
“Ah syukurlah,” ucap Ran, bernapas lega sebab Guren sudah pulang lebih dulu, tidak menunggunya. Tertekan rasanya bila berada di dekat pria itu, apalagi Guren sekarang tidak segan-segan menggaulinya.
Tiba-tiba langkah Ran dihentikan oleh Pasya yang menghadang jalannya. Tatapan wanita itu penuh kemarahan, langsung saja dia memaki Ran dengan kata-kata yang tidak pantas.
Kata-kata yang merendahkan Ran, serendah-rendahnya. Anak pungut, cewek caper, menyebut ******** dengan lantang, nama-nama binatang, semua itu keluar dari mulut Pasya tidak peduli ada orang selain Ran yang mendengarnya.
“Diamlah,” tutur Ran terlampau datar. Tangannya terasa gatal ingin menutup mulut yang terus memaki itu. Dia muak, sangat muak hingga tak ingin memandang Pasya sebagai seorang kakak.
Terngiang bagaimana ekspresi Pasya saat Ran hampir dilecehkan kemarin. Ran jijik, jijik sekali hingga ingin muntah melihat gerakan mulut itu memakinya.
“Rendahan, kau wanita rendahan, Pasya,” lanjut Ran.
“Hah apa kau bilang?! Kon—”
Plak!
Akhirnya ... akhirnya Ran menampar Pasya dengan sangat keras hingga membekas dengan sangat jelas telapak tangan Ran di pipinya.
Sesaat hening, suara tamparan tadi nyaring di lorong kelas. Pasya memegang pipinya perih, tak menyangka Ran akan menampar nya. Dia menangis, bersiap hendak membalas Ran.
Belum sampai tangan Pasya di pipi Ran, kaki Ran yang panjang lebih dulu menendang perutnya hingga Pasya terjatuh.
Selanjutnya Ran kabur mengabaikan teriakkan Pasya yang kesakitan.
“Awas saja, aku akan mengadu pada Guren!” ancam Pasya berteriak pada adiknya yang berlari laju.
***
Sudah hampir jam 12 malam, Ran berdiri di depan pintu apartemen meragu untuk masuk. Tangannya gemetar menyentuh knop pintu, dalam hatinya berdoa semoga Guren sudah tidur.
Dia sengaja pulang begitu malam guna membiarkan Guren terlelap, barulah dia masuk ke apartemen. Tadi siang Ran menampar serta menendang Pasya, wanita itu Pasti sudah mengadu, hal itulah yang membuat Ran takut pulang.
Perlahan Ran memutar knop, pintu pun terbuka pelan tidak mengeluarkan bunyi sama sekali.
“Baru ingat pulang?”
Ran terperanjat, padahal belum sepenuhnya pintu terbuka, suara Guren terlebih dahulu menyambut kedatangannya membuat Ran membatu tidak melanjutkan membuka pintu.
“Cepat masuk,” suruh Guren.
__ADS_1
“....”
Tak kunjung melihat Ran masuk, Guren bergerak melangkah cepat, membuka pintu lebih lebar sampai berhadapan dengan Ran yang tertunduk di hadapannya.
“Kenapa berdiam diri di sini?” tanya Guren, memindai Ran dari atas sampai bawah. Pakaian Ran masih sama seperti pakaiannya di kampus seharian ini, itu artinya wanita ini memang belum ada pulang sejak tadi.
Selanjutnya Guren menarik Ran untuk masuk.
Yang di pikiran hanya satu, yaitu Guren pasti akan memarahinya. “A-aku tidak akan minta maaf, kak Pasya yang duluan mencari masalah,” tutur Ran membela diri.
Guren mengernyit. Kenapa Ran tiba-tiba membahas Pasya? Apa karena dia berpikir Guren akan memarahinya? Melihat Ran yang memainkan ujung rok sambil tertunduk, Guren yakin dia tengah risau.
“Oh iya, Pasya ada mengadu padaku tadi ....” Guren menjeda sesaat, dia menikmati reaksi Ran yang semakin gelisah. “Pintar. Kenapa tidak dari dulu saja kau berbuat seperti itu?”
Sontak Ran mendongak menatap Guren bersama mata bulatnya yang digambarkan tidak menyangka atas penuturan Guren. Guren tersenyum, dia mengelus kepala Ran kemudian berkata, “Jangan diam saja saat dirimu direndahkan. Selama ini kulihat, kau tidak memberi balasan atas cacian mereka. Lepas topeng sok asyik itu, mereka tidak menghargai aktingmu.”
Perkataan Guren, mendebarkan jantung Ran tidak normal. Barusan Guren membelanya, kan?
“Kau membela ... aku?” cicit Ran pelan.
“Aku membelamu. Sebagai istri Guren, kau tidak boleh membiarkan harga dirimu diinjak, sama saja kau mempermalukan aku jika seperti itu.”
“Kau butuh perhatian? Kau kesepian iya, kan, Ran? Apa perhatian dengan tatapan hina adalah perhatian yang kau inginkan?” Guren menaikkan sebelah alisnya, memberi pertanyaan pada wanita yang matanya mulai berkaca-kaca.
Hidup satu atap dengan Ran beberapa bulan ini, menyadarkan Guren jikalau istrinya itu selalu sendiri ke mana pun dia pergi. Pasti itu alasan Ran menjadi cewek nyebelin yang suka mengundang kekesalan orang lain dengan bersikap layaknya pick me girls.
“Ini ... mulai sekarang kau pakai HP ini.” Tiba-tiba Guren menyerahkan HP keluaran terbaru dan tentunya mahal.
“Ti-tidak perlu, HP milikku yang lama mana?”
“Sudah kubuang. Ambil aja yang ini! Jangan membuatku malu. Masa istri Guren pakai barang murahan? Tidak hanya aku, kau juga akan mempermalukan nama keluargaku.”
Ran menyesal hampir luluh dengan Guren tadi. Lihatlah, pria itu kembali bersikap songong. Air mata Ran rasanya ingin kembali tersedot.
“Ambil!”
“Iya!”
Guren tersenyum puas, Ran menerima ponsel yang telah ia masukan virus pengintai segala aktivitas ponsel itu, yang bisa Guren intip dari komputer atau ponselnya sendiri.
__ADS_1
Dia membuat virus itu setelah tadi siang setelah dia membeli ponsel untuk Ran, sebab itulah dia pulang tidak menunggu Ran lagi. Sungguh licik.
“Ayo kita tidur,” ajak Guren menarik tangan Ran menuju kamarnya. Ran ikut saja, lari pun percuma, Guren bisa membuka pintu mana pun yang ia kunci.
Juga, Guren tidak menanyakan habis dari mana Ran hingga pulang larut. Hatinya sedang senang, jangan sampai merusak moodnya dengan masalah yang akan ia mulai sendiri.
***
Sambil berbaring miring, Ran memainkan HP baru yang Guren beri tadi. Yang membuat heran, kontak Guren tersimpan dengan nama ‘Cintaku.’ Ran hampir muntah membacanya, jika diubah Guren pasti akan marah.
Ran menolehkan sedikit kepalanya pada pria yang membenamkan kepala di ceruk leher Ran. Kadang dia sampai ragu, orang yang tengah memeluknya sekarang benarkah Guren yang kasar itu?
“Kak.”
“Hmm.”
“Kau banyak berubah sejak ... kecelakaan lalu.” Akhirnya Ran memberanikan diri untuk bertanya, pertanyaan yang selama ini mengganggu konsentrasi Ran.
“Apanya yang berubah?” tanya Guren balik, masih tetap dengan posisinya yang nyaman menahan Ran untuk tidak memberi jarak.
“Sikapmu padaku. Kemarin-kemarin kau mengabaikanku, bahkan pernah menyiksaku di kamar mandi. Sekarang ... kenapa?”
Pelukan Guren semakin terasa erat, tapi tidak sampai membuat sesak napas seperti kemarin. Ada apa ini? Kenapa Guren tiba-tiba memeluknya begitu erat di kala Ran melontarkan pertanyaan itu.
“Kak?”
“Karena kakek.”
“Memang kakek kenapa?”
“Dia tahu aku memukulmu, jadi dia mengancamku.”
“Ancaman yang seperti apa?” Ran semakin penasaran. Tapi jika memang karena kakek, Ran bisa tenang karena itu artinya Guren tidak memiliki perasaan padanya, melainkan hanya takut pada kakek.
Astaga Ran! Itu dia memeluk kamu, tak mau pisah kamar buat apa?
Guren tidak menjawab pertanyaan Ran yang satu itu. Dia terlalu gengsi mengakui telah memiliki perasaan pada Ran. Yang ia katakan sebelumnya tidak bohong, kakek memang mengancam Guren, mengancam menceraikan mereka maksudnya. Guren takut, tak mau itu terjadi.
Bersambung....
__ADS_1