
"Selamat siang Bu Retno, ada apa memanggil saya kembali?" Tanya guru muda itu pada kepala sekolah yang tidak terlihat senang.
"Bukan saya yang memanggilmu." Jawab Bu Retno ketus.
"Saya yang panggil kamu, siapa namamu dan bisa jelaskan apa yang terjadi pada Amber?" Tanya Syifa dan gadis itu memandang ke arah Amber dengan perasaan bersalah.
"Nama saya Sierra dan biasanya anak-anak memanggil saya Bu Rara, saya hanya guru kontrak disini dan sudah 1 tahun ini saya mengajar di kelasnya Amber. Dia anak yang baik, pintar dan rajin, banyak teman juga, tidak pernah berbuat masalah kecuali dengan anak bernama Miranda." Rara melirik sekilas ke anak kecil yang sedang duduk bersama ibunya di salah satu kursi di ruang kelas itu.
"Jangan bertele-tele, kau jelaskan yang benar!" Hardik Bu Retno membuat Rara sedikit ketakutan. Morgan melihat dengan kesal kelakuan kepala sekolah yang ada di depannya itu.
"Tolong Bu Retno tenang dulu biar Bu Rara menjelaskan." Tegur Syifa yang akhirnya kepala sekolah itu diam tetapi masih dengan wajah tidak senang.
"Awalnya Amber dan Miranda berteman dengan baik tapi karena Amber kali ini dapat juara 1 di kelas Miranda sedikit berubah karena biasanya dialah yang menjadi juara 1, saya tidak ingin membicarakan tentang itu tapi saya tekankan kalau kejadian ini di picu oleh Miranda yang menjelekkan Amber hingga dia marah dan mendorong Miranda, tapi saya yakin 100% kalau Amber tidak menyakiti Miranda karena Miranda didorong dan terjatuh duduk di kursi." Jelas Rara lagi dan terlihat ibunya Miranda sangat marah dan menelepon seseorang.
"Bagaimanapun Amber yang duluan menggunakan kekerasan dan kamu sebagai guru bukannya membela yang benar malah membenarkan anak bermasalah itu." Ujar Bu Retno dengan nada tinggi.
"Maaf Bu Retno saya tidak membela siapapun disini, buktinya saya menghukum keduanya dan saya juga ingin bertanya pada anda alasan kenapa saya di pecat?" Jawab Rara karena dia merasa tidak bersalah, mungkin tadi dia diam saja karena semua guru seakan memojokkannya tapi saat ini ada Syifa yang pasti akan memberikan keadilan untuknya.
"Tentu saja kamu akan saya pecat, beraninya kau menghukum Miranda, kau tak tau dia siapa?" Bu Retno berteriak lantang.
"Memangnya siapa dia?" Akhirnya Morgan bersuara.
"Miranda keponakan dari wakil direktur yayasan HS jadi sepatutnya dia dibela disini dari pada anak tidak jelas asal usulnya itu." Jawab Bu Retno yang makin membuat Morgan marah, rahangnya mengeras dan tangannya mengepal kuat.
"Aku tidak masalah jika anakku dihukum karena bersalah, tapi anda sebagai kepala sekolah tidak pantas untuk berbicara begitu! Saya belum membuat perhitungan dengan kalian karena luka yang dialami anakku." Hazel berteriak marah, Morgan menghampirinya dan menenangkannya.
"Amber.. apa yang dikatakan oleh temanmu itu sampai anak manis seperti kamu sampai marah hem?" Tanya Morgan lembut dan Amber menatap Miranda terus tapi Miranda malah bersembunyi dibelakang ibunya.
"Mira bilang kalau Amber anak haram dan mama mirip pelacur." Ujar Amber dengan polosnya sontak membuat Morgan semakin marah tapi dia menahannya.
__ADS_1
"Amber tau apa artinya itu?" Amber menggeleng, "Amber tanya ke bapak yang jual minum di depan katanya itu sesuatu yang jelek dan gak boleh dikatakan tapi Mira terus tiap hari bilang gitu. Katanya mamanya yang bilang." Jelas Amber lagi.
Hazel sudah menangis mendengar penjelasan Amber dan mendekapnya. Morgan berbalik dan menatap marah ke arah ibunya Miranda yang tertunduk tetapi tidak ada sedikitpun rasa bersalah diwajahnya.
"Sudah jelas kan Bu Retno jadi dalam hal ini keduanya bersalah dan yang paling bersalah adalah seorang ibu yang tidak bisa menjaga tutur katanya sampai anak mengikuti hal jelek itu." Kesal Syifa dan Bu Retno seakan tidak terima dengan perkataan Syifa padanya.
"Tapi mba Syifa, tetap saja Amber itu bermasalah dan tidak dididik dengan baik, sebelum dengan Miranda juga memukul Josef dan Helga." Timpal Bu Retno dan Rara langsung protes, "Bukan begitu Bu, Amber hanya membela diri karena mereka berdua mengambil tugasnya."
"Jangan bilang kalau Bu Retno juga membela kedua anak itu karena latar belakang keluarganya?" Tanya Syfa menebak.
"Tentu saja, mereka anak dari donatur tetap disini." Jujur Retno yang makin membuat Morgan kesal.
"Syifa! Kenapa orang seperti ini bisa jadi kepala sekolah?" Tanya Morgan dengan amarahnya yang telah memuncak.
"Mana aku tau, kan yang seleksi dari manajemen bukan aku." Jawab Syifa kesal padahal Morgan lah yang harusnya menyeleksi ulang kepala dan wakil kepala sekolah disini.
"Kalau gitu pecat dia sekarang juga!" Bentak Morgan.
"Jangan seenaknya kalian, saya ini bukan sembarang orang yang bisa kalian pecat. Kakak saya adalah istri wakil direktur yayasan HS dan kalianlah yang akan dipecat nanti." Ujar Bu Retno yang makin membuat Morgan naik pitam.
"Kalau gitu pecat juga wakil direktur itu, kerjanya juga ga becus." Titah Morgan lagi dan Syifa mengangguk patuh.
"Siapa kamu berani memecat orang sembarangan?" Bentak Bu Retno yang malah membuat keadaan makin rumyam. Lalu tiba-tiba masuk seorang pria yang tengah panik dan marah mencari Miranda.
"Miranda anak kesayangan daddy, mana anak yang mengganggumu nak?" Tanya pria itu yang merupakan ayahnya Miranda.
"Itu honey, anak ga jelas asal usulnya." Tunjuk ibunya Miranda ke Amber dan Hazel tak jauh dari tempat duduknya.
"Jadi kamu? Pantas saja, ibumu begitu cantik cocok jadi pelacur dan kamu anak gak tau sopan santun." Bentak ayahnya Miranda dan langsung membuat Morgan naik pitam dan melayangkan sebuah pukulan telak di wajah pria itu.
__ADS_1
"Sekali lagi kau katakan itu, aku akan membuatmu masuk liang kubur." Bentak Morgan dengan kilatan amarah di matanya.
"An anda.. Tuan Morgan?" Ujar pria itu terbata-bata.
"Siapa kamu?" Tanya Morgan karena pria itu sepertinya mengenalnya.
"Haduuhh.. dia itu direktur keuangan baru yang menjabat 4 bulan lalu Morgan." Syifa yang menjawab karena Morgan bahkan tidak tau siapa saja bawahannya.
"Kalau gitu pecat dia juga, dan anaknya jangan biarkan masuk ke sekolahku dalam negri ataupun luar negri." Titah Morgan lagi dengan begitu marahnya, pria itu langsung berlutut dan juga Retno yang terpaku karena baru saja mengetahui kalau pria muda yang ada di depannya sejak tadi adalah Morgan Aelisius Hastanta pemilik tempat dia dan keluarganya bekerja.
"Aku gak mau tau, Sipa urus mereka." Morgan menggendong Amber lalu menarik Hazel keluar kelas, "Dan kau guru Rara ikut kami." Morgan berbalik lagi dan Rara juga mengikuti mereka.
"Kalian ini menambah pekerjaanku saja.. huh.. Bu Rere bantu aku saja disini." Ucap Syifa malas karena setelah ini pasti Morgan akan menyuruhnya mengecek semua latar belakang guru dan staff di seluruh sekolah.
Morgan membawa Hazel dan Amber masuk ke ruangan khususnya jika berkunjung ke sekolah dan Rara masih mengikuti mereka.
"Amber mau disini atau tidur dulu? Capek kan?" Tanya Morgan dan Amber memilih tidur saja karena dia lelah habis berantem dengan Miranda dan menangis. Morgan membawanya ke ruang di belakang kursi kerjanya dan disana ada sebuah ruangan kecil dengan sofa panjang.
"Jadi Bu guru Rara, bisa anda jelaskan kenapa ibunya Miranda bisa tau kalau Amber tidak punya ayah?" Tanya Morgan setelah kembali ke tempat duduknya.
"Jadi begini Pak, sejak awal saya mengajar di kelas Amber sebenarnya dia anak yang paling pintar dan nilainya sempurna tapi dia tidak bisa mendapatkan juara 1 karena tidak pernah mengerjakan tugas mengarang dan tak pernah hadir dalam acara yang melibatkan orang tua. Saya pernah bertanya dan katanya dia tidak punya ayah dan ibunya tidak bisa keluar dari rumah karena ayah barunya sangat jahat. Dia juga bilag kalau tidak ada hal bahagia yang terjadi di rumahnya." Rara berhenti sejenak karena tidak enak dengan Hazel yang duduk disampingnya.
"Tidak apa-apa lanjutkan saja." Ujar Hazel.
"Tapi beberapa bulan belakangan ini saya lihat dia semakin ceria dan ketika saya tanya Amber bilang, mungkin dia akan punya ayah baru lagi. Lalu dia mulai mengerjakan tugas mengarang yang saya berikan dan membacakanya di depan kelas. Ini..." Rara menyodorkan sebuah buku tugas Amber dan Hazel membacanya. Hazel tidak tahan lagi dan menangis saat itu juga. Morgan yang penasaran pun mengambil buku itu dan membacanya, dia malah tersenyum.
Ada nama om ganteng yang berubah menjadi om papa lalu Amber berharap akan berubah lagi menjadi papa, dan harapan Amber adalah ingin ikut lomba olahraga di sekolah dengan mama dan papa, pergi karya wisata dan jalan-jalan dengan mama dan papa.
"Ini dia bacakan di depan kelas?" Tanya Morgan dan Rara mengangguk. Pantas saja ibu dari Miranda bisa mengetahuinya, semua perasaan Amber tertuang di buku tugas itu.
__ADS_1
TBC~