
Mencari, mencari dan terus mencari. Tiada tenang sehari pun bagi sosok pria yang telah kehilangan istrinya. Hari-hari berlalu dengan emosi yang tidak pernah padam. Segala upaya telah ia lakukan, namun ternyata tidak cukup untuk menemukan keberadaan Ran.
Sudah berapa banyak uang yang Guren keluarkan untuk menyewa orang mencari Ran? Sudah berapa tetes air matanya jatuh? Sudah berapa kali dia menyakiti dirinya sendiri?
“Bos,” panggil salah satu orang sewaan Guren. Pria besar ini berdiri tegap menghadap Guren yang kacau bersama minuman alkohol. Dia tegang, dia sebenarnya takut menghadap Guren sebab kinerja mereka belum menemukan hasil. Jantung berdegup kencang, telapak tangannya mulai basah oleh keringat ketika Guren mengangkat kepalanya dari meja.
“Bagaimana?” tutur Guren terdengar lemah, namun tatapan Guren seakan mengulitinya.
Pria berbadan besar berusaha menelan liur, sulit sekali mengeluarkan suara di antara tekanan dingin ini. Sudah 7 minggu, dan mereka masih tidak membuahkan hasil, hanya melapor dengan tangan kosong setiap harinya.
“Belum menemukan titik terang sedikit pun?” tebak Guren menyeringai tipis.
Detik selanjutnya botol wine terbang mengenai kepala pria berbadan basar. Darah mengalir di wajahnya, biar begitu dia tidak bergerak dari tempat ataupun meringis, adapun rasa sakit ia abaikan.
“Jadi ... Apa guna aku menyewa kalian mahal, jika kinerja kalian tidak jelas seperti ini?” lanjut Guren, memandang datar namun penuh penekanan.
“Maaf, kami akan lebih berusaha.”
“Kau menghadapku hanya untuk mengatakan itu?”
“Tidak, Bos.”
Selembar foto mendarat di atas meja Guren, menampakkan foto selfie wanita yang tidak asing di mata Guren. Sepertinya Guren pernah melihat wanita itu, tapi di mana? Guren tidak ingat, dan untuk apa juga foto wanita ini?
“Apa maksudmu?” kening Guren mengernyit. “Wanita ini pacarmu atau bagaimana?” tanya Guren bernada meledek.
“Bukan wanita ini, Bos. Coba perhatikan dua orang yang berada di belakangnya ... itu Arif, kan?”
Guren melihat lebih dekat lagi, dan yah benar! Itu adalah Arif dan pria satu lagi ... Lawang? Itu adalah Luwang! Mata Guren semakin besar, dia tidak tahu kalau Arif kenal dengan kerabatnya.
__ADS_1
“Di mana foto ini diambil?”
“Saya tidak tahu, Bos. Tapi wanita di depan ini adalah orang asli China, saya mengikutinya di Instagram.” Pria berbadan besar mendadak pipinya menjadi merah. Alasan dia mengikuti wanita itulah yang membuatnya malu, sebab wanita itu sering pamer memakai baju dalam saja dalam unggahannya.
“Ini ....” Guren semakin meneliti, dan akhirnya dia ingat. Wanita itu adalah wanita yang bermasalah dengan Ran saat pesta malam di China. “Kapan foto ini diambil?”
Pria besar izin untuk mengecek ponsel, dia akan melihat tanggal kapan foto itu di post melalui instagram wanita itu. “14 April, Bos.”
24 April, itu berarti Arif dan Luwang bertemu setelah seminggu kepulangan Ran dan Guren dari sana, dan tentunya tempat mereka bertemu adalah China, mengingat gadis yang tengah berselfie adalah orang asal sana yang tidak mungkin berlibur ke luar negeri sebab ekonominya aja kurang.
“Kau tunjuk lima orang untuk pergi ke China bersamaku, sisanya tetap mencari di negeri ini.”
“Baik, Bos.”
Pria berbadan besar pun pergi, tinggal Guren yang memikirkan segala kemungkinan. Jika Luwang membantu Arif, Guren mengerti kenapa keberadaan mereka sulit ditemukan. Luwang adalah pemain yang cukup andal, hanya saja Guren tidak pernah berpikir kalau dia akan berada di pihak yang berbeda dari Luwang.
Hari ini juga Guren akan berangkat ke Negeri Tirai Bambu. Biarkan Dania yang mengurus pekerjaan yang masih bisa ditangani wanita itu. Ya lagian selama Ran hilang, Guren tidak menyentuh pekerjaannya, Guren memfokuskan diri untuk mencari Ran.
***
“Bagaimana, Do? Ran sudah ditemukan?” tanya Lerina, dia sudah tahu jika Ran adalah putrinya dari Doni yang sempat bertamu di rumah kecil ini minggu lalu, ya itu masih baru. Kedatangan Doni juga bukan tanpa alasan, pria itu sempat mengira bahwa Lerina yang menyembunyikan Ran. Doni tak terima jika Lerina memungut Ran setelah tahu jika Ran menjadi bagian dari keluarga kaya.
Aldo yang tengah sibuk memperbaiki kipas angin pun menoleh pelan, Aldo cemburu karena Lerina terus menanyakan tentang Ran setiap hari. “Belum, Ma,” jawab Aldo kemudian kembali fokus memperbaiki kipas angin tetangga.
“Do, kenapa nada bicaramu seperti itu?” Lerina sadar, karena tidak biasanya Aldo ketus.
“Mama nannya Ran terus.”
“Loh? Bukannya kamu, ya, yang dulu minta mama nemuin anak mama?”
__ADS_1
Aldo diam, tangan yang sibuk itu pun juga ikut diam. Ya dulu Aldo memang menyuruh Lerina, tapi jika Lerina terus mengungkit Ran terus, Aldo takut jika Lerina tidak membutuhkannya lagi. Dia hanyalah anak tiri, bagaimana jika Ran membawa Lerina untuk tinggal bersamanya? Rumah kecil ini sangat jelek, Lerina pasti akan lebih memilih rumah Ran yang jauh lebih layak.
“Do? Jangan bilang kamu cemburu?” tebak Lerina tepat sasaran.
“Ti-tidak aku tidak cemburu! Lagian siapa aku yang melarang-larang Mama untuk tinggal bersama Ran.”
“Apa yang kau bicarakan? Mama tidak ada bilang ingin tinggal dengan Ran ... Do, apa yang kamu pikirkan? Ran saja hilang entah ke mana.”
“Tapi jika Ran ketemu Mama pasti—”
“Tidak. Mama cukup tahu diri, mama hanya melahirkan Ran, tidak pernah membesarkan dia. Mama tidak pantas,” tutur Lerina, lirih di akhir kalimat.
Aldo hampir menangis juga merasa bersalah, seharusnya dia berterima kasih pada Ran, yang rela ibunya merawat Aldo dibandingkan Ran. Tapi dia malah meletakkan rasa cemburu. Mau bagaimana? Lerina satu-satunya orang yang mau merawat Aldo, setelah Papa meninggal bahkan kerabat pun pura-pura tidak kenal dengan Aldo, dia membutuhkan Lerina sebagai satu-satunya keluarga yang peduli.
Sementara di tempat lain, seorang anak laki-laki hanya melihat seorang gadis di rundung oleh teman sebaya. Wanti, dialah gadis yang dianiaya.
“Adit,” panggil Wanti lirih.
Adit tidak peduli, dia benci dengan Wanti sebab sepupu Wanti menculik Ran, siapa lagi kalau bukan Arif? Semenjak hilangnya Ran, Adit memilih untuk membenci Wanti, menjauhi Wanti tidak peduli seperti apa Wanti mengejar.
“Adit tu-tunggu ... aku mau ngomong.” Tangan Wanti terulur ingin menggapai sosok Adit yang semakin jauh. Namun tangan Wanti malah diinjak perundung.
“Wanti, Wanti, mau sampai kapan kamu mengejar Adit terus? Dia itu tidak suka sama kamu, jangan mimpi!”
“Bu-bukan, ada hal lain yang ingin kusampaikan pada Adit. Tolonglah ini penting ....” Selalu saja ada halangan saat dia ingin mengejar Adit. Datang ke rumah Adit pun Wanti diusir Salsa, dia tidak diberikan jalan oleh siapa pun.
‘Aku tahu di mana Kak Ran,’ ucap Wanti dalam hati.
Bersambung....
__ADS_1