
Kehidupan Hazel makin baik, Nicho juga tidak terlalu sering marah meskipun seperti biasa aktivitas diatas ranjang masih penuh kekerasan, jika banyak wanita di luar sana melayani suaminya dengan baik dan mendapatkan kepuasan, tidak dengan Hazel, dia tidak tau dan tidak pernah merasakan hal yang disebut surga dunia oleh orang-orang, di ranjang dia hanya sebagai pemuas nafsu suaminya dengan cara kasar.
Sejak Tubuh Hazel kembali seperti semula, Nicho makin sering menggaulinya kadang sampai dia pingsan karena sakit akibat pukulan dan kadang cekikan di lehernya membuatnya sulit bernafas dan akhirnya pingsan.
"Ugghh..." Hazel baru terbangun dari tidurnya yang hanya 2 jam, tubuhnya sakit dan terdapat memar baru lagi di lengan dan lehernya. Untung dia banyak stock baju lengan panjang turtle neck yang menjadi andalannya jika suaminya melakukan kekerasan seksual, dia sudah terbiasa.
"Nicho..." Panggil Hazel namun tidak ada jawaban padahal masih jam 5 pagi, dia sejak tadi melayangkan pandanganya melihat sekeliling kamar tapi Nicho memang tidak ada di kamar.
"Baguslah.. huh, sampai kapan ini berlangsung." Gumam Hazel lalu turun dari tempat tidur dan ke kamar mandi, dengan tubuh masih polos seperti biasa jalan santai mengambil bajunya sebelum masuk kekamar mandi.
Hazel memilih untuk berendam saja sejam cukup untuk memulihkan lelahnya dengan air hangat dan aroma therapy hadiah dari Ana untuknya.
"Mamaaa... ayok cepat ma, Amber mau sekolah." Panggil Amber begitu membuka pintu kamar Hazel yang masih bersiap-siap.
"Loh.. ini baru jam 7 sayang, kenapa pagi sekali? Masih ada setengah jam lagi, kamu udah sarapan?" Tanya Hazel sembari menggandeng tangan Amber menuju kamarnya. Untung saja Amber sudah dibantu pelayan bersiap tadi.
"Anak mama.. udah bangun ya.. kenapa kalian pagi sekali sih bangunnya?" Hazel mendatangi Ruby yang sudah bermain dengan salah satu pelayan yang biasa menjaganya. Ruby sudah bisa bicara meskipun masih belepotan dan terbata-bata.
"Maa... mau kut akak..." Celoteh Ruby sejak tadi, jika Amber mengganti seragamnya maka Ruby akan merengek ikut meskipun tidak menangis.
"Iya.. kita akan antar kakak Amber sekolah ya, tapi sarapan dulu." Hazel menggenggam tangan kedua putrinya dan turun perlahan ke bawah untuk menyiapkan sarapan mereka. Setelah mendudukkan Ruby di kursi khususnya Hazel berjalan ke dapur dan mengambil 2 mangkuk bubur yang sudah disiapkan pelayan disana.
"Terima kasih." Ucapnya sambil mengambilnya. Hazel membiarkan Amber makan sendiri dan menyuapi Ruby agar cepat bisa mengantar Amber ke sekolahnya.
Ruby sangat senang dibawa jalan-jalan dengan mobil karena anak itu memang sangat jarang keluar apalagi main di luar, hampir tidak pernah. Setelah menurunkan Amber, Hazel menyuruh supir untuk berkeliling dengan mobil di sekitar rumah sampai Ruby puas, tapi dia sepertinya melihat mobil Nicho saat mereka berkeliling, tapi Hazel tidak ambil pusing karena memang tidak pernah mencampuri urusan Nicho sama sekali.
\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~
Sebulan berlalu dan Hazel sedikit bingung dengan Nicho yang tidak pernah meminta jatah dan itu tidak pernah terjadi selama pernikahan mereka kecuali saat datang bulan, hamil dan melahirkan. Hazel sedikit heran namun lega karena tidak merasakan penyiksaan setiap harinya. Tapi masalah lain datang, setelah dia menjemput Amber pulang dan menidurkan kedua putrinya di siang hari itu Nicho tiba-tiba pulang dengan amarah memuncak.
"Kau kemari!" Hardik Nicho lalu menarik lengan Hazel kuat dan menyeretnya ke kamar lalu menghempaskannya ke atas tempat tidur. Seperti biasa jika dia marah maka ditariknya tali pinggang dan mencambuk ke seluruh tubuh Hazel tanpa ampun.
"Hentikan Nicho.. apa salahku? Stoopp Nicho..." Mohon Hazel dengan suara lirih dan menahan sakitnya, dia memeluk tubuhnya sendiri dan meringkuk di atas tempat tidur menahan perih dan sakit cambukan dari suaminya.
"Apa salahku.. aku gak macam-macam selama ini.."
Nicho tetap mencambuknya dan memukulnya berkali-kali sampai Amber masuk dan menangis keras melihat ibunya di pukul sampai babak belur, Nicho yang mendengar suara tangis Amber pun berhenti dan menatap tajam anak itu lalu mendorongnya minggir dari pintu karena menghalangi jalannya.
"Brengsek!! Aku belum puas menyiksamu wanita murahan." Bentak Nicho setelah sampai di ruang kerjanya dan membanting semua barang yang ada disana.
__ADS_1
Dia mengingat kembali perkataan Olivia beberapa jam yang lalu saat dia menjemput Oliv di bandara kalau Juan akan datang dan merebut kembali Hazel karena dia yang memintanya, hal itu membuat Nicho sangat murka dan melampiaskan kemarahannya pada Hazel tadi.
"Selama ini kau pura-pura jadi istri patuh tapi ternyata kau masih menghubungi mantanmu, dasar kurang ajar!" Teriak Nicho lagi meluapkan emosinya. Dia keluar lagi untuk mencari Oliv untuk menenangkan pikirannya.
Hazel masih menangis sambil memeluk Amber yang juga menangis, dia sangat sedih karena Amber harus menyaksikan dia di pukuli oleh suaminya seperti ini, bagaimana mental anak kecil ini bisa menerimanya.
+//+
Besoknya sorenya Hazel sudah seperti biasa menjalankan aktivitasnya, meskipun rasa sakit masih bisa dia rasakan tapi karena sudah terbiasa dia abaikan saja. Merry juga telah kembali dan baru saja dia masuk sudah membuat Hazel sangat terkejut.
"Olivia?" Ucap Hazel dengan tatapan tak percaya kalau mantan sahabatnya ada di rumahnya dan ibu mertuanya yang mengajaknya.
"Kenapa? Ada masalah?" Tanya Merry dengan nada tidak bersahabat.
"Ma, dia..."
"Dia tamuku jadi cepat buatkan minum dan antar ke ruang keluarga." Titah Merry dan berlalu pergi diikuti oleh Oliv yang tersenyum sinis.
Hazel segera menyiapkan minuman untuk mertuanya dan Oliv, dia melihat dari jauh kedua wanita beda usia itu ngobrol dengan sangat dekat bahkan tertawa dan bercanda bersama.
"Silakan ini minumnya." Ujar Hazel sambil meletaknya 2 gelas jus di meja depan mereka.
Hazel berhenti lan berbalik melihat mertuanya lagi sambil melirik ke arah Oliv yang masih tersenyum sinis.
"Mulai hari ini Olivia akan tinggal disini dan kau layani dia dengan baik dia tamuku dan calon istri Nicho setelah dia menceraikanmu." Ucap Merry dan mengibaskan tangannya lagi untuk mengusir menantunya.
"Baik ma.." Jawab Hazel dan pergi dari sana, dia memutuskan untuk kembali ke kamar saja karena Amber dan Ruby sedang tidur dari siang tadi.
"Huh.. baguslah kalau Nicho mau ceraikan aku, akan kuserahkan suami dan mertua kejam itu untuk Oliv saja." Gumam Hazel pelan lalu bermain dengan hapenya meskipun tidak ada apa-apa disana namun dia masih suka melihat sosial media untuk mengetahui perkembangan dunia luar meskipun dia tidak pernah keluar untuk menikmati hidupnya lagi di luar sana.
\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~
"Nyonya, aku akan kembali ke hotel dulu untuk ambil barang-barangku ya." Izin Oliv pada Merry dan dia segera mengangguk dan menyuruh pelayan siapakn mobil untuk mengantar Oliv.
"Kamu diantar supir ya, nanti kembali lagi dengan mobil ini aja." Oliv langsung tersenum dan memeluk Merry dengan hangat Merry juga membalas pelukannya.
Oliv sedang ada di kamar hotelnya dan melompat bahagia akhirnya bisa mengambil hati Nyonya Wang itu, "Akhirnya 1 langkah lebih dekat untuk menjadi nyonya di rumah keluarga kaya raya itu, aahhh Olivia kamu memang pintar." Ucapnya dengan wajah ceria sambil membayangkan bisa menghamburkan uang dan bergaya seperti sosialita yang menjadi impiannya. Khayalannya terusik saat hapenya berdenting menandakan ada pesan chat yang masuk.
"Aku akan kesana minggu depan jadi siap-siap ya sayang." Isi pesan itu membuat Oliv semakin tersenyum bahagia.
__ADS_1
"Hahaha kalau uang aku dapat dari Nicho, kalau kepuasan aku dapat dari kamu, aku menunggumu sayang..." Balas Oliv.
Setelah mengambil kopernya dia kembali ke rumah keluarga Wang dan disana Nicho dan Merry sudah menunggunya untuk makan malam bersama, ada Hazel dan anak-anak mereka juga yang sudah duduk manis.
"Maaf kalian harus menungguku begini, aku jadi tidak enak.." Ucap Oliv dengan wajah memelasnya merasa bersalah.
"Gak kok, kami baru juga duduk. Ayo sini duduk di samping tante eh, panggil mama aja deh.." Ucap Merry sambil menepuk kursi di sebelahnya.
Oliv tersenyum mendengarnya kemudian duduk di samping Merry pas di depan Amber, bocah itu sangat tidak suka dengan sosok wanita cantik di depannya dan sejak tadi mengerutkan keningnya melihat ke Oliv.
"Hei bocah! Ngapain kamu melihat Oliv dengan begitu? Hazel, ajarin anak kamu sopan santun." Bentak Merry pada Hazel.
"Amber, jangan begitu tidak sopan, panggil tante Oliv." Ucap Hazel tapi Amber memilih diam dan menunduk, dia juga paham tidak boleh membuat mamanya terkena masalah.
"Tidak apa ma, namanya juga anak kecil, belum kenal juga mungkin masih takut." Bela Oliv dengan suara lemah lembutnya.
Merry sangat senang dengan Oliv yang terlihat anggun, baik dan terhormat tidak seperti Hazel yang hanya cantik dan pintar merawat diri tapi tidak bisa apapun. Kalau Oliv, dia pintar dan bekerja di kedutaan sebelum masuk ke perusahaan mereka sebagai asisten pribadinya Nicho.
"Jadi Oliv akan tinggal disini, sekarang dia adalah asisten pribadiku yang mengurus semua hal di perusahaan dan keuangan rumah tangga disini, mama akan kembali ke HK cukup lama jadi sementara Oliv akan menggantikan tugas mama." Jelas Nicho pada semua orang.
Tentu Oliv sangat senang dan Hazel hanya megangguk, dia juga tidak berharap banyak dari keluarga ini, yang penting dia bisa hidup tenang dan anak-anaknya tercukupi, setelah ayahnya bebas dia akan minta cerai.
Setelah makan malam, Hazel mengantarkan Amber dan Ruby kembali ke kamar mereka dan bermain sebentar, jangan tanyakan Nicho karena dia seperti tidak sadar telah mempunyai anak, bahkan Ruby saja tidak mengenalnya.
Setelah menidurkan kedua putrinya Hazel kembali ke kamarnya tapi begitu membuka kamar dia malah mendapatkan pemandangan menjijikkan.
"Ah maaf." Hazel menutup kembali pintu kamar dan berbalik, dia melihat Oliv dan Nicho yang sedang berciuman mesra di sisi tempat tidur. Belum juga 2 langkah Oliv sudah keluar dan memanggilnya.
"Maaf Hazel, Nicho yang menarikku ke kamar kalian." Ucap Oliv dengan nada menyesal yang terdengar dibuat-buat.
"Lanjutkan saja, aku gak peduli, lagi pula kau kan sudah biasa merebut punyaku." Jawab Hazel dengan menyindirnya, karena Hazel tau dulu Oliv yang membuat Juan tidak mau bertanggungjawab padanya dan malah berhubungan di belakang mereka sejak lama.
"Ah kau masih percaya dengan omongan Darius waktu itu? Hazel Hazel.. jangan bodoh, aku dan Juan gak ada hubungan apapun, Darius hanya cemburu karena aku menolaknya." Jelas Oliv tapi Hazel tidak mau memikirkannya lagi karena semua hanya masalalu.
"Terserah saja, gak ngaruh apapun lagi saat ini. Silakan lanjutkan saja aku izinkan kau menggunakan kamar itu, aku akan tidur di kamar anak-anak." Hazel berbalik dan pergi dari Oliv yang tidak berhasil membuat Hazel marah ataupun sedih.
"Ck! Kenapa dia gak sedih sedikitpun? Ah.. aku harus cari cara lain agar dia makin menderita." Ucap Oliv dalam hati lalu kembali ke kamar Hazel dan Nicho untuk melanjutkan kegiatan mereka.
TBC~
__ADS_1