Terpaksa Merebut Calon Suami Kakak

Terpaksa Merebut Calon Suami Kakak
Bab 34


__ADS_3

Akhirnya setelah tiga hari tidak mandi juga menahan BAB dan pipis, Pasya hari ini dilepaskan. Yang menjemputnya bukanlah Guren atau Miztard, melainkan Arif.


Tunggu! Kenapa Arif yang datang? Bukannya pertemanan tiga cowok tampan itu sedang tidak baik-baik saja? Pasya menatap heran Arif yang melebarkan senyum, bukan seperti Miztard yang mengejeknya tapi senyum Arif terkesan mengiba.


“Kau tampak kacau.” Arif melepaskan tali yang melilit Pasya. Lilitan itu membekas di kulit wanita itu, Pasya meringis sakit—badannya pegal di mana-mana.


“Kenapa kau yang datang?” tanya Pasya masih terduduk walaupun sudah tidak terikat lagi.


“Guren yang memintaku. Biasanya Miztard yang selalu dia suruh-suruh, tapi hari ini Miztard menemani Kakek Tarmizi ke Singapura.”


Tak habis pikir kenapa dua pemuda itu mau saja mengikuti telunjuk Guren, dan lebih anehnya lagi Arif yang sempat menjaga jarak kembali mengikuti Guren.


“Kau ... kau bukannya sudah tidak berteman lagi dengan Guren, ya?” Siapa pun di kampus pasti sadar bagaimana pemuda yang biasanya bertiga menjadi berdua, sebab mereka dulu ke mana-mana selalu bertiga.


Apakah situasi akan kembali seperti dulu? Tidak.


Arif menghela napas, dia memiliki penyesalan lain sekarang, selain tentang adiknya. Ran, Arif ingin membebaskan wanita itu, tidak akan mengancamnya lagi juga akan menghapus video interaksi pembandar.


Tentang kenapa Arif yang Pasya sekarang, itu Arif sendiri yang menawarkan diri pada Guren yang tengah meledak-ledak sebab Ran tidak pulang-pulang entah ke mana.


“Pasya ada yang ingin aku beritahu padamu,” tutur Arif yang tampak serius. “Kita bicara di mobil saja, kau bisa berdiri? ” Arif menawarkan tangannya untuk membantu Pasya.


Pasya mengangguk menerima niat Arif, mereka pun berjalan berdua menuju mobil yang terparkir di tepi jalan sana.


Di dalam mobil, Arif sempat terdiam sejenak membuat Pasya tambah penasaran. Apakah itu sesuatu yang sulit dikatakan? Jangan-jangan Arif ingin menyatakan cinta! Pasya tiba-tiba gugup, pernyataan cinta memang selalu mendebarkan.


“Maaf Arif, kau memang ganteng tapi—”


“Aku bukan ingin menyatakan cinta,” sela Arif, tahu arah pemikiran Pasya ke mana. Wajah wanita itu langsung bersemu merah, tidak bisa, dia harus berdalih.


“A-aku tahu, kok. Aku kan cuman bercanda, lagian kamu kenapa diam saja? Katanya kau ingin memberitahu aku tentang sesuatu.”


“Ran.”


Pasya memasang telinganya baik-baik, kenapa nama Ran yang keluar dari mulut pria itu.


“Ran menikah dengan Guren karena aku mengancamnya, dia tidak salah apa pun,” lanjut Arif, dia menoleh untuk melihat reaksi Pasya. Ternyata benar, wanita itu sangat terkejut hingga mematung seperti membeku.

__ADS_1


“Hah? A-apa maksudmu?”


Arif menjelaskan semuanya pada Pasya, termasuk perasaannya sekarang pada Ran. Pasya sungguh tidak bisa berkata-kata lagi. Ternyata Ran hanya berusaha melindungi keluarganya, apa gadis yang banyak pengorbanan seperti itu yang selama ini Pasya musuhi?


Mengingat beberapa hari yang lalu, dia merasa memang sudah keterlaluan.


“Kenapa? Kenapa kau tega mengacaukan mimpiku, juga hidup Ran!” Suara Pasya meninggi.


“Jangan sok peduli dengan Ran, kau hanya memikirkan dirimu saja. Sebelum dia menikah dengan Guren pun, kau sudah jahat dengan dia.”


Memang benar, itu semua terjadi karena rasa iri Pasya semata, dia menjadikan Ran yang merebut Guren sebagai alasan utama atas tindakannya selama ini. Pasya sadar itu, dan mungkin dia tidak akan berubah walaupun sudah tahu kenyataan.


Kepalanya tertunduk bersama kepalan tangan yang digenggam erat. “Jawab saja pertanyaanku tadi,” ucap Pasya.


“Aku memiliki dendam pada Guren, tapi aku sudah tidak peduli lagi. Ada hal yang lebih utama yang ingin kudapatkan, yaitu Ran. Kalau aku dapat dia, aku tidak peduli lagi dengan masa lalu ... Ran bisa menjadi sosok pengganti Olif.”


Pasya tidak tahu siapa itu Olif, tidak penting juga bagi Pasya. “Jadi tujuanmu menceritakan rahasia itu padaku untuk apa?”


“Hanya ingin memberitahu kalau kita dalam satu kubu. Sepertinya Guren sudah memiliki perasaan pada Ran, aku ingin kau membuat Guren kembali mencintaimu sepenuhnya.”


“Aku juga sadar itu. Terus kau mau mendekati Ran gitu? Tanpa ada aku kau bisa mendekati Ran.”


“Baiklah, aku mengerti maksudmu.”


***


Di depan sebuah rumah, Guren memarkirkan motornya, terburu-buru mengetuk pintu juga menekan bel dari rumah bergaya modern itu.


Sampai akhirnya Papa Risti yang menyambut kedatangan Guren.


Mata Guren membulat, ini kan om-om yang duduk berdua dengan Ran di dekat apartemen waktu itu.


“Om siapa?” tanya Guren.


Papa Risti mengernyit. Pemuda itu yang datang ke rumahnya, kenapa malah menanyakan dirinya?


“Saya Deka.”

__ADS_1


“Ngapain Om di sini?”


“Lah? Ini kan rumah saya,” Deka bingung dengan Guren yang sepertinya tidak suka dengan dirinya. Terlihat jelas dari tatapan Guren, jika dia ingin mengajak berkelahi.


“Ini kan rumah Risti.” Guren mengecek ponselnya, melihat alamat yang dikirim Miztard beberapa menit yang lalu, tidak ada yang salah, ini benar rumah Risti.


“Saya papanya Risti, kamu ini siapa?”


Oh papanya Risti, Guren mengangguk paham, tiba-tiba dia mengajak berjabat tangan, dan masuk ke dalam begitu saja menuju sofa untuk meminum kopi yang masih belum tersentuh milik Deka.


Anak kurang ajar dari mana ini? Pikir deka.


>>>


“Oh jadi kamu sepupunya Miztard, Guren, ya? Silakan minum, silakan minum.” Beginilah reaksi Deka setelah Guren bilang kalau dia sepupunya Miztard.


Bata tertawa sumbang, melayani Guren dengan menyuguhkan beberapa camilan yang menurutnya paling enak. Dia tahu nama Guren, tapi dia tidak tahu wajah dari cucu Kakek Tarmizi yang paling nakal itu. Ya, di antara cucu-cucu Kakek Tarmizi yang lain, Guren ini yang namanya paling buruk.


“Jadi kapan mereka pulang?” tanya Guren, dia sudah menjelaskan tujuannya datang ke sini.


“Jangan terburu-buru, makan malamlah juga di sini.”


Mata Guren menyipit penuh selidik. Jangan-jangan Ran dijadikan babu di rumah ini! Dia pun bertanya, “Kenapa Om menyuruh istriku yang berbelanja? Supermarket dari sini agak jauh, ya, kan?”


“Tidak, saya juga tidak tahu kalau mereka pergi berbelanja, pembantu yang memberitahuku tadi. Sa-saya benar-benar tidak tahu.”


“Hmm, baiklah aku mengerti. Ran memang wanita yang rajin, jadi enggak heran.”


“Ya dia sangat baik, aku suka dia—”


“Om suka dengan istriku?!”


“Ti-tidak, bukan itu maksudku.”


Astaga, Deka berhadapan dengan Guren seperti berhadapan dengan bos besar yang bisa meledak kapan saja. Dia harus berhati-hati, juga sungkan. Temperamen Guren tentu berbeda jauh dengan Miztard, Deka tidak bisa bersikap santai seperti berhadapan dengan Miztard.


Deka berharap Ran cepat sampai, dia sudah tak tahan berhadapan dengan Guren seorang diri lebih lama lagi.

__ADS_1


‘Nak Ran, suamimu menakutkan,’ batinnya menangis. Seandainya di tahu sejak awal kalau Ran adalah istrinya Guren, mungkin dia tidak akan berekspresi sok cool saat menyambut kedatangan Ran.


Bersambung....


__ADS_2