Terpaksa Merebut Calon Suami Kakak

Terpaksa Merebut Calon Suami Kakak
Bab 41. Putusnya hubungan.


__ADS_3

Tak habis pikir, Guren menjemput Ran di dekat depan pintu kelas, bersandar dengan gaya santai. Ran mengalihkan pandangannya, dia malu sebab mendengar bisikan kecil teman kelasnya.


Apa yang pria itu lakukan? Lima menit lagi kelas Ran memang akan selesai, tapi apa perlu menunggu di depan pintu sejak 15 menit yang lalu? Mata Guren terus tertuju pada wanita itu, namun Ran tidak memedulikannya.


“Sampai jumpa di pertemuan besok,” ucap Dosen mengakhiri jam kelas. Satu-persatu peserta didik keluar, Ran melewati Guren begitu saja.


Pria itu mengikuti Ran. Ran terheran kenapa Guren tampak biasa saja setelah ungkapan Ran tadi siang. Ia pikir Guren akan marah atau apalah sejenisnya, namun yang ia lihat tidak seperti itu. Guren bersikap seolah tidak terjadi apa-apa, merangkul pinggang Ran, menggiring Ran masuk ke dalam mobilnya.


Ran berhenti, mengabaikan pintu yang terbuka mempersilahkan ia masuk. Dia pun mendongak melihat Guren yang masih berdiri menunggu Ran masuk.


“Kak Pasya mana? Bukannya tadi sama dia?” tutur Ran sedikit menyindir. Wanita ini sempat melihat Pasya keluar dari mobil Guren tadi.


“Dia—”


“Tuh dia,” tunjuk Ran pada wanita yang duduk di kursi, menatap kecewa Guren juga sudah meneteskan air mata. “Sama dia saja, sepertinya dia menunggu Kak Guren. Aku bisa naik taksi.” Ran pergi, Guren tidak dapat mencegahnya.


Sia-sia saja dia menunggu Ran di depan pintu kelas hingga 20 menit tadi, wanita itu malah pergi menaiki taksi.


Pasya melangkah sedikit berlari, menghampiri Guren yang mematung di tempat.


“Kenapa? Kenapa kau membawa Ran? Aku sudah menunggumu sejak tadi,” ungkap Pasya penuh kekecewaan. “Apa kali ini kakek yang menyuruhmu? Padahal tadi kita perginya bareng, kamu tidak melupakanku, kan?”


Tadi Guren sudah memikirkannya, dia akan melepaskan Pasya. Hanya akan menyakiti wanita itu saja jika Guren tidak bisa memberikan kepastian padanya.


“Pasya, aku antarkan kamu pulang. Sebelum itu aku ingin mengatakan sesuatu.”


Ekspresi Guren yang tampak serius, mendebarkan jantung Pasya. Apa yang ingin pria itu katakan? Tiba-tiba Pasya takut untuk mendengarnya.


“A-apa?” ucap Pasya dengan ragu. Mau bagaimana pun dia penasaran dengan apa yang membuat Guren terlihat serius.


Ini cukup berat untuk dikatakan. Guren menarik napas panjang, menghembusnya pelan guna meyakinkan diri untuk pengungkapan.


“Mari akhiri hubungan kita.”

__ADS_1


Apa? Pasya ternganga, tangannya mulai berkeringat. “Ja-jangan bercanda, Sayang. Ya sudah ayo kita pulang, aku akan anggap tak pernah mendengar yang barusan.” Pasya tertawa kikuk. Tapi kemudian dia diam, digantikan dengan tangisan sebab Guren sepertinya tidak sedang bercanda.


“Maaf,” respons Guren, merasa sakit juga sebenarnya. Tapi dia sadar jika dia tidak bisa memiliki keduanya sekaligus. Guren harus memilih, dan inilah pilihannya.


Jika saja jawaban Ran tadi siang tidak merendahkan Guren, mungkin pria ini akan memilih Pasya yang benar mencintainya.


Kenapa? Karena dia tidak bisa membiarkan wanita yang mempermainkan hidupnya bersikap semaunya. Guren ingin menjadi rantai yang mengikat Ran, wanita itu harus tahu siapa orang yang ia permainkan.


“Kau mencintai Ran?” tanya Pasya di sela-sela tangisannya.


“Iya.”


“Jadi semua kemewahan Ran sekarang bukan karena kakek, tapi ... kau?”


“Iya.”


“Terus kenapa kau berbohong tadi pagi jika kau ingin mengakhiri hubungan kita? Kenapa?!”


Guren tidak menjawab. Dia juga tidak tahu akan menjadi seperti ini jadinya. Percuma saja tadi pagi dia meyakinkan Pasya dengan kebohongan, jika sekarang hubungan mereka sudah berakhir.


***


Selanjutnya Ran menyiapkan makan malam. Dia dan Guren jarang memesan makanan di luar, Ran selalu memasak setiap harinya layaknya seorang istri yang menyenangkan perut suami.


Tiba-tiba terdengar suara keributan di luar, memanggil namanya berteriak histeris. “Ran keluar kau?”


Itu Pasya, Ran pergi ke ruang tengah. Benar, ada Pasya yang tengah ditahan oleh Guren agar tidak bergerak lebih jauh.


“Ada apa?” tanya Ran. Matanya menangkap bagaimana Pasya memberontak meminta dilepaskan, tapi tidak terlepas sehingga Pasya meneriaki Ran.


“Kau ****** sialan! Kau menggoda Guren dengan cara apa, hah?!” ungkap Pasya menangis histeris. Guren menyeret Pasya keluar, namun suara teriakannya masih bisa didengar jelas oleh Ran atau bahkan tetangganya.


“Aku membencimu, Ran! Aku membencimu! Lihat saja aku akan membuat hidupmu menderita!”

__ADS_1


Setelah beberapa menit, Ran tidak mendengar suara Pasya lagi. Ran duduk di sofa, menyandarkan diri menenangkan otaknya yang ikut panas sebab kehadiran absurd Pasya barusan.


“Kenapa lagi dengan mereka? Kenapa aku yang kena imbasnya?”


25 menit kemudian Guren kembali. Makan malam sudah siap di meja, dia duduk bersebelahan dengan Ran. “Kenapa tidak makan duluan?” tanya Guren sebab sajian di atas meja masih rapi, tanda belum disentuh.


Ran sedikit menoleh. “Kak Pasya tadi kenapa?”


“Bukan apa-apa.” Guren lekas mengambil piring, mengisi nasi beserta lauk-pauknya. Dengan begini Ran pasti tidak akan bertanya lagi, setidaknya sampai Guren selesai makan. “Apa yang kau tunggu? Cepat makan,” suruh Guren.


Dan benar saja, Ran tidak bertanya lagi. Tapi dia sempat memutar bola matanya tadi.


Selesai makan, Ran kembali menuntut jawaban atas pertanyaannya tadi. Guren mengabaikannya. Dia hendak pergi, tapi sebelum dia menyentuh knop pintu Guren berkata, “Beri tahu aku dulu siapa cowok yang kamu suka itu, baru aku akan menjawab pertanyaanmu.” Guren membalikkan badan, mengangkat sebelah alis menantang Ran untuk bertukar jawaban.


“Lupakan.” Ran hendak pergi ke kamar.


“Tidur di kamarku!” tegur Guren sebab sadar ke mana arah tujuan Ran.


Dari pada ribet nanti urusannya, Ran pun berputar arah ke kamar Guren. Lagian semua bajunya sudah berada di sana semua.


***


Guren tidak pergi ke mana-mana, dia hanya ke lantai satu, duduk di kursi yang sama dengan saat dia memergoki Ran bersama papanya Risti, om Deka.


Guren mengecek ponselnya, melihat balasan pesan dari Adit.


[Beberapa hari ini aku rela bolos sekolah demi mengikuti ke mana pun kak Ran pergi. Aku lihat kau juga sering mengekorinya, aku tidak punya jawaban akan pria yang kak Ran suka. Kau yang hampir 24 jam bersamanya saja tidak tahu, apalagi aku?]


Sial! Umpat Guren. Adit tidak tahu, terus Miztard bilang Ran selalu ramah pada siapa pun, itu membuat mereka kesulitan mencari jawaban. Risti juga bilang tidak tahu.


Satu pesan dari Adit kembali masuk ke ponsel Guren.


[Aku sudah berusaha. Jadi, jangan bilang pada siapa pun soal gadis yang tidur di ranjangku.]

__ADS_1


Di tengah kelengahannya, Guren tertawa mengejek membaca pesan terakhir Adit. Kemarin dia begitu sombong, lihat bagaimana dia menjadi tikus sekarang, pikir Guren.


Bersambung....


__ADS_2