The Girl'S Mom And Berondong

The Girl'S Mom And Berondong
BAB 22 - Gak Takut Lagi Padamu!


__ADS_3

Jam 2 dini hari Morgan pulang dan dia menempatkan Amber di kamarnya, setelah menyelimuti Amber dia keluar lagi untuk ke kamar Tatiana mengambil beberapa pakaiannya yang masih di rumah untuk dipakai Hazel. Tubuh mereka hampir sama meskipun Hazel lebih tinggi. Setelah memilih beberapa baju dan celana, dan malah bingung dengan dalaman wanita.


"Hah.. butuh bantuan mami nih.." Gumamnya lalu membuka pintu kamar lagi untuk kembali ke kamarnya.


"Astaga!! Mami bikin kaget ajah.." Teriak Morgan karena tiba-tiba Lusia ada di depan kamar Tatiana.


"Kamu ngapain di kamar Ana?" Lusia melihat tangan Morgan banyak baju Ana yang terlihat masih baru.


"Untuk Hazel mi, nah pas mami datang tolong pilihkan dalaman buat Hazel aku bingung." Morgan mendorong Lusia masuk ke kamar Ana dan membuka lemari khusus dalaman itu. Sambil menceritakan kejadian yang ditimpa Ruby.


"Jadi Ruby masih belum sadar sampe sekarang?" Tanya Lusia kaget, dia sudah menyiapkan beberapa keperluan wanita di dalam sebuah tas.


"Iya mami, makanya ini Morgan pusing gimana caranya melewati ini semua, Hazel udah kaya hilang arah gitu." Morgan membawa tas yang penuh itu dari tangan Lusia.


"Terus Amber dimana?"


"Ada di kamar Morgan"


Lusia ikut Morgan ke kamarnya di lantai 3 dan membawa dia turun untuk ke kamarnya dan Ken saja agar Morgan bisa kembali ke RS untuk membawakan baju ganti untuk Hazel.


"Mami, sepertinya Amber belum makan apapun sejak siang tadi, besok tolong masakin bubur lagi ya, dia suka sama bubur buatan mami waktu itu."


"Iya sayangku.. mami tau, sana pergi."


\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~


Morgan menguap berkali-kali karena sangat mengantuk, dia juga belum tidur sejak di pesawat karena gelisah.


"Pantas waktu di pesawat ga bisa tidur ternyata Hazel dan Ruby sedang dalam masalah. Apa ini yang di sebut kontak batin?" Gumam Morgan sambil menyetir, dia tidak mau buru-buru untuk menjaga keselamatan.


Morgan sampai di RS dan membuka pintu kamar VIP tempat Ruby dirawat dengan sangat pelan takut membangunkan Hazel tapi ternyata Hazel sama sekali tidak tidur dan masih melamun memandang Ruby.

__ADS_1


"Hazel.. kamu gak tidur?" Tanya Morgan begitu menghampirinya.


"Gak bisa tidur, uda coba tapi ga bisa.." Jawabnya pelan, sedangkan Morgan melihat Mira sudah tidur di sofa.


"Ini aku bawakan baju ganti dan perlengkapan, mami yang susun tadi.. mandi lah biar segar." Morgan memberikan tas itu dan Hazel mengambilnya, "terima kasih." Ujarnya lalu berjalan masuk ke toilet untuk membersihkan diri.


Morgan melihat keadaan Ruby, gadis kecil cantiknya masih dalam keadaan tidur dengan tenang, kepalanya di perban dan ada beberapa memar di kaki dan lengannya. Sungguh membuat hatinya sakit dan marah pada Nicho yang tega berbuat demikian pada anak kandungnya sendiri.


15 menit Hazel keluar dan kembali duduk di samping Ruby di ranjang yang sama sedangkan Morgan duduk di kursi sebelah Ruby, mereka tidak bicara sama sekali hanya saling pandang sesekali dan tetap memperhatikan Ruby dan alat-alat yang dipasang di tubuh kecilnya. Tak lama Morgan duluan tertidur karena dia sangat kelelahan.


Hazel tidak tega melihat cara tidur Morgan yang tertunduk dengan lengannya sebagai penopang lalu memberikan sebuah bantal dan mengatur kepala Morgan agar lebih nyaman.


"Kenapa kau sangat baik.." Gumam Hazel lalu kembali ke tempatnya dan juga mencoba untuk tidur.


Pagi harinya, Mira yang telah bangun dikejutkan oleh suara berisik dari luar, dia mengintip dengan mencondongkan kepalanya dan melihat ternyata Nicho ada di ujung lorong sedang di hadang oleh beberapa pengawal yang telah di atur oleh Morgan.


"Tuan.. tuan." Mira memanggil Morgan dan dia mengerjap bangun lalu melihat sekeliling.


"Jangan Morgan, kau jangan terlihat oleh Nicho bisa bahaya." Larang Hazel yang juga telah bangun karena suara Mira.


"Bahaya?" Morgan bingung.


"Maksudku aku yang bahaya.. sebaiknya kau sembunyi dulu biar aku yang hadapi dia." Cegah Hazel dan Morgan mengerti apa maksudnya.


Hazel keluar kamar itu dan Nicho yang melihatnya dari jauh langsung menatapnya dengan tajam, "Kau berani melaporkanku? Hah.. kau kira aku takut? Tidak ada cctv dan saksi jangan harap kau bisa lari dariku Hazel." Bentak Nicho, Hazel yang tak terima langsung membalasnya.


"Kau yang tega melempar Ruby dari tangga, apa salah aku hanya ingin keadilan untuk anakku? Banyak saksi Nicho, aku dan Mira ada disana." Balas Hazel tak kalah kuatnya.


"Oh kau sudah berani karena ada yang membantumu ya, kau tetaplah istriku jadi Tatiana ataupun saudaranya gak akan bisa menolongmu kalau aku ingin kau kembali sekarang juga." Ancam Nicho tapi Hazel tidak takut.


"Coba saja, aku gak takut lagi padamu, jangan sentuh anakku Nicho, aku pernah bilang aku akan terima kau menyiksaku tapi tidak dengan anak-anakku." Ujar Hazel tegas lalu berbalik dan kembali ke kamar rawat Ruby. Sementara Nicho masih berteriak dan merutuki Hazel dari tempatnya karena dia dihadang oleh pengawalnya Morgan.

__ADS_1


"Kau hebat, lawan dia Hazel agar dia tau kalau seorang ibu bisa menjadi macan ganas jika anaknya diganggu." Morgan tersenyum melihat betapa galaknya Hazel saat ini dan dia suka karena Hazel makin cantik.


"Tapi kenapa Nicho masih belum masuk penjara?" Tanya Hazel bingung soalnya Nicho sudah tau kalau Hazel melapor tapi dia masih bisa berkeliaran.


"Hmm.. aku baru baca pesan dari Syifa dan aku juga baru sadar ini bukan pagi lagi tapi sudah siang." Morgan melihat jam tangannya dan ternyata sudah jam 11 siang.


"Nicho bebas karna tidak punya bukti dan hanya diberi peringatan, disana ada Oliv dan beberapa pelayan yang telah di ancam olehnya, sedangkan disisimu hanya ada Mira, kalian kalah jumlah. Mereka bersaksi kalau Ruby jatuh karena tidak sengaja dan itu kecelakaan." Jelas Morgan lagi membuat Hazel sangat marah saat ini.


Di rumah Hastanta, Amber sedang bermain bersama Ken dan Lusia sambil menunggu jam makan siang. Mereka akan makan siang bersama Fano dan Imel karena Imel sangat ingin makan bebek peking panggang kesukaanya dan Ken.


"Amber suka makan bebek?" Tanya Ken tapi Amber bingung.


"Bebek? Bebek bisa dimakan?" Tanyanya dengan wajah polos.


"Bisa, enak banget nanti Amber coba ya, oma masak banyak hari ini." Jawab Lusia dan Amber mengangguk. Setelah mereka menunggu satu setengah jam akhirnya Fano dan Imel pulang juga untuk makan siang.


Amber pertama kali mencoba bebek peking dan dia sangat suka. "Enak kan? Liat tuh onti Imel aja makan sangat banyak." Ujar Lusia.


"Iya oma, enak. Boleh bawa buat mama oma?" Tanya Amber lalu menyisihkan beberapa potong punyanya untuk Hazel.


"Amber makan saja, oma sudah siapkan buat mama di kotak bekal ini." Lusia menunjukkan beberapa kotak bekal yang akan dia bawa ke RS untuk Hazel dan Morgan siang itu.


"Yang banyak oma, mama 4 hari dikurung dan makannya sangat dikit, om Nicho jahat selalu mukul dan marah-marah." Ujar Amber yang telah berubah sedih membuat semua yang ada disana ikut merasakan kesedihan anak yang baru hampir 7 tahun itu.


"Jangan sedih lagi ya, om gantengmu kan sudah jagain mama jadi kalian jangan takut sama om jahat itu." Ucap Fano dan Ken membenarkan, "Benar, Amber juga bisa laporin ke opa biar kita sama-sama beri dia pelajaran kalau berani ganggu mama lagi."


"Iya opa, Amber ga usah duduk di pintu lagi kalau mau ngobrol sama mama kaya kemarin, mama di kurung di dalam kamar dan Ruby ikut mama jadi Amber kesepian, nanti Amber ikut ketemu mama ya.."


Mereka tertegun lagi, mendengar ucapan Amber, sungguh tega Nicho membuat seorang anak berpisah meskipun hanya di halangi oleh sebuah pintu tapi itu sangat kejam.


"Iya sayang.. sekarang lanjutkan makanmu dan kita pergi sebentar lagi." Jawab Lusia, "Yey..." Amber berteriak senang mendengarnya lalu melanjutkan makan siangnya dengan ceria.

__ADS_1


TBC~


__ADS_2