
"Ular Keket udah datang mi?" tanya Morgan begitu sampai dirumahnya. Morgan melihat Lusia sedang sibuk memilih pakaian yang khusus Chaterine buatkan untuknya.
"Enak aja lu ya.. ular keket. Udah cantik begini, liat bodi bahenol, muka ala hollywood." Protes Chaterine tidak terima.
"Halah.. dasar ular keket, cantik darimana? Liat nih calon istriku." Morgan keluar lagi dan menarik Hazel yang sejak tadi mengurusi Amber yang menjatuhkan isi tasnya hingga dia tertinggal di belakang.
"Oh mai god, cantik banget, uh la la perfecto! Wajah ouh cantik dan menggemaskan, bodi uuuhhhh seksoy yah, ukuran dada hm... mantap di genggaman, pinggang ramping, bokong? Aduhaaiii montok, tinggi? Ah.. cocok jadi model eike nihh.." Puji Catherine dengan gaya lebay, pria dengan dandanan full seperti wanita itu sangat takjub melihat sosok sempurna dari Hazel.
"Kamu jadi model eike aja ya cantik, aduh rambutmu ini indah sekali.. kamu juga cantik dan sekseh jadi pengen balik jadi cowo deh." Ujar Catherine lalu memainkan rambut Hazel.
"Eits jangan sentuh calon istriku ular keket." Protes Morgan karena Catherine mulai berani mengelus wajah Hazel yang cantik itu dan sesekali memutar tubuhnya dan dipandangi dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Aiihh Morganteng.. eike emang takjub sama kecantikan istri yey ya, tapi bagi Catherine tetap yang paling bikin badan eike gemeter ter ter tuh Fano.. iihh cakep dan gagahnya maksimal, tapi sayang dah ada bidadari juga disampingnya. Eike patah hati loh pas dia merid. hiks."
"Udah ah.. cepetan Ket, jangan lama-lama kasian tuh menantuku." Sela Lusia sebelum Catherine makin lebay dengan bercerita panjang lebar tentang patah hatinya.
"Ah tapi ya nyonya, mr Ken juga masih gagah loh.. hehehe.." Ujar Catherine lalu menadapatkan tatapan mematikan dari Lusia.
Hazel mencoba total 6 baju pengantin yang dibawa oleh Catherine, sebenarnya Morgan ingin membuat khusus untuk Hazel namun tidak sempat karena pernikahan yang mendadak ini.
"Tenang ya Morganteng, semua yang eike bawa kesini asli baru masih segel belum pernah di lihat oleh orang lain." Ucap Catherine meyakinkan.
"Aku suka semuanya, semua cocok padamu, bagaimana ini?" Tanya Morgan dan Hazel masih melihat dirinya di cermin besar yang ada di ruang tamu itu.
"Ini bagus tapi terlalu terbuka, lihat dibelakangnya bahkan gak tertutup sama sekali." Keluh Hazel, bagian punggung sampai pinggangnya benar-benar terbuka dan gaun ketat itu juga memiliki belahan yang sangat rendah meskipun tertutup oleh kain tipis tapi menerawang.
"Kamu cantik dan seksi sayang, aku suka." Jawab Morgan.
"Coba yang ini." Lusia mendapatkan 1 gaun lagi yang kemungkinan cocok dengan Hazel. Dengan postur tubuh idealnya Hazel keluar dan berjalan bak seorang model dengan gaun terakhir yang diberikan Lusia.
"Wow!" pekik Catherine saat melihat Hazel dengan balutan gaun ketat hingga pinggul dan bagian bahwa berbentuk ekor mermaid yang megah. "Ini sempurna."
"Istriku sangat luar biasa, Ya kan sayang?" Tanya Morgan pada Amber yang sejak tadi melihat proses pemilihan gaun Hazel dan Amber sampai tidak berkedip.
Akhirnya Hazel memilih gaun yang terakhir, lalu Lusia menyuruhnya memilih beberapa gaun lagi untuk dikenakan saat ada acara atau pesta perusahaan untuk menemani Morgan. Amber dan Ruby juga dipilihkan gaun cantik dengan warna yang sama dan akan menjadi pengantin cilik saat pemberkatan pernikahan nanti.
"Untuk pesta besok pakai yang ini saja." Morgan mengangkat 1 gaun dengan belahan di bawah kaki yang tinggi sampai paha. Hazel mencoba gaun merah itu dan ternyata sangat pas dan terlihat glamour padanya.
"Gila yah.. bisa-bisanya semua yang eike bawa cocok padanya." Ucap Catherine yang berdiri disamping Lusia yang menatap kagum pada calon menantunya.
"Adik kecil cantik, kalau udah gede nanti jadi modelnya aunty ya.." Ujar Ctherine pada Amber yang sedang sibuk memilih beberapa gaun kecil untuknya dan Ruby.
__ADS_1
"Gak mau aunty, Amber mau buat baju aja biar mama bisa pakai nanti." Jawab Amber dan Hazel tertawa mendengarnya.
"Amber mau jadi designer ya?" Tanya Hazel tapi Amber tidak mengerti, dia bingung dengan pertanyaan Hazel.
"Amber mau buat baju ya kalau besar nanti??" Hazel mengulang pertanyaannya dan Amber mengangguk, "Iya nanti Amber buat baju princess untuk adik Ruby, mama dan oma, tante Ana dan Elena juga, oma Elara juga, onti Imel, dan onti Yana juga, kakak Mira juga." Jawab Amber menghitung dan menyebutkan semua wanita yang dia kenal di rumah itu.
"Baiklah.. nanti mama bantu ya, Amber belajar yang rajin." Balas Hazel tersenyum bangga dengan putrinya.
"Iya, nanti Amber udah besar bisa belajar di Paris, belajar buat baju." Sambung Morgan. Meskipun Amber kurang paham tapi dia mengangguk mengiyakan ucapan Morgan.
\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~
"Anak-anak.. mama akan pergi dulu sama om ya, kalian jangan nakal." Ujar Hazel pada kedua putrinya yang saat ini sedang di kamar bersama Mira.
"Papa, mama... sekarang panggilnya pa-pa." Ralat Amber masih dengan fokus pada permainannya.
"iyah papa!" Teriak Ruby yang sedang senang melihat Mira membuatkan burung dari kertas origami.
"Iya iya, papa... jadi jangan nakal ya.. mama pergi dulu." Hazel mencium kedua putrinya lalu turun untuk menghampiri Morgan yang telah menunggu di ruang tamu.
"Hai cantikku.." Sapa Morgan begitu melihat Hazel, dia mendekat dan mencium pipi Hazel padahal dia sangat ingin ******* bibir sexy-nya.
"Morgan mirip papi ih, suka nyosor." Sahut Lusia lalu dibalas kecupan singkat dibibirnya oleh Ken, "Iya dong peri kecilku, kan Morgan anakku."
"Ah.. Dami dan Fano gak kaya Morgan tuh." Balas Lusia.
"Kan mami ga tau kalau ga ada orang gimana mi.." Yana menjawab, dia dan Damian baru saja sampai di ruang tamu untuk pergi bareng
"hehehe.. jangan dibocorin dong Yana, kan malu." Ujar Damian membuat mereka tertawa, memang Damian lah yang paling pemalu diantara semua anaknya Lusia dan Ken.
keluarga Hastanta hadir tepat waktu di pesta itu dan di susul oleh Sadana yang malam itu hanya dihadiri oleh Archer sendirian.
"Archi kok sendirian? Mana yang lain?" Tanya Ken begitu Archer menghampiri mereka.
"Papi dan mami lagi malas om katanya dan Leo masih banyak kerjaan, Ellena lagi sibuk urusin pekerjaan dia." Jawab Archer dan ken mengangguk mengerti.
"Nah bang Archi datang, tolong jagain istriku ini ya, aku mau ketemu Sipa dulu di depan ada hal penting." Ujar Morgan dan mendorong Archer untuk berdiri di samping Hazel. "Jagain bang jangan sampai dilirik orang." Sambungnya lagi lalu bergegas keluar dari aula itu.
Shenna yang melihat ada Morgan dan keluarganya langsung datang mendekat, dia kesampingkan rasa takutnya pada Lusia dan berusaha untuk mendekati mereka lagi.
"Selamat malam Om Kenny dan Tante Lusia.." Sapa Shenna dengan ramah dan senyum mengembang, Ken hanya berdeham dan Lusia melihatnya sekilas dan membuang pandangannya ke arah lain dengan wajah kesal.
__ADS_1
"Tuan Archer selamat malam." Sapa Shenna lagi pada Archer yang berdiri disana juga.
"Hm.." Dehem Archer membalasnya.
"Wah, ini kan sekretarisnya Morgan, ternyata pasangannya Tuan Archer, kita belum berkenalan. Saya Shenna." Ujar Shenna dengan mengulurkan tangannya.
"Hazel." Balas Hazel dengan menyambut uluran tangan dari Shenna. Sementara Lusia mengerutkan dahinya melihat keramahan Shenna yang menurutnya aneh apalagi dengan Hazel yang belum dia kenal. Setelah itu Shenna pamit karena acara akan dimulai, dia adalah model iklan dari produk terbaru yang akan dipasarkan oleh perusahaan rekanan dari H&S Group dan MHS Mall.
"Morgan, kenapa lama?" Tanya Lusia karena Morgan pergi hampir setengah jam.
"Iya mami, Sipa butuh tanda tangan Morgan karna harus ke kota B sekarang untuk urus sekolah disana, kan banyak tuh yang dipecat gurunya karna ga becus." Jelas Morgan dan Lusia mengangguk mengerti.
"Gimana tadi? Ga ada masalah kan bang?" Tanya Morgan mendekati Archer dan Hazel.
"Ga ada, cuma Shenna tadi datang menyapa dan kenalan sama Hazel." Jawab Archer.
"Loh kok abang kasih mereka kenalan?" Tanya Morgan lagi dan dia curiga.
"Jangan berlebihan ah.. cuma kenalan aja." Tegur Hazel sedikit berbisik.
"Bukan berlebihan sayang.. dia itu wanita berbahaya." Jawab Morgan.
"Jangan cemas, dia kira Hazel pasanganku kok jadi aman." Balas Archer sambil tersenyum.
"Ck.. itu.. ah, sudalah yang penting jangan dekat-dekat dia." Titah Morgan serius dan Hazel mengangguk.
"Sebaiknya kita duduk disana, tuh ada meja khusus untuk kita rupanya." Ajak Lusia menunjuk ke depan sisi kanan panggung.
"Iya ayo, nanti kamu capek sayang.." Ucap Morgan lalu Lusia menggandeng Hazel untuk bersama ke sisi depan aula. Banyak yang melihat ke arah mereka dan mengira kalau Hazel pasti ada hubungan khusus dengan salah satu dari keluarga itu.
Karena Morgan adalah direktur dari MHS Mall maka dia sangat sibuk dan telah ditemani oleh Evan. Banyak tamu yang ingin menyapa Morgan dan dia menerimanya dengan hangat seperti yang telah diajarkan oleh Damian.
Shenna datang mendekat dan mencoba merayu Morgan lagi di hadapan tamu lainnya sehingga Morgan tidak bisa menolak untuk berbincang dengannya mengenai produk baru ini.
"Morgan, Tuan Jarvis ini sangat hebat loh dalam merancang produk kita. Dia sudah belajar langsung dari ahlinya di Swiss selama beberapa tahun." Jelas Shenna berharap Morgan akan membalas ucapannya.
"Oh benarkah, anda menciptakan ini sendiri?" Kaget Morgan karena prduk jam tangan yang lumayan terkenal ini sudah sangat di elu-elukan oleh banyak orang, bahkan model baru ini sudah di pesan ribuan pasang sebelum peluncuran resminya.
"Iya Tuan Morgan, saya memang merancangnya sendiri tapi tetap harus ada bantuan ahlinya juga." Jawab Jarvis dan mereka akhirnya berbincang lama disana. Morgan tetap dipantau oleh Evan agar Shenna tidak bisa melancarkan aksinya, setiap minuman Morgan hanya Evan yang boleh menyentuhnya.
TBC~
__ADS_1