
Fano dan Imel membawa Morgan dan Hazel ke salah satu restoran pinggir jalan rumahan yang lumayan terkenal karena kelezatannya tapi masih dimasak dengan cara tradisional. Hazel sangat senang melihat semua menu yang dia inginkan ada di sini.
"Sate padang 1 tanpa lontong, bakso 1, nasi goreng pedas mampusnya 1, es jeruk 1, esteh 1." Pesan Hazel, Morgan langsung ternganga dan tidak percaya dengan yang dipesan Hazel. Sementara Fano dan Imel hanya menahan tawa.
"Bang, wanita hamil memang makan sebanyak itu?" Bisik Morgan pelan ke Fano yang ada di sampingnya.
"Iya.. tapi ada yang bisa makan habis, ada yang cuma icip aja kaya Imel, memang makannya bertambah tapi ga sebanyak itu juga. Jadi abang saranin kamu jangan pesan dulu." Jawab Fano juga dengan berbisik.
"Oh.. ok lah." Morgan pun membiarkan Hazel memesan saja dan benar baru makan tak lebih dari 4 suapan nasi goreng pedasnya sudah dia tinggalkan, lalu makan 2 tusuk sate, tapi baksonya malah habis. Lalu jus dan esteh juga dihabiskan oleh Hazel. Jadinya Morgan yang menghabiskan nasi goreng dan satenya.
"Hai Morgan sayang... sudah lama gak ketemu kamu di TB, kemana aja?" Tanya seorang wanita cantik dan memeluk Morgan dan mencium pipinya.
"Kamu siapa? Jangan sembarangan." Morgan mengusap pipinya dengan tisu lalu melihat ke arah Hazel yang diam tapi wajahnya sangat kesal.
"Ya ampun Morgan, lupa denganku? Mentang-mentang udah dapat yang baru." Jawab wanita itu. "Kalau bukan karna Shenna dulu, kita pasti udah jadian." Sambung wanita itu lagi.
"Maaf, aku gak kenal sama kamu dan jangan menggangguku." tegas Morgan tapi wanita itu malah tertawa dan menarik kursi untuk duduk di samping Morgan.
"Aku hanya ingin bicara sesuatu, ada hal penting yang ingin aku katakan ini serius." Wanita itu berubah serius dan membuat Morgan dan Fano penasaran.
"Ada apa?" Fano yang bertanya.
"Aku Saskia, kau ingat? Dulu aku sering ke TB menemuimu sampai kami diusir oleh Shenna. Setelah kamu pulang hari itu kami tetap melanjutkan pertengkaran." Jelas wanita bernama Saskia itu, Morgan mengingat-ingat.
"Ah aku ingat, itu sudah lama sekali sekitar 3-4 tahun lalu kan?" Tanya Morgan memastikan.
"Yup dan karena itu aku ingin memberitahumu kalau Shenna akan menjebakmu lagi dan kali ini mungkin akan berhasil." Sambung Saskia.
"Menjebakku? Maksudnya?" Tanya Morgan bingung karena dia selama ini telah berusaha menghindar dari Shenna.
"Akan ada pesta di hotel kalian bukan 2 hari lagi? Nah disana kau harus hati-hati jangan lengah pada apa yang kamu minum hari itu. Aku sudah menyiapkan sesuatu yang akan membuatmu mabuk dan Shenna akan mendapatkanmu jika kau tidak hati-hati." jelas Saskia yang malah membuat Morgan dan Fano heran dengannya.
"Apa yang kau inginkan dengan memberitahu kami?" Tanya Fano dengan nada datar dan wajahnya terkesan dingin.
"Aku hanya gak sudi si Shenna brengsek itu mendapatkan Morgan, dia itu hanya pelacur berkedok artis dan wanita terhormat tapi dia hanya seonggok sampah. Kalau bisa kalian carilah bukti dan jatuhkan dia." Jawab Saskia penuh amarah, terlihat bahwa dia sangat dendam dengan Shenna.
"Apa yang membuatmu sangat marah pada Shenna?" Tanya Morgan lagi.
"Hh.. selain terobsesi padamu, dia juga terobsesi menjadi bagian dari sebuah keluarga terpandang. AKu telah mengenalnya sangat lama dan dia hanya mempermainkan pria yang kaya raya. Setelah mendapatkannya maka pria itu hanya dia manfaatkan lalu di buang begitu saja, calon suamiku salah satu korbannya setelah habis diperah maka pria itu di campakkan. Aku... ah sudahlah, pokoknya jika kau bisa menjatuhkannya aku akan membantu." Saskia terlihat serius dan Morgan hanya mendesah pelan.
"Baiklah aku tinggal dulu, kalau ada info aku akan menghubungimu lagi." Saskia pamit dan sekali lagi dia mengecup pipi Morgan.
"2 hari lagi ada acara apa?" Tanya Imel yang tidak tau menau tentang acara bisnis Fano karena dia sangat percaya pada suaminya.
__ADS_1
"Ada pembukaan perusahaan baru yang akan bergabung dengan HS Group dan kemungkinan besar Shenna akan ada disana karena dia yang mengiklankan produk itu." Jelas Fano.
"Bang, aku gak ikut deh. Abang aja yang pergi." Morgan sangat malas berurusan dengan Shenna sejak kejadian 2 tahun lalu.
"Gak bisa, kau harus pergi karena aku sudah konfirmasi ke pihak sana kalau kau akan hadir tepat waktu." Ujar Hazel, meskipun dia terlihat kesal tapi dia harus profesional jika menyangkut pekerjaan.
"Tapi kan .." Morgan tak bisa melanjutkan ucapannya.
"Kamu takut?" Tanya Fano dengan melirik remeh pada Morgan.
"Bukan takut bang, tapi abang tau kan Shenna itu gila dan aku hanya malas berurusan dengannya." Pekik Morgan kesal.
"Kalau ga mau berurusan dengannya lebih baik bawa sekalian mami, dia takut tuh sama mami." Saran Fano dan Morgan langsung sumringah.
"benar juga ya.. ok lah nanti Morgan tanya mami dulu, kan papi biasanya juga diundang tapi ga mau dateng, kalau Morgan bujuk mami pasti mau." Morgan tersenyum senang tapi dia langsung diam saat matanya bertemu dengan mata Hazel yang cantik tapi menatapnya tajam.
"Bang, pulang yuk. Abang yang bayar ya.." Bisik Morgan ke Fano. Setelah membayar mereka kembali ke mobil dan pulang ke rumah. Morgan menggandeng Hazel masuk ke rumah tapi Hazel berkali-kali menepis tangan Morgan.
Sesampainya di kamar Hazel, Morgan malah memeluknya dan ingin menciumnya tapi Hazel terus menghindar.
"Sayang.. kamu marah?" Tanya Morgan dan dia ingin menyandarkan kepalanya di pundak Hazel tapi dengan cepat Hazel menangkupkan wajah Morgan dan mengambil tisu yang dipegangnya sejak tadi dan membersikan wajah Morgan dari ciuman Saskia. Morgan tersenyum karena Hazel memperlihatkan kecemburuannya dan baru kali ini dia tunjukan.
"Apa mungkin ini berkat anakku? Kalau iya dia pasti sangat pintar, anakku papa tunggu kamu lahir ya sayang." batin Morgan.
"Tapi nanti kamu capek sayang." Tolak Morgan tapi Hazel tetap ingin ikut dan Morgan akhirnya luluh membiarkan Hazel ikut dengannya.
Setelah itu Hazel yang telah kenyang itu mengantuk lagi dan tidur di samping Ruby sedangkan Morgan memilih tidur dikamar itu juga sambil memeluk Hazel dari belakang dengan melingkarkan lengannya di perut Hazel sambil mengelusnya pelan.
Pagi hari saat Hazel terbangun, Morgan masih memeluknya, Hazel berusaha melepaskan diri dengan perlahan agar tidak membangunkan Morgan, sedangkan 2 putrinya sudah tidak ada di kamar.
Sementara di ruang makan, "Morgan mana ya? Mami cari dikamarnya ga ada." Tanya Lusia pada semua orang yang telah duduk rapi di meja makan.
"Om papa ada dikamar sama mama oma." Jawab Amber yang sedang memakan rotinya. Sedangkan Ruby duduk disebelahnya sambil menunggu rotinya.
"Ah anak itu.." Keluh Lusia lalu segera ke kamar Hazel dan dia sangat terkejut melihat Hazel yang sedang muntah-muntah sedangkan Morgan masih enak tidur.
"Morgan!!" teriak Lusia sebelum masuk ke kamar mandi. Morgan langsung terperanjat kaget sambil mengucek matanya yang masih sangat mengantuk.
"Hazel, sejak tadi muntah?" Tanya Lusia lalu mengelus punggung Hazel.
"Iya tante.. ga tau kenapa mual sekali dan pusing." Jawab Hazel lalu Morgan juga ikut panik dan berlari mendekat.
"Ada apa sayang? Mual? Muntah? Kenapa ga bangunin aku?" Tanya Morgan panik.
__ADS_1
"Kamu ini, mana bisa jadi suami siaga kalau tidur kaya kebo gitu." Lusia mengeplak lengan Morgan gemas melihat putra bungsunya.
"Suami siaga?" Ujar Hazel heran, mereka sudah keluar dari kamar mandi, Morgan merangkul Hazel untuk kembali merebahkan dirinya.
"Iya, kamu jaga wanita hamil aja ga becus, kalau Hazel kenapa napa gimana?" Tegur Lusia kesal.
"Hamil? Siapa hamil?" Tanya Hazel.
"Morgan.. kamu belum beritahu Hazel?"
"Belum mi, mau nunggu waktu yang pas dan romantis, ah mami nih bikin rencana Morgan gagal aja." Keluh Morgan pada Lusia yang sudah membocorkan kehamilan Hazel.
"Ops.. hehe maafin mami ya, ya udah kalian bicaralah dan jangan lama-lama karena Hazel belum sarapan." Lusia segera keluar dari kamar itu agar Morgan dan Hazel dapat berbicara.
"Jadi sayang.. kamu sudah hamil 7 minggu dan kamu pingsan kemarin malam bahkan sampai kami bawa ke RS kamu ga sadar." Jelas Morgan tapi Hazel bukan senang malah dia menangis tersedu-sedu.
"Kenapa nangis, sayang jangan nangis ya.. aku akan bertanggungjawab kok, kita akan nikah secepatnya." Morgan memeluk Hazel sambil mengelus punggungnya pelan untuk menenangkannya.
"Kenapa aku bodoh banget lupa pasang spiral lagi." Ucapnya disela isak tangisnya.
"Sayang, aku senang kok kamu hamil dan jangan salahkan dirimu, aku yang sengaja ingin kamu hamil agar mau nikah denganku. Kita nikah ya.. besok atau minggu depan."
Hazel melepaskan pelukan Morgan dan menatapnya dengan lekat, "Jadi aku tambah gemuk karena hamil?" Tanya Hazel dan Morgan mengangguk.
"Apa kau akan membenciku karena hamil dan jadi jelek?" Morgan menggeleng. "Apa kau akan jijik padaku? Morgan menggeleng lagi. "Setelah melahirkan kau akan memaksaku diet dan tidak beri aku makan?"
"Nggak sayang.. aku akan menjagamu, kalau kamu gemuk aku lebih suka karna ini jadi lebih besar, lihat sekarang aja uda berubah loh." Tunjuk Morgan ke dada Hazel yang sontak membuatnya mendapatkan cubitan pedas di lengannya.
"Aku takut, saat aku hamil Ruby aku bahkan hampir mati dan.."
"Ssttt.. jangan bicarakan lagi, aku akan menjagamu dengan baik, ingat hanya aku Morgan yang akan berada disampingmu dan menjaga kalian. Jangan mengingat mantan lagi, buanglah mantan pada tempatnya, itu." Morgan menunjuk tempat sampah di samping meja nakas yang membuat Hazel jadi tertawa.
"Cantikku sayang.. aku sangat mencintaimu." Morgan mencium bibir Hazel dan ********** lembut.
"Terima kasih." Balas Hazel setelah Morgan melepaskan bibirnya.
"Jadikan kita nikah?" Tanya Morgan dan Hazel mengangguk.
"Aahh.. mau apa Morgan?" Pekik Hazel karena Morgan mengangkat tubuhnya.
"Kita mandi terus ke butik." Morgan membawa Hazel ke kamar mandi dan ritual mandi mereka sangat lama.
TBC~
__ADS_1