
"Kenapa lama? Morgan kamu apain lagi menantu cantik mami?" Lusia menatap tajam ke Morgan yang baru sampai di ruang makan bersama Hazel yang terlihat makin pucat.
"Gak ada mamiku yang cantik, tapi hanya temani Hazel mandi." Jujur Morgan dan direspon gelak tawa oleh semua orang disana yang sudah lengkap dengan duduk manis menunggu calon pengantin.
"Kalau gitu kalian sementara gak boleh ketemu sampai hari pernikahan." Titah Lusia dan Morgan sangat tidak setuju, "Mami, ga bisa gitu dong.. kasian Hazel siapa yang jaga?" Bantah Morgan.
"Mami yang jaga, kamu tadi pagi ajah asik tidur sementara Hazel muntah-muntah, jadi kamu seminggu ini tinggal di apartemen biar Hazel disini dan jangan pulang sebelum hari H." Perintah Lusia lagi dan Morgan hanya mendengus kesal lalu menuntun Hazel untuk duduk dan menikmati sarapan bersama.
"Mami.. sama aja larang mereka ketemu, dikantor juga bakal bersama." Lapor Fano dan Morgan menatap tajam abangnya itu padahal dia sudah berencana akan bersama Hazel di kantor.
"Oh iya, kalau gitu Hazel jangan bekerja." Jawab Lusia tapi Hazel langsung mengerutkan dahinya, dia ingin protes tapi tidak berani melawan calon mertuanya ini.
"Jangan dong mami, Hazel baru saja bisa merasakan bebas dan bekerja masa mau di kekang lagi, biarkan saja tetap bekerja lagian kerjaan Hazel itu cuma menemani Morgan dan susun jadwal, gak berat kok" Bela Ana yang sangat tau kalau Hazel merasa senang dapat bekerja lagi setelah kerkurung di sangkar emas.
"Hem baiklah, percuma kalau begitu. Ya udah Morgan temani Hazel dan jangan sampai dia kenapa-kenapa." Tegas Lusia.
"Siap mami!" Jawab Morgan lantang. Setelah selesai dengan sarapan, mereka bersiap ke kantor dan Amber akan setiap harinya diantar oleh supir, Ruby akan dibawa Mira ke rumah Aries untuk lanjut belajar piano dan sekarang Ruby sudah bisa memainkan 1 lagu anak-anak yang ceria.
"Hazel tunggu.." Panggil Imel ketika Hazel akan menaiki mobil bersama Morgan.
"Iya Imel ada apa?" Hazel berbaik dan Imel berlari mendekatinya.
"Ini, permen jahe dan lemon, makan saja kalau merasa mual atau pusing pasti akan membantu." Ucap Imel sampil memberikan 2 botol kaca permen dan 2 tin kecil yang bisa dibawa kemana-mana.
"Wah.. makasih Imel, ini akan sangat membantu." Balas Hazel dan mereka saling berpelukan sebelum Hazel pergi ke kantor.
Hazel bekerja seperti biasanya, membuatkan teh, mengatur semua jadwal Morgan yang sedikit berantakan karena mereka kemarin tidak masuk kerja. Setelah mengatur semuanya Hazel masuk ke ruangan Morgan dan melaporkan jadwal dia hari ini.
"Bapak Morgan, ada 2 meeting penting yang harus anda ikuti hari ini. Jam 11 siang dengan tim perencaan dan jam 2 siang ada meeting dengan Mr. Jarvis Lim yang ingin mengajukan kerjasama dengan MHS Mall." Lapor Hazel dan setelah selesai dia ingin kembali ke tempatnya tapi ditahan oleh Morgan.
"Disini dulu temani aku." Bisik Morgan saat berhasil menarik Hazel untuk duduk dipangkuannya.
"Jangan begini Morgan, aku sedang kerja." Hazel ingin berdiri tapi Morgan malah semakin erat mendekapnya.
"Aku rindu padamu sayang.. dan anak kita ini." Morgan mengelus perut Hazel, meskipun geli tapi Hazel membiarkannya.
"Aku gak terbiasa ada yang mengelus perutku, sejak hamil pertama kali gak ada yang memperhatikan tapi sekarang semua orang memperhatikanku." Ujar Hazel lirih sambil tangannya mengelus wajah Morgan yang sangat tampan.
"Biasakan ya.. aku akan sering-sering mengelus perutmu dan bertemu dengan anak kita." Balas Morgan lalu mengecup wajah Hazel.
"Hm.. kalau nanti udah bulan ke 4 ke 5, perutku tambah besar dan aku jadi jelek masih mau mengelusnya dan bertemu?" Tanya Hazel megingat dulu dia langsung di cuekin oleh Nicho saat perutnya sudah membesar.
"Tentu saja sayang.. aku sudah membayangkan betapa menggemasnya kamu saat itu, jangan protes kalau jatahku akan semakin sering." Jawab Morgan dengan tatapan mesumnya.
__ADS_1
"Aku janji ga akan protes atau ngeluh yang penting kamu jangan berubah, aku takut." Lirih Hazel sedih mengingat pernikahan yang akan dia jalani nanti apakah akan sama dengan yang lalu.
"Aku gak akan berjanji sayang.. kau lihat dan buktikan saja sendiri. Aku mencintaimu." Morgan kembali mengecup wajah Hazel, "Tapi. aku ga tau apakah aku cinta kamu atau ngga, maaf." Lirihnya lagi.
"Jangan sedih begitu, kau ada di sisiku saja sudah cukup bagiku Hazel, pelan-pelan kau akan jatuh cinta bahkan bucin nantinya hehehe.." Ujar Morgan yang sebenarnya tau kalau Hazel sudah mencintainya cuma Hazel belum menyadari.
"Hem.." Jawab Hazel lalu memeluk erat Morgan dan menyenderkan kepalanya di leher pria muda itu.
"Kenapa tiba-tiba jadi manja?"
"Gak tau, pengen aja."
"Kalau gitu gini aja, lama-lama juga boleh."
"Gak bisa juga, bentar lagi jam 11, kamu ada meeting."
Morgan mencium puncak kepala Hazel berkali-kali sambil mengelus pelan rambutnya, rasa sayangnya pada Hazel semakin hari semakin besar, dia tidak mau kehilangan wanita ini yang sangat suit dia dapatkan.
Setelah puas bermanja-manja, mereka berdua telah masuk ke ruang meeting siang itu dan Morgan sedikit kaget melihat ada Shenna disana dan tersenyum manis saat Morgan masuk ke dalam ruangan. Tapi senyumnya berubah sinis ketika melihat Hazel yang ada disamping Morgan.
"Siapa wanita ini, dia bahkan terlihat lebih cantik dariku. Apa dia yang dimaksud orang-orang dengan sekretaris cantik itu?" Batin Shenna.
Morgan yang sadar akan perubahan mimik wajah Shenna menjadi cemas dengan Hazel, dia tidak ingin Hazel berhubungan dengan Shenna dalam hal apapun.
Setelah meeting itu selesai Shenna langsung mendekati Morgan, "Hai Morgan.. besok kamu datang dengan siapa ke pesta itu? Kan harus ada pasangannya." Tanya Shenna dengan gaya genit dan lembut di samping Morgan.
"Bukan urusanmu." Jawab Morgan singkat dan ketus, dia memlilih untuk kembali keruangannya saja padahal ada hal yang mau dia bicarkan dengan kepala tim perencanaan itu.
"Morgan.. kenapa kau masih marah sih? Udah lama loh kejadian itu dan aku sudah minta maaf juga ke wanita itu dan tante Lusia." Shenna mengejarnya dan merangkul lengan Morgan tapi langsung ditepis dengan kasar, "Jaga sikapmu Nona Shenna dan jangan menyentuhku."
"Ayo kita kembali." Titah Morgan pada Evan dan Hazel.
"Ah.. besok lihat saja, kau akan jadi milikku Morgan." Ucap Shenna setelah Morgan pergi meninggalkannya.
"Su.. cari tau siapa sekretaris Morgan itu, jangan ada yang tertinggal." Perintahnya pada asisten pribadinya yang sejak tadi mengikuti di belakang.
Sekembalinya di ruangan Morgan, Evan telah menceritakan kemungkinan yang akan dilakukan Shenna padanya besok malam di pesta. "Mungin dia akan melakukan hal yang sama dengan 2 tahun lalu. Jadi perhatikan minumanmu dan juga jangan lengah."
"Iya aku tau." Jawab Morgan malas.
"Morgan, aku masih penasaran dengan Shenna apa kau bisa ceritakan padaku?" Tanya Hazel, Morgan dan Evan langsung saling menatap membuat Hazel merasa aneh dengan mereka berdua.
"Bisa tapi gak hari ini ya sayang.." Jawab Morgan.
__ADS_1
"Cih uda sayang-sayangan aja." Decih Evan dengan nada menggoda. Hazel jadi malu karena dia belum begitu mengenal Evan.
"Jangan malu gitu dong.. abaikan saja si Evan itu, anggap dia patung."
"Hoo.. baiklah, aku pergi aja mau cari pacar juga biar ga jadi nyamuk."
Evan meninggalkan ruangan Morgan yang sudah terlihat tidak sabar ingin memeluk Hazel. "Sini sayang.." Belum sempat Morgan merangkul Hazel, Lusia dan Amber sudah masuk ke ruangannya.
"Morgan ini mami bawakan makan siang." Ucap Lusia begitu membuka pintu.
"Loh Amber kenapa sudah pulang sekolah tante?" Tanya Hazel melihat Amber yang tidak memakai seragamnya.
"Oh tadi supir sekolah yang antar pulang, Syifa lagi meeting dan kayanya ada pembersihan masal ya? Emangnya kenapa sih di sekolah, yayasan juga kayanya sangat sibuk akhir-akhir ini." Jelas Lusia dan Morgan hanya tersenyum tidak ingin menjelaskan apapun, kalau maminya tau Amber di buli disekolah bisa-bisa maminya ngamuk lagi.
"Mami tenang aja gak ada masalah kok, Morgan memang suruh Sipa bersih-besih orang yang ga bisa kerja." Jelas Morgan lalu membawakan bungkusan makan siang mereka. Amber berada dipangkuannya dan Hazel duduk di sebelah Lusia dan mereka makan di meja kerja Morgan.
"Amber suka ini?" Tanya Morgan, di tangannya sudah ada sepotong wortel ukuran lumayan besar.
"Gak, Amber gak suka wortel yang suka itu Ruby." Jawab Amber dan Morgan dengan gemas menciumnya.
"Sama dong, papa juga gak suka. Kasih ke mama aja." Morgan memindahkan semua wortel ke piring Hazel.
"Kalian ini.. jangan pilih-pilih makanan." Tegur Hazel dan mereka berdua malah nyengir.
"Tenang aja, selama ini mereka makan wortel kok." Bisik Lusia pada Hazel. "Mami masak bubur pake wortel kan mereka ga tau, mami bilang aja merah-merah itu tomat. Morgan suka tomat dan ternyata Amber bisa makan tomat juga."
"Ada apa bisik-bisik?" Tanya Morgan curiga tapi Lusia dan Hazel malah hanya senyum dan tidak mau merespon Morgan yang terus melirik mereka.
"Oh iya, kemarin kalian ga jadi ke butik kan? Nah nanti malam si Catherine akan datang dan kalian pilih deh baju pengantinnya." Ujar Lusia mengingatkan mereka.
"Tante.. tapi pernikahan kami ga mewah-mewah kan? Hazel malu karena ini.."
"Harus mewah." Potong Morgan.
"Tapi..."
"Gak ada tapi-tapian, mewah bukan berarti ramai kok, tenang aja hanya keluarga dan teman dekat." Lanjut Morgan lagi.
"Dan jangan panggil tante, tapi mami.." Ucap Lusia, "Iya mami."
"Wah kalau mama dan om papa menikah berarti jadi papa dong..?" Tanya Amber dan Morgan mengangguk semangat, "Iya mulai sekarang panggil papa jangan ada om nya lagi."
"Iya papa ganteng." Panggil Amber dengan wajah cerianya. Setelah menyelesaikan makan siang, Morgan dan Hazel melanjutkan meeting lagi dengan Jarvis Lim dan membicarakan kerjasama mereka.
__ADS_1
TBC~