Terpaksa Merebut Calon Suami Kakak

Terpaksa Merebut Calon Suami Kakak
Bab 47. Di China.


__ADS_3

Dulu ... Ibu kandung dari Kakek Tarmizi adalah wanita yang memiliki darah asli China, dia adalah putri satu-satunya dari pemilik rumah sakit besar di negara itu.


Namun, wanita itu jatuh cinta pada pria tampan berkulit coklat di negara lain. Mereka saling mencintai dan diperbolehkan menikah, dengan syarat mereka harus memberikan satu anak laki-laki untuk menjadi pewaris rumah sakit di China. Mereka pun setuju.


Setahun kemudian mereka melahirkan anak laki-laki kembar, mereka diberi nama Tarmizi dan Taleyeo.


Enam tahun kemudian Taleyeo dikirim ke China untuk dididik menjadi pewaris Rumah Sakit. Sedangkan Tarmizi menjadi pewaris ayahnya.


Dan yang akan menikah di China nanti adalah cucu Taleyeo, yang merupakan abangnya Kanae.


“Kanae?” ulang Ran setelah Guren selesai menceritakan tentang keluarga yang akan mereka kunjungi rumahnya.


“Itu.” Tunjuk Guren pada satu wanita yang duduk bersebelahan dengan kursi mereka di pesawat kelas bisnis. “Dia adalah Kanae, sepupuku.”


Ran menoleh ke arah sebelah, wanita itu menggunakan earphones sembari memejamkan mata menikmati alunan musik.


Kalau saja tidak diberitahu oleh Guren, mungkin Ran tidak akan pernah tahu jika wanita cantik di sebelah mereka adalah sepupunya Guren. Wanita itu juga tidak banyak bicara, dan Ran baru ini melihatnya.


“Keluarganya di China, kenapa dia di negara kita?”


“Dia itu hebat di bidang obat-obatan, jadi kakek memintanya untuk bekerja di Perusahaan setelah dia lulus kuliah tiga tahun yang lalu.”


Singkat cerita Kanae sekolah dan besar di China, namun dia sering mengunjungi Tarmizi ikut bersama Taleyeo. Sebab itu dia sering melihat Guren dan jatuh cinta pada pria yang lebih muda darinya itu.


***


Turun di bandara Kanae berpisah dengan Ran juga Guren, wanita itu akan ke rumah keluarganya sedangkan Guren akan menginap di hotel. Kenapa tidak menginap di rumah Taleyeo? Karena Guren akan datang sebagai tamu yang mewakili keluarga Zullies, bukan sebagai bagian dari keluarga Wang.


“Kanae ... wanita itu sepertinya tidak banyak bicara, ya,” ucap Ran sembari duduk di birai ranjang kamar hotel yang baru mereka masuki. Di pesawat tadi Ran sering melirik-lirik ke arah Kanae, tapi, wanita itu mengabaikannya.


“Tidak usah mencoba dekat dengannya. Abaikan saja dia.”


“Kenapa? Bukannya dia sepupumu, ya. Dia mungkin satu-satunya wanita yang bisa kuajak bicara nanti malam di pesta.”


Guren merebahkan tubuh Ran untuk ia peluk, menghirup aroma sampu melalui kepala istrinya itu. Sangat nyaman, Guren ingin menikmati ini lebih lama.

__ADS_1


“Jawab dulu, kenapa aku harus mengabaikan Kanae?” Ran mendongak, bertemu tatap dengan Guren yang menundukkan kepalanya.


Tidak mungkin Guren memberitahu alasannya. Apa dia harus mengatakan, kau adalah istriku, Kanae pasti membencimu.


Semua orang di perusahaan kakek Tarmizi tahu jika Kanae menyukai Guren, termasuk Guren itu sendiri. Cuman gadis itu berlagak sok jual mahal, untuk menarik perhatian Guren. Kanae tidak pernahnya mengungkapkan perasaannya pada Guren.


“Sejak dulu Kanae menyukaiku. Dia membenci siapa pun wanita yang dekat denganku, termasuk kau, Ran.”


“Oh baiklah aku mengerti.”


Astaga, padahal Ran belum pernah bicara dengan Kanae. Tapi tiba-tiba dia menjadi sosok yang dibenci oleh wanita yang baru pertama kali ia lihat itu.


“Tidurlah, nanti malam kita akan bergadang,” suruh Guren yang terdengar ambigu.


“Engga. Aku enggak mau!” Ran melepaskan diri dari dekapan Guren, duduk dengan napas memburu.


Guren malah tertawa mengejek. “Pikiranmu kotor, Ran. Maksudku mengenai pestanya, kita akan balik lagi ke sini larut malam.”


Tawa Guren semakin keras, dan Ran semakin malu sebab berpikir ke hal itu.


Mendadak Guren berhenti tertawa. “Berarti kau sudah selesai datang bulan, kan?” tanyanya sembari menaik turunkan alis guna menggoda Ran.


“Bohong, sini aku periksa.”


Guren duduk, menangkap tangan Ran yang hendak kabur. Pria itu mengunci Ran menggunakan kedua kakinya, sedangkan tangannya berhasil masuk ke kain segitiga Ran.


Membelai area itu naik turun, tidak basah ataupun lengket.


“Nah kan kau sudah selesai,” tutur Guren tersenyum bahagia.


Badan Ran seketika menegang, dikala Guren memasuki dua jarinya ke dalam itu.


“Ja-jangan eng—ini masih siang.” Ran mencoba menahan lenguhannya.


“Memang kenapa kalau siang?” Guren menarik lepas kain segitiga dengan mudah sebab Ran menggunakan rok pendek. Tangan Guren lihai mengobrak-abrik Ran, sedangkan bibirnya membuat Ran kesulitan bernapas dengan segala sensasi yang ia rasakan.

__ADS_1


Kini Guren berada di antara paha Ran yang ditekuk, menatap lekat apel yang sudah basah itu sebelum ia menyesapnya.


Ran sudah tidak dapat menolak rasa nikmat itu, jadi dia pasrah aja dengan apa yang ingin Guren lakukan. Dia memejamkan mata menikmati setiap belaian Guren yang terdengar menjijikkan jika dilihat bagaimana cara mereka bercinta.


“Ahk,” Ran semakin tersentak, benda besar nan panjang itu sudah berada di dalam. Bergerak, membuat Ran bagai terbang ke langit tujuh.


Apalagi ekspresi serta suara Guren tampak seksi di atasnya.


***


Sudah sore, Ran menatap kota Baijing dari balkon hotel. Dia seorang diri sebab Guren tidur di ranjang, dia pasti lelah terus bergerak sebab mereka baru selesai 15 menit yang lalu.


Ran juga baru saja menenggak pil yang ia bawa. Tadinya itu hanya sebagai jaga-jaga saja, siapa tahu Guren mabuk di pesta dan menyerangnya tiba-tiba.


Sebenarnya Ran masih ingin merahasiakan tentang datang bulannya yang sudah selesai dari pria mesum itu. Tapi karena pikiran yang kotor tadi dia malah ketahuan, dan diserang saat itu juga.


“Aduh sakitnya. Bagaimana caraku berjalan dengan normal nanti di pesta.” Ran jadi pusing sendiri sebab sekarang dia berjalan seperti kepiting.


Akan memalukan jika dia berjalan seperti itu nanti, belum lagi dengan banyaknya bekas yang ditinggalkan Guren di lehernya.


Ran pergi ke kamar mandi, melepas selimut yang melilit tubuhnya tadi menghadap cermin. Dia duduk di wastafel, melebarkan kakinya. Terlihat di cermin apelnya yang merah sebab dihajar habis-habisan oleh Guren.


Mungkin sebab lama enggak dikasih jatah pria itu jadi menggila.


Ran menghela napas pasrah, dia beranjak untuk masuk ke dalam bathtub yang sebelumnya sudah ia isi penuh airnya.


“Bagaimana ini? Berdiri aja pun rasanya sakit,” gumam Ran. Bagaimana jika nanti ada acara dansa bersama pasangan? Bisa mampus dia.


Di saat Ran sedang melamun, Ran tidak sadar jika Guren masuk ke bathub berhadapan dengannya.


“Apa yang kau renungkan?” tanya Guren, berhasil menyadarkan Ran dari pemikirannya sendiri.


Lagi-lagi dia terkejut. Sejak kapan dia masuk? Pikir Ran.


“Melamun lagi. Kau kalau melamun parah banget ya, Ran. Sampai enggak tahu keadaan sekitar,” singgung Guren. “Itu bahaya loh Ran. Tidak apa-apa hanya di rumah, tapi bagaimana jika di jalanan atau di tempat umum?”

__ADS_1


Ran menggelengkan kepalanya tanda tidak tahu. Tapi Ran selalu berusaha untuk tidak melamun di tempat umum, walaupun sering kali kebablasan.


Bersambung....


__ADS_2