
Morgan dan Hazel kembali kerumah bersama Amber yang sudah bangun tetapi masih terlihat lesu, mungkin dia merasa bersalah karena telah membuat keributan di sekolah.
"Kok lama pulangnya?" tanya Lusia padahal Morgan mengabarkan mereka akan pulang pada jam makan siang. "Ya ampun kenapa ini?" Pekik Lusia kaget melihat 2 plester yang ada di wajah cantik Amber.
"Biasa mami, anak-anak berkelahi." Jawab Morgan, mereka sepakat tidak akan mengatakan apapun ke keluarga mereka.
"Haduh.. nanti berbekas ga? Kok bar-bar banget sih anak zaman sekarang?" Lusia mengelus lembut pipi Amber dengan cemas.
"Gak tante, cuma goresan aja nanti juga hilang kalau sembuh." Jawab Hazel.
"Kalian sudah makan?" Tanya Lusia memandang kearah Morgan dan Hazel.
"Makan? Sudah belum ya? Kok aku lupa." ucap Morgan sambil mengelus tengkuknya.
"Iya aku juga lupa." Sambung Hazel.
"Ih gimana sih.. makan aja lupa, lihat tuh wajah Hazel sampai pucat begitu, Amber sudah makan?" Tanya Lusia akhirnya pada Amber.
"Belum oma, Amber lapar." Jawabnya, "Astaga! Kalian ini, anak juga belum makan. Ayo sama oma." Lusia mengandeng Amber menuju dapur dan diikuti oleh Morgan dan Hazel.
"Nah berarti belum makan, lihat tuh Hazel makannya lahap dan banyak. Kalian ini meskipun sibuk ga boleh telat makan." Tegur Lusia melihat Hazel dan Amber makan dengan lahapnya, apalagi Hazel yang biasanya makan hanya sedikit tapi siang ini dia sampai nambah dari porsi biasanya.
"Hehehe bener nih, tapi sayang kamu terlihat lebih gemuk." Ucap Morgan sambil memakan makananya. Hazel langsung diam dan meletakkan sendoknya dan Amber juga.
"Loh kok gak jadi makan?" Tanya Morgan heran saat Hazel dan Amber jadi diam.
"Aku akan diet." Jawab Hazel dan wajahnya berubah sendu.
"Mama diet Amber juga." Sambung Amber dengan sedih juga.
"Loh loh.. kok jadi diet kenapa?" Morgan bingung dengan kedua ibu dan anak ini.
"kenapa sayang.. ga perlu diet segala, aku suka kamu gemukan gini, lebih montok." Sambung Morgan lagi. Tapi Hazel hanya diam tidak menjawab apapun.
"Om papa, gak akan mukul mama kan karena mama jadi gendut?" Tanya Amber, wajah anak itu terlihat sangat sedih dan ada sedikit rona ketakutan disana.
__ADS_1
"Ada apa ini?" Tanya Lusia begitu kembali karena tadi dia sedang memanaskan sup di dapur.
"Ya Tuhan! Jadi kalian kira aku akan suruh diet, nggak.. tenang ya Amber om papa gak akan mukul mama kok, om sayang sama mama dan kalau mama jadi gemuk malah om senang berarti mama bahagia, betul kan?" Jelas Morgan dan Amber akhirnya tersenyum, dia lega mamanya tidak akan dipukul kalau gemuk seperti dengan Nicho dulu.
"Makan lagi ya sayang.. jangan takut." Morgan mengelus pipi Hazel yang masih diam, mengingat kembali memory kelam yang sudah lama dia lupakan.
"Di rumah ini ga ada yang boleh diet, sejak dulu mereka masih kecil sudah oma ajari kalau mau bentuk tubuh ideal harus olahraga biar sehat, bukan gak makan." Jelas Lusia lagi menambahkan agar Hazel dan Amber mengerti.
"Kasian kamu nak.. kenapa begitu banyak luka yang bahkan kami gatau mana saja yang belum hilang dari ingatanmu." batin Lusia melihat Hazel.
"Mami.. kapan Ruby biasanya diantar pulang?" Tanya Morgan karena hari sudah menjelang sore tapi belum melihat Ruby.
"Biasanya jam 3 sih, ini udah lewat pasti Elara sedang mendandani Ruby kaya anak-anak ala model gitu." Jawab Lusia dan benar saja, ada pesan masuk dan foto Ruby dengan baju bak princess sudah terpampang disana.
"Tuh kan, ini lihat." Lusia memberikan hapenya dan Hazel melihat foto Ruby dengan baju seperti princess belle komplit dengan mahkotanya.
"Ya ampun cantiknya.. dari mana tante El dapat baju seperti ini?" Tanya Morgan bingung dengan tantenya yang memang unik itu.
"Bajunya Ellena dulu, Ana juga ada apa muat ya sama Amber." Lusia berpikir sejenak.
"Sayang.. kenapa ga makan lagi?" Tanya Morgan tapi Hazel tampak tidak nyaman dengan memijat keningnya.
"Tiba-tiba pusing dan sedikit mual." Jawabnya dan Morgan segera memapahnya tapi Hazel tidak mau.
"Jangan, aku mau minum jus itu dulu, kelihatannya segar." Hazel menunjuk jus kedondong milik Morgan yang disiapkan oleh Lusia karena Morgan ingin meminumnya.
"Oh jus ini, minumlah sayang.." Morgan memberikan jus itu dan Hazel meminumnya sampai habis. "Ah.. enak.."
"Kamu ini kenapa cantik sekali sih..muach.." Morgan mendaratkan 1 ciuman ke pipi Hazel dan disaksikan beberapa pelayan disana, Hazel tertunduk malu karena di lihat oleh mereka.
Setelah bersenang-senang sore itu bersama Amber dan Ruby yang jadi princess mendadak juga ada Elara, Aries dan Ellena. Hazel yang merasa pusing kembali duluan ke kamar karena ingin mandi agar segar lagi, tapi karena rasa pusingnya makin parah dia terduduk di depan pintu toilet dan tak sadarkan diri.
"Morgan, ambil foto ini lagi cepat!" Teriak Ellena antusias melihat Amber begitu cantik dengan baju princess Tiana yang berwarna hijau dengan bawahan mirip helaian daun. "Mirip peri cantik." Sambungnya lagi.
"Oh iya.. mami lupa bilang kalau Ana pulang hari ini, papi sedang jemput di bandara nih." Ujar Lusia dan Morgan tampak heran.
__ADS_1
"Loh kenapa papi yang jemput? Supir?" Tanya Morgan, "Ana maunya papi yang jemput sih, maklum lagi hamil jadinya manja ke papi dan udah dari bulan lalu mau pulang cuma Marco gak bisa karna banyak kerjaan." Sambung Lusia menjelaskan.
Ana yang sedang hamil 5 bulan memang sangat ingin kembali ke rumah karena rindu dengan keluarganya. Sejak menikah mereka telah pindah ke Singapura mengurus perusahaan Marco yang saat itu baru berkembang.
"Tuan Nyonya.. non Hazel pingsan!" Teriak salah satu pelayan, sontak membuat Morgan dengan cepat berlari ke kamar tamu yang biasanya menjadi kamar Hazel dan anak-anak.
"Hazel.. kenapa begini?" Morgan dengan cemas mengangkat tubuh Hazel dan membaringkannya di atas tempat tidur, Lusia sudah menelepon dokter keluarga yang rumahnya juga di komplek yang sama hanya beda cluster.
"Jangan cemas, om Harold bentar lagi sampai kebetulan dia dirumah." Lusia menenangkan Morgan yang tampak panik. Tapi yang buat dia makin panik tiba-tiba ada darah mengalir pada saat Hazel dipindahkan.
"Mami.. ada darah mi." Panik Morgan lagi dan pada saat itu dokter sudah ada dibawah.
"Loh om sama siapa?" Tanya Ellena karena dia membawa seorang pemuda tampan di sisinya.
"Ini keponakan om, siapa yang sakit?" Tanya dokter yang lumayan tua itu. Ellena mengantar dokter Harold dan keponakannya ke kamar Hazel yang sekarang terjadi kepanikan disana.
"Om tolong om, ada darah banyak banget." Panik Morgan pada dokter Harold saat mereka sampai di kamar Hazel.
"Tenang ya.. om periksa dulu." Morgan ditarik oleh Ellena untuk sedikit menjauh agar dokter bisa memeriksa Hazel. Setelah beberapa menit, dokter Harold berbalik.
"Hm.. boleh nona ini diperiksa oleh keponakan saya?" Tanya dokter dan Morgan hanya mengangguk cepat, dia tidak berpikir apapun hanya mau Hazel cepat ditangani.
"Coba kamu periksa, biar pasti." Bisik dokter Harold pada keponakannya. Dokter muda itu memeriksa dan membuka sedikit selimut untuk melihat pendarahan lalu berbalik menatap Morgan dengan sedikit tersenyum.
"Tidak masalah, nona ini sedang hamil dan pendarahan ini bukan karena benturan jadi masih aman." Jelas dokter muda itu.
"Hamil?"
"Hamil?"
Lusia dan Ellena saling memandang lalu beralih melihat ke arah Morgan yang sudah tersenyum senang. "Yes! Hazel hamil, kita bisa nikah." Batin Morgan.
"Sudah berapa bulan dok?" Lusia yang bertanya, "Belum bisa dipastikan, harus ke RS dulu untuk pemeriksaan dan kalau bisa malam ini juga agar kita bisa tau keadaanya, karena pasien terlihat lemah." Jawab dokter.
"Keponakanku ini dokter kandungan jadi jangan cemas, datanglah nanti, kami tunggu di RS." Jelas dokter Harold dan Lusia mengangguk. Sedangkan Morgan sudah berada disamping Hazel menatapnya dengan penuh cinta dan mengecup keningnya berkali-kali, dia tidak sadar kalau maminya akan menjadi macan betina lagi.
__ADS_1
TBC~