Terpaksa Merebut Calon Suami Kakak

Terpaksa Merebut Calon Suami Kakak
Bab 42. Bayi?


__ADS_3

Guren pikir urusannya dengan Adit sudah selesai, sampai remaja itu menelepon Guren, memintanya untuk bertemu di depan sekolah Adit.


Awalnya Guren bilang malas, tapi Adit mengatakan bahwa ini penting dan juga mengenai Ran. Tanpa pikir panjang Guren menyetujuinya, meminta Adit untuk menunggu di depan gerbang sekolah saja.


Sampai di SMP Adit, Guren melihat Adit tidak sendiri, ada pria lain yang berdiri di samping Adit. Siapa itu?


“Arif?” heran Guren. Bertanya-tanya dalam benak, kenapa Adit membawa Arif dalam pertemuan mereka.


Guren berhenti, memarkirkan motornya tepat di depan mereka. Dia melirik Adit bergantian dengan Arif.


“Hai Guren,” sapa Arif. Cukup kaku sebab dia sudah tidak dekat lagi dengan Guren.


“Kau kenapa di sini, Rif?” tanya Guren santai.


Adit menengahi mereka, dia tahu Arif takut pada Guren. “Bang Guren, aku bawa Bang Arif untuk meluruskan sesuatu. Dengarkan, dan jangan main hakim sendiri ok.”


Guren mengernyit. Apa yang perlu di luruskan? Apa hubungan persahabatannya dengan Arif? Kalau itu Guren tidak pernah menjauhi Arif, Arif sendirilah yang menjaga jarak padanya juga Miztard.


Jika apa yang dipikirkan Guren benar, untuk apa Adit yang menjadi penengah mereka? Bocah remaja itu tidak dibutuhkan, karena mereka tidak ada sangkut pautnya. Pasti hal lain.


Arif menarik napas panjang, setelah meyakinkan diri berulah dia berkata, “Aku yang merencanakan untuk menjebakmu dengan Ran. Maafkan aku,” kata Arif singkat.


Tidak ada reaksi bagi Guren. Dia menatap Arif dengan ekspresi biasa, seolah dia sudah tahu semua. Tidak, Guren baru tahu akan rahasia ini. Dia tidak marah, hanya saja dia bingung kenapa dia tidak marah. Apa karena dia menyukai Ran?


Malah Adit yang terkejut. Dia pikir Guren akan mengamuk tadi, dan apa ini? Pria itu terkesan tidak masalah akan kelakuan Arif. Adit memutar otaknya, satu pertanyaan timbul. Apa Guren jatuh cinta pada kak Ran? Mencari pria yang disukai Ran adalah bagian dari cemburunya Guren? Astaga, Adit sulit mempercayainya.


“Lanjutkan,” pinta Guren sebab kedua orang itu hanya diam saja menatap Guren dengan raut tidak percaya.


Arif melirik Adit. “Adit kau sudah boleh pergi. Ada hal pribadi yang ingin kubicarakan pada Guren.”


Ya, tugas Adit sudah selesai. Dia pergi karena dia menghormati privasi seseorang.


Setelah Adit tidak tampak lagi, barulah Arif bicara. “Guren, kau tidak menanyakan alasanku menjebakmu?”


“Langsung saja, jangan berleha-leha.” Guren duduk bersandar di motornya. Membiarkan Arif yang berdiri menghadapnya membuka suara.

__ADS_1


Arif menjelaskan secara detail, tentang Olif adalah adiknya. Guren sempat terkejut mengetahui hal itu. Dia kembali mencermati perkataan Arif yang mengatakan jika dia dendam pada Guren, memanfaatkan Ran yang reputasinya cukup buruk untuk mempermalukan Guren dengan mengikat mereka berdua dalam hubungan pernikahan.


“Begitulah,” tutur Arif sebagai penutupan penjelasannya.


Guren melirik Arif, menatap tajam pria itu. Mengamati apakah ada benda perekam suara untuk menjebaknya. Guren berdiri memeriksa tubuh Arif secara menyeluruh.


Barulah dia bersuara setelah tidak menemukan apa pun. “Soal Olif ... aku tidak akan menyangkal. Jadi tujuanmu menceritakan ini padaku untuk apa?”


“Ceraikan Ran. Dia tidak memiliki video yang bisa mengancam reputasi keluargamu lagi. Kau bisa bebas sekarang, kau bisa menikahi Pasya.”


Guren terkekek geli. Di saat dia sudah membuang Pasya demi Ran, Arif malah mengatakan hal konyol itu.


“Yang lalu biarlah berlalu. Aku sudah terlanjur menikah dengan Ran, akan kujalani kehidupan baruku. Soal Pasya, aku sudah putus hubungan dengan dia.”


“A-apa?!” Arif sangat syok.


“Hei kau sudah melempar Ran ke dalam kehidupanku. Sekarang kau ingin menariknya kembali? Tidak bisa, Arif. Bisa masuk belum tentu bisa keluar, iyakan?”


Tangan Arif mengepal. Ekspresi Guren seakan mengejeknya, atau memang sedang mengejek? Guren naik ke atas motornya, memasang helm bersiap untuk pergi. Tapi Arif menghentikannya dengan perkataan yang membuat Guren emosi.


Setelah memenangkan dirinya Guren berkata, “Terserah. Tahu atau tidak, aku tidak akan pernah melepaskannya. Tidak peduli jika aku harus merantainya di kamar.” Setelah itu Guren pergi.


Tinggallah Arif yang tidak berdaya di sini. Lagi-lagi dia gagal. Dia selalu gagal jika berhadapan dengan Guren. Selalu kalah, juga selalu terintimidasi. Arif benci itu. Apa yang akan dia lakukan selanjutnya? Mengancam Dan untuk meninggalkan Guren? Diakan masih memiliki video papanya Ran.


Apakah berhasil? Guren bilang akan merantai Ran jika wanita itu berani pergi dari hidupnya. Arif tahu Guren main-main dengan perkataannya tadi.


***


Sampai di apartemen, Guren duduk di kursi dalam kamarnya, berdampingan dengan Ran. Melihat istrinya yang mengabaikan keberadaan Guren, dan sibuk dengan buku-buku sialan itu.


“Jangan menatapku seperti itu. Aku yakin kau juga memiliki tugas yang harus diselesaikan,” tegur Ran tanpa menoleh sedikit pun.


“Aku tidak punya waktu untuk mengerjakan tugas kampus. Lebih baik membayar orang, kan, untuk menyelesaikan hal yang merepotkan itu.”


Ran tidak menanggapi. Dia sendiri tahu bahwa Guren dan Miztard itu orang yang sibuk dengan bisnis keluarga. Walaupun bukan sebagai pemimpin, namun mereka berdua berpengaruh besar.

__ADS_1


Guren memandangi Ran yang sibuk menulis. Ah kenapa Ran bagiku cantik? Guren betah memandangi Ran begitu lama sambil tersenyum tak jelas.


Tapi kemudian senyum Guren pudar, dia ingat pertemuannya dengan Arif tadi. Dan dia sudah paham alasan Ran menikahi dengannya. Bukan karena cinta atau obsesi, juga mungkin bukan karena membenci Pasya. Semua sudah jelas, Guren tidak perlu bertanya lagi alasannya.


“Ran,” panggil Guren.


Ran pun menoleh. “Apa?” sahutnya. Beberapa kali Ran berkedip cepat, sebab Guren tidak mengatakan apa-apa lagi. “Ada apa?” ulang Ran.


“Berapa umur pernikahan kita sekarang?”


“Enam bulan. Kenapa memang?”


“Tidak terasa, ya. Biasanya umur pernikahan yang ke berapa pasangan punya bayi?”


Hah? Ran tiba-tiba jadi takut. Kenapa topik Guren seakan menyinggungnya untuk memiliki bayi di tengah-tengah kehidupan mereka? Memangnya pernikahan mereka akan lama apa?


“A-aku tidak tahu.” Ran jadi tidak terfokus lagi dengan buku di meja.


“Kita sudah berhubungan intim beberapa kali. Apa ada tanda-tanda kau akan hamil, Ran?”


“Aku da-datang bulan. Tidak mungkin!”


Ekspresi Guren tampak kecewa. Setahunya tanda-tanda orang hamil, salah satunya iyalah tidak datang bulan selama kehamilan. Tapi Ran datang bulan, itu artinya dia tidak hamil.


“Kau tidak minum obat penunda kehamilan, kan?” interogasi Guren dengan raut serius.


Ran menelan ludahnya kasar. Dia memang diam-diam minum obat penunda kehamilan di belakang Guren. Sepertinya jika Guren tahu dia akan mengamuk, pria itu sepertinya menginginkan bayi dari Ran.


“Aku tidak terpikir untuk meminum obat semacam itu,” tipu Ran. Dia kembali mengalihkan perhatiannya pada buku agar Guren tidak membaca ekspresinya yang tengah berbohong.


“Baiklah, setelah kau selesai dengan bulananmu kita harus sering-sering melakukannya sampai jadi bayi.”


Ran ingin menyangkal, ingin menolak, dan ingin menyadarkan Guren bahwa pernikahan mereka dimulai dari hari yang tidak normal. Seharusnya Guren tidak membayangkan seorang bayi. Tapi rasanya tenggorokan Ran tercekat, membayangkan reaksi Guren yang entah seperti apa nanti.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2