Terpaksa Merebut Calon Suami Kakak

Terpaksa Merebut Calon Suami Kakak
Bab 52. Penyusup.


__ADS_3

Seperti kata Guren, malam ini dia pulang larut atau malah tidak pulang. Ran tidur sendiri, padahal dia rencananya ingin tidur bersama Genji jika suami wanita itu tidak pulang. Yah, suami Genji pulang sore tadi.


Tidak apa, Ran berteman baik dengan sepi. Kala dia hendak pulas, Ran merasa mendengar suara pintu yang terbuka, anehnya Ran malah takut.


Semakin dekat dan semakin dekat, wangi parfum ini bukan milik Guren. Jantung Ran berdebar kencang, dia takut untuk membuka mata.


‘Ada orang, siapa dia?’ Ran hanya bisa bersuara di dalam hati. Dia juga tidak berani bergerak.


Sampai Ran merasakan belaian tangan di wajahnya, sungguh tangan yang terasa halus ini bukan tangan Guren!


Tidak biasa dibiarkan, Ran harus melihat siapa orang yang berani masuk ke kamarnya. Dan....


“H-hai, maaf membangunkanmu,” ucapnya terbata.


Ran bernapas lega, ternyata yang datang adalah Kanae. “Ada urusan apa kau ke sini?” balas Ran.


Kanae tampak kebingungan, seperti orang yang tengah mencari alasan. Ran mengernyit, keberadaan Kanae tidak wajar, apalagi di waktu dini hari ini. Apa dia ingin mencari? Tidak mungkin. Atau dia ingin membunuh Ran? Secara dia menyukai Guren.


“Kak Kanae?” panggil Ran selidik.


“Wa-wajahmu pucat sejak siang tadi, jadi aku datang untuk memeriksanya.”


“Di waktu seperti ini?”


“Aku tidak bisa tidur sebab memikirkanmu. Tidurlah lagi sepertinya kau tidak apa-apa.”


Ran berkedip cepat beberapa kali. Aneh, kenapa Kanae tiba-tiba perhatian padanya? Bahkan kemarin dia sangat cuek pada Ran.


“Ok, sekarang apa yang kau tunggu? Aku baik-baik saja, silakan keluar.” Bukan maksud kasar, tapi Ran tidak nyaman dengan Kanae. Guren bilang Kanae membenci wanita yang dekat dengan Guren, termasuk Ran istrinya.


Kanae tampak ragu hendak keluar, seperti ada yang disembunyikan oleh wanita itu.


“Baiklah, selamat malam.” Akhirnya dia keluar dari kamar Ran.


Ran memandangi pintu yang sudah tertutup rapat itu. “Ada apa dengannya?” gumam Ran, apalagi tadi dia melihat Kanae menggelengkan kepala.


Lima belas meniti kemudian Ran kembali tidur. Ada seseorang yang merangkak dari bawah ranjang Ran, dia keluar dari kamar Ran sesuai instruksi Kanae yang berada di ambang pintu kamar.


“Hah~” Kanae bernapas lega. “Apa yang kau lakukan, Luwang!” marah Kanae dengan suara yang tertahan.


Mereka berdua ada di luar, tepatnya di depan pintu kamar Ran.

__ADS_1


“Aku hanya ingin melihatnya,” jawab Luwang seperti tidak menyesal telah menyusup masuk ke kamar Ran.


“Gila! Bagaimana jika ketahuan? Bersyukurlah kau karena kebetulan aku melihatmu masuk ke kamar Ran, jadi aku bisa membantumu.”


“Hei, kau malah seperti sedang melindungi Ran dariku. Padahal aku ingin menyuntik wanita itu dengan obat tidur, agar dia tidak bangun saat aku melecehkannya. Kedatanganmu malah mengacaukan rencanaku!”


Mata Kanae membulat, rencana Luwang terdengar sangat Gila. “Kau mau membuat video untuk mengendalikan Ran, ya?”


“Iya.”


“Ok anggap saja kau berhasil mengancam Ran, tapi bagaimana jika wanita itu mengadu pada Guren? ... Kau bisa mati Luwang.” Kanae menekan-nekan dada Luwang menggunakan telunjuk juga dengan ekspresi geram.


Luwang malah tersenyum mengejek. “Kau pikir aku takut dengan Guren? Tidak, Kanae. Aku tidak takut pada siapa pun. Menurutmu kalau aku duel dengan Guren, siapa yang akan menang?”


“Tentu saja Guren. Tanganmu saja sehalus pantat bayi, tidak seperti laki-laki macho.”


“Kau meremehkanku.” Luwang menatap marah Kanae, menyingkirkan jari telunjuk yang menekan dadanya dengan kasar.


Tiba-tiba. “Sedang apa kalian di sini?” Guren tiba di antara mereka yang menghadang jalan masuk ke kamar.


Jantung Kanae hampir lepas melihatnya. Apa Guren mendengar percakapan mereka?


“Gi-Guren, ka-kamu hanya—”


Mereka berdua minggir, membiarkan Guren masuk ke kamarnya. Tapi saat Guren membuka pintu, dahinya mengernyit masam. Dia marah sekali, dengan pintu yang tidak terkunci itu.


Kenapa tidak dikunci? Bahaya jika ada orang yang lain masuk, terlebih laki-laki, batin Guren.


Setelah masuk, Guren kemudian mengunci pintu kamar, selanjutnya dia berjalan melihat Ran yang telah pulas.


“Dasar ceroboh, aku akan memarahimu besok.” Guren tersenyum tipis menikmati wajah pulas itu, namun tiba-tiba senyumnya pudar ketika menyadari ada korek api elektronik di lantai.


Dipungutnya korek itu, benda itu bukan milik Guren, modelnya berbeda, jadi korek itu milik siapa?


Guren bergegas membuka laptopnya, mengecek CCTV yang diam-diam ia pasang di beberapa sudut kamar. Alasannya karena Luwang, dia mewaspadai pria yang beberapa kali tertangkap tengah memperhatikan Ran dengan menjilati bibirnya sendiri, sangat mesum.


Tapi Guren tidak ada waktu untuk menyempatkan diri melihat situasi Ran yang ia tinggalkan tadi, dia sangat sibuk.


“Brengsek!” geram Guren melihat layarnya yang menunjukkan gerak-gerik Luwang.


Tadi ... sekitar puluhan menit yang lalu, Luwang masuk ke kamar Ran dengan hati-hati. Dia tidak bisa tahan melihat cantiknya wanita itu dengan suasana tenang. Dia pun mengulurkan tangan untuk membelai wajah Ran.

__ADS_1


Lembut, batinnya.


Kanae tiba-tiba datang, menekan pundak Luwang agar bersujud di lantai. Lalu kemudian terdengarlah suara Ran.


“Kak Kanae?”


“Wa-wajahmu pucat sejak siang tadi, jadi aku datang untuk memeriksanya.” Kaki Kanae menendang Luwang di bawah, dengan maksud menyuruh pria itu bersembunyi di bawah ranjang.


“Di waktu seperti ini?”


“Aku tidak bisa tidur sebab memikirkanmu. Tidurlah lagi sepertinya kau tidak apa-apa.”


Saat Ran menyuruh Kanae untuk pergi, Kanae bingung, sampai dia hendak pintu kamar, Kanae dapat melihat Luwang di bawah. Wanita itu menggelengkan kepala, dengan maksud agar Luwang tidak macam-macam.


15 menit kemudian Kanae kembali membuka pintu kamar Ran, dia lihat wanita itu sudah tidur.


“Keluarlah,” ucap Kanae dengan gerakan bibir, juga gerakan tangan yang memberitahu jika situasi sudah aman.


Kembali lagi pada saat ini, Luwang berada di teras rumah menatap bintang yang masih banyak di langit. Kemudian dia mengambil sebatang rokok, tapi dia tidak menemukan koreknya.


“Ke mana korekku?” Luwang meraba-raba saku celanya.


“Mencari ini?”


Korek tepat di depan matanya, dipegang oleh seseorang yang ada di belakang tubuh Luwang. Sontak Luwang berbalik, ada Guren yang menatapnya tajam.


Luwang terdiam sesaat, dia ingin berpikir kalau Guren menemukan koreknya mungkin di depan pintu kamar. Tapi apa alasan Guren sampai menemuinya di sini hanya karena korek apa? Apa dia memang sebaik itu?


Tidak! Kemungkinan besar Guren mencurigai Luwang masuk ke kamar istrinya. Dia harus mencari alasan agar tidak menimbulkan keributan, apalagi dengan reputasi buruk Guren, dia tidak akan segan-segan bahkan berada di rumah orang.


“Ah iya aku lupa, tadi Ran yang meminjamnya.”


“Oh benarkah? Tapi istriku tidak merokok.”


“Tidak tahu buat apa, mungkin hal lain.” Luwang bersandiwara dengan bagus, dia layak debut menjadi Aktor.


Guren merasa jijik melihat wajah Luwang, tapi dia datang hanya ingin memberi peringatan. “Aku tidak bodoh, Luwang. Kali ini aku lepaskan kau, tapi jika ada lain kali ... aku akan menjadi pembunuh yang bebas dari hukum.”


Setelah itu Guren pergi.


Luwang berdesah sebal, ternyata Guren tahu. Bagaimana cara dia tahu? Tidak mungkinkan hanya dari korek?

__ADS_1


“Dasar arogan, omonganmu sangat tinggi,” hina Luwang setelah tidak kelihatan lagi keberadaan Guren.


Bersambung....


__ADS_2