
Wajah yang biasanya percaya diri kini menunduk malu karena penampilan barunya. Dia memakai rok yang tidak ketat, baju yang tidak mempertontonkan dada ... dia tidak terbiasa. Dania sadar jika beberapa orang membicarakan penampilan barunya.
“Dania? Tumben?” Satu karyawan laki-laki langsung menghampiri Dania, dia adalah laki-laki yang menikmati bagaimana Dania mempertontonkan tubuhnya kemarin.
Dania tidak suka dengan tatapan laki-laki itu, dia selalu risi dengan kehadirannya. “Kenapa memangnya? Suka-suka aku, dong!” Dania melangkah cepat mengabaikan bisikan mengejek dari rekan lain.
Padahal baru seminggu Dania bekerja di kantor sebesar ini, tapi dia berhasil menjadikan dirinya sasaran gosip yang mengatakan dirinya wanita tidak benar. Dania sampai di ruangannya, langsung mengunci pintu mengumpat-serapah wanita yang memaksanya berpenampilan sopan.
Tak lama kemudian terdengar dering ponsel. “Ke ruangan saya sekarang.” Hanya satu kalimat langsung yang Dania dengar setelah mengangkat ponselnya.
Dahi Dania mengernyit. “Tumben Pak Guren datang pagi,” gumam Dania. Kemudian wanita itu bersiap-siap agar terlihat memesona. Dania menurunkan bajunya agar dada kencang Dania dapat mengintip Guren, ya usaha Dania sebenarnya tidak pernah sia-sia, walaupun Guren tampak cuek tapi Dania kadang sadar ketika Guren diam-diam melirik tubuhnya. Memang itu penyakit umum laki-laki.
“Maaf ya, Buk Ran, aku akan berpenampilan sopan di depan yang lain tapi di depan Pak Guren ... ahaha tidak bisa,” tawa Dania, selanjutnya dia menyemprotkan parfum ke leher dan tangan, rak lupa juga untuk merapikan perona bibir.
Dania sudah siap, dengan langkah seksi dia masuk ke ruangan Guren setelah mendengar suara yang mempersilahkan Dania masuk.
“Pak Guren ada ap—” Mata Dania melebar, ketika beradu tatap dengan Ran yang duduk sembari melipat tangan di dada, mata Ran menajam membuat Dania seketika kembali keluar.
“Mampus aku!” Dania memperbaiki penampilannya tergesa-gesa, kemudian dengan ragu dia menyentuh kenop pintu. “Pe-permisi Pak, Buk.” Suara Dania tidak sesemangat tadi, tenggorokan Dania terasa tercekik.
“Dania, buat laporan minggu ini. Ada yang ingin aku pastikan,” ucap Guren tak melihat Dania sama sekali. Yang Guren tahu Dania selalu berpakaian seksi, di sini ada Ran bisa kacau jika mata Guren tak sengaja terpaku pada keseksian Dania.
“Baik, Pak, saya akan segera kemba—”
“Di sini saja,” suruh Ran tiba-tiba. Dia sengaja karena Guren belum melihat penampilan sopan Dania sekarang. “Kak Guren, lihatlah Dania.”
Guren tegang, begitu pula Dania yang mematung di tempat. Guren tidak berani melihat, sedangkan Dania tidak berani bergerak.
__ADS_1
“Ada apa, Kak? Kalau enggak ada aku kamu pasti lirik sana-sini. Ayo lihatlah wanita yang berdiri di depanmu.” Ran tersenyum miring.
Guren masih tidak melihat Dania. “Ti-tidak, Sayang. Aku tidak macam-macam, kok.”
“Ya sudah, kalau begitu lihat dia!”
Kepala Guren terangkat perlahan, selanjutnya Guren bernapas lega karena Dania tidak minim pakaian. “Da-Dania? Tumb—” Guren langsung menutup mulutnya sendiri, melirik Ran yang menatapnya tajam.
“I-ini—”
“Aku yang suruh!” potong Ran.
Semalam, saat Ran datang mengantar flashdisk ke ruangan Dania. Ran tidak senang dengan penampilan Dania, ketiak Dania mempersilahkan dia duduk Ran tidak menerima kebaikan wanita itu.
“Kau berpenampilan seperti itu setiap hari?” ujar Ran beraut masam.
Ran mengernyit. “Rata-rata katamu? Memang pekerjaanmu sebelumnya apa? Wanita malam?” Mulut Ran jadi kasar karena dia benar-benar tidak suka sekarang, ada wanita berpenampilan seksi yang bekerja di samping suami Ran, itu menakutkan!
Dania melebarkan matanya, yang wanita malam bukanlah Dania tapi ibu Dania. Dia memang suka berpakaian seksi, karena Dania memiliki darah penggoda dari ibunya. Di rumah tidak ada yang melarang Dania berpakaian seperti itu, karena dia hanya tinggal berdua dengan ibunya.
Dania diam saja, dia menahan sakit hati atas ucapan Ran.
“Aku tidak mau tahu, jika kau masih mau bekerja di samping suamiku kau harus merubah gaya berpakaianmu!” Ran masih berada di posisi yang sama, menatap Dania tajam dengan tangan yang dilipat di dada.
Ran harus tegas, itulah yang dikatakan Muti padanya. Jangan terlalu baik, mereka akan menganggapmu bodoh—bisa ditipu dengan menunjukkan wajah kasihan.
“Kau dengar?” tanya Ran.
__ADS_1
“Dengar, Buk.”
“Ini flashdisknya, ingat apa yang aku katakan!” Ran kemudian pergi.
Sedangkan Dania menggeram tertahan, wanita yang merupakan istri dari bosnya ternyata sangat menyebalkan, lebih menyebalkan lagi dengan tampang Ran yang jauh lebih cantik dari Dania.
Saat ini Dania mengerjakan laporan di ruangan yang sama dengan bosnya, tapi Dania tidak bisa konsentrasi sebab Ran duduk manja di pangkuan Guren. Mata Ran melirik Dania seperti orang yang tengah mengejek, entah kenapa Dania mendengar suara, “Mau telanjang pun kamu, enggak bakal bisa bersaing dengan aku. Bidadari vs wanita malam, menurutmu mana yang akan dijadikan tempat pulang?” Itu hanya pikiran Dania, nyatanya Ran tidak mengeluarkan sepatah kata pun.
Dari pemikirannya sendiri Dania menyunggingkan bibir. ‘Tidak apa tidak menjadi tempat pulang, tempat singgah asal diberi uang juga bukan masalah.’
Tiba-tiba Ran berkata, “Kak Guren kalau kamu selingkuh dari aku, maka aku akan pergi membawa anak ini,” kata Ran, melilit leher Guren kuat agar semakin dekat. Dengan berani Ran menyambar bibir Guren, tak peduli dengan kehadiran Dania, mereka bercumbu mesra.
Dania mencoba acuh, tapi dia tidak bisa mengalihkan mata pada tangan Guren yang menjelajahi tubuh Ran. Dania membayangkan tangan itu menelusuri tubuhnya, Dania bergerak gelisah sebab sesuatu di bawah sana jadi basah. Ia gigit bibirnya, menahan diri sampai dia bertemu pacarnya nanti malam. Tapi dia ingin Guren yang menyentuhnya, ketika melihat celana Guren yang menonjol, Dania membayangkan seberapa besar senjata di balik celana itu. Pasti lebih gagah dibandingkan milik sang pacar.
Tak salah Ran mengatakan Dania wanita malam, dia memang wanita yang haus sentuhan. Tapi itu berlaku hanya untuk lelaki tampan saja. Dania tidak mau disentuh dengan pria yang ia anggap jelek.
“Eng~”
Dania terkejut mendengar suara erangan Ran. Tiba-tiba Guren mengangkat Ran pergi, masuk ke dalam kamar yang ada di ruangan itu. Mereka pasti akan melakukan sesuatu yang lebih di dalam sana.
Tubuh Dania panas dingin, dia juga terang*ang hanya dengan melihat majikan bercumbu panas.
“Sial! Aku tidak tahan,” gumam Dania merapatkan paha kuat-kuat. “Bagaimana ini, aku tidak bisa meninggalkan pekerjaanku.”
Mati-matian Dania berusaha menahan nafsunya sendiri, terus mencoba berkonsentrasi dengan pekerjaan yang ada di depan. Namun tidaklah mudah, sampai dia keluar ruangan mencari air dingin untuk ditenggak.
Dania harus bersabar, nanti malam dia akan bertemu pacar, mereka akan melakukan itu sampai puas. Begitulah cara Dania bergaul.
__ADS_1
Bersambung....