
Selagi Ran belum sadar, Guren berencana untuk mencari tahu sendiri siapa cowok yang Ran suka. Sebelum mengetahui itu, Guren belum bisa tenang, api amarahnya terus saja memanas. Dia tidak ingin menyakiti Ran lagi, jadi lebih baik tidak bertanya dulu, mencari tahu sendiri.
Di mulai dari teman terdekat Ran, yaitu Risti. Soal gadis itu Guren bisa serahkan Miztard untuk bertanya. Dia pun mengirim pesan pada Miztard, dan langsung mendapat jawaban ‘iya.’
Selanjutnya Guren mengecek ponsel Ran, dengan mudah ia membuka lockscreen menggunakan jari Ran itu sendiri. Dengan teliti dia mengecek semua riwayat panggilan telepon, aplikasi chatting, sosial media, juga galeri. Namun tidak ada apa pun yang Guren temui, bahkan saat dia mengembalikan riwayat delete.
“Kau diam-diam menyukainya, ya, Ran?” tanya Guren sendiri pada wanita yang tidak mendengarnya. Setelah itu Guren meletakkan ponsel Ran di nakas. Dia merebahkan diri menghadap Ran, menelitinya dengan intens wajah pulas itu.
Mata Guren mulai sayu, satu masalah belum selesai, masalah tak terduga malah timbul. Seperti Ran yang merupakan satu-satunya saksi atas tindak kriminalnya dulu.
Beruntunglah Ran karena Guren mengetahui itu di saat dia sudah memiliki perasaan pada Ran, jika tidak ... entah apa yang akan terhadap Ran. Mungkin Guren akan menyingkirkan satu-satunya saksi itu.
“Kau ingin tahu alasanku membunuh Olif?” Guren membelai wajah Ran dengan lembut, seperti membelai seekor kucing berbulu halus.
“Karena aku berengsek.” Setelah mengatakan itu Guren terdiam sejenak dengan jeda yang cukup panjang.
“Aku menghamili banyak wanita, mereka semua mau menurutiku untuk menggugurkan kandungan setelah diancam dengan apa yang mereka takuti. Tapi Olif? Dia membuatku emosi. Dia bersikeras untuk mempertahankan anak itu ... dan aku membunuhnya.” Entah apa yang lucu, tiba-tiba Guren tertawa geli. Apa itu rasa bersalah? Guren tidak menyesal sama sekali.
Brengsek!
“Tapi Ran ... kalau kau yang hamil akan beda cerita. Aku sangat bahagia, aku sangat mengharapkannya.”
Entah sejak kapan Guren ada di atas Ran. Dia ******* rakus bibir Ran, yang pemiliknya tidak memberikan reaksi. Selepas itu Guren turun dari ranjang, matanya melirik jam yang menunjukkan pukul sepuluh malam.
Dia beralih mengambil jaket, pergi keluar untuk menemui seseorang yang lebih dekat lagi dengan Ran.
***
Adit belum tidur. Dia seorang gamers, jarang memang tidur cepat, paling cepat mungkin pukul 23.30.
Di saat sedang fokus-fokusnya, Adit terjerit menyadari ada orang yang tiba-tiba masuk dari jendela kamarnya yang memang tidak terkunci.
“Diam. Kau ingin membangunkan semua orang? Termasuk....” Guren melirik ranjang Adit. “Dia?” lanjutnya.
Jantung Adit hampir lepas dengan hanya kedatangan Guren, ditambah ada seorang gadis yang ia sembunyikan di kamar ini. Senyuman di bibir Guren menambah tekanan bagi Adit. Apa maunya? Kenapa dia datang ke sini di waktu yang tidak rapat? Adik bertanya-tanya dalam kebisuan.
__ADS_1
“Kau ternyata anak nakal, ya, Adit.”
“Bu-bukan, bukan seperti itu.”
“Sudahlah kau tidak perlu takut, aku tidak akan bilang ke siapa-siapa.”
Bisakah Adit mempercayai itu? Lagian tujuan orang ini datang seperti maling ke kamar Adit apa?
“Dengan satu syarat,” lanjut Guren. Astaga, padahal Adit baru saja ingin bernapas lega.
“Apa?” tanya Adit penasaran. Dia sudah tidak peduli lagi dengan komputer yang menunjukkan karakternya sudah mati, sekarang dia harus mengikuti syarat Guren untuk menutup mulut kakak iparnya itu.
“Beritahu aku siapa cowok yang disukai kakakmu.”
Adit mengernyit. Kaka yang mana dimaksud Guren. “Kak Pasya?” tanya Guren.
“Ran.”
Untuk sesaat Adit diam mencerna situasi. Kenapa memang dengan cowok yang disukai Ran? Bukannya Guren membenci Ran? Jika memang ada Ran menyukai seseorang, seharusnya dibiarkan saja, iya, kan?
“Aku tidak tahu.”
“Cari tahu!”
“Apa?!”
Kemudian Guren menunjuk gadis yang tengah tertidur di ranjang Adit. Seketika Adit paham jika dia tidak bisa menolak, Guren sedang mengancamnya.
“Baiklah. Aku harus apa?” pasrah Adit, memutar bola matanya malas.
“Terserah, gunakan cara apa pun untuk mencari tahu. Dalam waktu tiga hari aku ingin jawabannya.”
Baru saja Adit ingin protes, dia terdiam ketika Guren mengambil gambar situasi di kamar ini, termasuk gadis yang tengah tertidur itu.
“Sampai jumpa, Adit. Aku tunggu jawabanmu tiga hari lagi.” Setelah itu Guren menghilang dari hadapannya.
__ADS_1
Barulah gadis itu membuka mata, ternyata dia sudah terbangun sejak tadi sebab Guren teriakan Adit saat Guren masuk.
“Maaf Adit. Gara-gara aku, kamu—”
“Mau berapa lama lagi kau menjadikan kamarku tempat kabur? Aku tidak bisa menampungmu di sini selamanya.” Adit berujar tanpa melihat Wanti, matanya memandang komputer yang menyala dengan fokus yang berbeda.
Wanti menundukkan kepala, dia sadar telah merepotkan Adit. Namun, dia tidak tahu harus ke mana lagi, dia kabur dari rumah sebab abang tiri yang mengusiknya.
***
Guren sampai di apartemen, dia masuk ke kamar namun tidak menemukan Ran di sana. Sepertinya Ran pindah ke kamarnya sendiri, dengan begitu Guren pergi untuk melihat. Ternyata benar, pintu kamar Ran terkunci, yang itu artinya ada orang di dalam sana.
“Ran buka pintunya,” panggil Guren sambil mengetuk pintu.
Sedangkan Ran diam saja, dia mendengar suara Guren di luar sana. Dalam hatinya berdoa agar Guren tidak mengusiknya. Sungguh dia takut, takut jika pria itu bertanya lagi dan berakhir emosi.
Tiba-tiba pintu itu terbuka entah bagaimana caranya, Ran langsung pura-pura tidur. Terlambat, Guren sudah lebih dulu memergokinya mencari posisi tidur.
Guren tertawa. “Tidak usah berpura-pura,” katanya, berjalan santai dan berhenti untuk duduk di ranjang Ran.
Jantung Ran berdegup kencang seperti orang yang sedang dikejar hantu pembunuh. Saat Guren membelai rambutnya, Ran seakan tidak bisa bergerak. Ketakutan menguasai dirinya hingga tangannya gemetar. Guren menggenggam tangan Ran itu, dia mengecupnya pelan dan lama penuh kasih.
“Kau takut padaku, Ran?” tuturnya dengan nada yang terdengar sedih. “Buka matamu, lihat aku. Apa yang seram dari wajahku?”
Ran tidak menuruti permintaan Guren, matanya tertutup rapat memastikan tidak ada cahaya yang masuk di netranya.
‘Pergilah. Pergilah kumohon.’ batin Ran menjerit mengusir Guren. Andaikan dia bisa mengatakan hal itu dengan lantang.
Padahal sudah diabaikan sampai seperti itu, bukannya pergi, Guren malah masuk ke dalam selimut Ran. Memeluk Ran, menyembunyikan kepala di ceruk leher Ran dari belakang. Apa yang harus Ran lakukan? Dia matu kutu sekarang.
“Ok mari kita tidur,” ucap Guren.
Ran bisa merasakan embusan napas hangat menyapu kulit lehernya, bikin merinding seluruh badan.
‘Kenapa kau malah masuk selimut! Dan bagaimana caramu masuk!’ Ingin sekali Ran berteriak seperti itu, namun apalah daya? Dirinya tidak berdaya.
__ADS_1
Bersambung....