
Siang harinya Juan ada di sekolah Amber bersembunyi di bawah pohon rindang dekat gerbang, dia sama sekali belum pernah melihat putrinya itu dan ada rasa penasaran yang hinggap pada dirinya ingin mengetahui bagaimana rupa anak yang dulu tidak pernah diakuinya. Tak lama dia melihat Hazel turun dari sebuah mobil dan masuk ke dalam, dia mengikutinya.
"Amber.. lapar ga? Tadi pagi kan cuma makan roti 1 lembar." Tanya Hazel, ya memang Amber hanya bisa makan roti 1 lembar akibat Nicho yang mengamuk lagi tadi pagi dan Hazel segera mengambil roti itu untuk Amber makan di mobil.
"Iya ma, laper juga..." Jawab Amber dan Hazel membawa Amber ke taman sekolah dan duduk di pinggir taman itu mengeluarkan kotak bekal yang sudah dia siapkan dari rumah.
"Nasi goreng dengan sosis dan jagung kesukaanmu." Ujar Hazel sambil membuka kotak tersebut.
"Waahhh... enak.." Amber senang dapat makan nasi goreng kesukaannya dan Hazel menunggu hingga putri cantiknya ini selesai makan.
"Hazel.." Panggil Juan yang telah mendekati mereka.
"Ngapain kesini?" Tanya Hazel dengan nada ketus tak bersahabat, dia sudah muak dengan Juan.
"Aku hanya ingin melihat Amber." Jawabnya dan Amber malah heran melihatnya dan sedikit takut, tangan kecilnya mengeratkan genggaman di baju Hazel yang kini sudah berdiri menghalangi Juan.
"Amber tidak mengenalmu jadi pergi." Usir Hazel tapi Juan malah semakin ingin mendekati Amber yang juga semakin takut.
"Tapi dia anakku Hazel, kau gak bisa memisahkan kami." Juan tetap berusaha ingin mendekati Amber yang kini sudah hampir menangis, Juan terus ingin mendekatinya dan Hazel selalu mendorong Juan.
"Kau.." Juan yang geram lalu mencengkram kuat lengan Hazel agar dia menyingkir dengan sedikit mendorongnya ke samping.
"Hei tuan, tolong jangan kasar pada wanita dan anak-anak." Tegur seseorang yang baru saja menghampiri mereka.
"Siapa kau.." Juan berhenti saat melihat siapa yang menghalanginya.
"Morgan.." Lirih Hazel, Morgan yang baru selesai meeting melihat kejadiannya dari jauh dan sebenarnya tidak mau ikut campur sampai dia tidak tahan melihat Juan yang memaksa Hazel.
"Tolong bersikap sopan di lingkungan sekolah, disini banyak anak-anak dan aku bisa menyeretmu keluar kalau berani kasar." Ancam Morgan dengan tatapan tajamnya.
Juan yang tau siapa orang di depannya pun mundur, dia tidak mau mencari masalah apa lagi visa kerjanya hanya 1 tahun disini dan dia tidak mau itu dicabut jika mencari masalah pada keluarga Hastanta.
"Aku pergi, maaf Tuan Morgan." Juan segera melangkah cepat meninggalkan mereka.
"Kalian gak apa-apa kan?" Tanya Morgan dengan khawatir.
"Iya, terima kasih." Jawab Hazel.
__ADS_1
"Anak cantik.. mau makan eskrim gak?" Tanya Morgan yang sudah berjongkok di depan Amber yang kini tersenyum ceria.
"Mau om ganteng.." Jawabnya riang dan Morgan menggendong Amber dan membawanya ke salah satu mini market di depan sekolahan itu. Amber dengan senang hati memilih eskrim yang dia mau, Hazel mau menolak tapi Morgan sudah membawa Amber pergi dan lagi Amber terlihat sangat senang bersama dengan pria muda itu.
Om ganteng sangat baik kenapa mama gak nikahnya sama om ganteng aja?" Celoteh Amber membuat Morgan sangat senang, tapi Hazel merasa itu tidak pantas dan menegur Amber.
"Amber gak boleh bicara begitu, Om Morgan juga adiknya mama dan sekarang mama kan udah nikah sama Om Nicho jadi gak boleh ngomong begitu." Tegur Hazel tapi Morgan malah membelanya.
"Jangan marah begitu dong kakak cantik, Amber benar kok.. kenapa ga nikah sama aku aja dari pada Nicho tukang selingkuh itu." Ucap Morgan.
"Maaf Morgan, tapi itu gak mungkin kita baru kenal dan kamu adiknya temanku juga aku ini istri orang, ga boleh.." Ujar Hazel tapi Morgan gak mau nyerah begitu saja.
"Cerai saja, suamimu itu udah selingkuh dengan Oliv, kamu mau bertahan?" Tanya Morgan dan Hazel mengangguk.
"Harus bertahan." Lirihnya, Morgan melihat raut kesedihan di wajah dan mata cantik Hazel, dia begitu sakit melihat Hazel seperti itu.
"Kami harus kembali, kalau gak suamiku bisa marah." Hazel mengandeng Amber dan keluar dari mini market itu padahal Amber belum selesai memakan eskrimnya.
"Terima kasih om ganteng." Ujar bocah cantik itu membuyarkan lamunan Morgan yang terus memandangi Hazel.
"Kau berani menemui Juan di luar, kau mau mati!" Geram Nicho dan tangannya sudah ada di leher Hazel dan mencekiknya.
"Aku gak sengaja ketemu dia, tiba-tiba dia ada disana mau ketemu Amber." Ucap Hazel susah payah karena cekikan itu.
"Lepasin mama... om Nicho sama dengan om jahat tadi, bisanya cuma bikin mama sakit. Lepasiiinnn..." Amber menendang Nicho tapi itu tidak terasa baginya, kaki kecil Amber berusaha menendang terus.
"Mama gak salah, om tadi yang jahat dan di tolong om ganteng. Lepasin mama.." Teriak Amber, dia sebenarnya tau apa yang di alami Hazel selama ini.
Anak kecil ini menjadi dewasa begitu cepat akibat penyiksaan yang dialami Hazel di depan matanya, meskipun Hazel tidak tau tapi Amber selalu mendengar dan menangis dalam diam tapi tidak lagi, dia kini melawan Nicho karena dia sudah punya orang yang bisa membantu mereka, Tante Ana dan om ganteng pasti akan membantu, begitu pikirnya.
"Om ganteng? Kau menggoda siapa lagi hah?" Bentak Nicho mendorong Hazel sampai dia terjatuh dan kepalanya membentur dinding dibelakangnya.
"Auh... " Hazel memegang kepalanya, untung saja tidak terluka, dia bangkit berdiridan menatap pada Nicho, "Aku memang bertemu Juan dan dia memaksa mendekati Amber dan berbuat kasar dan Morgan adiknya Tatiana ada disana dan menolong kami, hanya itu yang terjadi." Jelas Hazel dengan lantang, dia tidak takut lagi ada Nicho, jika ada Amber agar anaknya tidak mengira Hazel dapat ditindas begitu saja.
"Morgan?" Ujar Nicho dengan nada bertanya.
"Morgan pemilik TK itu jadi wajar dia disana." Sambung Hazel lagi dan Nicho menarik napasnya panjang kemudian menghembuskan kasar, dia kesal Hazel bertemu dengan Morgan padahal dia tau mereka tidak mungkin ada hubungan karena Morgan yang dia tau adalah pemain wanita, banyak wanita muda dan cantik di sekelilingnya dan tidak mungkin mendekati Hazel yang istri orang, punya 2 anak dan umur mereka terpaut 4 tahun.
__ADS_1
"Kembali ke kamar, pindahan semua barangmu ke kamar terserah ke kamar mana, mulai malam ini aku akan sekamar dengan Oliv." Ujar Nicho dan membuat Oliv tersenyum senang, dia merasa menang akan Hazel untuk pertama kalinya sedangkan Hazel hanya datar dan dan mengangguk pelan.
"Baguslah, aku gak perlu melayanimu lagi yang seperti orang gila terus menyiksaku," batin Hazel lega.
Nicho dan oliv kembali ke kantor untuk bekerja, tak lama Merry pulang dan bingung melihat Hazel memindahkan barangnya ke kamar anak-anaknya.
"Oh sudah diusir Nicho ya?" Sindir Merry dan Hazel tersenyum lembut melihat kedatangan ibu mertuanya.
"Iya ma, malam ini Nicho akan sekamar dengan Oliv, mungkin mama akan dapat cucu baru sebentar lagi." Ujar Hazel sengaja menjawab untuk balik menyindir Merry.
"Wah bagus itu, akhirnya keluarga Wang akan punya cucu laki-laki." Balas Merry.
"Tapi kan ga tentu laki-laki ma, jenis kelamin gak bisa kita atur." Sambung Hazel lalu masuk ke dalam kamar anaknya. Merry yang terlihat kesal hanya berteriak merutuki Hazel yang gak mau tau urusan mertua dan suaminya.
\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~
"Oliv, ini proyek yang kalimantan tolong urus dengan orang di perusahaan pertambangan itu." Perintah Nicho dan Oliv mengambil berkasnya dan melihat isinya, dia tersenyum melihat namanya ada di bagian penanggungjawab.
"Eh Nicho.. tapi kau tau kan Juan juga baru pindah kerja di pertambangan ini?" Tanya Oliv pura-pura khawatir.
"Biar saja, bisa apa dia? Kau lupa dulu dia yang terbodoh di kelas kita." Ujar Nicho meremehkan, dia menertawakan Juan yang hampir tidak bisa lulus waktu itu.
"Oh iya juga ya.. baiklah." Oliv meninggalkan ruangan Nicho dan kembali ke ruangan pribadinya yang khusus di siapkan Nicho untuknya. "Lihat saja nanti, si bodoh yang kau remehkan akan mengeruk hartamu." Ujar Oliv pelan begitu sampai di ruangannya.
Oliv menghubungi Juan, mereka akan bertemu lusa di Kalimantan dan siapkan segela hal yang mereka butuhkan untuk melancarkan rencana mereka.
[Olivia] Beb, aku akan ke Kalimantan besok pagi dan kita ketemu di hotel ya.. aku kangen sama punya kamu..
[Juan] Siap baby.. aku tunggu saja karena aku malam ini berangkat kesana sekalian bertemu sama perusahaan F Jewelry.
[Olivia] Ok beb, kau atur aja, aku sudah buka rekening khusus untuk uang kita nantinya.
[Juan] Aku juga punya kejutan untukmu.. kau pasti suka.
Oliv tersenyum membaca pesan terakhir dari Juan, dia sudah menduganya, mereka akan bermain liar seperti waktu di London, "Ahh ga sabar pengen main lagi sama mereka."
TBC~
__ADS_1