
Jam 8 pagi, Morgan bangun dan langsung ke kamar Ana tapi 2 anak itu sudah tidak ada, Morgan berlari turun mencari mereka dan ternyata Amber dan Ruby sudah ada di meja makan menikmati sarapan bersama Lusia dan Ana, bahkan Ken juga ada disana.
"Kenapa Morgan?" Tanya Lusia begitu melihat Morgan yang terlihat panik.
"Gak apa mami..Morgan mau mandi dulu." Begitu Morgan mau berbalik Lusia melarangnya.
"Jangan, gak usah mandi dulu, temenin anak-anak berenang aja mandinya nanti."
"Berenang?"
"Iya om ganteng, Amber mau berenang.." Ujar Amber dengan wajah cerianya, Morgan langsung menghampiri dan tentu saja dia bersedia, calon anak yang meminta.
"Ok, om ganteng akan temani berenang tapi habiskan sarapan dulu ya.." Ujar Morgan sambil mengecup pipi Amber yang menggemaskan.
"Uby juga mau dicium cama om ganteng.." Teriak Ruby lalu Morgan juga mencium pipinya yang gembul dengan gemas.
"hehehe calon anak mami... uda dapat lampu hijau kan.." Morgan terkekeh dan Lusia tertawa mendengarnya.
"Abis berenang kita pulang ya.. nanti tante antar." Ana mengelus kepala 2 bocah cantik itu tapi mereka langsung diam dengan wajah sedih dan ketakutan.
"Amber mau tinggal disini aja, ada oma baik, opa baik, gak kaya di rumah oma jahat marah-marah terus, ada tante baik, di rumah ada tante jahat yang mau buang kami biar gak bisa ketemu mama, disini ada om ganteng baik, di rumah ada om jahat tiap hari marahin dan pukul mama." Ucap Amber hampir menangis.
"Iya om jahat.. lambut mama di talik-talik di dolong mama jatuh.." Sambung Ruby, semua yang disana saling memandang miris mendengar cerita anak-anak ini.
"Om ganteng... kami bole tinggal sini kan? Ajak mama juga tinggal di sini.." Morgan tersenyum mendengar permintaan Amber yang polos, "Iya Amber setelah om nikah sama mama kamu kalian akan tinggal disini." batin Morgan.
"Eh sebentar.. siapa tante jahat? Kan Amber dan Ruby cuma tinggal sama mama, Nicho dan oma?" Tanya Ana bingung.
"Ada tante jahat. Tante Olip." Jawab Amber.
"Oliv? Olivia.." Sambung Morgan. "Brengsek! ternyata Nicho bawa wanita lain juga ke rumahnya" rutuk Morgan dalam hati.
"Siapa Olivia?" Tanya Ana yang memang belum tau siapa Olivia sebenarnya.
"Itu asistennya Nicho yang malam lelang duduk di sampingnya, dan selingkuhannya." Bisik Nicho agar anak-anak tidak mendengarnya.
"Apa papa kamu sering mukul mama?" Tanya Lusia lembut karena dia sangat sakit hati mendengar ada wanita yang di sakiti oleh suaminya, sedangkan dia dan Elara selalu dimanja oleh suami.
"Iya oma.. waktu ketemu sama om jahat dan di tolong om ganteng di sekolah aja om Nicho tarik rambut mama lagi, kira mama selingkuh.. padahal om Nicho yang selingkuh sama tante Olip." Jawab Amber dengan polosnya, Lusia sedikit bingung kenapa anak sekecil ini tau banyak hal.
"Kamu ini, masih kecil udah tau kata selingkuh.." Celetuk Ken lucu mendengarnya.
"Tau dong opa.. kata mba yang jaga Ruby om Nicho uda nikah sama mama tapi tidurnya sama tante Olip jadi mereka selingkuh." Sambung Amber lagi.
"Berapa lama sih Hazel nikah sama Nicho? Kok dia tahan ya.." Tanya Ken.
__ADS_1
"3 tahun!" Amber yang jawab.
"Kok kamu tau Amber.."
"Iya Amber waktu itu 3 tahun sekrang 6 tahun."
"Wah pinter..."
"Mama dulu lebih sakit lagi, sering di pukul pakai tali pinggang, abis om Nicho buka baju mama trus mama di pukul pakai tali pinggang dan di cekek sampai teriak dan nangis.. tapi kenapa mereka harus buka baju ya?"
Ana dan Morgan saling pandang, Lusia langsung memeluk Amber, anak sekecil itu harus menyaksikan kekejaman yang dilakukan ayah tirinya pada ibu kandungnya.
"Udah.. jangan omongin lagi.. katanya mau berenang, siapa mau?" Morgan telah siap-siap melangkah ke arah taman belakang.
"Amber mau!"
"Uby mau!"
Mereka berlari mengikuti Morgan yang sengaja berlari kecil meninggalkan mereka dan lompat ke kolam renang yang besar itu.
"Sini om gendong aja, ini dalam loh.." Morgan membawa Amber masuk duluan lalu di menyuruh Amber mengalungkan lengannya di lehernya lalu menggendong Ruby juga dan bermain air bersama, Ana yang tertawa melihat mereka lalu memfotonya.
"Liat mi.. udah cocok kan anak bungsu mami punya anak.." Ana menunjukan hasil jepretannya dan Lusia tersenyum sambil mengangguk.
"Mami kasian liat 2 anak kecil itu, heh... " Lusia menarik napas panjang membayangkan kehidupan apa yang akan mereka lalui kedepannya di rumah keluarga kejam seperti itu.
\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~
"Kamu sudah tenang?" Tanya Nicho begitu masuk ke kamar Amber dan Ruby.
"Iya.." Jawab Hazel singkat, dia tidak mau memandang Nicho sama sekali.
"Ini hapemu dan tas, aku sudah menyuruh Pak Tugu cari anak-anak, kamu tenang saja pasti ketemu kok." Hazel tetap diam, dia tidak mau merespon apapun karena tau anak-anaknya sedang bersama orang baik saat ini.
Nicho yang melihat gelagat Hazel yang belum bisa diajak bicara memilih keluar lagi dan pergi ke kantor bersama Oliv. Tak lama pelayan datang dan membawakan bubur tapi Hazel tidak menyentuhnya sama sekali.
Dia malah mengeluarkan barangnya dari tas mencari hape, padahal hapenya kemarin ada di nakas kamar ini tapi sekarang berpindah di dalam tas.
"Halo.. Ana.. bagaimana anak-anakku?" Tanya Hazel begitu Ana menjawab teleponnya.
"Tutup dulu, kita video call aja." Ujar Ana lalu mereka tutup dan ganti jadi VC.
"Jangan khawatir, itu anak-anak.." Ana mengganti arah kameranya dan terlihat Amber dan Ruby sedang berenang dengan Morgan dan Ken. Hazel menangis bahagia melihat 2 putri cantiknya tidak apa-apa dan malah terlihat bahagia, dia tak pernah melihat wajah ceria seperti itu jika dirumah.
"Mamaaa..." teriak 2 bocak cantik itu bersama ketika Ana mendekat dan memperlihatkan Hazel di layar hapenya.
__ADS_1
"Amber Ruby jangan nakal ya disana."
"Mama.. pindah sini aja, disini gak ada yang jahat.. mama nikahnya sama om ganteng aja biar juga bisa tinggal disini."
"Amber jangan begitu, gak sopan.."
"Nanti tante Ana antar kalian pulang ya.."
"Iya.. "
Morgan tertawa bahagia mendengar celotehan Amber yang menyuruh mamanya menikah dengannya, Morgan sangat bahagia seakan ini melompat di air seperti lumba-lumba. Ken menepuk dadanya, menyadarkannya akhirnya dia hanya tersenyum penuh arti melihat ke arah Ken.
Setelah puas bermain air, mereka membersihkan diri, Amber dan Ruby masih melanjutkan di bathtub Ana dibantu oleh Lusia dan memakaikan baju cantik yang baru dibeli Lusia kemarin dan untungnya cocok. Kebetulan yang dia beli juga berwarna kuning untuk Amber dan merah untuk Ruby.
"Kok bisa pas gini ya.. Amber dan Ruby." Ujarnya sambil tersenyum melihat ke dua putri cantik di depannya. Rambut Amber yang berwarna sama dengan Hazel pirang kecoklatan di kepang 2, sedangkan Ruby yang punya warna rambut tembaga sedikit merah di gulung 2 keatas di kanan kirinya, mirip karakter kartun cantik dan lucu.
"Ya ampun kalian lucu banget siihh.." Lusia mencium dan memeluk kedua anak itu bergantian, ada rasa sayang yang makin dalam tumbuh di hatinya.
"Ya ampun cantiknya cucu cucu opa.. ini dapat dari mana?" Tanya Ken begitu Amber dan Ruby tutun dari lantai 2 kamar Ana.
"Ini dulu punya Ana waktu masih kecil.. untung masih ada." Lusia menyentuh dan membenarkan letak pita-pita di rambut Amber dan Ruby.
"Ouuhh cantiknya calon anak-anakku..duh jadi kangen mamanya.." ucap Morgan begitu melihat Amber dan Ruby yang dibawa turun oleh Lusia dan Ken.
"Mami.. calon cucu kayanya udah berhasil ngambil hati oma opa nih.." Lusia menatap tajam pada Morgan, "Kamu harusnya cepat urus biar bisa ngambil hati mamanya." Celetuk Lusia membuat Morgan makin bahagia.
"Iya mami ku yang cantik..." Morgan mencium pipi Lusia. Sedangkan Ken telah membawa Amber dan Ruby ke ruang keluarga untuk menonton kartun.
"Nah kak ayo kita bicara sebentar." Ajak Morgan begitu melihat Ana masuk ke dari pintu samping taman. Mereka keluar lagi dan duduk di kursi yang ada disana.
"Aku udah cek kak, kemarin ada laporan anak hilang nama Amber dan Ruby tapi hanya setengah hari laporan di cabut lagi oleh Merry. Heran deh.. ok lah kalau mereka ga sayang sama Amber, tapi Ruby kan darah daging keluarga Wang, kenapa mereka kejam begitu?" Jelas Morgan.
"Karena mereka hanya mau anak laki-laki sebagai penerus, selebihnya gak akan dianggap dan si Merry itu gak suka sama Hazel karena dianggap murahan, punya anak sebelum nikah." Jawab Ana.
"Murahan? Brengsek! Lalu anaknya apaan? Bawa masuk Olivia yang memang murahan untuk tinggal bareng disana tanpa status." Kesal Morgan dan Ana juga baru tau.
"Sekarang kakak bantu pengaruhi Hazel biar cerai sama Nicho.. aku sudah suruh Evan ke London buat ketemu sama Pablo tapi sangat sulit kak.. dia dijaga ketat oleh orang suruhan Nicho di dalam penjara, dan kalau Pablo ada yang jenguk dia langsung curiga."
"Yah.. dasar adik bodoh, calon kakak iparmu kan orang London, cari dia dong.."
"Oh iya.. lupa hehe. nanti aku cari bang Marco deh.."
Morgan berencana meminta bantuan Marco, calon suami Tatiana yang sebenarnya adalah orang Inggris yang pindah ke Indonesia sejak lama, mungkin dia bisa bantu.
TBC~
__ADS_1