The Girl'S Mom And Berondong

The Girl'S Mom And Berondong
BAB 16 - Gak Mau Pulang...


__ADS_3

Morgan masih sangat malas bangun dari tidurnya padahal sudah jam 1 siang, tadi malam hampir jam 4 pagi baru dia bisa tidur.


"Ah hujan lagi..." Ucapnya sambil menatap rintik hujan di jendela.


Perlahan Morgan berdiri dan masuk ke kamar mandi untuk menyelesaikan urusannya, "Chat keluarga ah.."


[Morgan] Bang Fanoooo~~


.


.


[Morgan] Bang Damiiii~~~


.


.


[Lusia] Morgan, kamu ga pulang kan.. ga ngabarin mami tadi malam.


[Morgan] Lupa mi.. ni Morgan baru bangun dan lagi duduk bertapa di toilet.


[Tatana] Iiihhh jorok


[Morgan] Eh kak.. jorok tapi ini harus, namanya juga panggilan alam


[Tatiana] Iya tau.. tapi selesaikan dulu lah baru main hape


[Morgan] Bosen tau kak.. makanya sambil main hape


[Lusia] Morgan nanti beliin mami bolu bakar yang terkenal itu ya.. jadi pengen makan deh


[Fano] Iya.. abang juga titip 3 box rasa coklat 1 rum butter 2


[Damian] abang juga 2 box keju coklat


[Tatiana] aku 1 aja deh.. rum butter + coklat


[Morgan] haduuuhhh tau gak usah chat aja, ribet iihh


[Fano] hahahaha DL deh


[Lusia] Beliin loh kan katanya sayang sama mami


[Morgan] iya iya tapi gak janji jam berapa baliknya yah.. Morgan sekalian mau ketemu temen tapi pasti beli kok


[Fano] Thanks adik abang yang ganteng


Selesai dengan urusannya Morgan langsung check out dan untung ada baju ganti di mobilnya. Setelah ganti baju dia meluncur ke salah satu cafe disana untuk ngumpul bersama temannya sebelum beli titipan keluarga besarnya.


\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~


Hazel masih dibiarkan didalam kamar, sejak pagi tadi dia terus berteriak dan menggedor pintu kamar dan sesekali mendobraknya tapi tidak ada hasilnya. Nicho masih menyuruh Pak Tugu mencari juga tidak ada hasil.


"Kenapa laporan polisinya di cabut ma?" Tanya Nicho pada Merry yang sudah mencabut laporannya.


"Kalau ada yang tau anak-anak itu hilang malah bikin masalah, kalau ada yang temuin trus minta tebusan gimana? mereka juga cuma bikin susah aja biar hilang selamanya biar ga nyusain."


Nicho tak habis pikir ibunya bisa berpikir begitu padahal anak-anak itu tak pernah menyusahkan sama sekali.

__ADS_1


"Tapi mereka masih kecil kalau terjadi apa-apa gimana?" Nicho mulai khawatir apalagi Hazel juga belum tenang sama sekali.


"Panggil dokter dan suntikkan penenang pada Hazel." Titah Nicho pada salah satu pelayannya dan Nina yang selalu mendukung Oliv segera bergerak. Setelah dokter datang mereka membuka pintu kamar Hazel, tampak dia sangat kacau, matanya bengkak dan rambutnya sudah acak-acakan.


"Mana anak-anakku Nicho.." Lirihnya sambil mencengkram lengan Nicho dengan keras, dokter langsung menyuntikkan obat penenang pada lengan Hazel.


"Apa ini, kalian mau apa? Aku mau cari anakku.. tolong.. aku mau cari anakku.. anakku..." Perlahan Hazel lemas dan terjatuh tapi segera di rangkul oleh Nicho, dia membawa Hazel kembali ke kamar Amber dan Ruby.


"Dia belum makan 24 jam ini dokter." Ujar Nicho dan dokter itu paham lalu memasang infus di tangan Hazel.


Sedangkan Morgan masih asik bercengkrama dengan teman-temannya sampai dia lupa waktu, "Ah udah jam 7 malam.. aku balik dulu bro." Ujarnya pada temannya yang ada disana kemudian langsung pergi membeli titipan bolu bakar.


"Ah kok hujan lagi sih... gak enak banget sendirian nyetir hujan lagi,,, jadi ngantuk." Ucap Morgan dan dia memperlambat laju mobilnya agar bisa lebih berhati-hati.


CKKIIITTT..


Morgan tiba-tiba menginjak rem dengan tajam karena hampir menabrak sesuatu yang lewat depan mobilnya. "Gila apaan itu." Morgan sangat kaget, jantungnya berpacu cepat dan melihat kedepan mobilnya entah itu memang manusia atau hantu.


"Anak kecil..." Gumamnya, Morgan segera turun ada anak kecil dengan seragam sekolahnya sedang berjongkok di depan mobilnya ketakutan. Dia mengenal seragam itu lalu turun dari mobil.


"Hei nak, kamu tidak apa-apa?" Morgan mendekat dan melihat anak itu. "AMBER!" Pekiknya kuat.


"OM ganteng.. huaaa..." Amber menoleh kearahnya begitu namanya disebut.


"Kamu ngapain disini? Mana mama kamu?" Morgan langsung merangkul dan mengangkat Amber untuk masuk ke mobil, daerah sana adalah jalan yang sepi apalagi malam dan masih hujan.


"Om ganteng.. Ruby masih disana.." Amber menunjuk kearah tadi dia datang sambil menangis. Morgan terkejut, melihat arah yang ditunjuk oleh Amber, disana memang ada tempat berteduh, sebuah pos yang hampir hancur. Morgan segera menyebrang dan berlari dan benar saja saat dia melihat ke dalam pos rusak itu ada anak kecil meringkuk lemas disana.


Morgan menggendongnya dan membawa kedalam mobil, tubuh kedua bocah itu basah kuyup dan gemetaran, setelah mematikan AC mobil, Morgan mengambil handuk kecil yang ada di mobil, untung handuk itu bersih. Dia mengeringkan wajah dan rambut Amber lalu beralih ke Ruby yang tampak lemas.


"Kalian.. ah laper ya?" Amber mengangguk dan untung ada bolu tadi dan air mineral di mobil. Morgan membuka bolu rasa keju yang dia beli untuknya sendiri, dan Amber memakannya dengan lahap, lalu Morgan membangunkan Ruby yang masih tidur, perlahan dia bangun dan mencium aroma enak membuat Ruby segera membelalakkan mata melihat Amber.


"Om antar pulang ya.."


"Gak mau."


Jawab mereka bersamaan, Morgan bingung melihat mereka. "Gak mau pulang... huaaa hiks hiks.." Ruby menangis dan Morgan menenangkannya, di peluknya tubuh mungil itu sampai Ruby diam baru dia lepaskan.


"Baiklah, pulang ke rumah om aja mau gak?" tanya Morgan lembut dan mereka mengangguk. "Duduk yang tenang ya.. kita pulang ke rumah om ganteng.." Morgan tersenyum cerah agar mereka juga bisa lebih tenang.


[Morgan] Mami.. tolong siapin baju anak-anak dong mi, perempuan, umur 6 tahun dan 2 tahun.


[Lusia] Anak perempuan? Anak siapa Morgan?


[Morgan] Tolong mami siapin dulu ini Morgan pulang ya mi, dan suruh kak Ana tunggu di rumah juga.


[Lusia] Morgan jangan aneh-aneh


[Morgan] Gak mami, nanti Morgan jelasin, sama masakin bubur yang enak, kami kehujanan mi.


[Lusia] Baiklah


Morgan kembali menyetir dengan hati-hati dan sambil melirik kebelakang, Amber dan Ruby kembali tertidur. Morgan masih berpikir apa yang terjadi pada Hazel dan kenapa anak-anaknya ada dijalanan tapi sepertinya Amber juga sangat takut kembali ke rumah.


"Nanti aja deh.. aku yakin Hazel baik-baik aja, karna kak Ana juga gak bilang apapun tadi." ucap Morgan pelan, hampir 2jam dia berkendara dan akhirnya sampai dirumah keluarga Hastanta.


"Kak tolong gendong Ruby." Morgan memanggil Ana yang sudah menyambutnya di depan.


"Kok bisa 2 anak ini sama kamu?" Tanya Ana terkejut, dan menggendong Ruby yang terlihat kacau, kotor dan berantakan, begitu juga Amber masih memakai seragam sekolahnya.

__ADS_1


"Gila sih ini, Hazel pasti khawatir."


Amber dan Ruby dibawa ke kamar Ana dan menidurkannya di tempat tidur besar itu, tapi Amber akhirnya terbangun dan langsung menangis sambil memeluk Ana yang sudah ada di depannya.


"Amber.. kenapa kamu dan Ruby jadi begini?" Tanya Ana lembut. Lusia juga masuk ke dalam kamar Ana begitu tau Morgan pulang membawa 2 anak perempuan.


"Ya ampun anak siapa ini? kenapa begini?" tanya Lusia lalu menghampiri Ruby yang masih tidur.


"Jangan takut Amber, panggil oma.. ini mamanya tante Ana dan om Morgan" Ujar Ana agar Amber tidak takut.


"Oma.." Panggilnya dengan suara pelan.


"Cantiknya anak siapa ini.." Lusia mengelus lembut rambut Amber.


"Anaknya Hazel mi, Morgan gak sengaja tadi hampir nabrak Amber yang lagi nyebrang di daerah dekat pintu tol." Jelas Morgan membuat mereka semua bingung.


"Amber masih lapar gak?" Tanya Morgan padanya dan Amber menggeleng, mereka berdua tadi sudah habiskan bolu bakar 1 kotak pastinya sudah kenyang.


Lusia membasuh tubuh Ruby dengan lap basah dan hangat lalu mengganti bajunya, begitu juga Amber dibantu oleh Ana.


"Amber, telepon yang tante kasih simpan dimana?" Tanya Ana begitu selesai dengan Amber dan merebahkannya di tempat tidur.


"Ada di dalam kantong boneka." Jawabnya. Ana mencoba menelepon nomor itu tapi tidak ada yang mengangkat, memang hanya mode getar jadi mungkin tidak ada yang tau. Setelah Amber tidur, Ana keluar dan masuk ke kamar Morgan.


"Coba telepon nomor ini terus menerus ya.. mungkina akan diangkat oleh Hazel." Ana mengirimkan nomor itu ke Morgan dan mereka bergantian menelepon.


Sudah 1 jam Morgan dan Ana bergantian menelepon nomor itu tapi tidak ada yang menjawabnya, "Sudahlah coba besok aja, kita juga harus tanya Amber kenapa mereka bisa ada disana." Ujar Ana pasrah tapi tidak dengan Morgan, dia yakin Hazel akan sangat khawatir, dan terus menelepon nomor itu.


Di kamar, Hazel yang masih tertidur setelah di suntikkan obat penenang merasa terganggu dengan getaran yang ada di sisi kanan kepalanya, disana ada boneka Amber dan Hazel tau itu tempat penyimpanan hape yang diberikan Tatiana.


"Apa ini.." Hazel melihat infus yang terpasang lalu mencabutnya dengan paksa, dia tak peduli dengan rasa sakit.


"Halo.. " Jawab Hazel setelah mengambil telepon itu.


"Hazel..?" Ujar Morgan dengan nada bertanya.


"Iya ini siapa?" Tanya Hazel bingung karena nomor ini hanya Ana yang tau.


"Aku Morgan, kamu sekarang ada dimana?"


"Aku dirumah, tapi tapi.. Amber dan Ruby hilang, aku dikurung gak boleh keluar mencari mereka hiks hiks.." Tangis Hazel pecah lagi.


"Tenang ya.. Amber dan Ruby baik-baik saja sekarang mereka ada di rumahku lagi tidur di kamar kak Ana, jadi kamu tenang dulu jangan nangis."


"Ha? Kok bisa?"


"Aku juga gak ngerti, tadi aku pulang dari Bandung dan ketemu mereka di jalan dan waktu aku mau antar pulang mereka ga mau dan nangis terus."


"Hiks hiks.. makasih Morgan, aku akan jemput mereka sekarang."


"Jangan Hazel, besok saja kasian mereka baru aja tidur.. kami akan jaga mereka dengan baik, kamu tenang ya.."


"Baiklah, terima kasih, terima kasih.."


"Tutup teleponnya dan simpan lagi."


"Iya."


Hazel menutup teleponnya dan menyimpannya kembali, dia sangat bersyukur anak-anaknya selamat dan dalam perlindungan orang baik seperti Tatiana dan Morgan.

__ADS_1


TBC~


__ADS_2