The Girl'S Mom And Berondong

The Girl'S Mom And Berondong
BAB 38 - Sudah Cukup Menderita


__ADS_3

Seluruh keluarga sedang berkumpul, keluarga besar Hastanta dan Sadana komplit ada di ruang keluarga untuk interogasi Morgan, sedangkan Hazel masih berada di kamarnya untuk istirahat, sejak tadi malam Hazel masih tidur sampai malam ini dan dokter bilang harus bed rest dan jangan stress agar kandungannya lebih kuat. Bahkan Hazel tidak tau saat dia dibawa ke RS dan diperiksa disana.


"Jadi Hazel sudah hamil 7 minggu?" Tanya Ana memastikan lagi.


"Iya." jawab Lusia dan Morgan serempak.


"Tapi itu gak mungkin, aku sudah suruh dokter pasang KB spiral saat melahirkan Ruby dulu." Ana masih tak percaya karena dia tidak tau apapun sejak pindah ke Singapura


"Sudah dijelaskan kemarin, Hazel belum bilang sih tapi pasti alatnya bergeser karena adikmu ini sangat bar-bar." Jelas Lusia dengan nada ketus sambil menatap tajam ke Morgan yang masih duduk diam seperti seorang penjahat yang sedang di interogasi.


"Hoo.. jadi ini rencanamu Morgan untuk mengikat Hazel?" Tanya Fano yang memperkeruh suasana.


"Ck.. abang diam aja kenapa sih!" Kesal Morgan karena Lusia makin terlihat marah, sejak dulu dia sudah berjanji tidak akan merusak wanita tapi kini dia malah menghamili Hazel dengan sengaja.


"Jadi kamu sengaja?" Tanya Lusia tajam, "Sayang.. peri kecilku jangan marah-marah, Morgan sudah dewasa dan dia tau apa yang dia lakukan." Bela Ken tapi Lusia tetap tidak terima.


"Mami.. Morgan hanya mau mengikat Hazel dan hanya dengan cara ini Hazel pasti mau menikah dengan Morgan mi.."


"Kenapa Hazel mau yah kamu hamili, mami pusing." Lusia memijat kepalanya dan akhirnya bersandar di sisi Ken karena bingung dengan anak bungsunya yang sejak kecil memang suka buat ulah.


"Hazel pasti terlena dengan rayuan maut si playboy ini, percaya atau gak, Hazel belum pernah merasakan bercinta yang benar, iya kan?" Ana melirik ke Morgan dan dibalas anggukan kecil olehnya.


"Oh pantes.. berarti Hazelnya juga menikmati dong apalagi Morgan sama dengan papi, bar-bar pastinya sampai alat KB bisa geser." Goda Damian karena dia tau kalau Lusia pernah juga mengalami hal yang sama.


"Ha? Kok sama ma papi?" Tanya Morgan heran.


"Iya karna kamu juga hasil dari KB spiral yang geser makanya ini terulang lagi." Ketus Lusia, Ken hanya nyengir dan Elara sudah tertawa terbahak-bahak.


"Trus jadi nikahkan mereka?" Aries bersuara.


"Iya lah om, kan Hazel udah hamil anak Morgan." Jawab Morgan dengan suara lantang.


"Lah kalau Hazelnya mau, kalau ngga?" Celetuk Archer.


"Iya betul, apalagi dia sudah biasa jadi single mom." Sambung Leo.


"Palingan Hazel akan nolak lagi." Seru Fano.


"Kalian ini kenapa sih? Bukannya kasih semangat!" Pekik Morgan kesal melihat saudara-saudaranya yang malah menggodanya.


"Jadi kapan nikahnya?" Tanya Ana kesal karena para pria hanya bercanda sejak tadi.


"Secepatnya, kalau bisa besok juga Morgan nikah sama Hazel." jawab Morgan tegas.

__ADS_1


"Eh.. tunggu dulu, Archer duluan dong.. masa pestanya berdekatan." Potong Archer yang juga akan menikah bulan depan.


"Kayanya Hazel pasti ga mau deh kalau pernikahannya kali ini dirayakan, baiknya tanya dulu." Ucap Ana sambil mengelus perutnya sambil sedikit meringis.


"Kenapa? Apa yang sakit?" Tanya Marco yang sejak tadi diam melihat keributan di keluarga besar istrinya.


"Gak apa-apa, anak kamu nih lincah banget." Jawab Ana dan Marco jadinya mengelus perut Ana juga agar anaknya tidak terlalu lincah bergerak dan menyakiti ibunya.


Morgan menatap mereka penuh haru, "Aku gak sabar pengen begitu juga nanti, menjaga Hazel dan anakku." batinnya.


\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~


Hazel masih tertidur dan belum tau tentang kondisinya saat ini, bahkan bajunya sudah berganti juga dia belum sadar. Setelah dia bangun yang dia cari adalah Amber dan Ruby tetapi dia lega karena 2 putri cantiknya ada di kamar itu juga bersama Ana.


"Ana? Kamu dah pulang? Ya ampun aku kangen banget." Hazel langsung bangkit dari tidurnya dan mendekati Ana lalu memeluknya dengan erat.


"Bukannya kamu bilang akan balik pas mau melahirkan ya? Aku sudah suruh ayah ke sana loh bulan depan dan rencananya kami akan kesana juga. Aku sudah cari tiket dan akan urus passport Amber dan Ruby, oh ga bisa juga, aktenya Ruby masih bermasalah deh." Hazel bicara tidak berhenti membuat Ana tertawa melihatnya.


"Hazel.  kamu terlihat bahagia, aku senang melihat wajah cantikmu sudah kembali seperti sebelum pernikahanmu dulu." Ujar Ana dan Hazel tersenyum malu karena dia baru sadar sejak tadi sangat banyak bicara.


"Jadi kapan kau akan menerima Morgan?" tanya Ana dan terlihat Hazel menjadi sedih.


"Aku.. ragu." Ucap Hazel dan Ana mengerutkan keningnya, "Ragu?" Tanya Ana.


Hazel terlihat menghela napasnya dengan berat, dia sangat takut dengan yang namanya pernikahan.


"Apa kau mencintai Morgan?" Tanya Ana, Hazel kemudian menatapnya, "Aku juga ga tau, tapi aku nyaman bersamanya." Jawab Hazel, lalu dia melihat ke arah Amber yang ada di dekat pintu balkon sedang menggambar dan bermain dengan Ruby.


"Tapi demi anak-anak mungkin aku akan menerimanya, sebentar." Hazel pergi dan mengambil tasnya lalu memberikan buku tugas Amber kepada Ana.


Setelah membacanya Ana hampir saja menangis, semua keluh kesah anak kecil itu dituangkan ke dalam tulisannya, meskipun masih berantakan tapi siapapun akan mengerti saat membacanya.


"Kau harus menikah Hazel.. apa yang kau takutkan?"


"Aku takut, Morgan akan kecewa denganku. Melihat keluarga kalian, wanita mana yang gak mau masuk? Tapi aku tau diri Ana, aku hanya janda bahkan 2 anakku dari pria yang berbeda. Morgan masih single dan muda, dia bisa mendapatkan wanita yang lebih baik dari aku dan lagi apa dia akan puas denganku? Sudah 2 pria yang menyentuhku." Jelas Hazel dengan mata berkaca-kaca.


"Kau bahkan seumuran dengan Damian tapi kenapa kau sangat bodoh ya? Apa Morgan pernah mengeluh tentangmu atau bersikap cuek dan kasar?"


Hazel menggeleng, "Morgan sama sekali gak pernah kasar dan selalu perhatian."


"Nah.. apa lagi yang kau ragukan? Apa setelah kalian melakukannya Morgan merasa tidak puas? Berapa kali kalian melakukannya dan apakah Morgan selalu minta lagi?" Tanya Ana dengan ucapannya yang tidak di filter lagi.


"Dari mana kau tau? Aduhh.." Hazel tertunduk malu, padahal selama ini mereka tidak pernah ketahuan.

__ADS_1


"Hmm.. sudah deh, aku tau semuanya. Lagian yah.. mami, papi dan semua saudaraku juga sangat menyukaimu. Jangan pikirkan yang lain, fokuslah pada kebahagianmu dan anak-anak, kalian sudah cukup menderita." Sambung Ana lagi. "Ya sudah aku akan kembali ke kamar, sudah kangen sama suamiku." Ana pamit dan tinggallah Hazel dan anak-anak di kamar itu.


"Amber, Ruby ayo tidur, ini sudah malam loh.." Ajak Hazel yang baru sadar kalau ini sudah jam 9 malam dan dia berpikir berapa jam dia tidur tadi. Setelah menidurkan Amber dan Ruby dia turun dan mencari Morgan atau siapapun yang bisa menjelaskan kenapa dia bisa tertidur sangat lama.


"Hazel cari siapa?" Tanya Imel yang juga baru keluar dari kamarnya untuk ke dapur.


"Cari Morgan Imel, dia dimana ya?"


"Oh mereka ada di kamar mami lagi ngobrol, nanti aku kasih tau deh. Kamu lapar ga?"


"Iya laper, banget malah hehe.."


"Yuk turun, kita cari makanan."


Imel dan Hazel turun kebawah dan baru saja sampai di pertengahan tangga menuju lantai 2, disana sudah ada Morgan dan Fano yang baru keluar dari kamar maminya.


"Duh bidadari mau kemana?" Goda Morgan pada kedua wanita cantik itu.


"Istriku sangat cantik." Ujar Fano menatap Imel yang sedang menuruni tangga dengan senyumnya yang mengembang.


"Calon istriku juga sangat cantik." Ucap Morgan tidak mau kalah.


"Kalian ini mau ngapain?" tanya Imel pada Fano dan Morgan.


"Kami baru mau keatas cari bidadari." Jawab Morgan ke Imel, tapi terlihat Hazel sedikit tidak senang dengan panggilan Morgan kepada Imel, dia tau sejak dulu Morgan memang memanggil kakak iparnya dengan sebutan bidadari tapi baru kali ini dia merasa tidak suka.


"Kenapa sayang? Jangan cemberut dong.. kakak iparku ini memang cantik seperti bidadari tapi kamu itu cantik dan seksi, Aphrodite saja minder kalau dekat denganmu." Ujar Morgan merayunya.


"Jangan gombal ih." kesal Hazel tapi Morgan terus saja menggodanya sampai Hazel malu dibuatnya apalagi disana masih ada Fano dan Imel yang sejak tadi tertawa melihat tingkah Morgan.


"Jadi cari makan ga?" Tanya Fano yang sudah keroncongan.


"Mau cari makan?" Tanya Hazel dengan wajah cerahnya.


"Iya, sayangku mau makan apa?" Tanya Morgan sambil mengelus perut Hazel.


"Ihh geli, jangan elus-elus, aku memang sedang kelaparan." Hazel menghempas tangan Morgan tapi dengan pelan.


"Lagi pengen makan yang pedas, trus sayap ayam crispy kayanya enak, atau sate padang?" Hazel menyebutkan banyak jenis makanan yang membuat Morgan garuk-garuk kepala bingung mencarinya.


"Jangan bingung, ayo ikut sama abang aja, ajak bang Dami juga sekalian manatau mau ikut." Ujar Fano dan Morgan segera menelepon Damian dari pada harus naik keatas lagi.


TBC~

__ADS_1


__ADS_2