
"Kau ini, Hazel baru cerai belum 2 hari sudah main nikah aja, tunggu dulu minmal 3 bulan gitu." Ujar Lusia tapi langsung dibantah oleh Syifa yang sudah mendekat ke mereka.
"Ah biasa aja tante, ini undangan dari Mr. Wang buat Morgan, dia nikah minggu depan sama Olivia Martell."
Lusia makin terkejut, pasalnya Nicholas itu paling ganas waktu menolak cerai tapi malah sekarang sudah sebar undangan.
"Jadi mereka nikah juga hahahah selingkuh begitu lama.." Tawa Morgan lalu mengambil undangan itu dan melihatnya.
"Mereka harus menikah, Oliv sudah hamil mungkin sekarang sudah 4 atau 5 bulan." Ucap Hazel santai. Lusia terkejut mendengar ucapan Hazel, "Ha? Sudah 4 atau 5 bulan.. berarti.."
"Mereka memang sudah sekamar sejak Oliv tinggal di rumah." Sambung Hazel lagi.
"Tinggal serumah dan sekamar? Ya ampun Hazel, kok bisa sih kamu tahan dengan itu semua." Pekik Lusia tak percaya.
"Begitulah tante, aku sama sekali ga punya perasaan apapun pada Nicho, sebelumnya aku menganggap dia teman baik tapi setelah menikah malah dia sangat kejam, aku jadi gak kenal dia lagi, dia seperti orang lain." Jelas Hazel lagi.
"Sudah.. jangan bicarakan mantan." Protes Morgan karena itu akan membuka luka yang di alami Hazel selama ini, meskipun dia tidak mencintai mantan suaminya tetapi tetap saja mereka suami istri dan Morgan juga tidak suka Hazel memikirkan mereka.
"Iya aku juga ga mikirin mereka lagi, aku hanya ingin hidup tenang bersama anak-anakku, bertiga dan aku harus mulai mencari pekerjaan, rumah dan mulai hidup baru, aku harap Ruby akan cepat bangun." Hazel menarik napas dan membuangnya kasar.
"Ruby pasti bangun, dokter bilang gak ada yang perlu dikawatirkan, dia sudah sembuh dan sering-seringlah ajak bicara dan suruh dia bangun." Lusia menenangkan Hazel yang mulai sedih lagi.
"Jadi mengenai undangan ini mau hadir ga? Soalnya yang dapat undangan selain Morgan juga ada Damian dan Tuan Archer dan banyak kolega bisnisnya trus sepertinya Olivia juga mau ngundang Hazel deh karena kemarin dia datang mau ketemu tapi di hadang sama pengawal baru saja di lantai bawah." Tanya Syifa kemudian Hazel menggeleng.
"Aku ga mau ah, malas dan ga ada untungnya ke pernikahan mereka." Tolak Morgan malas.
"Ya sudah kalo ga mau, biar aku infoin ke sekretarisnya karena acara ini private dan hanya yang bawa undangan yang bisa masuk." Jelas Syifa lagi sambil menyimpan kembali undangan itu.
"Jadi dia seminggu langsung nikah.. kalau gitu aku akan lamar kamu bulan depan." Ucap Morgan sambil melirik ke arah Hazel yang kini menoleh padanya dengan kening berkerut.
"Apa maksudmu melamarku? Aku ini jauh lebih tua darimu Morgan, carilah wanita yang sesuai, kamu masih muda dan lebih cocok dengan wanita yang seumuran atau lebih muda darimu. Aku sudah punya 2 anak dari 2 pria berbeda." Jelas Hazel, dia tidak enak dan melirik terus ke arah Lusia yang sedang menahan senyum.
__ADS_1
"Aku akan jadi yang ketiga kalau begitu." Seru Morgan, "Kamu akan dapat berondong tampan dan tajir." Sambungnya lagi.
"Ck.. Morgan.. jangan memaksa Hazel, kamu ini kalau mau lamar wanita itu yang romantis dong.." Tegur Lusia pura-pura kesal dengan mengibas tangannya ke wajah Morgan agar dia sadar.
"Mami.. Morgan ini ga pernah rayu wanita untuk jadikan istri, para wanita yang selama ini merayu Morgan jadi yah.. hehehe Morgan gak ngerti." Jawab Morgan dan Lusia melirik ke arah Hazel, "Hazel.. pokoknya jangan mau nikah sama dia kalo dia belum jadi pria romantis."
Hazel menarik napasnya dalam-dalam untuk menenangkan hati dan pikirannya, padahal dia sudah coba jaga jarak dengan Morgan tapi si berondong tampan itu selalu memberikan perhatian yang sulit ditolak oleh Hazel apalagi ada Amber dipihaknya.
"Mami mau pulang ah, udah hampir jam makan malam nanti papi kamu berisik kalo mami gak ada. Hazel tante pulang ya.. " Pamit Lusia lalu mendekati Amber yang sedang membuat pe'er nya di tempat tidur pas di sebelah Ruby sambil sesekali mengajaknya berbicara.
"Amber mau ikut oma atau om Morgan?" Tanya Lusia.
"Amber ikut om papa ajah." Jawab Amber sambil tetap menulis buku pe-er nya.
"Om papa?" Tanya Lusia dan Hazel dengan bingung.
"Iya.. om ganteng kan bentar lagi jadi papanya Amber sama Ruby." Jawab Amber dengan wajah polosnya melihat ke arah Lusia dan Hazel bergantian. Sementara Morgan tersenyum senang mendengarnya.
"Enak aja, tanya sana sama Amber." Bantah Morgan dengan sewot.
"Amber.. kenapa tiba-tiba om gantengmu jadi papa?" Tanya Syifa pada Amber yang masih asik menulis.
"Iya, kan om ganteng suka sama mama dan baik, sayang sama Amber sama Ruby jadi cocok kalau mama nikahnya sama om papa." Jawab Amber.
"Terus om Nicho gimana?" Tanya Syifa lagi.
"Kan mama sudah ga tinggal sama om Nicho lagi, kata teman Amber papa dan mamanya ga tinggal bareng lagi berarti sudah cerai artinya berpisah dan boleh nikah lagi. Jadi mama nikahnya sama om papa aja, jangan sama yang kaya om Nicho, jahat." Jelas Amber kemudian dia menutup bukunya dan merapikan alat tulisnya.
"Tuh.. dengerin kata Amber, makanya kita cocok jadi nikah aja yuk.." Ujar Morgan pada Hazel yang masih duduk di sebelahnya.
"Jangan ngawur aahh.." Sahut Hazel lalu menghampiri Amber dan membantunya merapikan buku-bukunya.
__ADS_1
"Amber ga takut kalau mama akan di jahatin lagi kalau nikah?" Tanya Hazel tapi Amber langsung menggeleng kuat.
"Oma baik, om papa juga baik." Jawab Amber, Lusia mengelus lembut kepala Amber.
"Iya, oma kan sayang sama Amber jadi.. bujuk mama kamu biar mau nikah sama om papa, ok?" Bisik Lusia lalu dia pamit pulang. "Dah... Hazel, tante pulang ya."
"Bye tante, terima kasih dan hati-hati." Sahut Hazel, "kamu juga pulang Syifa?" Tanya Hazel pada Syifa yang juga sedang mengambil tasnya dan bersiap pulang.
"Iya nih, ada kumpul sama temen, bye semua.." Syifa juga pergi dan kini tinggal Morgan dan Hazel juga Amber yang menemani Ruby.
"Jadi tinggal kita disini, lihat kita sudah mirip sebuah keluarga Hazel." Ucap Morgan, tangannya menggenggam tangan Hazel dan mengelusnya lembut, mata mereka saling bertatap.
"Morgan, aku mohon.. aku gak mau punya hubungan seperti ini dulu apalagi Ruby masih belum bangun, setidaknya beri aku waktu karena aku sudah lelah dengan 2 pria yang telah masuk ke hidupku, dan aku takut untuk menikah lagi." Tolak Hazel memberi penjelasan.
"Tapi jangan larang aku untuk terus mengejarmu ya.. aku sudah terbiasa setiap hari melihatmu bersamamu dan Amber,Ruby juga jadi jangan larang aku jika terus ada di sisimu seperti sebelumnya." Ucap Morgan lirih, Hazel mengangguk pelan, dia juga tidak tega melihat Morgan tapi mau bagaimanan lagi, Amber juga sangat sayang pada Morgan.
"Tapi janji satu hal, aku akan cari kerja dan membayar semuanya padamu, biaya pengobatan dan kamar ini pasti sangat mahal." Pinta Hazel. "Atau kamu ambil aja uang tunjangan dari Nicho untuk biaya pengobatan Ruby. Sambungnya lagi.
"Gak mau, aku juga sudah anggap Ruby anakku sendiri dan kamar ini gratis Hazel, ini kamar khusus untuk keluarga jadi kamu jangan cemas dengan biaya." Tolak Morgan sambil mendudukkan Hazel kembali si sofa.
"Hazel, aku ingin kamu bahagia dan aku bisa, Amber dan Ruby akan mendapat keluarga yang utuh yang normal yang menyayangi mereka dengan tulus, lihat mami dan papi sangat menyayangi mereka, liat abang dan kakak, mereka juga suka sama Amber, jadi jangan ragu Hazel, aku sangat yakin dengan perasaanku."
Hazel menatap mata Morgan yang sedang membujuknya, tidak dipungkiri ada rasa bahagia mendengarnya, di dalam mata Morgan juga tidak terdapat keraguan atau kebohongan.
"Untuk sekarang aku tidak bisa, aku hanya pikirkan Ruby tidak ada yang lain. Jika Ruby sudah sadar dan sembuh nanti kita bicarakan lagi." Ucap Hazel dan Morgan mengangguk lalu berdiri dari duduknya dan menghampiri Ruby yang masih tertidur, dia duduk di samping Ruby dan mengelus pelan kepala dan wajah gadis kecil itu.
"Ruby cantik.. om gateng tunggu Ruby bangun yah, kalau cepat bangun nanti om akan jadi papanya Ruby yang paling baik dan ganteng sedunia. Nanti kita bisa pergi jalan-jalan, beli mainan dan Ruby bisa sekolah kaya kakak Amber dan punya banyak teman. Jadi Ruby cepat bangun ya.."
"Iya.. nanti kita berenang lagi sama opa dan om papa, Ruby bisa main perosotan, opa sudah bikin perosotan di kolam renang nanti bisa main juga sama dedek bayinya onti Imel dan onti Yana." Sambung Amber yang sejak tadi di samping Ruby.
"Ya Tuhan, apakah ini memang awal kebahagiaan? Apakah Morgan memang seseorang yang dikirimkan untuk kami? Aku belum bisa mencintai siapapun selain anak-anakku dan apakah ini pantas untukku?" Batin Hazel melihat kedekatan Morgan dan kedua anaknya saat ini, apalagi Amber memang butuh seorang ayah untuk melindunginya, Hazel yakin anak-anaknya akan tumbuh menjadi gadis cantik yang akan membuat mereka sendiri repot, harus ada sosok ayah yang melindungi mereka tapi apakah itu memang Morgan?
__ADS_1
TBC~