
Lusia berjalan masuk ke RS sambil menggandeng Amber dengan langkah ringannya karena senang akan bertemu Hazel dan Ruby yang dia kira pasti sudah bangun karena ini sudah siang, tapi begitu masuk ke kamar rawat, Amber sangat sedih melihat Ruby adiknya yang ceria hanya tidur tidak bergerak.
"Mama.. kenapa Ruby tidur terus? Kapan bangunnya?" Tanyanya tapi Hazel tidak bisa menjawab.
"Amber.. Ruby sedang sakit dan butuh tidur yang agak lama biar sakitnya ga gitu terasa, jadi Amber bisa berdoa biar Ruby cepat sembuh ya.." Lusia yang menjawabnya. "Iya oma.."
"Biarkan Amber tinggal sama kami dulu, kamu fokus sama Ruby saja jangan khawatirkan apapun." Lusia mengelus puncak kepala Hazel dengan lembut memberikannya ketenangan.
"Terima kasih tante, kalian sangat baik." Air mata Hazel jatuh lagi, hatinya senang ada orang-orang baik yang selalu membantunya tapi dia juga sedih kenapa anaknya yang masih kecil juga harus menderita seperti dirinya.
+??+
2 bulan berlalu dan Ruby masih tidur dengan tenang, dokter telah bilang kalau kondisi fisik maupun lukanya pasca operasi sudah sembuh tapi memang Ruby seakan yang tidak mau bangun dan nyaman dalam tidurnya.
Hazel tidak pernah keluar dari RS dengan penjagaan ketat karena Nicho benar-benar telah beberapa kali ingin ketemu Hazel, bukan untuk melihat Ruby anaknya tapi karena persidangan perceraian mereka di HK.
Hazel selalu di wakili oleh pengacara tapi Nicho selalu datang sendiri karena tidak ingin bercerai namun tidak mungkin karena bukti kekerasan telah Morgan berikan semuanya bahkan hasil visum saat Hazel sedang hamil juga dia berikan.
Senjata terakhirnya adalah Amber yang sedang ngobrol sambil bermain dengan Lusia tentang bagaimana ibunya di pukul juga di rekam untuk di tunjukan pada saat persidangan dan akhirnya hari ini Hazel mendapatkan berita kalau dia resmi telah cerai dengan Nicho dan mendapatkan tunjangan sebesar Rp 2,3 milyar, pengacaranya sudah berusaha keras tapi hanya itu yang bisa mereka dapatkan.
"Ini mah masih kecil dibandingkan kau yang menderita selama ini." Kesal Tatiana yang selalu datang setiap hari untuk bertemu Hazel.
"Sudahlah.. aku iklas kok, yah dengan uang itu aku bisa beli apartemen untuk kami tinggali nanti meskipun kecil dan modal usaha sedikit sebelum aku bisa kerja." Ucap Hazel masih ada rasa syukur dia masih ada uang sebanyak itu untuk hidup.
"Kamu itu terlalu baik Hazel.. kalau aku sudah ku pototng itunya, berani nyiksa dan selingkuh." Ucap Tatiana sambil melirik Marco yang juga ada disana menemaninya, suaminya hanya mengeleng dan tersenyum mendengar keganasan Ana.
"Hahaha ada-ada aja sih.. makasih ya kalian sekeluarga sangat baik, padahal kalian keluarga yang sangat hebat tapi mau bantu aku sampai sejauh ini." Ucap Hazel dengan mata berkaca-kaca, dia sangat terharu keluarga Hastanta begitu luar biasa dalam membantunya.
"Eits.. gak gratis, kamu kan sekarang kandidat utama calon adik iparku, hahahaha ciee yang di kejer-kejer berondong.." Goda Ana tapi Hazel tersenyum mendengarnya, dia tau Morgan selalu ada untuknya tapi hatinya sudah tidak ingin dimasuki oleh siapapun sejak Juan dan Nicho yang hanya memanfaatkan dirinya untuk nafsu mereka.
"Gak Ana, aku ga bisa mencintai siapapun lagi.. udah hambar aja rasanya, aku hanya menyayangi dan akan fokus pada hidup anak-anakku." Ujar Hazel.
"Huh.. si berondong nakal itu tampaknya akan sulit meluluhkan janda cantik ini." Celetuk Ana lalu Hazel tertawa mendengarnya.
"Emangnya Morgan gak punya seseorang gitu yang special? Dia kan masih muda tampan dan sudah punya bisnis sendiri di luar keluarga, pasti banyak yang suka padanya kan?" Tanya Hazel yang memang sedikit penasaran.
"Ada, eh bukan, tapi banyak.. cuma yah dia sukanya sama istri orang sih, sekarang udah jadi janda lebih getol lagi nanti dia akan kejar kamu jadi siap-siap saja." Jawab Ana dan Hazel meringis mendengarnya.
"Nah ini salah satu yang ngejer Morgan dah pulang.. " Ujar Marco dan memberikan hapenya yang sudah tertampang sebuah artikel. Hazel yang penasaran lalu melihatnya.
__ADS_1
"Wah ini kan model yang sangat terkenal di NY kan, Shenna!" Pekik Hazel dan Ana mendesah kesal.
"Pengganggu datang deh.. Morgan akan lelah kayanya nih gara-gara manusia satu ini." Kesal Ana membuat Hazel heran.
"Loh kenapa? Dia kan terkenal cantik dan terhormat, yang pasti masih single." Tanya Hazel.
"Dia tuh.. hanya terobsesi sama yang namanya uang dan kehormatan sosial, kami gak suka padanya apalagi mami, duh.. jangan sampai Morgan sama dia, mami bisa jantungan." Jelas Ana dengan wajahnya yang sudah berubah kesal. "Nanti kamu tanya Morgan aja deh ceritanya." Sambung Ana lagi karena dia tau Hazel pasti penasaran dan kepo.
"Yuk kita pulang, aku mau ketemu sama klien lagi." Ajak Marco lalu mereka pamit.
\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~
Morgan sedang bahagia karena rencananya untuk mengejar janda cantik bernama Hazel kini terbuka lebar, dia punya kesempatan dan tidak akan ada yang mengahalanginya. Dia masih duduk di TB sore menjelang malam kemudian Evan menghampirinya.
"Wah udah senyum-senyum sendiri nih.. mentang-mentang sang pujaan hati udah jadi janda." Celetuk Evan dan Morgan makin tersenyum lebar mendengarnya.
"Jangan terlalu senang dulu, susah tau menaklukkan janda cantik itu apalagi Shenna uda kembali, bentar lagi pasti kesini mencarimu." Begitu Evan menyelesaikan kalimatnya Morgan langsung berdiri dan lari. "Aku pergi, jangan suruh aku kesini lagi ya.. laporan kau aja yang urus."
"Huh mending aku di RS aja jagain Ruby dan lihat Hazel tiap hari, oh Hazel.. akhirnya aku bebas mengejarmu." Ucap Morgan begitu masuk ke dalam mobilnya. Benar saja begitu mobil Morgan keluar dari parkiran dia melihat ada Shenna yang turun dari mobilnya di parkiran depan. "Ah.. selamat dari wanita gila itu."
"Om ganteng.." Teriak Amber begitu melihat Morgan buka pintu, dia langsung melompat dan memeluk om gantengnya dengan ceria.
"Kan udah sore om.. " Ujar Amber dan Morgan baru sadar kalau saat itu sudah jam 3 sore.
"Oh iya.. om baru sadar uda sore, tapi kenapa Amber gak ganti baju?"
"Amber kan tadi setelah pulang sekolah langsung kesini sama oma trus oma pergi sama oma Elara sama om Archi, sama om Leo ga tau kemana."
"Ohh.. ya udah.. om mau beli eskrim, ikut ga?"
"IKUT.. tapi gendong yaa.."
"Siap putri cantik."
Morgan kembali mengangkat Amber dalam gendongannya tapi di halangi oleh Hazel yang baru kembali dari toilet.
"Eh Amber kan udah gede, udah SD jadi jangan di gendong lagi nanti om nya capek."
"Ga kok, om kan kuat jadi gak akan capek."
__ADS_1
Morgan nyengir ke Hazel yang tampak cantik dan segar yang mungkin habis cuci muka, "Kami pergi pergi dulu, mama disini aja ya..." Ujar Morgan sambil tersenyum, seakan-akan dia adalah suami Hazel dan Amber anaknya.
Hazel mengerutkan keningnya sambil menatap tak percaya apa yang di katakan Morgan barusan, tapi Morgan malah pergi begitu saja.
"Dasar Morgan.." Gumam Hazel.
Morgan dan Amber pergi ke mini market terdekat dan beli beberapa cemilan dan juga eskrim untuk mereka nikmati malam ini, karena Amber besok libur dan Morgan berencana menemani Hazel sampai tengah malam.
"Amber mau papa baru ga?" Tanya Morgan sambil memangku Amber yang sedang menghabiskan eskrimnya.
"Gak, nanti jahat mirip om Nicho." Jawab Amber membuat hati Morgan seperti terhantam batu yang besar.
"Wah jadi om ga bisa daftar lagi dong untuk jadi calon papanya Amber." Ucap Morgan dengan nada sedih.
"Kalo om boleh kan Amber suka sama om ganteng, terus om kan baik sama mama dan Amber dan Ruby." Morgan tersenyum senang mendengar ucapan Amber yang polos itu.
"Berarti om bisa dong jadi papanya Amber dan Ruby." Amber mengangguk.
"Kalau gitu Amber harus jagain mama supaya gak ada om-om lain yang deketin mama sampai om jadi papanya Amber dan Ruby." Sambung Morgan.
"Iya.. Amber akan jagain mama, gak ada om lain, cuma om ganteng aja yang jadi papanya Amber." Ucapnya lagi.
"Duh kamu pinternya.." Morgan mencium pipi Amber dengan gemas, dia sudah dapat lampu hijau dari Amber dan tinggal menaklukkan mamanya. Setelah Amber selesai dengan eskrimnya Morgan kembali ke kamar Ruby dan disana sudah ada Lusia yang menunggu dan juga Syifa yang baru saja datang.
"Mamiku yang cantik.. " Morgan mengecup pipi Lusia lalu memeluknya dan beralih duduk di sebelah Hazel. Mereka duduk bersama di sofa depan tempat tidur Ruby seperti biasa untuk mengobrol dan menemani Hazel yang setiap harinya disana selama 2 bulan ini. Amber malah bermain dengan Syifa yang telah akrab dengannya.
"Tante dan Morgan sudah banyak bantu kami, entah bagaimana aku bisa membalas budi baik kalian sekeluarga." Ucap Hazel menyambung pembicaraan mereka tadi.
"Jangan di pikirkan, lagian kami juga senang dengan Amber dan Ruby hadir di tengah kami kok." Jawab Lusia.
"Iya jangan pikirkan, tapi kalau mau bisa kau bayar dengan menikah denganku." Ujar Morgan, Lusia langsung melotot menatap anaknya.
"Kau ini, Hazel baru cerai belum 2 hari sudah main nikah aja, tunggu dulu minmal 3 bulan gitu." Ujar Lusia tapi langsung dibantah oleh Syifa yang sudah mendekat ke mereka.
"Ah biasa aja tante, ini undangan dari Mr. Wang buat Morgan, dia nikah minggu depan sama Olivia Martell."
Lusia makin terkejut, pasalnya Nicholas itu paling ganas waktu menolak cerai tapi malah sekarang sudah sebar undangan.
TBC~
__ADS_1