
Di tempat lain ada pasangan yang tengah bertengkar hebat, yaitu Miztard Risti. Suara tangis Risti yang terdengar pilu menghentikan perdebatan mereka sesaat, Miztard memukul setir mobilnya, melampiaskan emosinya.
“Kita putus saja,” tutur Risti di sela-sela tangisnya. Dia semakin tertunduk, tangannya mengepal kuat hingga kuku panjang Risti melukai telapak tangannya sendiri.
Namun Risti tidak merasakannya, hatinya lebih sakit, otaknya tak memberi sinyal akan luka di telapak tangan sebab terlalu sibuk dengan perasaan yang begitu dominan.
Selanjutnya Risti sontak mendongak tidak percaya saat Miztard berkata, “Baiklah.”
Hancur dunia Risti, tanpa berkedip pun air matanya jatuh begitu deras. “Kenapa? Kenapa kau begitu mudah menyetujui? Sudah kuduga, perasaanmu padaku tidak sebesar perasaanku!”
“....” Miztard tak menanggapi, dia melajukan mobil untuk mengantar Risti pulang.
“Mi-Miztard a-aku tidak serius tadi! Aku tidak ingin putus denganmu.” Napas Risti sesak, Miztard tampak tidak peduli lagi, jadi hubungan yang dijalani mereka selama tiga tahun ini sudah berakhir?
“Miztard,” sebut Risti lemah, terus menatap Miztard yang fokus menghadap depan.
Sampailah di rumah Risti, Risti terus menatap Miztard dengan tatapan kekecewaan. Setelah sekian menit setelah mobil berhenti, Risti belum juga keluar.
“Apa yang kau tunggu? Keluarlah,” suruh Miztard tanpa menolak sedikit pun.
“Ki-kita tidak benar-benar putus, kan?”
“Kita putus,” jawab Miztard. Lelah sekali rasanya, Miztard pikir mengakhiri hubungan ini adalah jalan yang terbaik. Ya, dia tidak bisa terus menggantung Risti seperti Guren yang menggantung Pasya dulu.
Perasaan Miztard juga sama hancurnya dengan Risti, namun pria ini bisa menyembunyikan ekspresinya. Jika begitu, kenapa dia tidak mencoba mempertahankan Risti?
“Keluarlah, Risti. Kita tidak memiliki hubungan apa-apa lagi.”
Walaupun berat Risti akhirnya keluar, selepas itu mobil Miztard terus pergi meninggalkan kawasan rumahnya. Kaki Risti terasa lemas, dia terduduk sembari menutup muka menahan sesak di dada. Dia ingin menjerit, tapi tak ia lakukan sebab sadar di mana dia berada.
Sedangkan Miztard, sampai di rumah dia langsung membanting pintu kamar. “Maaf,” gumamnya bersandar di belakang pintu.
***
Karena minggu, Ran tidak masuk kampus hari ini. Seharusnya dia juga menghabiskan waktu seharian dengan Guren, tapi dia malah ditinggal di sini. Ingin jalan-jalan bersama Risti, tapi wanita itu tidak masuk kampus tiga hari ini, bahkan Ran tidak bisa menghubunginya.
Ran jalan-jalan saja menelusuri halaman di rumah klasik ini saja, seorang diri tanpa ditemani oleh siapa pun. Rumah yang memiliki begitu banyak jenis tanaman begitu menyenangkan berjalan di sekitarnya.
__ADS_1
Ran singgah di sebuah gazebo di halaman belakang, ada kolam ikan serta air mancur dari bambu di sekitarnya.
“Rumah ini ... udaranya bagus,” gumam Ran, suasana alam seperti ini sangat baik untuk Ran rileks apalagi dalam keadaan mengandung seperti sekarang.
Tiba-tiba ada seorang wanita cantik berpenampilan anggun menghampiri Ran. “Boleh aku ikut duduk di sini?” ucapnya sembari tersenyum tipis.
Ran diam, memindai wanita yang tidak ia kenali itu. Tubuh wanita itu ideal, tidak terlalu tinggi namun terlihat tinggi, panjang rambut sepunggung, dengan make up yang sesuai dengan dirinya.
“Kau siapa?” tanya Ran.
“Aku? Hm ... aku Tesya.” Tesya duduk berseberangan dengan Ran, selanjutnya mereka berdua sama-sama diam.
Datanglah pelayan membawa teh juga kudapan. Ran tidak ingat ada memanggil mereka untuk membawa itu, tapi melihat Tasya yang menerima begitu ringan, mungkin wanita itu yang menyuruh mereka.
Tesya menuangkan teh ke dalam gelas seperti orang yang bermartabat, Ran tebak wanita ini pasti berasal dari keluarga konglomerat.
“Silakan dicoba,” Tesy meletakkan gelas di hadapan Ran. “Ini adalah teh rosella, aku sangat menyukai rasa khas teh ini. Sayang sekali tidak bisa diminum setiap saat.”
“Apa wanita hamil juga boleh minum?”
Tesya berhenti menyesap tehnya, dia mengambil gelas itu. “Tidak boleh! Tanya doktermu dulu kalau mau meminumnya.” jawabnya. “Aku panggilkan pelayan untuk membuat teh lain.”
Tesya kembali duduk. “Maaf, aku tidak tahu kalau kau hamil.”
“Tidak apa-apa ... kamu salah satu cucunya—”
“Tesya!” panggil seseorang menghentikan pertanyaan Ran. Yang memanggil adalah Miztard di sebelah sana.
Tesya berdiri, “Aku sudah haru pulang, sampai jumpa.”
Tesya pun pergi mendekati Miztard, menyisakan Ran yang tidak paham akan situasi. “Sebenarnya siapa Tesya?” Ran beranjak dari tempatnya, sedikit berlari untuk menyusul Tesya.
Dia diam di dekat pohon besar di halaman depan. Yang ia lihat Miztard membukakan pintu mempersilahkan Tesya untuk masuk terlebih dahulu, tapi wajah Miztard terkesan memaksakan senyum.
“Dia calon istri Miztard, empat bulan lagi mereka akan menikah.”
Sontak Ran menoleh ke samping, ada Kakek Tarmizi yang berucap sembari tersenyum tipis melihat kepergian Miztard dengan Tesya.
__ADS_1
“Nikah? Tapi Kak Miztard punya pacar.”
“Mereka sudah putus,” jawab Kakek.
Ran terkejut, benarkah mereka sudah putus? Apa karena alasan itu Risti tidak masuk kampus beberapa hari ini? Pasti dia sedang galau sekarang.
“Ke-kenapa? Bukannya mereka saling mencintai?”
“Mau bagaimana lagi? Sudah menjadi tugas calon pemimpin untuk menguatkan kekuasaannya, pernikahan salah satu jalan alternatif ... itulah kenapa suamimu tidak ingin menjadi pewaris.”
Ran mengela napas berat, tidak ada yang bisa ia lakukan untuk Risti. Mungkin mereka memang bukan jodoh, Ran berharap mereka akan sama-sama bahagia dengan pasangan hidup masing-masing.
“Tesya,” gumam Ran, mengulang nama calon istri Miztard. Namanya hampir mirip dengan Pasya, Ran jadi terpikir sedang apa Pasya sekarang? Hm lupakan!
“Kakek, Kak Guren kapan pulang?”
“Kau rindu? Baru sehari padahal.” Terus Kakek melirik perut Ran. “Apa bayi yang rindu dengan papanya?”
Ran mengedikkan bahu sebagai jawaban dia juga tidak tahu.
“Guren ada masalah yang harus dia selesaikan, masalah yang mempertaruhkan keberlangsungan perusahaan. Kakek harap kau mengerti, Ran. Maka dari itu kau harus menjaga dirimu baik-baik, jangan membuatnya cemas saat ini.” Setelah itu Kakek pergi, kembali masuk ke dalam rumah.
Sedangkan Ran kembali berdiam diri di tempat yang sama dengan tadi malam. “Aku mengerti, Kakek,” gumam Ran lemas. Guren sedang menghadapi masalah serius, Ran akan menunggu dengan sabar berapa hari pun itu walaupun dia sangat ingin bertemu dengan Guren.
Ran kembali ke gazebo tempat ia duduk sebenarnya, masih ada sisa teko juga kudapan yang baru tersentuh sedikit. Kebetulan ada pelayan lewat, Ran segera memanggilnya.
“Hai kamu, kemarilah.”
Pelayan datang. “Ada apa, Nona?”
“Buatkan aku jus jeruk, dan bawa teko teh ini pergi,” suruh Ran, dia sudah mulai terbiasa dengan statusnya yang dihormati.
“Baik, Nona.”
“Jangan dikasih gula, aku mau kau membawanya dengan gelas yang besar.”
Ran sangat haus sekarang, ditambah ada kudapan yang ingin ia makan. Tadi tak berselera, namun sekarang tampak menggoda.
__ADS_1
Bersambung....