
Ada banyak hal yang tidak Ran mengerti tentang suaminya sendiri. Walau sudah menikah lebih dari satu tahun, Ran masih belum mengenali Guren dengan baik. Memang masih banyak waktu untuk mengenal, hanya saja Guren seperti memiliki banyak rahasia, sehingga Ran begitu penasaran.
Seperti saat ini, dari balkon lantai dua, Ran melihat tukang kebun yang selalu menghindar dari Ran sejak pertama kali mereka berbicara, dia menatap Guren yang lewat dengan raut amarah yang tertahan.
Ran mengernyit. “Dia seperti orang yang membenci Kak Guren,” gumam Ran sendiri.
Namun tampaknya Guren mengabaikan tukang kebun. Ran terus memperhatikan bagaimana tukang kebun terus menatap punggung Guren sampai Guren masuk ke dalam mobil.
Pasti mereka memiliki masa lalu buruk, kenapa tidak ada yang memberitahu Ran tentang itu? Orang-orang rumah ini seakan menyembunyikan sesuatu tentang Guren dari Ran.
Bukan tanpa alasan Ran penasaran berlebih seperti ini, tadi pagi dia masuk ke perpustakaan rumah, Ran menemukan selembar kertas yang terselip di sela buku, itu adalah surat.
[Aku tahu ini kemungkinannya kecil, tapi aku harap yang menemukan catatan ini adalah istri dari brengsek itu, Guren. Siapa pun kamu, aku hanya ingin memberitahu jika pria itu bermasalah, mentalnya tidak sehat. Dia sudah banyak menggugurkan kandungan wanita yang hamil anaknya, jika wanita itu menolak dia akan segera tamat. Aku salah satu korbannya, aku menulis ini sebab tahu bagaimana akhirku. Aku sungguh berharap yang membaca ini adalah wanita yang benar-benar ia cintai, jika tidak tolong berikan pada wanita itu. Katakan padanya untuk balaskan dendam kami, sebagai sesama wanita dia seharusnya mengerti. Orang jahat harus dihukum! Tapi karena dia memiliki kekuasaan, itu sangat sulit. Tinggalkan dia! Aku rasa itu sudah cukup membuatnya frustrasi. Dia mencintaimu, kan?]
Ran menatap kosong sebuah nama yang ada di ujung kertas. Vera, nama itulah yang tertulis sebagai penutupan. “Kalau itu benar pun sepertinya aku tidak bisa.” Tangan Ran bergerak untuk mengelus perutnya, sudah ada anak di dalam sana, anehnya Ran tidak takut sama sekali bahkan setelah membaca surat itu.
“Apa aku harus bertanya langsung? Bagaimana jika dia malah marah? Masa lalu buruk seharusnya jangan dikorek. Tapi....”
Mulut Ran menutup rapat, melipat bibirnya sendiri bersama pikiran yang hanyut ke dalam kebingungan.
“Aku tidak percaya surat itu! Mungkin itu hanya tulisan orang iseng yang ingin memisahkan aku dengan Kak Guren. Tinggalkan katanya? Jika aku melakukan itu dia pasti akan bergerak menggoda Kak Guren!”
Ran berusaha menepis pikiran buruk tentang Guren, dia ingin mempercayai Guren, karena hubungan pada dasarnya terbentuk akan kepercayaan satu sama lain.
Kemudian Ran kembali masuk ke dalam, mengabaikan tukang kebun yang berekspresi jelas di bawah sana.
Saat sampai di kamar, Ran dikejutkan dengan beberapa pelayan yang memasukkan pakaiannya ke dalam koper. “Kalian ngapain?” tanya Ran, mendekati pelayan dengan tanda tanya di kepalanya.
__ADS_1
Sebelum menjawab pelayan menunduk, mereka pikir Ran tengah marah. “Tu-Tuan Muda meminta kami untuk membereskan pakaian, katanya Anda akan kembali ke apartemen.”
Ah akhirnya mereka akan pulang, padahal Ran sudah nyaman dengan lingkungan rumah yang segar ini. Di tengah kota udaranya kadang tidak enak, walaupun jarak ke kampus jadi lebih jauh Ran lebih suka di tempat ini.
Tapi Ran tidak ingin menyangkal juga, dia rindu suasana di apartemen berdua saja dengan Guren. Memasak, mengurus rumah, berbelanja bahan dapur, Ran bisa melakukan itu semua sendiri lagi. Sedangkan di rumah ini? Ran tidak pernah melakukan apa pun selain memainkan telunjuk untuk memerintah pembantu, menjadi nyonya yang sesungguhnya.
“Tinggalkan sebagian, jangan dibawa semua,” tutur Ran, dia pergi ke sofa yang ada di kamar, memperhatikan apa saja yang dilakukan oleh pelayan.
Di antara mereka ada yang sudah tua, Ran pikir wanita itu mungkin sudah bekerja cukup lama di rumah ini. Perhatian Ran terpaku padanya. “Ibu,” panggil Ran.
Semua pelayan menoleh, selanjutnya mereka mereka sama-sama melihat rekan yang satu-satunya pantas dipanggil dengan sebutan ibu.
“Buk Jamila, sepertinya yang dipanggil Nona Ran adalah Ibu.”
Pelayan lainnya mengangguk setuju, selain Jamila mereka semua yang tengah mengemasi barang Ran terbilang muda, belum menikah dan tentu belum memiliki anak.
Ran mengangguk samar. Jamila mengambil posisi berdiri di hadapan Ran, menundukkan kepala dengan kedua tangan yang terpaut di depan.
“Sudah berapa tahun ibu bekerja di sini?”
“15 tahun, Nona.”
Ran diam sesaat, mendadak suasana terasa mencekik bagi pelayan yang diam-diam mendengarkan obrolan antara majikan dan rekan senior mereka. Begitu pula dengan Jamila yang masih berdiri tegap. Suasana hening menggetarkan kalbunya. ‘Apa aku melakukan kesalahan? Apa aku akan dipecat?’ Batin Jamila terus mengulang-ulang pertanyaan yang sama.
“Apa kau tahu siapa Vera?”
Satu pertanyaan dari Ran berhasil membuat Jamila gemetar. Ran mengernyitkan dahi melihat reaksi tubuh yang berubah.
__ADS_1
‘Dia tahu,’ tebak Ran dalam hati.
“Kau kenal?” ulang Ran.
Pelayan lainnya saling pandang-pandangan. Tahu akan situasi Jamila, salah satu dari mereka langsung bergerak berdiri di samping Jamila. “No-Nona, saya kenal Vera,” tuturnya. Diam-diam tangannya meremas pinggang Jamila, memperingati Jamila untuk bersikap profesional.
“Katakan,” suruh Ran.
“Vera dulu adalah pelayan juga di sini, dia cantik dan baik. Dia adalah anak Buk Jamila.”
Binggo! Sudah Ran tebak, pasti Vera adalah orang dalam di rumah ini. Tidak mungkinkan orang luar bisa masuk ke perpustakaan pribadi untuk menyelipkan surat? Dia pembantu, saat disuruh membersihkan perpustakaan pasti itu waktu yang tepat meninggalkan surat.
“Di mana dia sekarang? Aku ingin bertemu dengannya.”
Terasa semakin sulit saja bagi pelayan untuk bernapas di ruangan yang sama dengan Ran. Ini hal yang besar, mereka bisa berakhir menyedihkan jika sampai Ran tahu.
“Dia kabur ... kawin lari dengan pacarnya.” Yang menjawab adalah Jamila, namun kepala wanita itu tertunduk dengan tangan yang menggenggam kuat.
Pelayan lainnya merasa iba, sekaligus merasa lega.
Ran tidak bertanya lagi, dia menyuruh mereka berdua yang berdiri di hadapannya untuk kembali bekerja. Tapi bukan berarti Ran percaya, sejak tadi dia memperhatikan respons tubuh dan mimik wajah para pelayan, jelas sekali ada yang mereka takutkan.
‘Reaksi mereka ... mereka berbohong. Vera, selamat, tulisanmu berhasil membuatku kepikiran.’
Tak peduli bagaimana Ran ingin menyangkal, terus meyakinkan diri untuk tetap percaya pada Guren, tetap mengabaikan ... tidak bisa! Terlalu sulit untuk tidak penasaran. Tatapan kebencian tukang kebun, reaksi para pelayan yang mengaku rekannya Vera, juga getar tubuh Jamila saat nama itu di sebut. Terlalu jelas untuk dibiarkan.
Bersambung....
__ADS_1