
Pagi hari Hazel dan Amber diantar oleh supirnya Lusia untuk ke sekolah dan ke kantor sedangkan Ruby akan diajak ke rumah Aries untuk main piano dan siang nanti akan dibawa ke kantor Leo saja agar bisa pulang bersama Hazel.
"Hazel, kemarin Pak Leo suruh kamu ke cafe mana gitu aku lupa tapi kamunya sudah pulang." Ujar Lia dan Hazel baru ingat perkataan Morgan tadi malam.
"Oh gak apa mba Lia bukan hal penting dan aku sudah ketemu dengan tamunya." Jawab Hazel.
"Dan hari ini pastikan semua beres ya soalnya direktur baru kita akan masuk hari ini."
"Baik mba, tapi nama direktur kita siapa ya? Soalnya nama di meja juga belum diganti."
"Namanya..."
"Mba Lia, di panggil Pak Leo di line nomor 4." Teriak salah satu staff disana. Lia segera mengangkat teleponnya dan menerima pesan dari Leo yang membutuhkan beberapa calon sekretaris untuknya dan wajib yang sudah bekeluarga seperti dirinya.
"Baik Pak Leo akan saya carikan." Jawab Lia.
"Hazel, kamu tolong bawakan ini untuk HRD di pojok ruangan sebelah sana lalu ambil laporan dari mereka dan taruh di meja direktur nanti." Peritah Lia kemudian dia pergi ke lantai 18 untuk menemui Leo yang tadi meminta bantuannya.
Ya memang Mall dan Hotel ini memiliki HRD yang berbeda tapi manajemennya masih sama sehingga Lia sudah biasa mengurusi permintaan direktur dari hotel juga.
Sudah jam makan siang dan Hazel bersiap untuk keluar menjemput Amber tapi dia malah mendapatkan pesan untuk datang ke kantor Leo nanti jam 1 siang dari Morgan, lewat lift khusus dan kodenya juga sudah diberikan, dan Amber sudah dia yang jemput.
Seperti perintah Morgan kini Hazel sudah ada di dalam ruangan Leo dan disana ada Aries dan Ruby yang sedang menonton video permainan piano dari salah satu pianis terkenal dan terlihat Ruby sangat menyukainya. Baru 5 menit Hazel disana, Morgan sudah datang dengan menggandeng Amber yang baru pulang sekolah dan 1 tangannya membawa bungkusan yang lumayan besar.
"Ini makan siang, untuk om yang tas merah, Leo tas abu-abu." Morgan meletakkan 2 bekal buatan Elara dan Lusia di meja Leo lalu mengandeng Hazel dan untuk kembali ke ruangannya dibawah dengan terburu-buru.
"Eh mau kemana?" Tanya Hazel melihat Morgan yang begitu tergesa-gesa. Morgan juga menggandeng Amber dan Ruby menarik rok Hazel sambil mengikuti mereka. Sedangkan Aries dan Leo hanya menggeleng aneh melihat tingkah Morgan.
"Tunggu Morgan.. mau apa di kantor direktur?" Tanya Hazel begitu mereka sampai di kantor dan Morgan hanya menunjuk ke arah meja kerjanya disana sudah ada plakat namanya sebagai direktur.
"Jadi kau..." Hazel terhenti karena Morgan mencuri ciuman darinya. Untung saja Amber dan Ruby tidak melihatnya karena mereka sedang senang melihat ada kotak makanan yang mereka tau itu pasti dari Lusia.
"Kau juga harus makan sayang.." Morgan menyodorkan sesendok penuh nasi dengan lauk ke mulut Hazel tapi dia menolaknya. "Aku bisa makan sendiri."
"kalau begitu suapi aku.." Ujar Morgan manja.
"Kau ini, lihat Amber dan Ruby saja makan sendiri." Ketus Hazel.
"Tapi aku lelah hari ini dan nanti harus jalan ke bawah dan melihat kondisi store di mall." Ujar Morgan dengan wajah lesunya.
"Baiklah, kali ini saja." Hazel akhirnya menyuapi Morgan sambil dia juga makan sampai semua makanan disana habis tak bersisa.
__ADS_1
Setelah makan Amber dan Ruby malah ketiduran, Morgan membawa mereka ke ruangan kecil di sebelah toilet, "Hah? Ternyata ada kamar disini?" Hazel terkejut karena itu sepeti rak buku biasa saja tapi ternyata jika di geser ada kamar.
"Iya, ada lagi di lantai 20 atau 22 ya.. kamarku? Nanti ku tanya pada Leo lagi deh." Ucap Morgan pelan kemudian merebahkan Amber dan Ruby di kasur besar disana.
"Tinggalkan saja mereka, disini aman kok.. sekarang kita mulai kerja." Morgan menarik lengan Hazel lalu mereka bersama keluar ruangan menuju lift. "Kita akan keliling store dari lantai UG sampai lantai 4 jadi sekretarisku yang cantik harus menemani direkturnya, sekalian ajak Lia dan kau sudah kenal dia kan? Evan asistenku." Jelas Morgan tergesa-gesa.
"Lalu Syifa?" Tanya Hazel, "Oh Syifa sekretarisku tapi dia handle yayasan dan sekolah aja kalau Evan semua hal tentangku dia tau." Jawab Morgan lagi.
Saat ini Morgan, Lia, Evan dan Hazel berjalan menyusuri dan Morgan dengan serius mendengarkan laporan dari Evan dan Lia, sedangkan Hazel lebih seperti sekretaris pribadi yang hanya mengatur jadwal dan menemaninya kemanapun.
Tapi Hazel begitu terkejut saat mereka masuk ke salah satu store perhiasan disana, "Nicho dan Oliv." Gumam Hazel tapi dia tetap bersikap profesional dan tetap mengikuti atasannya.
"Oh.. ada Hazel mantan istri suamiku. Apa kabarmu? Cih ternyata sekarang cuma jadi sekretaris biasa." Oliv melihat tanda pengenal yang terkalung di leher Hazel.
"Maaf Nyonya Wang, ada masalah apa dengan sekretarisku?" Tanya Morgan tidak ramah, dia tidak suka ada yang mengganggu Hazel apalagi seorang Olivia.
"Maaf Tuan Morgan, saya hanya menyapa mantan istri suami saya, hanya itu." Jawab Oliv dengan sopan, lalu Nicho menghampiri mereka dan sedikit terkejut melihat Hazel ada disana. Tak dipungkiri masih ada rasa dalam hati Nicho dan dia terus saja memandang wajah Hazel yang semakin cantik dan bersinar. "Hazel, kau sangat cantik seperti dulu, senyum dan matamu begitu indah," batin Nicho.
Morgan yang sadar kalau Nicho sejak tadi terus menatap Hazel menjadi kesal dan memilih untuk cepat pergi dari toko perhiasan itu padahal Lia belum selesai menjelaskan laporannya.
Hampir 3 jam mereka berkeliling mall yang sangat besar itu dan telihat Hazel sudah kelelahan dan kakinya yang pegal juga perih akibat sepatu hak tinggi yang dia pakai.
"Jangan pakai sepatu itu lagi besok." Ujar Morgan tidak senang saat mereka hanya berdua di ruangan sekretaris, untung semua sedang sibuk dan tidak di tempat.
"Jadi ini salahku karena menyuruhmu ikut berkeliling. Maaf."
"Bapak Morgan, saya sekretaris anda jadi sudah kewajiban saya untuk mematuhi perintah anda jika hal tersebut menyangkut pekerjaan."
"Jangan bicara begitu, aku gak suka."
"Mpphh hahaha baiklah tapi kalau ada orang lain aku akan tetap bicara sopan, ayo aku mau lihat anak-anak."
Hazel jalan duluan dan Morgan mengikuti dari belakang, "Nah gitu dong.. sudah cocok jadi istriku." Gumam Morgan pelan dan Hazel sama sekali tidak mendengarnya.
\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~
"Nicho mau kemana?" Tanya Oliv begitu Nicho berjalan keluar dari store perhiasannya.
"Mau balik ke kantor, mau ikut atau disini? Lagian ini sudah sore." Tanya Nicho balik dan Oliv tidak ingin pergi dari sini karena dia senang mendapat perhatian dari tamu yang banyak dari mereka merupakan istri para pengusaha kaya.
"Ga ah.. aku disini aja, sebentar lagi aku pulang ya.. Jayden juga masih tidur didalam." Jawabnya dan Nicho pun berlalu pergi, entah kenapa Nicho tidak bisa sayang pada Jayden padahal anak itu adalah yang dia inginkan selama ini, anak lelaki yang akan menjadi penerusnya kelak tapi ada rasa janggal jika melihatnya.
__ADS_1
Sore itu Hazel juga membawa Amber dan Ruby untuk pulang tapi mereka mampir sebentar untuk membeli kue karena Ruby ingin makan kue yang bentuknya lucu setelah melihat salah satu iklan yang tertempel di sudut dinding mall itu.
"Amber mau kue yang mana?" Tanya Hazel begitu sampai di Keiku. Amber menunjuk cupcake dengan bebek berwarna kuning diatasnya. "Ruby mau yang mana?" Tanya Hazel lagi dan Ruby menunjuk ke kue coklat bentuk rumah.
"Ok, tunggu disini ya, mama bayar dulu." Hazel mendudukkan Ruby dan Amber di salah satu kursi lalu pergi ke kasir tak jauh dari sana untuk membayar tapi Hazel terkejut saat mendengar Amber memanggilnya dan Ruby menangis kencang dan ketakutan.
Ruby terus menangis dan gemetaran saat Nicho berjalan mendekat padanya, Hazel yang melihat itu langsung menggendong Ruby dan memeluknya. Ruby semakin histeris sehingga banyak yang memperhatikan mereka.
"Jangan mendekat!" Bentak Hazel pada Nicho yang sudah ada di depan mereka.
"Memangnya kenapa? Aku hanya mau lihat anakku." Kata Nicho lalu ingin mengelus kepala Ruby tapi anak itu makin histeris dan ketakutan.
"Jangan menyentuhnya, kau membuatnya takut." Hazel mundur beberapa langkah tapi Nicho malah semakin mendekat, dia sebenarnya hanya penasaran saat melihat Ruby dari jauh dia merasakan rindu yang sangat dalam dan ingin sekali mendekatinya, beda dengan Jayden yang benar-benar tidak ada di hatinya.
"Dia kenapa?" Tanya Nicho bingung karena Ruby begitu ketakutan.
"Kau berani tanya kenapa? Kau telah melukainya, mendorongnya dari tangga. Ruby koma hampir 1 tahun dan kini dia trauma tidak mau dekat dengan orang lain ataupun di sentuh. Ini semua gara-gara kamu Mr. Wang." Bentak Hazel marah kemudian dia berbalik dan menggandeng Amber berjalan dengan cepat meninggalkan Nicho yang terlihat syok.
"Trauma? Apakah separah itu?" Gumamnya lirih, ada rasa bersalah yang teramat sangat, padahal selama ini dia juga tidak pernah menunjukkan rasa sayangnya pada Ruby bahkan kata papa pertama kali terucap dari bibir Ruby adalah saat memanggil Morgan.
Hazel memutuskan untuk tidak pulang dan memilih kembali ke kantor Morgan yang saat itu masih disana meyelesaikan pekerjaannya. Untung saja Hazel sudah diberikan akses langsung dari lift khusus. Begitu Hazel masuk, Morgan sangat terkejut apalagi Ruby yang masih menangis histeris.
"Kenapa Hazel? Ruby.. kenapa menangis sayang?" Tanya Morgan menghampiri mereka.
"Tadi kami beli kue dan ketemu Nicho trus Ruby langsung teriak dan nangis ketakutan." Jawab Hazel dengan wajah cemasnya.
Morgan mengambil Ruby kemudian memeluknya, menenangkannya dan untung saja Ruby kembali tenang. Ruby memeluk Morgan dengan erat sambil sesegukan, dia merebahkan kepalanya pada Morgan sambil tangannya menggenggam erat kemejanya.
"Aku ikut kalian pulang saja, ya Ruby ya?" Tanya Morgan karena Ruby tidak mau melepaskannya. "Iya." Jawab Ruby pelan dan terdengar lemas.
"Iya om papa pulang sama kita aja nanti tidur di kamar kita ya?" Sambung Amber.
"Iya sayang.. ayo kita pulang.. Kamu yang nyetir ya." Ajak Morgan dan memberikan kunci mobilnya pada Hazel. Hanya 10 menit berkendara mereka telah sampai di rumah mungil Hazel dan disana sudah ada Mira yang menunggu mereka dengan cemas karena Hazel telah memberitahunya tentang kondisi Ruby.
Hazel membiarkan saja Morgan yang merawat Ruby, dengan telaten dia menuapinya makan, mengganti bajunya, menidurkan Ruby yang tidak mau lepas darinya sampai Ruby benar-benar tidur baru Morgan perlahan melepaskan cengkraman tangan Ruby di kemejanya.
"Ruby sudah tidur, Amber juga." Lapor Morgan pada Hazel yang sedang duduk di ruang tamu, Mira sudah kembali ke kamarnya dan tinggalah mereka berdua.
"Apa ini akan memperparah kondisi Ruby dan bagaimana jika Ruby terus bergantung padamu?" Tanya Hazel tapi Morgan malah terlihat senang, dia duduk di samping Hazel dan melilitkan lengannya di pinggang ramping wanita itu.
"Aku suka kalau Ruby bergantung padaku, kalau Amber sudah pasti, tinggal mamanya yang susah untuk di taklukkan." Ujar Morgan, Hazel kesal mendengarnya lalu mencubit lengan Morgan geram.
__ADS_1
"Lagi dong.. cubitanmu sangat enak, aku mau tiap hari dicubit begini." Sambung Morgan lagi tapi Hazel malah jadi berontak dan ingin melepaskan dirinya dari Morgan.
TBC~