Terpaksa Merebut Calon Suami Kakak

Terpaksa Merebut Calon Suami Kakak
Bab 71. Ketakutan dan kemarahan.


__ADS_3

Tidak hanya Guren, Ran juga mengalami hari-hari yang berat. Seperti kata dokter, hormon Ran naik hingga dia menderita sendiri menahan hasrat seksual, belum lagi tentang dirinya yang tidak memiliki nafsu makan plus mual hebat.


Ingin sekali Ran pulang, tapi dia takut. Omongan Arif menjadi bayang-bayangan yang mengerikan di otak Ran. Situasi juga sangat menyiksa, bayi di dalam perut Ran menunjukkan keinginan untuk bertemu papanya.


“Ran aku bawa dokter ke sini, ya,” tawar Arif, hampir setiap saat dia melihat Ran muntah. Arif melirik piring Ran yang baru tersentuh sedikit, dia jadi khawatir jika terus seperti ini.


Sudah beberapa kali dokter datang, juga sudah memberikan obat. Namun tidak membantu, dokter menyarankan agar Ran mengikuti keinginan bayi. Tapi Ran sadar betul apa yang diinginkan anaknya adalah Guren. Bagaimana ini?


“Percuma,” tutur Ran pelan, Ran mengelap air mata yang menetes akibat mual. “Yang anak ini inginkan hannyalah papanya.”


Tangan Arif mengepal kuat, lagi-lagi kata itu yang keluar dari mulut Ran. Siapa yang tidak kesal? Dia mempertaruhkan hidupnya untuk membawa Ran, dan bayi di dalam kandungan sangat mengganggu, sering kali Arif berpikir untuk membuat Ran keguguran.


Ran keluar dari kamar mandi, melirik jam dinding yang menunjukkan pukul sebelas malam. Ran masuk ke kamar gadis tempat dia menumpang bersembunyi, tidak ada siapa-siapa di sana. “Ke mana perginya Wanti? Sudah malam kenapa belum pulang?” gumam Ran. Ya, dia bersembunyi di rumah Wanti, juga tidur bersama gadis itu.


Ran memutuskan menunggu Wanti dari pada tidur duluan. Bukan apa-apa, hanya saja Ran takut tidak terbangun saat Wanti mengetuk pintu. Ingin tidak mengunci pintu, tapi Ran tahu abang tiri Wanti mesum.


“Ran tidurlah, aku yang akan menjaga di depan pintu,” sahut Arif dari luar yang tahu akan kekhawatiran wanita di dalam sana.


Ran tidak menjawab, walaupun itu Arif, Ran tetap waspada. Pilihan terbaik adalah menunggu Wanti pulang, barulah dia akan bisa tidur.


Tapi ....


“Arif!” Terdengar suara teriakan pamannya Arif beserta keributan lainnya. Ran sontak terduduk, begitu pula dengan Arif yang langsung paham akan kedatangan tamu yang tidak biasa.


Arif mendorong pintu kamar, menemukan Ran yang duduk dengan wajah pucat. Jelas saja keributan ini terdengar mengerikan, suara benda pecah juga teriakan kesakitan semakin menambah kesan horor.


“Ran ikut aku!” Arif langsung menarik Ran, tidak peduli saat wanita itu hampir jatuh. Sampailah mereka di dalam kamar Paman. Arif membuka pintu lemari, menggeser beberapa baju kemudian meraba celah hingga memperlihatkan sedikit ruang untuk bersembunyi. “Masuklah.”


Tak bertanya lagi Ran langsung masuk, dia juga sadar Guren sudah datang. Tubuh Ran meringkuk gemetar. Membayangkan berhadapan dengan Guren setelah aksi melarikan dirinya, Ran tidak yakin Guren masih akan tersenyum padanya.

__ADS_1


“Ran jangan takut.” Arif mengelus kepala Ran, tersenyum tipis kemudian berkata, “Kau aman di sini, apa pun yang terjadi jangan keluar sampai aku membukakan pintu untukmu.”


Ran hanya mengangguk samar, selanjutnya Arif kembali membuat lemari itu tertutup seperti semula.


Keluarlah Arif menyusul pamannya. Dan ya, Guren ada di sana, berdiri tegap di hadapan Paman dan juga sepupunya yang telah terbaring di tanah. Rumah itu juga sudah dikepung oleh orang sewaan Guren. Arif pasrah, dia mengangkat tangan tanda dia tidak akan melakukan perlawanan yang memang akan sia-sia.


“Ran sudah kabur sebelum kau datang ke sini,” ucap Arif santai. Dia tidak takut sebab Guren tidak akan melakukan sesuatu yang membuat Arif tidak bisa bicara, karena Arif adalah kunci yang mengetahui keberadaan Ran. Namun Guren hanya diam dengan aura suram.


Tak menunggu aba-aba dari Guren, para orang sewaan mulai berpencar ke segala arah, sebagian masuk ke dalam rumah untuk menggeledah bahkan di lubang tikus sekalipun.


“Tidak ada di mana pun, Bos,” lapor pria berbadan besar. Arif yakini dia adalah pemimpin dari orang sewaan Guren.


Ada yang aneh di sini, kenapa Guren hanya diam saja tanpa melakukan apa pun pada Arif? Dia yang seperti itu malah semakin membuat Arif bergidik ngeri, seperti psikopat yang sedang menunggu momen yang tepat.


“Sudah kubilang ‘kan, Guren? Ran sudah kabur sejak siang tadi.”


“Wa-Wanti?!” gagap Arif. Dia merasakan situasi yang sangat gawat. Wanti tahu seluk beluk rumah itu, termasuk ruang kecil di dalam lemari papanya.


Wanti gemetar, apalagi melihat tatapan abang juga papanya yang mematung kecewa sebab Wanti yang berkhianat. Keraguan yang selama ini ia simpan harus diselesaikan, bukan hal mudah bagi Wanti untuk memilih jalan yang saat ini ia tempuh.


“A-aku ....” Di tengah kegelisahan Wanti, dia merasakan tangan hangat menggenggam tangannya. Wanti menoleh ke samping, Adit tersenyum tipis memberikan Wanti lebih banyak kepercayaan. Wanti kemudian menegakkan kepala yakin. “Aku tahu di mana mereka menyembunyikan Kak Ran,” ucap Wanti lantang.


Seketika Adit ingin berlari untuk membawa Ran pergi. Namun lebih dulu pergerakan Arif di tahan oleh beberapa orang sewaan Guren.


“Lepaskan! Lepaskan aku!” Arif memberontak kuat. Dia panik, takut, dan gemetar hebat. Apa yang akan terjadi padanya setelah Ran ditemukan?


Dengan reaksi Arif yang seperti itu, dapat dipastikan 99% Ran masih berada di dalam rumah. Bersama Wanti sebagai pemimpin jalan, Guren, Adit, masuk bersamaan masuk ke dalam rumah.


“Di sini ... lemari ini adalah tempat aku bersembunyi dulu, hanya Papa dan Bang Arif yang tahu tempat ini.” Wanti kemudian membuka pintu lemari, hanya ada baju di dalam sana. “Masih ada celah di dalam sini.”

__ADS_1


Saat Wanti membuka celah itu, mereka semua sama-sama melongo karena tidak ada apa-apa selalu ruang kosong yang sempit.


“Apa masih ada cela lagi?” tanya Guren, alisnya terangkat heran.


Wanti menggeleng lemas. Kenapa tidak ada? Bukankah itu tempat yang paling tertutup untuk menyembunyikan manusia?


Di situasi seperti ini entah kenapa Guren tiba-tiba tersenyum miring. Dia berbalik badan memindai satu persatu orang sewaan yang ada di ruangan itu. “Ketemu,” gumam Guren, dan langsung menangkap tangan sosok yang memakai seragam yang sama dengan orangnya.


Sosok itu hanya diam saat Guren menangkapnya.


“Jangan berpura-pura, Sayang.”


Barulah dia panik ingin melepaskan diri setelah Guren menarik wignya.


“Kak Ran?!” Dua anak remaja itu sama-sama terkejut, karena ternyata orang yang dicari berada di belakang mereka, mengawasi punggung mereka berencana mencari kesempatan terbaik untuk kabur.


“Lepas! Kau orang gila jangan cari aku lagi!” Ran memberontak untuk melepaskan diri dari cekalan Guren yang terasa semakin menyakitkan bagi Ran.


“Ran!” bentak Guren menggelegar. Seketika Ran terdiam gemetar. Guren tidak pernah semarah ini sebelumnya.


Kali ini Ran merasa dia akan dikuliti, ditusuk, juga digantung untuk makanan buaya. Ketakutan Ran sangat parah sampai seluruh tubuhnya tidak mampu menahan tekanan Guren.


Akhirnya Ran pingsan dalam dekapan Guren.


Guren menahan tubuh Ran, dia tidak bergerak dari tempat untuk menetralkan emosi sebab Ran lah yang berinisiatif untuk kabur darinya. Padahal sebelumnya Guren mengira Ran diculik, tapi apa ini? Guren marah, sangat marah ... sampai rasanya dia akan mematahkan kaki Ran agar kaki itu tidak bisa melangkah untuk menjauh dari Guren.


Bersambung....


Maaf Author demam, ini Author usahakan buat update karena Author tidak mau membuat kalian terlalu lama menunggu. Author tahu rasanya.

__ADS_1


__ADS_2