
Hari berlalu dengan cepat, kini Olivia tinggal menunggu hari dimana dia akan melahirkan 2 minggu lagi, setelah menikah dengan Nicho gaya hidupnya juga berbeda dan makin boros. Terkadang Nicho sering menegurnya karena dia hanya membeli barang tidak berguna tetapi sangat mahal.
Seperti, sepeda gunung 90 juta yang dia beli tetapi tidak pernah dia gunakan, bahkan naik sepeda saja tidak bisa. Oliv hanya mengikuti trend sebagai istri pengusaha kaya raya dan tidak ingin kalah dengan yang lain. Dia sangat menikmati kemewahan yang sekarang dia dapatkan sampai lupa dengan Juan yang masih menunggu rencana mereka akan dilanjutkan.
"Oliv, kapan kita mulai rencana kita lagi? Aku sudah lama menunggu nih.." Tanya Juan begitu mereka bertemu di TB milik Morgan.
"Sabar aja lah.. sehabis melahirkan aku akan mulai kerja lagi baru kita mulai tapi mungkin 1 bulan lagi setelah aku lahiran." Jawab Oliv yang kini sangat malas meladeni Juan.
"Jangan lupa, kita ini pasangan sebenarnya dan rencana kita adalah mengeruk semua harta si bodoh itu." Juan mengingatkan karena dia curiga Oliv sepertinya ingin berhenti karena telah nyaman menjadi nyonya Wang.
"Iya Juan, jangan takut, percayalah semua akan jadi milik kita." Jawab Oliv meyakinkannya. Mereka tak menyadari bahwa sejak tadi ada yang memperhatikan mereka dan mendengar semua obrolan.
\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~
"Hazel, ini rumah yang kamu minta aku carikan kemarin coba lihat dulu apakah cocok?" Ujar Morgan pada Hazel yang baru selesai membasuh tubuh Ruby.
"Oh iya.." Hazel melihat foto dari hape yang diberikan Morgan padanya dan menimang rumah mana yang akan dia beli.
"2 rumah ini dekat dengan mall MHS kalian ga?" Tanya Hazel lalu mereka duduk bersama dengan pindah di sofa.
"Lumayan, kenapa?" Tanya Morgan heran.
"Aku mulai minggu depan akan kerja disana, jadi salah satu sekretaris direktur." Jawab Hazel dan Morgan sangat terkejut mendengarnya.
"Jadi sekretaris bang Dami itu kamu? Kenapa ga bilang?" Pekik Morgan kaget.
"Loh.. harusnya kamu tau dong kan mall itu punya kalian." Jawab Hazel enteng tapi Morgan malah tampak khawatir.
"Ya sudah deh.. jadi mau rumah yang mana?" Tanya Morgan mengalihkan pembicaraan karena nanti dia sendiri yang akan tanyakan ke Damian.
"Hm.. ini aja ya.. soalnya ada halamannya sedikit jadi aku bisa tanam bunga." Jawab Hazel menunjuk rumah bercat putih dengan pagar rendah dan sedikit halaman.
"Bunga? Untuk apa bunga kalau kamu saja lebih cantik dari bunga." Ucap Morgan tersenyum sambil memandang wajah Hazel yang duduk di depannya.
__ADS_1
"Jangan gombal, kamu itu adikku." Seru Hazel.
"Adik yang bisa bikin adik bayiii..." Sambung Morgan.
"Morgan!!" Bentak Hazel kesal.
"Hehehe... kan bener, kalau adik beneran ga bisa, tapi aku bisa. Dan ingat, setelah Ruby bangun kamu ga bisa nolak aku lagi loh.." Morgan mengingatkan dan Hazel terdiam.
"Baiklah.. tapi jangan maksa ya, biarkan keadaan hatiku ingin bagaimana nantinya."
"Kamu pasti akan jatuh cinta padaku cepat atau lambat."
Hazel meliriknya dengan aneh dan Morgan malah berdiri dan menunduk, wajahnya didekatkan ke Hazel lalu mengecup keningnya. Hazel yang terkejut hanya bisa diam tak mampu bergerak ataupun bersuara sampai...
"Mamaaa.... mama...!!" Hazel terlonjak kaget begitu juga Morgan mendengar suara Ruby menangis memanggil mamanya.
"Ruby.. Ruby anak mama..." Hazel berlari dan mendekat ke tempat tidur Ruby dan mengelus pelan wajah anaknya, Morgan menekan bel untuk memanggil dokter.
"Ruby... lihat mama sayang.." Ucap Hazel sambil menangis haru dan senang melihat anak tercintanya telah bangun meskipun menangis lemah. Dokter sampai di ruang rawat dan ingin memeriksa Ruby tapi dia terus menangis dan meronta, Hazel tak bisa mendiamkannya.
"Iya iya Ruby, itu om dokter yang akan periksa Ruby yang lagi sakit.. tenang ya.." Hazel mencoba menenangkannya tapi tidak berhasil.
"Gak mau awas.. jangan pegang.. takut maa.. takut.." Tagis Ruby semakin lirih, akhirnya dokter dan suster menyerah lalu memberikan obat penenang untuk Ruby agar mereka bisa memeriksanya. Setelah Ruby tenang dan tertidur barulah dokter memeriksanya.
"Semua baik, hanya saja akan sulit untuk berjalan dan nanti akan diberikan terapi untuk itu. Dan mungkin dia tidak ingin di sentuh akibat ketakutan, kita coba tanyakan pelan-pelan kenapa dia tidak mau di sentuh, mungkin ini ada hubungannya dengan kejadian dia terjatuh, jika benar kita butuh dokter lain." Jelas dokter itu dan Hazel mengerti maksudnya.
"Tolong carikan dokter terbaik, jangan sampai mentalnya yang terganggu." Perintah Morgan yang juga paham maksud dari dokter itu.
"Baik tuan, permisi."
"Bagaimana ini? Mungkin Ruby memang takut, karena itu pertama kali Nicho menyentuhnya dan langsung terluka seperti ini, mungkin dia trauma." Hazel menangis tapi Morgan tetap menyemangatinya.
"Jangan pesimis, kita gak tau apa yang terjadi. Tunggu Ruby bangun kita tanyakan pelan-pelan." Hazel mengangguk dan masih mengelus kepala Ruby.
__ADS_1
Ruby hanya tertidur 2 jam karena dokter memberikan dosis ringan padanya, saat bangun Ruby tampak tenang hanya masih lemas dan sulit bergerak karena 8 bulan lebih dia tertidur. "Ayo sayang kita duduk pelan-pelan ya.." Hazel menopang tubuh mungil itu dan mendudukkan Ruby di pangguannya.
"Sayang, Ruby masih ingat om?" Tanya Morgan yang perlahan mendekat dia takut Ruby akan menangis lagi.
"Om ganteng.." Ucap Ruby pelan, Morgan tersenyum dan semakin mendekat setelah melihat Ruby yang masih tenang.
"Om kangen sama Ruby yang jadi sleeping beauty tidur terus.." Morgan mencoba menyentuh tangannya dan Ruby masih diam saja.
"Ruby mau apa, om bawakan nanti?" Tanya Morgan lagi yang kini sudah mengelus lembut tangan mungil itu.
"Lapel.. mau makan bubul buatan oma." Jawab Ruby mulai tersenyum.
"Ok segera om panggilin oma buat masak yang enak buat Ruby." Morgan lalu menelepon Lusia dan meminta bubur abalone yang selalu dia masak untuk Amber selama ini. Lusia sangat senang dan akan segera menemui mereka di RS setelah buburnya selesai.
"Sudah ya, nanti oma datang bawa bubur yang enak.. Ruby capek ga?" Tanya Morgan sambil mengelus lembut kepala Ruby yang sedang dia sandarkan ke dada Hazel, dia terlihat lemas.
"Uby capek, kepala.. " Ruby terdiam, mungkin anak ini tidak mengerti cara mengutaran apa yang dia rasakan.
"Iya ga apa-apa, Ruby tidur sangat lama jadi pasti kepalanya sakit dan Ruby lemas ga bisa jalan. Om kangen sama Ruby, kenapa tidurnya sangat lama?" Tanya Morgan pelan, tapi Ruby hanya diam saja.
Dari raut wajahnya anak itu terlihat bingung. Tak lama seorang suster masuk membawakan segelas susu agar Ruby dapat meminumnya dulu karena sudah sangat lama tidak ada yang masuk ke perutnya.
Ruby berbalik dan membenamkan wajahnya di dada Hazel dengan ketakutan, dia terlihat tidak nyaman dengan kehadiran suster itu.
"Ruby jangan takut, kakak suster bawakan susu, minum dulu ya..." Ujar Hazel tapi Ruby menggeleng pelan. Suster muda itupun mengerti dan meletakkan susu di meja nakas lalu permisi keluar.
"Ruby.. om suapin minum susu ya.. minum susu dulu baru bisa makan buburnya oma nanti." Ujar Morgan setelah mengambil segelas susu itu.
"Ya.." Jawab Ruby dengan sangat pelan lalu berbalik lagi. Morgan dengan telaten menyuapi Ruby dengan susu itu dengan sendok, pelan-pelan Ruby meminumnya sampai habis.
"Ruby mau bobo lagi?" Tanya Hazel dan Ruby mengangguk, Hazel memindahkan Ruby dengan pelan untuk tidur kembali, meskipun anaknya tidak benar-benar tidur tapi dia terlihat lebih nyaman jika tiduran seperti ini. Di temani Morgan dan Hazel sekarang wajah Ruby terlihat lebih ceria sedikit dan tidak selemas tadi.
Pelan-pelan mereka menanyakan kenapa Ruby takut dengan dokter dan suster tapi Ruby menggeleng pelan, "Takut.. nanti di marahin lagi, di dolong lagi." Ucapnya pelan.
__ADS_1
Morgan akhirnya paham, dia menatap Hazel. "Kita tunggu mami dan Amber datang dulu ya.. nanti baru kita coba cari dokter Stev, sepertinya Ruby jadi mirip om Aries." Morgan memberitahu tapi Hazel malah bingung kenapa mirip Tuan Aries, apa hubungannya?
TBC~