
Waktu terasa berlalu dengan cepat, di setiap harinya tidak ada masalah yang mengganggu Ran. Usia kehamilannya sekarang sudah menginjak sembilan bulan—Ran selalu gugup dan juga tidak sabar menunggu hari kelahiran yang diperkirakan 14 hari lagi. Namun sesuatu yang mengerikan terjadi, Ran terpeleset di kamar mandi.
Keluarga Zullies berbondong-bondong ke rumah sakit, mereka mendengar kabar Ran terpeleset di kamar mandi hingga pendarahan.
Saat ini Dokter tengah melakukan operasi. Guren sudah lemas menunggu di depan ruangan, roh dan raganya seakan terpisah saking pucatnya pria itu—masih terbayang di ingatan Guren Ran yang merintih kesakitan bersama darah yang keluar dari selang*angan.
Muti yang mengerti situasi tidak akan menanyakan ini itu—malah memperkeruh keadaan Guren nantinya. Dia duduk di samping Guren yang tertunduk cemas—memberikan pelukan lembut lalu berkata, “Jangan khawatir semua akan baik-baik saja. Keluarga baru kita ingin lebih cepat keluar.”
Papa Guren ikut duduk di samping Guren, menepuk pundak Guren tanpa berkata apa pun. Namun Guren menoleh ke arah papanya, pria itu menatap lurus ke pintu ruang UGD tempat Ran berada.
Ya, semua orang di sekitarnya tidak ada yang panik, mereka percaya semua akan baik-baik saja. Guren pun menegapkan badan, dia tidak boleh rapuh sekarang—ada Ran dan Dokter yang tengah berjuang di dalam sana.
“Nah, begitulah seharusnya seorang laki-laki,” sambung Kakek Tarmizi.
Selang beberapa menit kemudian Doni dan Salsa datang, mereka mendapat kabar dari Muti dan langsung berangkat detik itu juga.
“Bagaimana? Apa sudah keluar?” tanya Salsa melangkah cepat menghampiri sekeluarga yang menunggu.
“Belum. Ran operasi bukan lahiran normal.”
Selanjutnya suasa hening, sampai dokter keluar dengan wajah cerah. “Operasi berjalan lancar,” tuturnya, membangkitkan kebahagiaan mereka yang menunggu di luar.
Guren langsung menyelonong masuk, Suster memperlihatkan bayi kecil di gendongannya tapi Guren melewati Suster begitu saja—Guren lebih khawatir akan Ran, dibandingkan anaknya.
“Ran.” Guren memeluk wanita yang masih tidak sadar itu, dia menangis dengan perasaan campur aduk, antara senang dan sedih melihat Ran tidak berdaya seperti ini.
__ADS_1
“Sa-saya bersihkan bayi dulu.” Suster jadi canggung sebab Guren mengabaikannya padahal dia sudah percaya diri tadi. Ya selama tiga bulan dia menjadi Suster rumah sakit, para suami biasanya menyambut anak mereka terlebih dahulu. Ini pengalaman baru bagi Suster.
“Suster, saya ikut,” tawar Muti. Dia pernah mendengar tentang bayi yang ditukar, oleh sebab itu Muti tidak ingin membiarkan Suster sendiri dengan cucunya, sementara mereka belum hafal dengan wajah bayi itu. Terlebih bayi itu adalah keturunan Zullies, keluarga kaya yang memiliki banyak pesaing licik.
***
Berisiknya suara yang ditangkap Ran membuatnya bangun di waktu yang tak seharusnya. Pukul sebelas malam, ruang rawat inap satu ini tidak mengecilkan volume suara mereka untuk berebutan menggendong bayi yang menangis.
Mata Ran terbuka sempurna, dia merasa sempit di tempat baringnya sekarang. Saat melirik ke samping, Ran melihat Guren yang tidur begitu mepet.
Tiba-tiba Ran tersadar akan suara tangisan bayi, sontak perhatiannya terpusat pada bayi yang berada di gendongan Kakek Tarmizi, sementara yang lain sibuk bertengkar.
“Berisik kalian! Zairin jadi terganggu!” Kesal Kakek.
“Itu anakku?” Suara Ran menghentikan kebisingan mereka. Sama-sama mereka menoleh. Kakek berjalan—menyerahkan Zairin untuk digendong Ran.
“Iya ini putrimu, Lazairin Zullies. Nama yang sudah kalian siapkan untuknya.”
Mata Ran berlinang menyambut Zairin, seketika Zairin berhenti menangis. Oh Tuhan, perasaan apa ini? Hati Ran menghangat di sela-sela rasa sakitnya.
“Lazairin Zullies.” Ran kembali mengulang nama putrinya, tidak sekali namun sampai beberapa kali bersama air mata haru. “Kau suka nama itu?”
Lalu datanglah Muti dan Salsa. “Berikan dia ASI, Ran.”
Mendengar itu para laki-laki keluar dari ruang rawat inap, mata mereka bisa dicungkil Guren jikalau ketahuan melihat dada Ran. Beruntunglah Guren tidur saat empat pria itu tengah memperebutkan Zairin hingga Zairin menangis.
__ADS_1
Ran menatap dua ibunya secara bergantian. Oh, dia tidak menyangka Salsa juga datang.
“Apa yang kautunggu?” tutur Muti karena Ran belum membuka kancing bajunya. “Atau kau malu dengan kami?”
Ran tersenyum canggung. Tebakan Muti memang benar, Ran malu, satu-satunya orang yang sering melihat dada Ran, ya Guren. Tidak hanya dada tapi keseluruhan tubuh Ran.
“Baiklah kami akan keluar sebentar.”
Barulah Ran berani membuka kancing bajunya. Sensasi awal yang ia rasakan agak geli serta ngilu. Kenapa begitu, ya? Kok beda jika itu Guren? Ran menarik napas panjang menahan rasanya. Guren bangun karena mendengar desisan Ran.
“Ran kau sudah ....” Guren berhenti bicara kala melihat Zairin sedang menyusu. “Hei itu milikku, kau minum dari dot saja.” Guren mengambil alih Zairin—bayi itu mengeluarkan suara kecil seakan protes.
“Duh, perih juga,” keluh Ran.
“Tuh, kau membuat mamamu sakit. Mau papa ajarkan caranya agar Mama tidak kesakitan?”
Plak!
Ran menampar kepala Guren. “Apa yang ingin kauajarkan?!”
“Cara menghisap dengan benar.”
Sekali lagi dia menampar kepala Guren. Bisa-bisanya Guren bicara seperti itu di depan anaknya. Ah, sudahlah Ran tidak peduli. Ran memejamkan mata untuk kembali beristirahat, lagian Zairin tampaknya sudah tidur di tangan Guren.
Bersambung ....
__ADS_1