Terpaksa Merebut Calon Suami Kakak

Terpaksa Merebut Calon Suami Kakak
Bab 60. Emosi yang harus dijauhi.


__ADS_3

Sebelum masuk ke rumah, kepala Ran menenggak ke atas, memindai pohon besar yang menjadi perdebatan keluarga tadi pagi. Ran terus menatap ke atas, kakinya tidak bergerak sebab terpesona akan kesuburan pohon itu.


“Pantas saja Kakek sangat menyayangi pohon ini,” gumam Ran di sela-sela kekagumannya.


Hati Ran terasa damai, ketika daun kuning berjatuhan bak kelopak bunga sakura di mata Ran. Angin juga membawa aroma bunga yang juga berada di halaman, Ran menghirup dalam, menikmati suasana jingga ini.


“Nona,” panggil salah satu tukang kebun, berlari tergesa menghampiri Ran.


Sampai di depan Ran, dia menetralkan napas yang memburu, kemudian berkata, “Nona dari mana saja? Tuan muda Guren mencari Anda.”


Oh astaga! Ran menepuk jidatnya sendiri, dia lupa memberitahu Guren tentang dia yang akan diantar pulang oleh Risti.


“Sekarang dia di mana?”


“Tadi keluar memakai motor, katanya mencari Nona.”


Langsung Ran merogoh tasnya mencari ponsel untuk menghubungi Guren, ada puluhan notifikasi tanpa respons di benda pipih itu. Ran mengumpat pelan, dia lupa mematikan mode silent.


Beberapa kali Ran menelepon Guren, tapi tidak dijawab oleh pria itu, Ran pun memutuskan mengirimkan pesan, memberitahu jika dia sudah ada di rumah.


Selanjutnya Ran memasukkan kembali ponsel. Tukang kebun masih ada di hadapannya, Ran memindai bertapa kotornya pria itu; bajunya banyak noda tanah, keringatnya juga sedikit mengganggu penciuman Ran.


“Sa-saya permisi, Nona.” Tukang kebun gemetaran menyadari tatapan Ran yang merendahkannya. Dia melangkah begitu cepat, matanya saya menatap ke bawah.


Sedangkan Ran hanya memandang punggung laki-laki tua yang perlahan hilang, sampai matahari terbenam pun Ran masih mematung melihat arah tujuan tukang kebun tadi.


Mata sayu si bapak terngiang-ngiang di ingatan Ran, ada kesedihan yang mendalam di mata itu. Ran tidak mengerti, padahal pas datang dia tidak tampak sesedih itu.


Tubuh Ran terhuyung, bukan karena ingin pingsan, tapi tiba-tiba ada seseorang yang menggendong dirinya. Tangan Ran refleks menggulung di leher si pelaku, jantungnya hampir saja lepas.


“Kak Guren?”

__ADS_1


“Cuacanya dingin, kenapa berdiri di sini?” Guren membawa Ran masuk, tidak ada satu pun tuan rumah di dalam, ke mana perginya mereka?


“Kenapa sangat sepi?” tanya Ran. Guren tidak menjawab, kalinya terus menapak menaiki tangga, masuk ke kamar kemudian mengunci pintu.


Wajah pria itu tampak tidak bersahabat, apa dia marah? Guren duduk di sofa setelah meletakkan Ran di atas Ranjang. Dia mengabaikan keberadaan Ran, menyibukkan diri dengan benda persegi panjang di tangan.


“Kak Guren ... kau marah?” tanya Ran, sebab tidak biasanya Guren tidak mengusiknya terlebih dahulu.


“....”


“Maaf, tadi aku lupa bilang, aku cuman ke rumah Aldo. Kak Guren tahu, enggak? Papa Aldo meninggal disambar petir.”


Dahi Guren mengernyit, menoleh ke arah Ran penasaran. “Disambar petir?” Guren menutup mulutnya yang ingin tertawa, kurang ajar memang. Dia menganggap itu lucu, membayangkan rambut afro juga badan hitam pada mayat.


Guren mengendalikan ekspresinya, dia masih marah dengan Ran.


“Kaka tidak tahu? Padahal papa Aldo kerja satu gedung denganmu.”


Kemudian Guren mengacuhkannya lagi. 12 menit berlalu, pria itu masih diam di tempat yang sama. Kesunyian ini membuat Ran mengantuk, dan akhirnya dia tertidur.


Menyadari Ran sudah nyenyak, Guren menggerutu sendiri. “Kenapa tidak sedikit pun niat untuknya membujukku?” Guren menggaruk-garuk kepala, dia lelah dan panik saat mencari Ran tadi sore. Rencananya saat menemukan Ran dia akan memarahi Ran habis-habisan, itulah yang dipikirkan Guren saat emosi mempengaruhinya tadi.


Saat menerima pesan serta panggilan tak terjawab dari Ran, Guren langsung melesat pulang, dia sudah siap untuk menghukum Ran. Namun di senja yang mulai menggelap, Guren melihat Ran berdiri mematung memandang satu arah yang tidak ada siapa-siapa.


Tatapan seperti orang yang kebingungan juga sedih, Guren melihat seperti itu tadi. Dia memutuskan untuk diam, membiarkan Ran dulu, memilih untuk menenangkan emosi yang meluap. Sampailah hari semakin gelap barulah Guren bergerak, membawa istrinya untuk menghindar dari hawa dingin.


Sekarang, Guren naik ke atas kasur, duduk bersandar di headboard menarik napas dalam akan rasa lelah yang menggerogotinya hari ini.


“Ran, kau belum makan, jangan tidur.” Walau Guren berkata begitu namun dia tidak niat untuk membangunkannya. “Baiklah, jam delapan nanti kau harus bangun untuk makan, ya.”


Tidak ada jawaban, orang tidur mana yang merespons saat ditanya?

__ADS_1


“Ahk!” desis Guren, merasakan pening yang teramat. Hari ini dia mendapat banyak masalah, pekerjaannya kacau balau bahkan bisa dibilang hancur sebab dia ditipu oleh asistennya.


Malam ini, mungkin Guren tidak akan tidur. Dia akan menyelesaikan masalah secepat mungkin, atau emosinya bisa meledak-ledak tidak karuan. Takutnya malah Ran yang kena imbas emosinya.


“Aku akan pulang ke apartemen, kau di sini saja, ya.” Guren mengusap surai Ran, selanjutnya tangan Guren menyingkap baju Ran agar dia bisa langsung menyentuh perut Ran. “Dede jangan nakal, ya. Papa tinggal beberapa hari, jangan membuat mamamu susah.”


Guren tersenyum geli, aneh sekali rasanya berbicara dengan anak yang belum lahir. Dia bisa dengar enggak, ya?


Saat pukul delapan malam, Ran dibangunkan oleh Muti wanita itu membawa makanan ke kamar untuk Ran santap di tempat.


“Mama kenapa repot-repot? Aku bisa turun sendiri,” kata Ran dengan mata yang separuh terpejam.


“Jika kau turun dalam keadaan mengantuk seperti itu, kau akan jatuh ... kamu ini! Jangan tidur dengan perut kosong, ingat ada bayi di dalam situ.”


“Hm~” Ran mengucek-ucek matanya, setelah itu dia mengedarkan penglihatan ke seluruh ruangan. “Kak Guren mana?”


“Dia ada pekerjaan penting, beberapa hari ini bakal tidak pulang.”


Mata yang tadi lesu langsung membesar. Tidak pulang katanya? Sepenting apa pekerjaan Guren sampai malam begini pun dia tidak istirahat? Mendadak Ran merasa rindu, padahal baru mendengar kabarnya, tapi Ran sudah merasakan perasaan untuk beberapa hari ke depan tanpa Guren.


“Oh iya, kamu jangan telepon dia dulu, dia sangat sibuk sampai tak sempat mengangkat telepon,” jelas Muti, ada senyum getir di bibir wanita paruh baya itu.


“Telepon pun juga tidak boleh?” ulang Ran yang semakin membesarkan bola matanya.


Muti mengangguk, sebagai seorang ibu yang melahirkan Guren, dia tahu jika dalam keadaan seperti ini Guren sulit mengendalikan emosi. Pria itu bisa buta mata dan hati, bahkan sampai mengotori tangannya dengan darah sekalipun.


Karena emosi Guren sudah menewaskan atau melukai beberapa orang. Kalian tahu siapa salah satu korbannya.


“Berapa lama?” Ran kembali bersuara setelah menghabiskan makan malamnya.


“Belum tahu juga, tapi dia pasti akan menyelesaikan pekerjaannya dengan cepat.”

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2