
Saat hujan datang, hampir semua orang menggunakan payung atau berteduh di bangunan yang tersedia. Entah ini hanya pemikiran Ran atau memang dia satu-satunya orang yang tidak punya tempat berteduh?
Ran hampir menangis, bukan karena kedinginan tapi karena tidak ada orang yang mau mengalah pada wanita hamil yang tengah kebingungan ini.
Ke mana perginya Risti yang membawanya jalan-jalan ke taman ini? Dia ditinggalkan sendiri saat Risti pergi mengejar Miztard yang tengah bersama wanita lain. Mungkin sekarang Risti sudah pulang dalam keadaan patah hati, melupakan Ran yang ia bawa ke tempat ini.
Ran berjalan keluar dari area taman, ada banyak tempat untuk dia berteduh tapi Ran sudah terlanjur basah. Hujan lebat disertai petir, sehingga Ran tidak bisa mengeluarkan ponsel untuk menghubungi sopir untuk menjemput, Ran juga tidak melihat ada angkutan umum.
“Risti, awas saja kamu!” geram Ran.
Kaki Ran menapak di pinggir aspal. Dia ingin pulang, di depan sana mungkin dia bisa menemukan taksi ataupun bus. Tapi kapan? Jarak ke sana cukup jauh jika ditempuh dengan jalan kaki.
Tiba-tiba payung melindungi Ran dari hujan, Ran diam untuk beberapa saat, selanjutnya dia berbalik cepat. “K-kau?”
“....”
Sosok yang memayungi Ran begitu tertutup, Ran tidak bisa melihat wajahnya sebab masker dan kaca mata hitam yang terpasang.
“Kak Guren!” Ran langsung memeluk erat orang yang ia yakini adalah Guren.
Pria itu membuka masker serta kacamatanya. “Bagaimana kau tahu?” tuturnya seraya tersenyum tipis.
“Aku hafal dengan postur tubuhmu, tidak peduli bagaimana kau menyembunyikan wajahmu.”
Mata Guren melirik perut Ran, jantungnya berdebar ketika menyadari perut itu sudah mulai menonjol. Mendadak Guren teringat akan mitos tentang larangan seorang suami ketika istri sedang hamil, tangan Guren bergetar menyentuh perut Ran.
“Kak? Kau kedinginan?” Ran tentu merasakan getaran tangan Guren di perutnya.
“Tidak akan terjadi apa-apa ‘kan padanya?”
“Dokter bilang dia sehat.”
“Benar, itu hanya mitos. Tapi aku takut, Ran.”
Di bawah payung yang sama, di antara rintikan hujan yang jatuh, Ran juga melihat tetasan air mata Guren yang sangat langka. Ada apa ini? Kenapa Guren terlihat tidak berdaya?
__ADS_1
“Ta-takut apa? Dia baik-baik saja,” suara Ran bergetar, dia jadi ikut takut sebab Guren seperti orang yang telah melakukan kesalahan hingga mengancam bayinya juga.
Tentu Guren menyadari bahwa dirinya telah membuat Ran takut juga, dia langsung meletakkan telapak tangannya di atas kepala Ran. “Aku hanya merindukan kalian. Tidak lebih.” Mendadak Guren memasang wajah selidik. “Kenapa hujan-hujanan di sini?!” tegasnya.
“Eee i-itu ....”
Tangan Guren turun menjepit dagu Ran di antara jarinya. Wajah Guren semakin dekat, dia sedikit menunduk untuk meraup bibir Ran.
Payung terlepas dari tangan Guren, dia merangkul pinggang Ran agar semakin dekat. Mereka saling menyesap melampiaskan kerinduan, debaran jantung Ran begitu kencang, wajahnya yang tadi pucat mendadak memerah oleh Guren.
Ini memang tempat umum, tapi karena hujan yang begitu lebat, penglihatan orang juga akan terbatas. Jika memang ada yang melihat, persetan dengan mereka!
***
“Lain kali bawa payung walaupun tidak hujan, setidaknya untuk melindungi dari panas.”
Guren membuka baju Ran, membawa Ran ke kamar mandi untuk berendam di air hangat bersama. Dari belakang Guren memeluk tubuh Ran, berbisik di telinga Ran, “Apa sudah boleh?” tanyanya penuh maksud, dia sudah lama berpuasa karena mengkhawatirkan kandungan Ran.
“Ti-tidak jangan dulu.”
“Seminggu lagi.” Kemudian Ran berbalik memeluk leher Guren. “Sabarlah,” tuturnya sebab Ran merasakan sesuatu yang keras di bawahnya.
Guren melepaskan lengan Ran yang melingkar di lehernya, dia mendudukkan Ran di pangkuannya tidak peduli pusaka berdiri sedikit mengusik Ran. Biarlah, Guren ingin melihat wajah Ran lebih lama.
“Aku mengerti,” jawab Guren, selanjutnya Guren membawa Ran untuk kembali ke kamar, sudah cukup berendamnya.
***
Dalam keadaan separuh sadar, Ran meraba-raba sebelahnya yang terasa kosong. Sontak Ran membuka mata cepat, berjalan menelusuri area kamar untuk mencari sosok yang seharusnya masih ada di samping Ran di waktu seperti ini.
“Kak Guren! Kak Guren!” panggil Ran, sampai dia keluar kamar dalam keadaan berantakan khas bangun tidur. “Kak Guren!” panggil Ran lagi.
Anggota keluarga yang sudah berkumpul di meja makan mendengar suara Ran, Muti pun langsung berdiri untuk menghampiri Ran yang berada di tangga.
“Ran ada apa?” tanya Muti di bawah.
__ADS_1
“Kak Guren mana, Ma?”
Muti mengernyit, dia tidak ingat ada melihat Guren di rumah ini. “Guren? Dia belum pulanglah.” Lantas, kenapa Ran mencari Guren seakan Guren sudah datang? Muti bingung, lebih bingung melihat Ran yang menggaruk-garuk kepalanya.
“Dia pulang bersamaku semalam, Ma.”
Muti menepik keningnya sendiri, Muti berpikir mungkin Ran sedang mengigau. “Kau mengigau?”
“Tidak, Ma!” sangkal Ran tidak terima, dia ingat semalam Guren lah yang menyelamatkan Ran saat dia kebingungan.
Muti Pasrah. “Ya sudah, mungkin dia sudah pergi kerja lagi. Kamu mandi gih, masa seorang nyonya keluar kamar seperti itu!”
Bibir Ran maju dengan raur merengut. “Iya,” jawab Ran, kembali menaiki tangga menuju kamar.
Sementara di sini Muti menggeleng-gelengkan kepala. “Anak itu sedang mengigau, kan?” Muti kembali untuk kembali ke meja makan.
“Ada apa dengan Ran?” tanya suaminya.
“Aku rasa dia sedang mengigau. Katanya Guren yang mengantarkannya pulang semalam ... dia pergi dengan mantannya Miztard, enggak sih?”
Tiba-tiba mata Muti membulat ketika melihat Ran datang bersama Guren di sampingnya. “Apa?!” sentak Muti. “Kapan anak itu pulang?”
Keluarga di sekitarnya menggidikkan bahu. Sampai Ran dan Guren duduk bergabung bersama mereka.
“Mama,” panggil Ran, entah kenapa itu terdengar tengah berbangga diri. “Aku tidak sedang mengigau,” lanjut Ran.
Muti kesal sekali dengan wajah Ran sekarang, namun di detik kemudian dia tersenyum hangat melihat bagaimana cerahnya senyum Ran ketika ada Guren. Tampak Ran begitu bernafsu memakan makanan yang Guren ambilkan. Tidak seperti hari sebelumnya ketika Ran tidak menghabiskan makanan di piringnya sendiri ... setiap hari.
“Dia makan dengan lahap,” ucap Arman yang di masih dapat di dengar oleh Muti. Wanita satu anak itu pun mengangguk setuju. Semua orang sadar, tidak hanya Arman dan Muti saja.
Mereka bersama-sama melirik ke arah Kakek, pria tua itu langsung mengerti, juga mengangguk. Itu artinya Kakek akan menggagalkan rencananya untuk menyuruh Guren pergi berurusan dengan lawan bisnis di kota sebelah.
Orang seperti Kakek adalah orang yang berhati dingin, dia akhirnya menyadari, jika wanita hamil itu maunya berbeda-beda. Untuk tipe seperti Ran, wanita itu ingin selalu di dekat Guren. Tidak seperti istri atau menantunya yang lain.
Bersambung....
__ADS_1