The Girl'S Mom And Berondong

The Girl'S Mom And Berondong
BAB 31 - Hazel Galau


__ADS_3

Amber dan Ruby bermain sampai jam 9 malam karena mereka sama sekali tidak mau berhenti, apalagi Elara dan Aries juga mampir karena gemas dengan cucu-cucu Ken dan Lusia sementara mereka masih belum jadi oma dan opa.


"Hahahah aku kalah deh kalau soal cucu, lihat mereka ya ampun ga sabar pengen punya cucu juga." Ujar Elara yang sejak tadi memperhatikan 4 anak-anak sedang bermain.


Sedangkan Aries sejak tadi memperhatikan Ruby yang bermain dengan senang tapi sesekali menyendiri untuk bermain sendiri. Setidaknya Ruby masih mempercayai beberapa orang yang tidak menyakitinya apalagi anak-anak, meskipun tidak semua anak-anak juga bisa mendekatinya.


"Ruby sudah lebih baik." Ujar Aries dan Lusia juga mengangguk, "Iya, aku sudah bilang ke Hazel sering-sering bawa dia kemari saja agar banyak berinteraksi dengan orang-orang."


"Morgan dan Hazel di nikahkan saja Sia.. biar rumahmu tambah ramai, aku akan tiap hari datang mendandani mereka atau Amber bisa jadi model cilik loh, mereka sangat cantik." Timpal Elara tapi Lusia hanya diam.


"Kalau mau jadikan Amber model sebaiknya tanyakan dulu ke ibunya." Ujar Aries.


"Ga boleh Tante El.." Sahut Morgan yang sejak tadi mendengar pembicaraan mereka.


"Kenapa Morgan? Lihat tuh Amber, cantik imut dan tante yakin dia akan cepat terkenal."


"Justru itu Morgan ga mau dia terkenal, nanti susah jaganya karena terlalu cantik."


"Halah.. dasar, nanti tanya ibunya saja, tapi belum tentu anaknya mau juga ya.."


Aries yang penasaran dengan Ruby meninggalkan Elara dan Lusia di tempat duduk di gazebo taman itu.


"Hai Ruby, masih ingat opa?" Tanya Aries lembut sambil berjongkok di samping Ruby yang sedang menggambar, lebih tepatnya mencoret-coret buku gambarnya.


"Opa Alies.." Jawab Ruby pelan tetapi ada aura ketakutan di dirinya lalu Aries perlahan duduk di samping Ruby, tidak terlalu dekat agar gadis kecil ini tidak semakin takut padanya.


"Ruby gak suka deket-deket orang ya?" Tanya Aries yang masih menjaga jarak tapi dia juga mengambil alat gambar dan menggambar sebuah piano disana.


"Iya.. Uby takut." Jawabnya pelan.


"Sama, opa juga ga suka karena takut tapi opa sudah sembuh sedikit. Ruby mau sembuh?" Tanya Aries lalu Ruby mengangguk.


"Ruby suka menggambar?" Ruby menggeleng, "Cuma colet-colet kata kakak."


"Kalau piano?" Aries memberikan gambarnya dan Ruby terlihat bingung.


"Ini apa opa?" Tanya Ruby penasaran.


"Ini namanya piano, alat musik bisa bunyi kalau ini ditekan." Aries menjelaskan dan terlihat Ruby semakin penasaran. "Ruby mau coba main ini?"

__ADS_1


"Opa bisa ajalin?" Aries menggeleng, "Gak bisa, tapi ada yang bisa ajarin Ruby tapi kita temenan dulu ya.." Aries mengulurkan tangannya. Ruby perlahan dengan takut-takut memegang tangan Aries lalu tersenyum ceria.


Kini Ruby sudah ada di gendongan Aries, "Hei kau mau bawa kemana cucuku Aries?" Tanya Ken tidak terima karena Ruby juga akrab dengan si kambing bermuka seram itu.


"Aku mau bawa ke rumah, mau main piano." jawab Aries.


"Uby.. ga takut sama opa seram ini?" Tanya Ken tapi Ruby menggeleng, "Gak.. opa Alies juga ganteng milip papa." Jawab Ruby dengan polosnya.


"Hahahaha .." Aries tertawa mendengarnya sedangkan Ken mendengus kesal.


Aries mambawa Ruby ke rumahnya yang hanya berjalan kaki melewati 2 rumah di depannya, mata Ruby berbinar indah saat melihat piano besar yang mirip dengan yang digambar oleh Aries tadi. Dia coba menekan dan dengan senang bermain asal-asalan dengan bahagia mendengar suara yang dihasilkannya.


Aries juga tersenyum dan akhirnya dia tau Ruby memang suka alat musik dan bisa menenangkannya.


"Loh Ruby mana?" Tanya Hazel begitu kembali dari kamar tamu yang di siapkan oleh Lusia untuknya, malam ini mereka akan menginap saja.


"Oh dibawa Aries ke rumah, bentar lagi juga balik. Tuh istrinya masih disini jadi Aries pasti kembali kesini." Ujar Ken menunjuk ke Elara yang masih duduk manis dan mengobrol dengan Lusia.


"Amber, ganti baju dulu ya.." Ujar Hazel lalu membawa Amber untuk mengganti baju tidur yang telah disiapkan Lusia tadi. Setelah itu mereka kembali ke taman samping dan ternyata semua orang sudah masuk dan duduk di sofa ruang keluarga.


Tak lama Aries kembali dan Ruby ternyata sudah tidur, Morgan mengambilnya perlahan dan membawanya keatas.


Mereka telah duduk bersama, Hazel bingung kenapa Tuan Aries yang terkenal dingin dan cuek sangat memperhatikan Ruby.


"Tadi Ruby coba main piano, meskipun dengan asal tapi dia sangat bahagia. Lihat ini.." Aries memberikan hapenya, dia merekam Ruby yang menekan asal tuts piano dan tersenyum senang karenanya. Hazel tak kuasa menahan tangisnya, sudah lama dia tidak melihat wajah ceria Ruby.


"Sebaiknya biarkan dia memilih sendiri apa yang dia inginkan, kita hanya perlu mengarahkan dan tidak memaksanya." Sambung Aries lagi. "Belum lagi dia harus sekolah nantinya dan itulah masalah terbesar, apakah Ruby akan tahan bersama dengan banyak orang dalam 1 waktu?"


"Sepertinya Ruby akan home schooling saja dan bagaimana kalau kita berikan dia kursus musik dan bahasa, mungkin itu lebih cocok untuknya." Morgan menambahkan tapi terlihat Hazel sangat mencemaskan sesuatu.


"Kalau home schooling memang sudah aku putuskan, kursus bahasa juga boleh, tapi untuk musik itu...biayanya sangat mahal"  Ucap Hazel pelan.


"Jangan cemas Hazel, kamu ini calon menantu keluarga Hastanta yang kaya raya, trus aku ga mungkin miskin hanya memberikan kursus pada Ruby." Ucap Morgan yang melah membuat Hazel makin cemas.


"Aku kan belum bilang bersedia." Gumam Hazel pelan hampir tidak terdengar tapi Morgan mendengarnya.


"Sudah itu saja yang mau om katakan, om balik dulu. Lihat sleeping beauty sudah masuk ke alam mimpi." Aries mendekat ke arah Elara yang ketiduran di sofa yang tidak jauh dari mereka.


"Mereka sangat romantis." Ucap Hazel dengan senyumnya yang mengembang.

__ADS_1


"Ha?"


"Iya, romantis dengan panggilan sayang seperti itu, sleeping beauty, peri kecil, bunga kecil, mendengarnya membuat hati terasa bahagia." Sambung Hazel sambil melihat Aries yang telah menggendong istrinya untuk kembali ke rumah.


"Aku juga bisa romantis seperti itu, kau mau di panggil apa sayang?" Tanya Morgan sedikit berbisik di telinga Hazel yang duduk disampingnya.


"Jangan termakan godaannya Hazel, Morgan itu playboy bahkan dulu juga menggoda Imel." Tukas Fano lalu mendapat tatapan tajam dari Morgan.


"Sayang.. jangan gitu, kasihan tuh Morgan susah-sudah bisa dapetin Hazel." Tegur Imel dan memberikan cubitan di pinggang Fano dengan gemas.


"Biar aja.. dia sih suka banget gangguin kamu kan dulu.."


"Tapi kan Morgan juga jagain aku loh, lupa?"


"Hehehe iya ya.."


"Tuh kan bang Fano selalu aja lupa kebaikan Morgan."


"Apaan, kamu kan abang kan kasih uang jajan juga. Lupa?"


"Oh iya hehe.. mayan loh 1milyar."


Imel dan Hazel saling menatap tak percaya lalu menoleh pada pasangan masing-masing.


"Uang jajan aja 1 milyar?" Tanya Hazel dan Morgan mengangguk.


"Aku kasih ke temenku 200juta waktu itu untuk jagain calon kakak ipar kalau aku ga ada di kampus." Jelas Morgan dan Imel baru tau selama ini Fano begitu menjaganya.


"Makasih suamiku.." Ucap Imel pelan.


"Ya ampun bunga kecilku.."


"Tuh kan, romantis banget." Gumam Hazel lagi.


"Iya sayang..akan kucarikan nama yang cocok untukmu ya.." Hazel mendelik mendengarnya lalu dia permisi untuk kembali ke kamar karena besok dia akan kembali kerja.


Di kamar, Hazel terus berpikir apakah dia harus menerima Morgan dan menikah dengannya? "Apakah aku memang cinta dengannya atau hanya butuh seseorang untuk menjaga kami?"  Hazel tidak bisa mengorbankan Morgan hanya karena dia butuh seseorang untuk menjaga anak-anaknya saja tanpa rasa cinta.


"Aku akan menunggu sedikit lagi untuk memantapkan hatiku, aku harus mencintainya agar pernikahan ini dapat bertahan nantinya." Ucap Hazel lalu dia merebahkan tubuhnya dan tidur.

__ADS_1


TBC~


__ADS_2