
Padahal Ran sudah mengatakan dia akan pulang naik taksi saja, tapi yang ia lihat sekarang suaminya bersandar di pintu mobil, menarik perhatian siswa baru yang berbisik-bisik ceria tentang alumni seperti Guren.
Apa dia ingin tebar pesona? Ran geram sekali melihat gaya cool Guren di hadapan para wanita itu, menggoda beberapa gadis dengan menaik turunkan alis.
“Kak Guren!”
Guren tersenyum tipis melihat wanita yang berjalan sembari mengentak-entakkan kaki beraut masam. Guren sengaja untuk menggoda Ran.
“Ada apa, Sayang?” balas Guren menarik tangan Ran, membantu Ran masuk ke dalam mobil.
Setelah Guren juga sudah masuk Ran masih menatapnya dengan masam. “Setelah aku hamil kau mau mencari wanita baru?”
“Siapa yang bilang begitu?”
“Tadi kenapa genit banget sama junior?” selidik Ran. Ran sudah mengklaim Guren adalah miliknya, dia menjadi posesif karena itu atau karena bawaan bayi? Entahlah, yang jelas Ran tidak ingin wanita lain mendekati suaminya.
“Aku hanya menggodamu,” kekeh Guren sembari mengacak-acak surai Ran.
“Tidak lucu!” Ran membuang muka, saat mobil berjalan Ran melihat Risti keluar dari gerbang kampus. Oh iya, Ran ingat dia akan membantu Risti. “Kak.”
“Hm?” dehem Guren di sela-sela mengemudi. Dia melirik ke arah Ran sebentar kemudian kembali melihat jalan. “Ada apa?”
“Tolong sampaikan ke Kak Miztard...” Ran menceritakan tentang keluhan Risti tadi pagi dengannya. Guren mengangguk mengerti, dia setuju jika Miztard terlalu mengabaikan Risti dengan alasan sibuk, padahal dia tidak segila itu hingga memakan seluruh waktunya untuk bekerja.
“Kita hari ini menginap di kediaman utama, ya. Mama dan Papa menyuruh kita menginap, di sana ada Miztard aku akan bicara dengannya.”
Ran menggenggam ujung dressnya, rasa gugup tiba-tiba meruak. Tapi Muti sekarang sudah tidak menganggap Ran gadis ular lagi, kan? Namun tetap saja Ran gugup. Terakhir kali dia kumpul-kumpul dengan keluarga itu adalah saat sebelum dia pindah ke apartemen.
Guren menyadari kekhawatiran Ran, dia menggenggam tangan yang terkepal itu. “Tidak apa-apa, mereka semua sudah menerimamu.”
Ran mendongak melihat Guren nanar. Ya, tidak apa-apa, Ran. Kau bahkan pernah mengalami hal yang lebih sulit, batin Ran meyakinkan diri.
__ADS_1
Sampai di kediaman Zullies, gerbang dibuka menyambut kedatangan mereka. Bersebelahan dengan Guren, Ran masuk ke dalam rumah dengan langkah yakin tak menunjukkan sedikit pun keraguan.
Ran memang ahli memakai topeng, yang mereka lihat dari Ran tidaklah yang sebenarnya, Ran gugup setengah mati.
“Akhirnya kalian sampai,” sambut Muti, menggandeng Ran memisahkan wanita itu dari suaminya.
“Kita mau ke mana, Ma?” tanya Ran. Muti membawa Ran seperti mertua yang sudah lama akrab dengan menantu, beberapa pelayan keterangan melihatnya, terlebih Sony. Pembantu itu tidak suka dengan keberadaan Ran, apalagi mengingat perdebatannya dengan Ran di masa lalu.
“Gadis ular,” gumamnya menatap tajam.
Ran menyadari tatapan Sony, dia menoleh ke belakang, menjulurkan lidah untuk mengejek Sony. Haha, menyenangkan melihat wajah Sony yang semakin merah padam.
Ran terkekeh kecil.
“Ada apa, Ran?”
Ran menggeleng sembari tersenyum merespons pertanyaan Muti. “Tidak ada apa-apa, Ma.”
Sampai di kamar Muti, wanita itu menarik Ran masuk. Ran tidak mengerti kenapa dia dibawa ke kamar wanita itu. Selagi Muti sibuk mencari sesuatu, Ran memindai area kamar itu. Matanya menemukan sebuah bingkai foto di atas nakas, tangannya terulur untuk mengambil.
“Iya itu Guren umur delapan tahun,” jawab Muti, mendudukkan pantat di samping Ran.
Bibir Ran terangkat tipis, Guren yang masih kecil tampak seperti anak yang polos dan baik hati. Berbeda dengan sekarang, dia lebih dominan ke cool walaupun tingkahnya kadang seperti anak-anak.
“Dia tampak polos, kan? Jangan tertipu, Ran, sejak kecil dia sudah jago menyulut emosi kakeknya.”
Ekspresi Ran langsung berubah, Muti tertawa melihatnya. Kemudian Muti meraih lengan Ran, memasangkan sebuah gelang Giok berwarna hijau Kekaisaran.
“Mah, i-ini—”
“Ini peninggalan ibunya Kakek Tarmizi, kau tahu, kan dia anak konglomerat di China.”
__ADS_1
“Kenapa diberikan kepadaku?” Ran ingin melepas gelang itu, tapi ditahan oleh Muti.
Wanita itu pun mulai bercerita. “Dulu gelang itu diwariskan ke istrinya Kakek. Nenek mertuamu itu cucu kesayangannya adalah Guren si anak nakal. Sebelum dia meninggal, dia mewasiatkan untuk memberikan gelang Giok ini untuk istri Guren.” Muti menepuk lengan Ran. “Kaulah istrinya Guren, kau tidak berhak untuk menolak!” tekannya.
Cantik sekali, Ran menatap gelang hijau yang terpasang di tangannya dengan saksama. Gelang itu pasti mahal, dan nilai plusnya lagi itu adalah peninggalan turun-temurun entah sejak jaman apa.
“Aku akan simpan dengan baik,” tutur Ran.
“Hm, memang harus begitu. Maaf ya, Ran, seharusnya sudah sejak lama mama serahkan itu padamu.” Muti tersenyum kecut, begitu pula dengan Ran.
Ran senang tapi juga sedih. Muti baik pada Ran setelah tahu Ran mengandung anak, jika Ran tidak mengandung apa Muti akan bersikap seperti sekarang? Itulah hal yang membuat Ran sedih.
Dia jadi takut, takut jika tidak bisa menjaga kandungan dengan baik. Jika terjadi sesuatu pasti mereka akan membenci Ran lagi. Ran tidak mau, dia sudah terlampau senang dengan kehidupan yang sekarang, dia tidak mau kehilangan kehangatan ini.
***
Di kamar Guren, ah ralat, sekarang itu kamarnya juga. Ran mengelus perut yang beberapa bulan lagi pasti lebih besar, dia bersandar di kursi goyang menghadap jendela.
“Kamu yang sehat ya, Nak,” gumam Ran, dia masih kepikiran bagaimana jika dia tidak dapat menjaga kandungannya dengan baik, apa keadaan akan berubah buruk? Hal itu membuat Ran bertekad, melindungi kandungannya bahkan dengan nyawanya sendiri.
Mendadak Ran terkejut akan satu tangan dari belakang ikut mengelus perutnya, juga keningnya di kecup oleh Guren.
“Kau melamun lagi?” Guren berpindah tempat, jongkok di antara kaki Ran.
“Engga ... hanya menikmati angin. Kak Guren mandilah dulu, sebentar lagi makan malam,” suruh Ran sembari mengibas-ngibaskan tangan.
Guren melihat sesuatu hijau di tangan Ran, dia pun tersenyum tipis. Akhirnya Mama memberikan itu, batin Guren. Selanjutnya dia beranjak, masuk ke kamar mandi membersihkan diri agar tambah wangi.
Sambil menggosok kepalanya dengan sampo, Guren memejamkan mata membayangkan tangan Ran tadi. Tak dipungkiri sebenarnya dia suka dengan Ran yang memakai sesuatu berwarna merah, cocok saja menurutnya. Ran tampak lebih anggun dengan warna itu.
“Hm.” Pria ini mulai berpikir mesum, membayangkan Ran memakai baju tipis berwarna merah.
__ADS_1
Kekehannya terdengar sampai keluar. Ran heran apa yang terjadi dengan Guren di dalam sana?
Bersambung....