
Meeting berlangsung cukup lama karena Morgan kurang puas atas kinerja yang dihasilkan oleh tim pemasaran sehingga dia ingin mengganti brand Ambassador dengan kelompok idola yang sedang digandrungi oleh remaja saat ini. Tentu hal itu membuat Shenna sangat marah, sebab dia masih disana dan Morgan dengan lugasnya ingin menggantinya.
Namun saran Morgan di tolak sebab kontrak dengan Shenna baru berjalan 1 bulan dan masih ada 11 bulan lagi untuk menggantinya. Setelah perdebatan yang lumayan alot, akhirnya mereka sepakat untuk menggunakan kelompok idola itu hanya untuk promosi saja bukan menjadi Brand Ambassador seperti Shenna.
Meeting di tutup dengan baik oleh Morgan dan Fano terlihat bangga dengan adiknya itu, "Bang ke kantor dulu yuk, Morgan mau bicara." Ajak Morgan dan Fano mengikutinya.
"Abang tau kok cuma alasan kan agar si Shenna ga ngejar kamu sampai kesini." Bisik Fano ketika mereka masuk ke lift.
"Hehehe abang tau aja, hah.. belum bisa singkirin wanita itu untung aja Hazel ga ikut meeting ini kalo gak bisa jadi sasaran empuk si Shenna. Hazel sangat baik dan lemah lembut takutnya dia akan kalah kalo berantem sama Shenna bang."
"Kamu itu.. jangan sampe lah.. tugas kamu untuk jagain wanita yang kamu cintai jangan sampai di sakiti oleh orang lain seujung rambut pun tak boleh tersentuh." Tegas Fano.
"Iya abang Fano... kalo Imel kan memang lemah ya, jadi harus ekstra hati-hati, kalau Hazel sih.. Morgan udah tempatkan banyak pengawal juga." Sambung Morgan sambil berjalan dan masuk ke dalam kantornya menceritakan semua pengawal yang ditempatkan oleh Morgan..
Didepan rumah Hazel ada warung kecil pemiliknya adalah seorang ibu tua dan disana ada sekelompok pemuda pengangguran yang setiap harinya bermain catur dan minum kopi tapi sebenarnya adalah pengawal yang ditempatkan oleh Morgan. Lalu tukang ojek di perempatan jalan kecil menuju rumah Hazel juga adalah pengawalnya. Bahkan sampai penjual minuman di depan sekolah adalah pengawal yang dikhususkan untuk menjaga Amber.
"Wah sampai sebegitunya Morgan? Gila.. adiknya abang nih sejak kapan jadi dewasa?" Goda Fano melihat keseriusan dari Morgan yang begitu menjaga Hazel. Tanpa mereka tahu kalau Hazel sejak tadi mendengar pembicaraan mereka, Morgan lupa kalau Hazel masih ada di dalam ruangan itu. Hazel tadi hendak keluar tapi karena ada Fano dia jadi malu dan memilih menunggu saja sambil menguping pembicaraan kedua saudara itu.
"Jadi kapan kalian akan nikah?" Tanya Fano dan Hazel kembali menajamkan telinganya untuk mendengar jawaban Morgan.
"Morgan tunggu Hazel saja, Morgan ga mau maksa dia kalau dianya belum siap bang, lagian dengan Hazel dan anak-anak disisi Morgan sudah lebih dari cukup."
Hazel yang mendengar jawaban Morgan jadi tersenyum, dia sungguh tak menyangka Morgan tidak mau memaksanya tapi, "Apa yang gak mau maksa? udah 3 kali kami melakukannya. Huh.. dasar berondong!" ucap Hazel pelan tapi dia merasa senang.
+//+
2 bulan berlalu dan Morgan masih setia membujuk Hazel untuk mau menikah dengannya sampai dia benar-benar melakukan apapun untuk Hazel seperti sekarang, Hazel entah kenapa sangat ingin makan roti bakar coklat dengan topping keju yang banyak tapi harus Morgan yang masak kalau memang mencintainya. Morgan yang sama sekali tidak pernah masak pun langsung pergi untuk menyiapkan.
"Tunggu disini, jangan kemana-mana." Ujar Morgan dan segera ke lantai 4 menuju cafe nya dan memerintahkan koki disana untuk mengajarinya membuat roti bakar. 2 kali gagal dan ketiga kalinya dia berhasil, meskipun hampir 1 jam dia membuat roti bakar permintaan Hazel.
"Sayangku.. ini roti bakarnya." Morgan memberikan box berisi roti bakar dan Hazel segera memakannya dengan lahap sampai habis.
__ADS_1
"Wah enak.. bisa nih tiap hari." Hazel melirik Morgan yang tengah tersenyum penuh arti.
"Boleh.. tapi aku juga minta jatah tiap hari."
"Jatah apaan.. kan kita belum nikah dan kamu yang suka nyosor dan maksa aku."
"Loh kok maksa? Kan kamu juga suka."
"Salahmu karena membuatku terlena dan khilaf."
"Tapi kan kamu suka makanya khilaf."
"Ck.."
Hazel sangat kesal, apa lagi akhir-akhir ini dia sangat ingin di dekat Morgan dan selalu ingin dipeluk tapi dia malu untuk mengutarakannya makanya dia selalu mengerjai Morgan dengan permintaan anehnya.
"Sudah balik sana, bentar lagi mba Lia dan yang lainnya datang kan bahaya kalau ada yang lihat." Usir Hazel tapi Morgan malah mengecupnya sebelum masuk ke ruangannya lagi.
"Berkelahi? Amber?" Tanya Morgan tak percaya.
"Iya.. Amber berkelahi, wali kelasnya baru saja menelepon." Jawab Hazel lagi.
"Siapa yang berani memukulnya? Akan kuberi pelajaran, panggil orang tua murid itu juga." Bentak Morgan dengan amarahnya.
"Bukan Morgan tapi Amber yang memukul temannya." Morgan tak percaya, Amber gadis manis dan baik kenapa bisa memukul temannya?
Mereka berdua pergi ke sekolah dan memang di sana tidak ada yang mengenal siapa Morgan karena biasanya Syifa yang mengurus segalanya.
"Dimana Sipa?" Tanya Morgan pada wali kelas Amber.
"Maaf Pak, ini hanya masalah kecil dan kita akan selesaikan sendiri." Jawab wali kelas tapi Morgan sangat kesal karena ada luka gores di pipi dan dahi Amber. Putri cantiknya terluka dan wali kelas itu bilang masalah kecil.
__ADS_1
"Panggil Sipa sekarang juga? Kau lihat wajah Amber terluka begitu dan apa ini? Kenapa Amber sejak tadi berdiri sendirian tak ada 1 pun guru yang menemaninya? Kalian sibuk mengurusi anak itu yang bahkan tidak ada luka sedikitpun." Amuk Morgan dan wali kelas itu langsung menghubungi kepala sekolah. Sedangkan Hazel sedang duduk sambil mendekap Amber yang sedang menangis.
"Ada apa ini?" Tanya kepala sekolah yang baru datang, wanita setengah baya dengan sanggul tinggi menjulang, makeup tebal dan kacamata, berjalan dengan wajah angkuhnya melihat Amber dan Hazel.
"Ohh Amber lagi? Maaf ya Ibu Hazel, anak ibu ini memang saya akui pintar tapi sikapnya sangat kurang ajar. Mungkin anda perlu mengajarinya lagi atau mungkin dia mirip dengan ayahnya kah? Karena melihat sikap anda terlihat baik dan sopan." Ujar kepala sekolah, Morgan masih diam karena dia ingin mendengar semua lebih dulu.
"Benar, tapi apakah dia bahkan tau siapa ayahnya? Aku dengar Amber itu anak haram dan anda menikah lagi dan cerai. Pantas saja anak anda tidak terdidik dengan baik." Sambung ibu dari temannya Amber yang dia pukul tadi.
"Jaga ucapan anda nyonya, aku menikah dan cerai tidak ada urusannya dengan anda dan saya telah mendidik anak saya dengan sangat baik!" Sahut Hazel masih sopan tetapi dengan nada menekan.
"Ah alasan, buktinya anda masih menggoda pria dengan kecantikan anda, buktinya pria muda ini."
"Ada apa Ibu Rere?" Syifa akhirnya datang tapi Morgan telah memberi kode untuk diam saja mengenai siapa dirinya.
"Wali kelas Amber yang bernama Rere langsung menghampiri Syifa dan menceritakan semuanya, di dengar juga oleh Hazel dan Morgan.
"Jadi? Kenapa hanya anakku saja yang disalahkan? Bukankah anak anda yang lebih dulu menghina Amber?" Tanya Hazel tidak terima.
Amber ternyata sering sekali mendapat ejekan dari teman-temannya karena tidak pernah membawa ibu dan ayahnya ke sekolah untuk menghadiri acara. Hazel juga baru tau karena selama ini dia tidak pernah melihat 1 pun surat atau pemberitahuan yang ditujukan padanya.
"Hm.. maaf ibu Hazel, saya juga kurang tau mengenai ini tapi sebelum saya ada guru yang lumayan dekat dengan Amber." Ujar wali kelas tetapi kepala sekolah malah tidak mengizinkan guru itu datang karena baru saja dia dipecat.
"Ga bisa guru itu baru saja saya pecat." Sergah kepala sekolah.
"Cepat suruh guru itu datang!" Titah Morgan dan melirik ke Syifa tanda tidak bisa dibantah.
"Panggil lagi guru itu Bu Rere, ini perintah." Syifa menatap tajam pada wali kelas itu dan tentu saja perkataan Syifa merupakan perintah bagi semua guru dan staff disana termasuk juga kepala sekolah.
"Sebentar lagi dia datang Bu." Ucap Bu Rere memberitahu dan tak lama masuklah seorang gadis belia yang terlihat bermata sembab habis menangis.
TBC~
__ADS_1