Terpaksa Merebut Calon Suami Kakak

Terpaksa Merebut Calon Suami Kakak
Bab 54. Menolak ajakan.


__ADS_3

Wajahnya tampak serius, mengobrol dengan seseorang melalui sambungan telepon. Yang Ran lihat adalah Guren, pria itu menjauhkan diri dari orang-orang hingga Ran menjadi penasaran karenanya.


Apa yang membuat Guren seserius itu? Dan lagi Ran mendengar nama Kanae yang keluar dari mulut pria itu. Ran mencoba mendekati diam-diam, dia dapat mendengar obrolan tipis mereka.


“Sudah jadi, benar-benar mirip, kan? ... Nanti ketemuan di kantor, jangan dititipkan ke orang ... Aku pulang jam empat.” Setelah itu selesai. Guren memasukkan kembali ponselnya ke dalam tas.


Melihat pergerakan Guren, Ran sembunyi berjongkok di dekat kursi kayu. Sayangnya saat Guren lewat, dia menyadari keberadaan Ran di situ.


“Ran?” Dia tampak panik, takut Ran mengetahui apa yang ia sembunyikan. “Sejak kapan kau di situ?”


Sulit mendeskripsikannya, yang jelas Ran benar-benar mati kutu sebab ketahuan menguping pembicaraan Guren. Dia bingung harus menjawab apa.


“A-aku mengikutimu.” Lebih baik Ran mengaku, memang kebohongan apa yang bisa membantu Ran?


“Kau dengar semuanya?” Guren mengusap wajahnya kasar, sia-sia persiapannya jika Ran mengetahui semua.


Tapi Ran menggeleng. Bisakah Guren percaya itu? Benarkah Ran tidak tahu apa-apa? Guren menyipitkan mata, menatap Ran dengan selidik.


“Benar, aku tidak dengar ... cuman dengar bagian ketemu di kantor,” ucap Ran meyakinkan Guren, sebab pria itu seakan takut Ran mendengar pembicaraannya tadi.


“Bukan hal penting, aku hanya menyuruh Kanae mencarikan komputer yang sama persis dengan komputer lamaku,” tutur Guren sembari meletakkan tangannya di atas kepala Ran.


Ran tidak ingin berpikir aneh-aneh, baiklah dia akan percaya.


***


Pada pukul empat sore, Kanae datang ke apartemen. Wanita itu tampak terkejut sebab yang membukakan pintu adalah Ran. Ia pikir Ran tidak akan ada di rumah sebab Guren mengganti tempat jumpa mereka menjadi di apartemen pria itu.


“Guren ada?” ketus Kanae yang tampak jelas jika dia tidak menyukai Ran.


“Engga ada, belum pulang.”


“His!” Keluh Kanae, dia beranjak pergi padahal belum melangkah masuk sama sekali.


Tentu saja perilaku Kanae menyinggung Ran. “Apa-apaan dia?” sesal Ran. Ran kembali menutup pintu. Dalam hatinya berkata, memang harus Kak Guren, ya? Kan ada aku di sini.

__ADS_1


Di tempat lain, Arif mengacak-acak rambutnya kasar. Dia kesulitan mendekati Ran, Risti dan Aldo selalu menghadang Arif. Pasti Guren adalah dalang dari semua ini, pria itu begitu licik.


Tidak memiliki banyak kesabaran, Arif pun pergi menemui Adit. Remaja itu bermain bola di lapangan futsal, mudah saja bagi Arif menemukannya, karena nama Adit disorak-sorak manja oleh para gadis yang menonton.


“Ternyata bocah itu populer juga,” Arif mendengus sebal.


Wajar sih, di antara teman-temannya Adit yang paling ganteng. Tinggi, rambut hitam legam, kulitnya antara coklat muda dan putih, alisnya juga tebal.


“Sialan!” kesal Arif ketika melihat bertapa kerennya Adit saat mencetak Gol ke gawang lawan. Lapangan semakin riuh dengan jeritan histeris para gadis. Adit memasang wajah yang terkesan dingin, malah teman-temannya yang kegirangan.


Mereka menang.


“Beh keren banget kamu, Dit!”


“Kapten kita nih, Bro.”


Adit mengabaikan kesenangan temannya, dia menangkap Arif yang tengah melambaikan tangannya di ujung Lapangan, memberi syarat agar Adit mendekat.


“Ada apa, Bang?” tanya Adit setelah sampai, sembari mengelap keringat menggunakan handuk.


“Sudah.”


“Ikut abang sebentar.”


Sesuai rencana, Arif ingin menggunakan Adit sebagai penyampai pesannya pada Ran atau lebih bagusnya remaja itu mau membantu Arif memisahkan Ran dan Guren. Tapi yang ia dapatkan malah penolakan mentak dari Adit, padahal dia juga sudah menceritakan siapa Guren sebenarnya.


“Kenapa? Bagaimana kalau kakakmu mati di tangan Guren? Kau tidak takut?”


Adit menatap tajam Arif. “Kenapa juga aku harus membantu orang yang sudah mengancam kakakku?”


Tubuh Arif gemetar, dia tersentak dengan penuturan Adit, badannya mulai gemetar tapi dia masih belum menyerah. “Dia pembunuh loh, Adit.”


“Terus? Dia tidak akan membunuh kakakku, kan? Lagian kalau mereka pisah, ke mana Kak Ran akan pergi? Mama sudah tidak memberikan tempat untuk Kak Ran di rumah kami.”


“Aku! Aku yang akan menampung Ran!” Napas Arif ngos-ngosan menggebu dengan semangat.

__ADS_1


Kening Adit mengernyit, dia malah jijik dengan tampang Arif yang sekarang seperti orang mesum. Tebakannya Arif menyukai Ran.


“Tidak perlu repot-repot, kakakku tidak membutuhkanmu.” Arif berbalik, namun sebelum dia melangkah, tangan Arif terlebih dahulu memegang pundaknya.


“Kau tidak takut, Adit? Bagaimana jika Guren—”


“Jika dia ingin membunuh Kak Ran, maka sudah lama ia lakukan. Mungkin sejak mereka akan menikah, kenapa Kak Ran masih hidup? Padahal dia sudah bermain-main dengan pembunuh, loh?”


Arif tercengang, ternyata Adit tidak mudah digoyahkan. Padahal dia sudah berangan jika remaja itu mencomblanginya dengan Ran. Haha, lebih baik tertawakan saja angan-angan itu.


Sambil melangkah menjauh Adit berkata, “Jangan ganggu Kak Ran, dia baru saja memulai masa depan yang cerah. Dia bahagia, bersama orang yang mencintainya.”


Sampai di lapangan, Adit dihampiri oleh seorang gadis, dia Wanti, sepupu Arif. “Dit, ini minuman untuk kamu,” tawarnya dengan rona pipi yang terkesan malu-malu.


Adit hanya meliriknya sekilas, dia berlalu tanpa mengambil tawaran Wanti. Gadis itu menunduk kecewa, lagi-lagi dia diabaikan. Sejak masalah membuat Arif mengaku di depan Guren, Adit tidak ingin berurusan lagi dengan Wanti. Menurutnya Wanti itu beban yang merepotkan, selalu datang ke rumahnya ketika kabur dari rumah.


“Adit!” panggil Wanti mengejar Adit. Sebelum berhasil, Wanti ditahan oleh beberapa gadis lain.


“Jangan kejar Adit, kamu sadar enggak, sih? Adit itu risi sama kamu. Dasar cewek jelek enggak tahu malu. Urus jerawatmu itu! Sampah.”


Wanti menunduk, meneteskan air mata ke rumput lapangan. Dia sadar jika dia jelek, seharusnya dia sadar sejak dulu, jika dia tidak bisa menyampaikan perasaan pada Adit yang dikerumuni gadis cantik.


Dia pun melangkah pergi, pergi ke arah berbeda dari tempat Adit berada.


“Kak Pasya cantik, Kak Ran lebih lagi, aku hanya kotoran di antara mereka. Tapi ...” Wanti menangis tanpa suara, memukul-mukul dadanya yang terasa ditusuk. “Tapi aku menyukai Adit, bagaimana caranya agar dia melirikku?”


“Kamu suka sama anak saya?!”


Wanti mendongak, ternyata ada Salsa yang mendengarnya. “I-Ibu—”


“Astaga masih SMP juga, sudah cinta-cintaan. Engga ada enggak ada! Anak saya enggak boleh pacaran, masih SMP. Kakaknya aja pacaran setelah lulus SMA ... aduh Adit ke mana lagi, sudah hampir magrib belum pulang.” Salsa pergi melanjutkan langkah setelah berhasil meremuk hati Wanti ... dengan tampang tidak bersalah.


“Belum apa-apa aku sudah enggak direstui sama mamanya Adit.” Tubuh Wanti merosot ke bawah, kakinya terasa lemas. Mungkin dia memang tidak ditakdirkan untuk Adit.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2