
BAB 28 - Mau Om Papa
Sebulan berlalu dan Hazel akhirnya memutuskan menempati rumah yang dia beli melalui Morgan di kawasan dekat dengan mall MHS agar dapat bekerja. Ruby akan di jaga oleh Mira yang sudah Ruby percaya, Morgan terpaksa menyuruh Mira terus menjaga Ruby saja dan akan memberikan gaji 3x lipat dan Mira setuju.
Ruby juga menjadi anak yang lebih pendiam meskipun dia akan tertawa bahagia jika ada yang bermain dengannya tapi dia menjadi lebih mandiri dan terlihat dingin apalagi dengan orang yang tidak dia kenal.
"Mira tolong jaga Ruby ya.. aku akan antar Amber ke sekolah dan pergi kerja." Pinta Hazel saat dia telah siap untuk berangkat.
"Iya non.." Jawab Mira tapi Hazel mencebik, "Kenapa panggil non lagi sih." Kesal Hazel. "Iya Hazel hehehe."
"Ruby jangan nakal ya.. mama pergi kerja dulu." Hazel memeluk dan mengecup puncak kepala Ruby yang sedang menikmati sarapannya pagi itu, Amber juga mencium adiknya sebelum berangkat.
"Iya ma, kakak.." Jawab Ruby.
\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~
Hazel berjalan anggun dengan setelan kerjanya membuat dia makin terlihat cantik, tidak ada yang percaya jika dia sudah umur kepala 3. Warna rambut pirang kecoklatan, mata berwarna amber tapi banyak yang mengira Hazel seperti namanya, tinggi dan bentuk tubuh sexy dan wajah cantik membuat semua staff lelaki sangat ingin mendekat dan wanita sangat iri. Padahal sudah beberapa hari dia bekerja tapi karyawan di kantor mall itu masih saja sangat takjub pada sosoknya yang sangat cocok menjadi seorang model daripada sekretaris.
"Hazel, hari ini direktur Damian tidak akan bekerja disini lagi jadi nanti akan ada direktur baru." Ucap salah seorang teman sesama sekretaris. "Dan kau sekarang jadi sekretaris pribadi direktur baru ya." Sambungnya lagi.
"Baik mba Lia." Jawab Hazel pada wanita paruh baya itu. "Dan ini list yang harus kamu lakukan setiap harinya." Lia memberikan sebuat note kecil dan ada 3 peraturan yang harus Hazel lakukan.
"Setiap hari akan makan siang bersama, menyiapkan segala keperluan direktur dan menyusun jadwal, menemani direktur kemanapun." Hazel membacanya dan mengangguk paham, "Ya ini seperti tugas kekretaris pada umumnya," batin Hazel.
Hazel menyusun jadwal yang akan dikerjakan oleh direktur lalu memasukkan ke gdrive yang bisa diakses juga oleh direktur agar dapat diperiksa, karena ini masih jam 8.45 pagi maka dia segera ke pantry dan membuatkan teh hijau untuk ditektur baru setelah membaca email tentang kebiasaan direktur yang menggantikan Damian.
"Hai Hazel cantik.." Goda seorang staff keuangan yang juga sedang membuat sesuatu di pantry, dia selalu menyapa Hazel dipagi hari seperti ini untuk menarik perhatiannya.
"Selamat pagi Pak Harun." Sapa Hazel ramah dan segera menyelesaikan membuat tehnya. Harun yang sangat ingin mendekati Hazel hanya dapat menelan kekecewaan karena Hazel seakan tidak ingin berdekatan dengannya dan hanya sekedar membalas atau menyapa ramah pada koleganya.
"Hazel tunggu.." Harun mengejar Hazel tetapi wanita itu malah semakin mempercepat langkahnya setelah pamit pada Harun, "Maaf pak Harun, saya harus segera kembali sebelum Pak Direktur baru datang."
__ADS_1
Hazel membuka pintu ruangan direktur dengan hati-hati karena takut kalau atasannya sudah ada didalam tetapi sepertinya tidak ada.
"Huh.. untung belum datang." Gumam Hazel pelan dan dia sebenarnya sangat penasaran pada direktur baru itu, apakah akan sebaik Damian yang ramah atau malah arogan dan galak.
.
.
.
"Mba Lia.. direktur baru kita siapa sih? kenapa belum datang juga?" Tanya Hazel begitu dia bertemu dengan Lia di jam makan siang di mejanya.
"Oh.. kami juga belum tau, karena direktur baru itu mendadak disuruh menjabat makanya dia belum terlalu siap, kata kantor pusat hari ini mungkin dia akan terlambat, mungkin sekitar setelah jam makan siang." Jelas Lia dan Hazel tampak mengangguk, kalau begitu berarti dia bisa menjemput Amber dulu.
"Aku jemput anakku dulu ya mba Lia, sejam sudah balik ke sini kok." Pamit Hazel dan Lia mengangguk karena dia sudah biasa melihat Hazel keluar di jam istirahat siangnya untuk menjemput Amber.
Hazel kembali setelah selesai dengan urusannya dengan anak-anak dan kembali bekerja, "Hazel.. direktur kita belum bisa masuk dan Pak Damian yang akan melanjutkan pekerjaanya lagi jadi setiap laporan kirimkan saja ke emailnya ya." Ucap Lia dan Hazel mengerti, "Iya mba Lia."
\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~
Tiba-tiba Hazel mengingat sesuatu, "Morgan... " Gumamnya. "Ahh kenapa jadi keingat dia sih." Gumamnya pelan sambil menggelengkan kepalanya kuat agar dia sadar kembali. Memang sudah sekitar 2 minggu Morgan tidak datang dan bahkan Amber juga Ruby selalu menanyakannya hampir setiap hari.
"Bagus juga deh kalau dia menjauh, biar dia dapat wanita yang lebih baik dan masih single bukan janda sepertiku." Lirihnya pelan dan kembali memantapkan hatinya dan memfokuskan kesadarannya untuk bekerja demi kedua putri cantiknya.
Ting..
Hazel melirik hape yang dia letakkan di sebelah laptopnya dan tersenyum melihat nama yang tertera disana. "Ayah.." Ujarnya dan segera membuka pesan yang masuk.
"Hazel, ayah belum bisa ke sana karena sudah di blacklist jadi kalau bisa kapan-kapan kita ketemu di singapura atau Thailand saja ya.. ayah sudah cek kalau di dua negara itu Nicho gak bisa macam-macam." Hazel membalas pesan itu, "Ok ayah, tapi mungkin beberapa bulan lagi, Hazel baru kerja jadi ga enak mau cuti."
Pablo telah keluar dari penjara 6 bulan yang lalu dan mereka hanya berkabar dengan saling menelepon, video call atau bertukar pesan. itu saja sudah cukup untuk Hazel, dia sangat ingin bertemu ayahnya namun saat ini belum bisa. Pablo juga sangat ingin bertemu cucu-cucunya yang sangat cantik tapi video call harus membuatnya puas untuk saat ini.
__ADS_1
Jam 5 sore Hazel keluar gedung mall dari pintu luar karena dia berjanji pada Amber dan Ruby akan makan malam dan bermain hari ini karena Amber kali ini dapat juara 1 di kelasnya.
Akhirnya Amber dan Ruby sampai ditemani oleh Mira yang menggandeng mereka berdua sampai bertemu dengan Hazel baru Amber melepaskan diri tapi Ruby masih tenang dan diam sambil meremas kuat tangan Mira.
"Ruby jangan takut ya.. kita cuma mau makan terus kita main." Ujar Mira lalu Hazel mengalihkan perhatian Ruby agar tidak memperhatikan banyaknya orang disana dengan memberikan sebuah boneka lumayan besar dengan ukuran setengah badan Ruby.
"Wah cantikk.." Ruby tersenyum dan memeluk boneka anjing itu yang berbulu halus berwarna coklat. Hazel sengaja membawa Ruby keluar rumah agar dia terbiasa dengan orang banyak untuk menyembuhkan traumanya dan itu juga disarankan oleh dokter Stev yang masih melakukan konseling dengan Ruby seminggu dua kali.
"Amber mau makan apa dan ingin apa?" Tanya Hazel pada Amber yang saat ini sedang melihat-lihat menu makanan di depannya.
"Amber mau pizza keju dengan mozalela yang banyak.." Ujar Amber dengan memasang wajah yang sangat menggemaskan dan tersenyum cerah.
"Ok.. mba pesan pizza dengan mozzarella yang banyak, regular saja, terus spaghetti 2, salad 1, cream soup 1." Pesan Hazel pada pelayan yang sejak tadi mencatat pesanan mereka.
"Trus Amber mau apa lagi?" Tanya Hazel lagi dan Amber berpikir sebentar lalu menjawab, "Mau om papa."
Hazel terdiam mendengarnya, ini kesekian kalinya Amber mengatakan ingin bertemu Morgan, Mira malah menahan senyumnya karena dia tahu kalau Hazel bingung dan galau, ingin menghubungi Morgan tapi dia sendiri tidak mau bergantung lagi pada berondong tampan itu.
"Duh.. gimana ya Mira?" Tanya Hazel sambil menoleh pada Mira yang pura-pura pasang wajah datar.
"Hm.. telepon saja, Tuan Morgan pasti sibuk makanya dia gak datang." Mira menggeser hape Hazel ke depannya dan Hazel melihat hape itu begitu lama. "Ayo Hazel, telepon." Mira mendesaknya dan Amber juga melihatnya peuh harap.
"Mau papa.." Ucap Ruby juga dan akhirnya Hazel menarik napas panjang lalu mengambil hapenya untuk menelepon Morgan.
"Gak diangkat." Ujarnya lalu meletakkan hapenya lagi. "Kita makan dulu nanti mama akan telepon lagi ya.." Sambung Hazel lagi, tapi dari wajahnya dia terlihat cemas.
"Mira jaga anak-anak bentar ya, aku mau ke toilet." Ucap Hazel lalu dia berjalan ke arah toilet tetapi dia melihat seseorang yang sangat dia kenal berada tak jauh dari tempatnya berdiri. Di sebuah cafe di mall itu dia melihat Morgan sedang duduk dengan seorang wanita.
"Morgan dan.. itu Shenna model terkenal itu." Gumam Hazel, dia sangat ingin tau apa yang sedang mereka bicarakan. Morgan tampak diam dan wajahnya sedikit kurang nyaman sedangkan Shenna sangat bahagia dan sesekali merangkul lengan Morgan dengan mesra.
"Bukan urusanku." Ucapnya lalu berjalan lagi untuk ke tujuannya yaitu ke toilet.
__ADS_1
TBC~