Terpaksa Merebut Calon Suami Kakak

Terpaksa Merebut Calon Suami Kakak
Bab 74. Foto masa lalu.


__ADS_3

Seperti biasa, sebelum masuk ke rumah Guren terdiam sesaat di depan pintu. Guren malu, malu berhadapan dengan Ran yang takut padanya—sengaja Guren selalu pulang larut agar Ran tidak melihat wajahnya. Sudah pukul sebelas malam, seharusnya Ran sudah tidur.


Kenyataannya ....


“Angkat tangan, atau kutembak!” Ran menodongkan senjata—menyambut kedatangan Guren dengan ekstrem.


Guren mengangkat kedua tangannya, padahal ditodong senjata yang berbahaya tapi Guren sangat bahagia. Hati Guren menghangat, dia hampir menjatuhkan air mata yang ia tahan di kelopak mata.


“Jangan cengeng penjahat! Ayo sini maju dan peluk aku!”


Bruk! Ran hampir tumbang oleh Guren yang cepat mendekapnya. Katanya jangan cengeng, tapi Ran terisak mengeluarkan suara sakit yang selama ini ia tahan.


“Jangan berani macam-macam denganku, kaulihat? Aku memegang senjata yang bisa membuat kepalamu berlubang, Kak,” tutur Ran seperti anak kecil yang bicara sambil menangis.


“Eng.” Guren mengangguk setuju, mengusap punggung Ran dengan kepalanya sendiri bersembunyi di leher Ran.


Akhirnya, setelah sekian lama menjalani hari yang berat—Guren mendapatkan kembali istrinya—tidak hanya dari segi raga namun juga hati.


Kemudian Guren melonggarkan pelukan, sedikit mendorong Ran, menangkup kedua pipi basah Ran di tangannya. “Maafkan aku, aku tidak akan menjadi sampah lagi, aku janji. Kau pegang janjiku sebagai salah satu peluru senjata itu.”


Tangan Ran menyingkirkan tangan Guren dari wajahnya, menatap mata sama mata dengan Guren, lalu berkata, “Bisakah kau mengabulkan permintaanku?”


“Apa pun itu, katakan.”


***


Cahaya merembes masuk kala pintu gudang gelap terbuka, Arif membuka matanya sebab merasa silau di hari-harinya yang tidak melihat cahaya semenjak ditangkap Guren dan disekap digudang kantor.


“Guren?” Arif mengernyit melihat mimik wajah Guren yang tidak seperti hari sebelumnya.

__ADS_1


Guren melepaskan rantai yang membelenggu leher Arif. “Maafkan aku,” ucapnya.


Sekali lagi Arif mengernyit, Apa barusan minta maaf? Pada Arif? Tapi sepertinya memang begitu. Guren menggendong Arif, di luar sudah ada tim medis kantor yang sudah menunggu. Arif dibaringkan di brankar dorong, selanjutnya Arif akan mendapat pengobatan akan luka-lukanya.


Sedangkan satu orang lagi yang menjadi teman Arif di gudang—sudah percaya diri akan dilepas seperti Arif juga. Tapi itu tidak sesuai dengan harapannya, Guren kembali mengunci pintu Gudang setelah meletakkan sebungkus roti tawar beserta selai di depannya.


“Bagaimana dengan aku?” ucapnya menatap beku pada pintu yang merapat. Dia pun berteriak, “Woi, kapan aku bisa lulus dari tentara ini?! Bahkan anak baru itu lebih dulu keluar dari pada aku, seniornya!”


Di tempat lain, tepatnya di sebuah desa terpencil, sepasang suami istri tengah menanam padi di sawah milik Pak Lurah di kampung itu. Semenjak dipecat dan diusir oleh keluarga Zullies, sepasang suami istri itu kembali ke desa berlindung di gubuk lama mereka yang hampir ambruk.


“Pak Farhan, Buk Jamila!” panggil Pak Lurah.


Langsung pemilik nama bergerak keluar dari lumpur untuk menghampiri Pak Lurah. “Ada apa, Pak?”


“Di rumah kalian ada orang yang mencari. Pergilah dulu sambut tamu kalian, mereka masih menunggu di halaman.”


Farhan dan Jamila saling tatap, masing-masing menampilkan raut heran. Siapa yang datang? Atau kerabatnya. Dari pada terus bertanya-tanya dalam benak, mereka pun keluar untuk melihat.


“Kami datang ke sini untuk mengantarkan titipan Bos Guren.”


Jamila dan Farhan tersentak mendengar nama itu. Kali ini penderitaan seperti apa lagi yang ingin diberikan brengsek itu? Pikir Farhan sebelum sebuah koper berisi uang dibuka.


“A-apa ini?” Farhan tergagap karena tiba-tiba koper itu berpindah ke tangannya.


“Itu untuk Bapak dan Ibu. Ini juga ada surat tanah, lokasi tanahnya bisa Anda tanyakan pada Pak Lurah. Pak Lurahlah yang membantu kami mencari tanah yang jaraknya cukup dekat dengan kediaman Anda. Kalau begitu kami permisi.”


Lima orang berbadan itu kemudian pergi, meninggalkan Pak Farhan dan Buk Jamila dalam kebingungan.


“Pak?” Jamila menoleh ke Farhan setelah sebuah mobil menjauh semakin jauh.

__ADS_1


Farhan beralih membuka map, dia membaca empat surat tanah yang ukurannya jika digabungkan akan lebih besar dari pada tanah Pak Lurah. Kemudian mereka menemukan kertas tulisan tangan Guren yang menyampaikan pesan untuk menghilangkan keraguan mereka.


[Maafkan saya Pak Farhan, Buk Jamila. Tolong terima pemberian saya untuk kehidupan kalian. Semua itu sekarang milik kalian, uang dalam koper bisa kalian gunakan untuk mengelola tanah sesuka hati kalian. Saya tahu ini tidak cukup untuk membayar nyawa Vera, biarkan saya membayar walaupun tidak sepadan. Saya benar-benar minta maaf, kalian tahu? Karena kalian saya mendapat hukuman dari istri saya. Selanjutnya saya aku meminta maaf secara langsung di kaki kalian, siapkan cambuk ketika aku datang, kalian boleh memukulku. Tapi jangan sampai mati, ya. Kasihan istriku menjadi janda.]


Setelah membaca surat itu, Farhan dan Jamila saling melempar senyum. Akhirnya setelah sekian lama Guren meminta maaf pada mereka—mengakui kesalahan walaupun tidak mendapat hukuman dari pengadilan.


“Tidak apa-apa jika begini ‘kan, Bu?”


“Vera sudah tenang di alam sana. Sudah waktunya untuk kita mengikhlaskan Vera dan berpikir untuk kelangsungan hidup kita sendiri.” Jamila mendongak menatap langit, kemudian dia kembali menoleh ke Farhan. “Tanahnya mau kita buat apa, Pak?” ujarnya sambil tersenyum.


“Sebaiknya kita enggak usah bersaing sama Pak Lurah, dia sudah banyak membantu kita. Bagaimana kita tanam sawit, Buk? Sawit besarnya lumayan lama tu ya, ‘kan? Sembari menunggu kita tanah sayuran aja, kayak kentang, bawang, cabai.”


“Ibu ikut Bapak, aja.”


“Iya, kita lihat dulu lahannya, cocok enggak?”


“Ya sudah kita temui Pak Lurah sekarang.”


Beginilah cara Guren mengabulkan permintaan Ran. Ran meminta Guren untuk bertanggung jawab atas dua keluarga yang telah kehilangan putri mereka.


Sebagai gantinya Guren memberikan tanah untuk keluarga Vera, menambah dana bengkel keluarga Arif agar bisa memperbesar usaha mereka.


Memang tidak bisa dibandingkan dengan nyawa yang hilang, tapi mereka mau memaafkan Guren. Ya, balas dendam juga tidak bisa menghidupkan mereka yang sudah tiada. Lebih baik terus melangkah maju, menjadikan masa lalu hanya sebagai kenangan yang tidak ada urusan lagi di dunia ini.


“Vera, Olif, kalian wanita pemberani yang tetap mempertahankan nyawa sosok yang belum lahir dengan taruhan nyawa kalian. Tenang saja, iblis di sini aku yang tangani. Kupastikan tidak ada lagi korban seperti kalian,” ucap Ran pada dua foto wanita yang tengah tersenyum yang masing-masing bersama Guren.


“Sayang kaubicara dengan siapa?” Guren nongol dari pintu kamar mandi, kepalanya masih penuh sampo.


“Bukan urusanmu, mandi saja sana!”

__ADS_1


Dasar bajingan, berapa banyak wanita di sampingnya dulu? Batin Ran. Agak menyebalkan melihat foto Guren bersama wanita lain.


Bersambung....


__ADS_2