner jalanan yang bahkan pernah Ran lihat di vlog mukbang YouTube.
Ran tidak ingin hari ini berakhir dengan cepat, tapi ini sudah sore, mereka akan pergi ke kediaman Wang untuk menikmati makan malam bersama.
“Tenang saja, malam besok kita akan jalan-jalan lagi. Aku tahu suasana malam dan siang itu berbeda.” Seakan peka akan Ran yang masih ingin bermain, Guren mengatakan kalimat itu untuk membujuknya.
“Malam besok, ya.”
“Iya, malam besok.” Guren mengambil tangan Ran, menautkan jari kelingking mereka agar Ran percaya.
“Baiklah, ayo kita ke rumah Wang. Aku harus bersikap seperti apa di sana?”
“Tidak ada, anggap saja rumah sendiri.”
Mereka pun berjalan menuju pemberhentian angkutan umum. Walaupun tidak sampai malam, tapi Ran cukup puas dan bahagia menghabiskan waktu tanpa perang dingin bersama Guren.
Mungkin suatu saat dia bisa pergi ke negara yang ingin sekali ia kunjungi, yaitu Jepang. Ran ingin merasakan bagaimana bunga sakura berjatuhan di atasnya, atau salju yang bisa ia buat main membentuk boneka.
Bersambung....
__ADS_1