Terpaksa Merebut Calon Suami Kakak

Terpaksa Merebut Calon Suami Kakak
Bab 43. Balas budi.


__ADS_3

Pelan-pelan Ran melepaskan tangan Guren yang melingkar di perutnya. Setelah berhasil tanpa membangunkan pria itu, Ran melirik nakas yang di atasnya ada lampu tidur.


Dia buka laci itu, membawa obat yang selama ini ia simpan di situ untuk berpindah tempat. Ran keluar dari kamar menuju dapur. Ran meletakkan pil-pil itu ke dalam lemari bawah di samping tempat pencucian piring.


“Di sini pasti aman,” gumam Ran pelan. Dia tidak bisa tidur nyenyak semalaman ini, keinginan Guren menghantui pikirannya.


Ini aneh, jelas saja ini aneh. Kenapa Guren menginginkan bayi? Apa pria itu ingin ada anak sebelum mereka bercerai? Mau dipikirkan bagaimanapun Ran tidak mengerti. Semoga saja bukan karena perasaan.


“Ran kau sedang apa?”


Ran terlonjak kaget mendengar suara Guren. Sejak kapan pria ini menyusulnya?


“Ma-mau masak,” jawab Ran kaku.


Guren memindai Ran dari atas ke bawah. Wanita itu tidak memegang pisau ataupun spatula. Ah, mungkin dia baru memulai, pikir Guren.


“Aku mau bantu,” tawar Guren tersenyum ramah.


“Tidak usah, aku bisa sendiri. Lebih baik Kak Guren mandi. Kaka masuk pagi, kan?” Dalam hati Ran berdoa semoga Guren tidak melihat gerakannya yang menyembunyikan pil penunda kehamilan di sini tadi.


“Aku tidak masuk kelas hari ini. Ada urusan mendadak yang diminta kakek.” Guren mendekati Ran, tiba-tiba memeluk Ran posesif seakan kehilangan Ran. “Aku tidak pandai memasak, aku lihat kamu aja deh.”


Tingkah Guren benar-benar membuat Ran takut. Dia bergelayut manja pada Ran yang berusaha menjaga jarak, tapi bagaimana caranya jika seperti ini?


“Kak Guren, lepas!” Ran berusaha melepaskan diri. Bisa-bisa dia pingsan lagi dengan dekapan seperti ini. “Lepas!” Suara Ran cukup tinggi hingga Guren melepaskan wanita itu.


Bergantian dengan tatapan Guren yang tidak senang sebab Ran terus menolaknya. “Kenapa kau selalu tampak risi jika dekat denganku!” Embusan napas Guren terasa sesak, dia menatap wanita yang mundur beberapa langkah itu dengan tajam. “Jawab Ran! Kenapa kau menjauh?” Guren menegaskan intonasi suaranya.


“A-aku ... aku tidak suka denganmu! Jangan dekati aku!” bentak Ran dan langsung lari menjauh, ke mana pun asalkan tidak dekat dengan Guren.


Ran bersembunyi di kamar lamanya. Beberapa detik kemudian terdengar suara keras dari dapur, Guren pasti mengamuk membanting apa pun di sana.


Mengerikan, Ran tidak tahu kenapa Guren seperti itu. Anggaplah Ran yang buku hati, tapi tidak ada yang tahu bagaimana sulitnya Ran membangun tembok pertahanan untuk melindungi dirinya sendiri dari rasa sakit yang lebih mengerikan nantinya.

__ADS_1


Dua jam berlalu. Ran masih setia mengurung diri di kamar meskipun suara berisik sudah berhenti sejak tadi.


Saat Ran keluar, tidak ada Guren di mana pun di seluruh ruangan apartemen ini. “Syukurlah dia sudah pergi.” Ran mengelus dadanya, menunjukkan bertapa leganya dia sekarang.


Ran pergi ke kamar Guren untuk mengambil ponselnya. Rencana dia ingin bermain sebentar, tapi ponselnya berdering sebelum lockscreen terbuka.


“Mama?” Ran rasa tak percaya wanita itu menghubunginya, biasa tidak pernah. Ada urusan apa, nih? Ran pun menjawab. “Ada apa, Ma?”


“Ke sini kau. Ada yang ingin kubicarakan.” Setelah itu panggilan langsung dimatikan sepihak.


Ran menatap layar ponsel dengan raut kecewa, Salsa terlalu dingin padanya. Dan untuk apa lagi dia disuruh ke sana? Bukannya sudah diusir, ya?


***


Baru juga sampai, Ran langsung disambut oleh mama papa yang menatap kedatangannya dengan raut tajam.


“A-ada apa ini?”


Ran duduk, berhadapan dengan pasangan suami istri yang membesarkannya tanpa kasih sayang itu. Wajah mereka berdua tampak serius, Ran jadi semakin gugup dengan apa yang ingin mereka katakan.


“Mama, Papa apa—”


“Cerai dengan Guren secepatnya!” potong Salsa menyela Ran yang hendak menanyakan kabar tadinya.


Sontak tubuh Ran menegang. Salsa terlalu blak-blakan. Rasanya dada Ran panas, bukan karena tidak ingin cerai tapi karena kedua orang tuanya tidak ingin mengerti dirinya.


Andaikan Arif tidak mengancamnya Ran pasti sudah lama mengajukan gugatan, atau tidak masuk ke kehidupan Guren sama sekali.


“Kenapa?” tanya Ran menahan air mata.


“Pasya sakit, dia tidak berhenti menangis sebab diputuskan oleh Guren. Kau menggunakan bantuan dukun, ya, Ran? Pasti kau menggunakan cara itu untuk menguasai Guren,” tuduh Salsa.


Ran tersentak kaget atas ucapan sembarangan Salsa. Kemudian Ran menoleh cepat ke arah Doni, melihat apakah pria itu juga ingin menyudutkannya?

__ADS_1


“Pah. Papa tidak ingin membelaku?” lirik Ran meneteskan air mata.


Doni memejamkan matanya, dia tidak ingin melihat Ran seperti itu. Dia akan dimarahi Salsa jika membela Ran sedikit saja.


“Papa,” panggil Ran sekali lagi, terdengar menyedihkan.


“Jangan tumpahi air mata palsumu itu, Ran. Bercerailah dengan Guren, suruh pria itu menikahi Pasya. Toh sejak awal mereka yang seharusnya menikah, bukan kau!”


“Kenapa? Kenapa Mama selalu membela Kak Pasya? Kalian tidak adil padaku.”


“Jangan banyak drama. Jujur saja, kau itu bukanlah anakku.”


Mata Ran semakin membulat, begitu pula dengan Doni. “Ma! Kenapa kau katakan!” bentak Doni, berdiri dari duduknya.


Melihat reaksi Doni seperti itu, sepertinya yang dikatakan Salsa memang benar. Ran pun terdiam dengan tatapan kosong.


Salsa ikut berdiri sebab Doni yang membentaknya. “Aku sudah tidak mau berpura-pura menjadi ibu kandungnya lagi! Anak istri pertamamu ini selalu menyakiti hati putriku!” tunjuk Salsa lurus ke wajah Ran yang mematung di sofa. “Beri tahu dia. Beri tahu dia jika ibunya tak menginginkan Ran.”


“Salsa, cukup!”


“Tidak! Aku akan beritahu semuanya. Ran, aku ini istri kedua dari papamu ini. Tapi aku yang duluan hamil dari pada wanita itu. Dua tahun kemudian dia menemukan laki-laki kaya, dia cerai dengan Doni tidak peduli dengan dirinya yang sudah hamil. Tapi kau tidak di terima di keluarga mereka, jadi setelah wanita itu melahirkanmu, dia menyuruh Doni untuk membesarkanmu sebab kau adalah anaknya. Makanya itu kau besar dengan kami!”


Ran sudah tidak dapat berkata-kata lagi, hatinya sudah terlalu remuk mendengar fakta itu. Pantas saja Ran diperlakukan beda dibandingkan dengan Adit dan Pasya. Ternyata ini soal darah, darah lebih kental dibandingkan air.


“Nama wanita itu Lerina, ingat itu!”


“Salsa, apa kau sudah puas?” tegur Doni dengan nada rendah. Sepertinya dia juga lemas akan perkataan Salsa.


“Belum ... sebelum Guren menikah dengan Pasya.” Salsa menegakkan kepala Ran yang sejak tadi tertunduk menggunakan dua jarinya di dagu Ran. “Aku sudah bersusah payah membesarkanmu, Ran. Bisakah kau mengabulkan permintaanku sebagai bentuk balas budi? Buatlah Pasya hidup bahagia dengan Guren,” pinta Salsa saling tatap dengan mata basah Ran, bersama suara yang sangat lembut.


“Tidak bisa!” sangkal pria yang entah sejak kapan berada di depan pintu.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2