Terpaksa Merebut Calon Suami Kakak

Terpaksa Merebut Calon Suami Kakak
Bab 58. Badai di tengah malam.


__ADS_3

Di tengah malam Ran terbangun, tenggorokannya terasa kering, hanya ada teko kosong di atas nakas. Ran melirik Guren yang tidur telungkup. “Dia menghabiskannya?” Gumam Ran, seingatnya teko itu masih penuh sebelum Ran tidur.


Tidak ada pilihan lain, walaupun malas namun tenggorokan kering sangat mengganggu Ran. Dia menurunkan kakinya ke lantai, terasa dingin hingga membuat Ran menaikkan kembali kakinya.


“Sandalku ke mana?” Ran menelusuri pandangan di ruangan temaram, mengucek-ngucek mata untuk mengurangi buram. Tapi Ran masih belum menemukan sandalnya, dia menghela napas kasar, sedikit kesal sebenarnya.


Mau tidak mau Ran tetap menginjak lantai dingin itu. Ia lirik jendela yang gordennya tidak tertutup, di luar sana—angin hampir menumbangkan pohon-pohon, langit gelap juga sesekali menjadi terang oleh kilatan yang ditutup oleh awan.


Sebentar lagi pasti akan ada badai.


Seakan terhipnotis, Ran menuju lebih dekat lagi ke jendela, membukanya lebar hingga angin masuk begitu kencang memorak-porandakan rambut panjang Ran.


“Uwah.” Bibir Ran terangkat membentuk senyuman, dia suka dengan suasana yang seperti ini.


“Ran!”


Brak!


Guren datang menutup kasar jendela, selanjutnya petir menembak ke pohon yang tak jauh dari jendelanya itu.


“Apa yang kau lakukan?!” bentak Guren sangat marah. Tadi itu sangat berbahaya, Ran hampir kena sambaran petir dari ranting pohon yang sangat dekat. Lihatlah bahkan pohon itu sekarang sudah terbakar, mengobarkan api bersamaan listrik yang padam merata.


Napas Guren seakan sulit ia hembuskan, matanya menilik Ran yang menatapnya. Cahaya dari api di pohon, membantu mereka untuk bisa saling melihat.


“A-aku—”


“Astaga kau ini.” Guren mengusap wajahnya kasar. “Jangan lakukan itu lagi saat badai, terlebih ada pohon di dekatmu!”


Air mata jatuh dari pelupuk matanya, hatinya sakit sekali Guren membentaknya seperti itu. “Aku mau ambil air minum tadi,” lirih Ran, kepalanya tertunduk tidak berani lagi menatap mata Guren yang menunjukkan kemarahan.


Wanita hamil katanya sensitif, dan memang benar. Guren menarik Ran masuk ke dalam dekapannya, bibirnya mengucapkan kata maaf berkali-kali sembari mengelus serta mengecup kecil pelipis Ran.


“Aku haus,” balas Ran, mendorong sedikit tubuh Guren agar memberikannya sedikit kelonggaran untuk bernapas.


“Kau tunggu di sini, aku yang pergi ambil.”


Ran menggelengkan kepala, melirik kobaran api di luar. Guren paham ketakutan Ran. “Baiklah, ayo ikut.” Guren langsung menggendong Ran, keluar dari kamar sekalian untuk memanggil orang agar memadamkan api di luar sana.


Namun hujan deras lebih dulu tiba, menembak dinding sebab angin yang kencang, itu juga memadamkan api yang membakar pohon.

__ADS_1


“Sekarang tidurlah,” ajak Guren, membaringkan Ran di ranjang dengan lembut, sangat lembut seakan Ran adalah kaca yang bisa pecah.


Guren mengelus punggung Ran pelan, guna membuatnya nyaman dan mengantuk. Tapi diam-diam wanita ini melirik ke arah jendela, melihat guratan petir yang selalu menjadi favoritnya.


***


Paginya suasana tampak bising, membicarakan badai tadi malam yang sangat parah. Ran baru tiba duduk bergabung bersama mereka, semua mata pun memandangnya.


“Ran kau bisa tidurkan? Badai semalam pasti membuatmu takut ... terlebih pohon dekat kamar kalian tersambar,” tutur Muti dengan raut khawatir.


Terdengar kekehan Guren yang baru datang duduk di samping istrinya.


“Kau kenapa tertawa, Guren?” tanya Pak Arman, papanya Guren.


Di saat semua orang tengah tegang pasangan ini tampak tenang-tenang saja. Istrinya tengah hamil, seharusnya Guren memperhatikan kondisi mental Ran. Itulah yang dipikirkan keluarga Zullies.


Guren melirik Ran, wanita itu meminum susu pemberian Muti dengan tenang. Lucu sekali, Ran tampak seperti anak kecil polos yang tidak mengerti mereka mengkhawatirkannya.


“Ran tidak takut badai, malah dia menyukai suasana badai itu,” ucap Guren, entah kenapa dia merasa bangga.


Seakan tidak percaya, mereka melirik Ran yang benar seperti tidak menyimpan ketakutan. Padahal hampir seluruh isi rumah ini diselimuti ketakutan semalaman, hingga tidak bisa tidur.


Ran berkedip cepat beberapa kali. Kenapa dengan mereka? Pikir Ran.


Selanjutnya Ran melirik Miztard yang diam saja, wajahnya lesu seakan tidak punya semangat. Pasti dia sedang memikirkan tentang hubungannya dengan Risti.


Sedangkan ibunya Miztard, Tante Eka, merengek meminta agar pohon besar di halaman depan di tebang saja. Mereka mulai berdebat akan pohon itu, memang pohon itu tampak mengerikan saat malam, Ran selalu berpikir ada banyak hantu yang bersarang di pohon besar itu.


“Tidak!” tegas Kakek, menolak permintaan Eka juga Muti.


Tiba-tiba dua wanita itu menoleh ke arah Ran dengan mata penuh harap. Ran ragu, memang apa yang bisa Ran lakukan? Dia tak yakin bisa membujuk Kakek, refleks Ran menoleh ke arah lain, berpura-pura tidak tahu.


“Sudah-sudah, ayo kita ke meja makan,” ajak Kakek setelah melihat jam besar antik di pojok ruangan.


Selesai sarapan semua bubar, pergi ke kesibukan masing-masing. Guren mengantar Ran ke kampus, dia sedikit ragu ketika Ran keluar dari mobil.


“Ran,” panggil Guren, wanita itu pun berbalik.


“Kenapa?” jawab Ran.

__ADS_1


Guren mengayun-ayunkan tangan, meminta Ran untuk mendekat dengannya. Setelah Ran dekat dia berkata, “Perhatikan langkahmu.” Hanya itu.


Ran mendengus kesal, dia pikir Guren mau mengecup atau menyapa bayinya begitu. “Iya, aku tahu!” Ran kembali menjauh, dia mendengar teriakan Guren yang mengatakan akan menjemput sepulang kampus.


Sesampainya di kelas, Ran melihat teman kelasnya pada bising-bising, dan mereka juga menyebut nama Aldo.


“Ran, sini!” panggil Risti.


Langsung Ran bergerak cepat menuju Risti. “Ada apa, Ris?”


“Kau tahu ....”


“Apa?” Ran semakin penasaran sebab Risti menjeda ucapan dengan nada seperti ingin mengatakan gosip panas dan terkini.


Risti kemudian menunjuk bangku Aldo yang kosong, Ran mengikuti arah telunjuk itu.


“Kenapa dengan meja Aldo?”


“Bukan mejanya ... kamu tahu enggak? Papa Aldo tersambar petir, meninggal!”


“Hah?! Inalilahi, jadi kapan pemakamannya?”


“Ya pagi ini, makanya itu Aldo enggak masuk. Papa Aldo kerja di perusahaan keluarga Zullies, kan?”


“Iya.”


“Kabarnya belum sampai ke kalian?”


Ran meragu, mungkin sudah duluan sampai. Dan mungkin saja ribut-ribut di rumah tadi ada membahas tentang papanya Aldo juga, tapi sebelum Ran datang.


“Kasihan sekali Aldo. Padahal mamanya baru berhenti kerja, sekarang tulang punggung keluarga pergi. Bagaimana dengan nasib mereka?” lirih Risti, dia jadi ikut sedih sebab di juga pernah merasakan kehilangan, kehilangan Ibu tercinta di usia 15 tahun.


Ran hanya diam saja, tapi dalam hatinya menduakan yang terbaik buat keluarga Aldo.


“Nanti sepulang kampus kita ke rumah Aldo yuk, Ran. Kamu pulang bareng aku saja, beritahu suamimu itu.”


Ran menganggukkan kepala, saat ia hendak merogoh ponsel, suara Dosen menyapa lebih dulu masuk. Ran memasukkan kembali ponselnya, tidak jadi memberitahu Guren.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2